NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:578
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 31: Perintah tanpa mahkota

Malam telah jatuh di Distrik 7, namun di dalam toko roti Flower’s Patisserie, suasananya jauh dari kata istirahat. Di ruang tengah yang biasanya hangat dengan aroma ragi, kini terasa dingin dan statis. Seraphine telah menyusun lingkaran dari kelopak mawar putih yang diletakkan di atas lantai kayu, membentuk pola geometri purba yang berpendar hijau lembut.

Caspian duduk bersila di tengah lingkaran itu. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Setiap kali ia memejamkan mata, ia tidak melihat kegelapan, melainkan ribuan garis hukum emas yang saling silang, dan di pusat semua itu, ia bisa merasakan kehadiran sesuatu yang dingin, kaku, dan sangat marah.

"Dia ada di sana, Seraphine," bisik Caspian, suaranya gemetar. "Dia seperti duri yang tersangkut di dalam jiwaku. Setiap kali aku bernapas, aku mendengar suara lonceng yang pecah."

Seraphine berlutut di luar lingkaran, tangannya memegang kunci perak Malachai yang kini berfungsi sebagai jangkar agar Caspian tidak terseret terlalu jauh ke dalam kegelapan. Di sudut ruangan, Reggiano berdiri bersandar di dinding, tangannya terlipat, matanya tidak pernah lepas dari sahabatnya itu. Sabit emasnya tergeletak di sampingnya, siap diambil jika sesuatu berjalan di luar kendali.

"Caspian, dengarkan suaraku," ucap Seraphine dengan nada otoritas yang menenangkan. "Kau tidak akan melawannya. Jika kau melawannya, kau akan hancur. Kau harus mengajaknya bicara. Zadkiel bukan lagi seorang Arbiter yang berkuasa; dia hanyalah sisa-sisa memori yang terjebak dalam otoritas yang sekarang menjadi milikmu. Masuklah, dan temukan titik tengahnya."

Caspian menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.

Seketika, suara bising dari dunia luar menghilang. Caspian merasa dirinya jatuh ke dalam sumur cahaya yang tak berdasar, hingga akhirnya ia mendarat di sebuah hamparan lantai kaca putih yang luas. Di sana, tidak ada langit, tidak ada tanah, hanya cermin tak berujung.

Di depan Caspian, sesosok bayangan putih tanpa wajah melayang. Itu adalah Zadkiel, namun wujudnya tidak lagi agung. Tubuhnya tampak retak, dengan cahaya perak milik Caspian merembes keluar dari celah-celah jubahnya.

"Pencuri," suara Zadkiel bergema, ribuan kali lebih tajam daripada saat di menara. "Kau adalah noda dalam permadani takdir. Bagaimana mungkin sebuah koin murahan bisa merobek hukum yang telah berdiri selama jutaan tahun?"

Caspian berdiri, mencoba merapikan jas dimensinya yang tampak pudar di tempat ini. "Yah, selamat datang di klub 'Orang-orang yang Dikalahkan oleh Hal Murah', Zadkiel. Aku juga tidak menyangka akan berakhir begini, jadi berhentilah berteriak. Kepalaku sakit."

"Kau tidak berhak memegang otoritas ini!" Zadkiel melesat mendekat, tangannya yang terbuat dari cahaya mencoba mencengkeram leher Caspian, namun tangan itu menembus tubuh Caspian seperti asap. "Kau adalah kekacauan. Kau adalah anomali yang seharusnya dipangkas!"

"Aku memang kekacauan, tapi aku adalah kekacauan yang menang!" balas Caspian, suaranya mulai meninggi. "Dengar, aku masuk ke sini bukan untuk mendengarkan ceramahmu tentang betapa hebatnya peraturanmu. Aku masuk ke sini karena kau ada di dalam kepalaku, dan jujur saja, kau adalah penyewa yang sangat menyebalkan. Kau membuat bayanganku tidak sinkron dan kau membuatku tidak bisa menyulap koin dengan benar!"

Zadkiel terdiam sejenak, tubuh cahayanya berdenyut pelan. "Kau pikir ini adalah hadiah? Otoritas Arbiter adalah beban yang akan menghancurkan kefanaanmu. Setiap detik kau memegangnya, kemanusiaanmu akan terkikis. Kau akan mulai melihat manusia bukan sebagai individu, melainkan sebagai angka dalam probabilitas. Kau akan menjadi sepertiku... dingin, hampa, dan abadi."

Caspian terdiam. Kata-kata Zadkiel menusuk titik terlemahnya. "Itu tidak akan terjadi. Aku punya Reggiano. Aku punya Seraphine. Dan aku punya toko roti yang harus kujaga."

