Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Tidak sanggup kehilangan
Kondisi mental dan batin Aulia yang terlampau rapuh membuat dokter kembali memutuskan untuk mempertahankannya dalam keadaan tertidur selama tiga hari ke depan, setidaknya hingga kondisinya benar-benar stabil. Mereka khawatir, jika Aulia sadar terlalu cepat setelah efek anestesi menghilang, wanita itu akan histeris menghadapi kenyataan pahit kehilangan janinnya.
Terlebih, di rumah sakit ini Aulia tak lagi memiliki siapa pun selain Jenar. Mama Kania telah kembali ke Surabaya untuk menghadiri pemakaman sang cucu yang tak sempat melihat dunia.
Sahabat-sahabat Aulia di Surabaya tampak syok menerima kabar tentang kondisi Aulia dan janin yang dikandungnya. Namun keterkejutan itu berlipat ganda saat mereka mengetahui pemicunya adalah pengkhianatan sang suami. Mereka tak pernah menyangka, bagaimana mungkin Adrian, yang selama ini terlihat baik dan bertanggung jawab, tega menorehkan luka sedalam itu.
Zara dan Daisy, dua sahabat terdekat Aulia, akhirnya menghadiri pemakaman putri sahabat mereka. Sebuah perpisahan sunyi yang sama sekali tidak dihadiri oleh Adrian.
.
.
.
Di atas ranjang pasien, tubuh Aulia bergerak perlahan. Kelopak matanya yang berat terbuka sedikit demi sedikit, menatap langit langit kamar rumah sakit yang putih dan terasa dingin. Bau antiseptik menyergap indra penciumannya, asing namun familiar. Di telinganya, terdengar suara beberapa orang berbicara, samar, tapi dikenalnya.
Potongan ingatan berputar tak beraturan. Wajah Adrian. Arumi. Tatapan orang orang. Lari tanpa arah. Jalan raya. Cahaya menyilaukan. Benturan keras. Semua kembali seperti kaset rusak yang diputar berulang kali di kepalanya.
“Hiks…”
Isak kecil itu membuat Mama Kania, Daisy, dan Zara yang berada di sisi ranjang langsung mendekat.
“Lia… kamu sudah sadar?” tanya Zara cepat, tangannya refleks menekan bel darurat untuk memanggil dokter.
Aulia tidak langsung menjawab. Pandangannya bergeser, menatap satu per satu wajah di sekelilingnya. Mama Kania terlihat jauh lebih pucat. Daisy dan Zara sama sama menahan sesuatu di mata mereka. Tidak ada Jenar. Gadis itu sudah kembali ke kosnya.
Kesadaran perlahan menguasai pikirannya sepenuhnya. Tangannya bergerak, refleks mengusap perutnya dengan gerakan lambat, nyaris gemetar. Sentuhan itu terhenti di udara.
Perutnya rata.
Gerakan itu tak luput dari perhatian ketiganya. Mama Kania menggigit bibir bawahnya, Daisy menunduk, sementara Zara menahan napas. Tidak satu pun dari mereka siap membuka suara.
“Anakku…” suara Aulia serak. “Mana anakku?”
Kepalanya sedikit menunduk, matanya menatap perutnya sendiri, seolah masih berharap semua ini hanya mimpi buruk yang terlalu nyata.
“Ma…” panggilnya lirih, lalu menoleh menatap ibunya. Ada harap yang tersisa di matanya. “Aulia sudah lahiran? Mana anak Lia, Ma?”
Mama Kania tak sanggup menjawab. Ia memalingkan wajah, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Ma, jawab Aulia. Di mana bayiku? Aku ingin menyusuinya. ASI-ku bocor, pasti anakku lapar,” ujarnya dengan suara lembut, melupakan hatinya yang hancur oleh perbuatan sang suami. Yang Aulia harapkan sekarang hanyalah mendekap anaknya, karena baginya bayi itu satu-satunya harapan dan sumber kebahagiaan setelah dihancurkan.
“Aulia…” lirih Mama Kania menangis tergugu. Ia menggenggam erat tangan sang putri yang tidak terpasang infus. “Dia… dia…” ucapnya tergagap, tak sanggup menatap binar harap kecil di wajah putri sambungnya itu.
“Zara, anak Lia mana ya?” ucap Aulia, beralih menatap sahabatnya. “Kalian tidak lihat ASI-ku merembes membasahi baju? Banyak orang bilang itu karena bayi lapar. Walau ini pertama kalinya, jangan bilang aku tabu ya. Aku sudah belajar banyak hal tentang anak, Zara. Tolong bawa anakku ke sini. Aku juga mau mendekapnya.”
Zara yang ditodong kalimat panjang itu terdiam. Hatinya sama perihnya. Sebagai seorang ibu, ia tahu persis bagaimana rasanya menanti dan mendekap buah hati sendiri. Ia melihat binar bahagia di mata Aulia, binar yang seharusnya lahir dari seorang ibu yang baru saja memiliki anak.
Tidak ada ibu yang tidak bahagia saat melahirkan. Zara pun dulu demikian, mengesampingkan rasa sakit demi melihat wajah mungil bayinya. Ia tahu persis bagaimana perasaan Aulia saat ini. Namun sayangnya, bayi yang ingin sekali Aulia dekap sudah tidak ada lagi.
Dalam diam, Zara mengutuk Adrian. Menyumpahi pria itu dengan segala kata buruk yang terlintas di kepalanya.
...****************...
“Lia… kamu yang tabah ya…”
Kalimat itu meluncur pelan, hampir berbisik. Namun Aulia menangkap maknanya utuh, seperti pisau yang menyentuh tepat di jantungnya.