"Persahabatan? Cinta? Itu adalah variabel yang tidak stabil," Zadkiel tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti logam bergesekan. "Lihatlah sekelilingmu, Caspian Roosevelt. Di ruang ini, tidak ada temanmu. Hanya ada hukum. Dan hukum mengatakan bahwa kau harus menghilang agar keseimbangan kembali."

"Lalu kenapa kau tidak melakukannya?" tantang Caspian. "Kenapa kau hanya diam di sini dan menggerutu seperti hantu tua? Karena kau tahu, kan? Kau tidak bisa menghapusnya. Kau sekarang adalah bagian dariku. Taruhanku bukan cuma soal menang atau kalah, Zadkiel. Taruhanku adalah mengikat nasibku dengan nasibmu."

Zadkiel mendekat lagi, kali ini wajahnya yang tanpa fitur itu seolah menatap langsung ke dalam jiwa Caspian. "Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau mempertaruhkan segalanya untuk seorang Eksekutor yang tangannya berlumuran darah dan seorang anak kecil yang tidak memiliki arti bagi semesta?"

Caspian tersenyum, sebuah senyum tipis yang penuh dengan kesedihan sekaligus tekad. "Karena bagi mereka, aku adalah sesuatu. Di menara itu, aku bukan cuma 'anomali'. Aku adalah seorang teman yang mencoba menyelamatkan keluarga. Sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti dalam jutaan tahunmu menjaga timbangan itu."

Di dunia nyata, tubuh Caspian mulai berpendar emas dan perak secara bergantian. Reggiano melangkah maju, tangannya mengepal.

"Seraphine, dia mulai bergetar. Apa yang terjadi?"

"Dia sedang bernegosiasi dengan konsep keadilan itu sendiri," bisik Seraphine, matanya terfokus pada kunci Malachai yang mulai panas.

"Jangan campuri, Reggiano. Jika kau masuk sekarang, kau hanya akan memperkuat sisi predator Zadkiel."

Kembali di dalam meditasi, suasana menjadi semakin tegang. Lantai kaca di bawah mereka mulai retak.

"Jika kau ingin aku diam," ucap Zadkiel, suaranya kini melunak namun tetap terasa berat. "Maka tunjukkan padaku bahwa kekacauanmu bisa lebih adil daripada hukumku. Berikan aku satu alasan mengapa aku tidak harus meledakkan energimu sekarang juga dan menghancurkan Distrik 7 bersamamu."

Caspian menarik napas panjang. Ia tidak menggunakan kekuatan dimensinya. Ia hanya membayangkan satu momen: saat Elena memberikan sepotong kue padanya dan memanggilnya 'Paman Caspian'. Ia memproyeksikan memori itu ke arah Zadkiel. Bukan memori tentang kekuatan, tapi memori tentang rasa hangat, rasa syukur, dan rasa takut kehilangan.

"Ini alasan ku," kata Caspian pelan. "Dunia ini berantakan, Zadkiel. Tapi di dalam keberantakan itu, ada hal-hal yang layak untuk dijaga meskipun tidak masuk dalam hitungan probabilitasmu. Kau menyebutnya noda. Aku menyebutnya hidup."

Zadkiel menatap proyeksi memori itu. Untuk pertama kalinya, sisa kesadaran sang Arbiter itu tidak menyerang. Ia terdiam cukup lama, hingga retakan di lantai kaca mulai menutup kembali.

"Hidup..." gumam Zadkiel. "Sebuah variabel yang selalu kami coba untuk kendalikan, namun tidak pernah kami rasakan. Baiklah, Caspian Roosevelt. Aku akan berhenti mencoba menghancurkanmu dari dalam. Bukan karena aku setuju denganmu, tapi karena aku ingin melihat... seberapa jauh seorang 'pelayan toko roti' bisa membawa beban otoritas para dewa."

Zadkiel perlahan mulai memudar, menyatu ke dalam lantai kaca. "Namun ingatlah, setiap kali kau menggunakan kekuatan ini, aku akan mengamatimu. Jika kau goyah, jika kau mulai menggunakan otoritas ini untuk keserakahanmu sendiri... aku akan mengambil alih, dan kau tidak akan pernah bangun lagi."

"Terima kasih atas peringatannya, Yang Mulia," sahut Caspian dengan gaya konyolnya yang kembali. "Dan kalau bisa, lain kali kalau mengamati, jangan sambil membuat kepalaku pening, ya?"

Cahaya di ruang meditasi itu meledak, dan Caspian merasa ditarik kembali ke permukaan dengan kecepatan tinggi.

Caspian tersentak bangun, napasnya memburu seolah ia baru saja berlari maraton. Ia hampir terjatuh ke depan jika Reggiano tidak dengan cepat menangkap bahunya.

"Caspian! Kau baik-baik saja?" tanya Reggiano, suaranya penuh kekhawatiran yang jarang ia tunjukkan.

Caspian menatap tangannya. Bayangannya kini sudah kembali sinkron dengan gerakannya. Pendaran emas di matanya kini menetap menjadi titik kecil yang indah, seperti bintang di tengah malam.

"Aku... aku baik-baik saja," jawab Caspian, ia mencoba tersenyum meskipun wajahnya masih pucat. "Zadkiel sudah setuju untuk menjadi penyewa yang lebih sopan. Dia tidak akan lagi mencoba meledakkan kepalaku."

Seraphine menghela napas lega, meletakkan kunci Malachai yang kembali mendingin. "Kau telah melakukan sesuatu yang luar biasa, Caspian. Kau telah menjinakkan fragmen takdir. Tapi seperti yang dia katakan, ini adalah beban yang permanen."

Reggiano membantu Caspian berdiri. "Setidaknya kau masih bisa bicara omong kosong. Itu tandanya kau masih Caspian yang kukenal."

Caspian tertawa lemah, menepuk jas birunya yang kini entah bagaimana terlihat sedikit lebih bersinar. "Tentu saja, Herbert. Dan jujur saja, setelah berbicara dengan makhluk tanpa wajah itu, aku merasa sangat lapar. Reggi, buatkan aku sandwich daging yang sangat besar. Itu adalah perintah dari seorang 'Arbiter Tanpa Mahkota'."

Reggiano mendengus, namun ia mulai melangkah menuju dapur. "Hanya karena kau baru saja menyelamatkan nyawamu sendiri, bukan berarti kau bisa memerintahku. Tapi... baiklah, satu sandwich untuk si pencuri takdir."

Seraphine tersenyum melihat interaksi mereka. Ia tahu bahwa tantangan besar masih akan datang, namun malam ini, mereka telah memenangkan pertempuran di dalam jiwa.

Caspian Telah Berdamai dengan Kekuatannya.

Meditasi tersebut memberikan kendali baru bagi Caspian, namun ia kini diawasi oleh sisa kesadaran Zadkiel.

Pagi di Distrik 7 biasanya dimulai dengan suara kicauan burung mesin dan aroma ragi yang mengembang, namun pagi ini, dapur Flower’s Patisserie terasa seperti pusat penelitian nuklir yang dibalut dengan aroma mentega.

Reggiano berdiri dengan tangan bersedekap, mengenakan celemek hijaunya, menatap Caspian dengan pandangan skeptis. Di depan Caspian, ada seloyang adonan roti yang sudah siap panggang. Namun, alih-alih memasukkannya ke dalam oven batu tradisional milik toko, Caspian justru mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Ingat pesan Seraphine, Caspian," gumam Reggiano pelan. "Fokus. Jangan sampai kau melubangi realitas hanya karena ingin membuat roti bantal."

Caspian menarik napas panjang. Matanya berpendar emas redup—tanda bahwa ia sedang memanggil sisa otoritas Zadkiel. "Tenang saja, Herbert. Ini hanya soal regulasi termal dimensi. Jika aku bisa menipu dewa, aku pasti bisa membuat suhu 180°C yang stabil tanpa membakar gedung ini."

Caspian memejamkan mata. Ia membayangkan sebuah ruang saku kecil yang membungkus loyang roti itu. Di dalam pikirannya, ia mulai memerintah molekul udara untuk bergetar pada frekuensi yang tepat.

"Zadkiel, kalau kau mendengarkan... bantu aku sedikit," bisik Caspian. "Jangan biarkan rotinya bantat."

Tiba-tiba, udara di atas loyang itu melintir. Sebuah kubah transparan berwarna keperakan menyelimuti adonan tersebut. Di dalamnya, rotinya mulai mengembang dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Warna putih adonan perlahan berubah menjadi cokelat keemasan yang sempurna hanya dalam hitungan detik.

"Lihat itu!" seru Caspian gembira. "Aku memanipulasi waktu di dalam kubah itu! Bagi roti ini, dia sudah dipanggang selama 20 menit, padahal bagi kita baru lewat 5 detik!"

Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sesaat. Tiba-tiba, kubah keperakan itu bergetar hebat. Pendaran emas di mata Caspian mulai tidak stabil.

"Caspian, kontrolnya!" teriak Reggiano.

Zapp!

Sebuah kilatan listrik statis meloncat dari loyang, menyambar tumpukan tepung di dekatnya hingga meledak menjadi awan putih yang menutupi seluruh dapur. Saat debu tepung mengendap, Caspian berdiri dengan wajah putih penuh tepung, sementara roti di depannya bukan lagi berwarna cokelat emas, melainkan berubah menjadi kristal kaca transparan yang keras.

"Yah... setidaknya rotinya tidak gosong?" gumam Caspian sambil mengetuk roti kaca itu dengan jarinya. Suaranya terdengar seperti dentingan kristal mahal.

Reggiano menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang juga terkena tepung. "Kau baru saja mengubah karbohidrat menjadi materi padat dimensi, Caspian. Jika Elena memakan itu, dia akan memakan pecahan ruang dan waktu."

Seraphine muncul di ambang pintu dapur, menahan tawa saat melihat kondisi kedua pria itu. Ia membawa sebuah tanaman kecil dalam pot yang dahan-dahannya bersinar redup.

"Kekuatan Arbiter bukan tentang kecepatan, Caspian," ucap Seraphine sambil melangkah masuk, jemarinya membelai tanaman itu hingga cahayanya merata. "Zadkiel menjaga timbangan bukan dengan menekannya, tapi dengan membiarkannya seimbang secara alami. Kau mencoba memaksakan waktu, dan alam membalasmu dengan mengubah bentuk materi."

Caspian menggaruk kepalanya yang bertepung. "Lalu bagaimana cara melakukannya tanpa membuat roti kaca, Nona Florence?"

"Jangan memerintah molekulnya untuk bergerak cepat," bimbing Seraphine. "Mintalah ruang di sekitar roti itu untuk memberikan kehangatan. Rasakan energi yang kau miliki sebagai sebuah pelukan, bukan sebagai sebuah perintah militer."

Caspian mencoba lagi. Kali ini ia mengambil seloyang roti gandum. Ia tidak lagi mencoba memanipulasi waktu. Ia hanya mengalirkan energi emasnya dengan sangat tipis, membungkus loyang itu dengan kehangatan yang stabil.

Perlahan, aroma roti panggang yang paling sempurna yang pernah tercium di Distrik 7 mulai memenuhi ruangan. Roti itu mengembang dengan anggun, warnanya cokelat madu, dan teksturnya terlihat sangat lembut bahkan dari kejauhan.

"Nah, itu baru benar," puji Reggiano, ia mengambil satu roti dan membelahnya. Uap panas mengepul, memperlihatkan serat roti yang sempurna. "Jika kau bisa menjaga konsistensi ini, kita bisa menghemat biaya kayu bakar hingga 100 persen."

Tantangan yang Tersembunyi

Namun, saat mereka sedang merayakan keberhasilan kecil itu, Caspian mendadak memegang dadanya. Ia tersentak, dan pendaran emas di matanya berubah menjadi merah sesaat.

"Caspian?" Reggiano segera sigap, tangannya siap menopang.

"Dia... dia tertawa," bisik Caspian, merujuk pada Zadkiel di dalam kesadarannya. "Dia bilang... aku menggunakan kekuatan untuk memotong takdir bintang hanya untuk membuat roti gandum. Dia menganggap ini sebuah penghinaan."

"Katakan padanya," sahut Reggiano dengan nada dingin yang biasa, "bahwa roti ini lebih berguna bagi dunia daripada semua timbangan kaku yang dia jaga selama jutaan tahun."

Caspian tersenyum lemah, menyeka keringat di dahinya. "Aku sudah mengatakannya. Dia membalas dengan memberikan sedikit 'tekanan' pada jantungku. Sepertinya latihan rutinitas ini tidak akan semudah yang kubayangkan. Kekuatan ini... dia ingin digunakan untuk hal-hal besar. Dia menolak untuk menjadi kecil."

Seraphine menatap jendela toko yang mulai menampakkan pelanggan pertama yang menunggu di luar. "Itulah tantanganmu yang sesungguhnya, Caspian. Menjinakkan kekuatan dewa agar tetap memiliki hati manusia. Jika kau bisa membuat roti dengan kekuatan ini tanpa kehilangan jati dirimu, maka kau telah mengalahkan Zadkiel di permainannya sendiri."

Caspian mulai terbiasa dengan "keajaiban kecil" di dapur, namun ketegangan antara dirinya dan sisa kesadaran Zadkiel terus meningkat. Sementara itu, Elena mulai menyadari bahwa roti buatan paman Caspian punya rasa yang "ajaib".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!