Kepalanya menggeleng lemah. Satu kali. Dua kali. Dadanya naik turun tak beraturan, jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Air mata meluber tanpa suara, jatuh membasahi pipinya.
“Tidak… jangan bilang anakku… anakku…”
“Maaf, Lia. Dalam kecelakaan tiga hari yang lalu, bayi kamu tidak bisa disela—”
“Tidak… tidak mungkin!” Aulia menjerit. “Anakku… mana anakku, Ma? Mana!”
Suaranya menggema di ruang rawat yang dingin. Tubuhnya berontak di atas ranjang, berusaha bangkit. Tangannya mencengkeram seprai, perutnya terasa ditarik nyeri, luka jahitan itu perih, seakan ikut menolak kenyataan.
“Lia… sabar, sayang…”
“Lia cuma mau anak Lia, Ma…” suaranya pecah. “Tolong jangan ambil anakku.”
Matanya liar, mencari. “Ya Tuhan… anak Lia mana? Mana bayiku!”
Tangan sebelahnya tersangkut pada tiang infus. Jarum tercabut. Darah merembes, menodai kulit dan kain, namun Aulia tak merasakan sakit apa pun selain sesak yang menghimpit dadanya.
Rasa sakit di tangan dan perutnya tak berarti. Yang benar-benar menghancurkannya adalah bagian dalam dirinya. Perasaan kehilangan yang datang bersamaan dengan pengkhianatan, membuat hidupnya seolah runtuh dua kali dalam waktu yang sama.
Hancur lebur. Aulia berlari mengitari ruang rawat, langkahnya terseok. Ia menunduk, meraba bagian bawah ranjang, mencari-cari tanpa arah, seolah seseorang menyembunyikan bayinya di sana. Napasnya terengah, tangisnya patah-patah.
Mama Kania memeluknya dari belakang, mengurung tubuh putrinya yang bergetar hebat. Tangannya mengusap punggung Aulia berulang kali, berusaha menenangkan meski suaranya sendiri gemetar. Tidak ada yang baik-baik saja. Ketiga orang di ruangan itu tenggelam dalam pilu yang sama.
“Ma…” suara Aulia pecah. Ia berbalik, lalu jatuh berlutut di depan ibunya. Kedua tangannya ditangkupkan ke dada, bahunya naik turun tak beraturan. “Tidak apa orang mengambil suami Lia… tapi tolong balikin anakku.”
Tangisnya makin kencang. “Aku tidak siap kehilangannya, Ma… tolong…”
Air mata membanjiri wajahnya yang bengkak, permohonannya menggantung di udara, tak ada satu pun yang mampu menjawabnya.
☘️
☘️
Hingga beberapa dokter masuk ke dalam ruangan. Langkah mereka terhenti saat melihat kondisi Aulia. Tatapan itu sarat iba, seperti ikut teriris menyaksikan kehancuran seorang ibu.
“Tolong putri saya, Dok,” ujar Mama Kania lirih, suaranya nyaris habis.
“Dokter…” Aulia berjalan terseok, lututnya gemetar menopang tubuh yang hampir runtuh. Ia mendekat, mendongakkan wajahnya menatap sang dokter yang berdiri kaku di hadapannya. “Kenapa, Dok? Kenapa dokter tidak menyelamatkan anakku? Kenapa?”
Tangannya meraih kaki sang dokter, mengguncangnya lemah. Lalu, seakan kehabisan pegangan, Aulia mengacak rambutnya sendiri, jari jemarinya gemetar.
“Anakku…” suaranya parau. “Aku cuma berharap sama dia setelah orang orang di sekitarku menghancurkanku.” Dadanya naik turun. “Aku punya alasan bertahan demi anakku.”
Ia menjerit, penuh keputusasaan. “Kenapa kamu tidak menyelamatkannya, Dokter!”
“Aku… aku…”
Dia kembali berdiri. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan dengan mata yang terluka, kosong, seperti mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan.
Hingga tatapannya terhenti pada sebuah teko dan gelas di atas meja kecil.
Aulia berlari seperti kehilangan akal. Tangannya meraih dua benda itu, lalu menghantamkannya ke tubuhnya sendiri, tertawa lirih dengan suara yang retak, penuh keputusasaan. Gerakannya begitu cepat, begitu kacau, hingga orang orang di sekitarnya tak sempat memahami apa yang hendak ia lakukan.
Teriakan histeris pecah di dalam ruangan.
Gelas itu menghantam kepalanya dan pecah. Pecahannya terjatuh ke lantai, menambahkan luka baru di kepalanya, padahal yang sebelumnya masih di perban dan belum sembuh. Tapi tentang semua luka itu sama sekali tak berarti apa apa baginya. Rasa perih itu kalah jauh dibandingkan kehampaan yang kini menggerogoti dadanya, kehilangan yang tak sanggup ia cerna, tak sanggup ia terima.
“Dok, suntikkan obat penenang!” titah seorang dokter pada rekannya.
Mama Kania memeluk Aulia yang masih berontak dalam pelukannya. Tangisnya pecah, tangannya mengusap punggung putrinya yang gemetar. Seorang dokter bergerak cepat, jarum suntik menembus kulit Aulia. Perlahan, tenaga itu luruh. Gerakannya melemah, suaranya tinggal isak lirih yang putus-putus.
“A… anakku…” gumamnya pelan.
Beberapa detik kemudian, tubuh Aulia benar-benar terkulai. Napasnya teratur, matanya terpejam. Ia kembali tertidur, meninggalkan ruangan dalam sunyi yang berat.
tbc...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian