NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari-hari yang Terindah

Pagi itu Safira membangunkan Arga dengan mencium pipinya pelan. Arga membuka mata dengan susah payah, senyumnya mengembang walau wajahnya pucat.

"Pagi, istriku," bisiknya dengan suara serak.

"Pagi, suamiku," Safira membalas sambil mengusap rambut Arga yang semakin menipis. "Hari ini kita mau ngapain?"

"Apa aja yang kamu mau."

"Aku mau kita jalan-jalan ke taman," Safira tersenyum sambil membantu Arga duduk. "Taman tempat kita pertama kali ketemu. Kamu ingat?"

Arga mengangguk sambil tersenyum. "Tentu aja ingat. Kamu duduk di ayunan, bergaun putih, terlihat kayak bidadari di bawah sinar bulan."

"Lebay," Safira tertawa sambil mengelap air mata yang tiba-tiba keluar. "Ayo kita ke sana sebelum siang. Biar nggak kepanasan."

Mereka berdua bersiap-siap dengan pelan. Safira membantu Arga pakai baju, kakinya sudah tidak terlalu kuat jadi Safira harus menopang. Tapi Arga tidak komplain, dia malah tersenyum terus sambil sesekali becanda.

"Kalau anak kita nanti cowok, aku mau ajarin dia main bola," kata Arga sambil bersandar di bahu Safira.

"Kamu aja sekarang jalan susah masa mau ajarin main bola," Safira balas sambil tertawa sedih.

"Ya nanti lah kalau aku udah sehat. Pasti aku bisa lagi. Aku percaya kok."

Safira tidak menjawab. Dadanya sesak. Besok malam. Besok malam dia akan lenyap. Dan Arga akan sehat. Tapi tanpa dia.

***

Di taman belakang rumah, Safira mendorong kursi roda yang Bagas bawa kemarin. Arga duduk di sana dengan selimut menutupi kaki, tapi matanya berbinar menatap taman yang penuh kenangan.

"Kamu inget nggak waktu itu kamu takut-takuti aku?" Arga tertawa sambil menunjuk ayunan yang berkarat. "Tiba-tiba muncul di belakang aku. Jantung aku hampir copot."

"Aku nggak nakut-nakutin. Aku cuma... muncul," Safira balas sambil mendorong kursi roda ke dekat ayunan. "Terus kamu yang jejeritan kayak cewek."

"Mana ada aku jejeritan! Aku cuma kaget aja!"

Mereka tertawa bersama. Suara tawa yang hangat walau di hati Safira ada kesedihan yang sangat dalam.

Safira duduk di ayunan, mengayunkan pelan sambil menatap Arga yang duduk di kursi roda di sampingnya. "Arga, kamu menyesal nggak menikah sama aku?"

Arga langsung menatap Safira dengan serius. "Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"

"Ya kan, gara-gara aku kamu jadi sakit. Gara-gara aku hidup kamu jadi susah. Pasti ada penyesalan kan?"

"Tidak," jawab Arga tegas sambil meraih tangan Safira yang dingin. "Tidak ada penyesalan sama sekali. Kamu tahu kenapa?"

Safira menggeleng sambil air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata.

"Karena kamu yang bikin aku hidup lagi," Arga tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Kamu yang bikin aku percaya cinta lagi. Kamu yang kasih aku kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Jadi kalau ditanya penyesal atau nggak, jawabannya tidak. Sama sekali tidak. Bahkan kalau aku harus milih lagi, aku tetap akan pilih kamu. Sejuta kali."

Safira tidak kuat menahan tangisnya lagi. Dia jatuh berlutut di depan kursi roda Arga, memeluk kaki suaminya sambil menangis sejadi-jadinya.

"Maafkan aku, Arga. Maafkan aku."

"Kenapa kamu minta maaf?" Arga bingung sambil mengusap kepala Safira. "Kamu nggak salah apa-apa."

"Aku cuma, aku takut kamu nggak bahagia bersamaku."

"Aku sangat bahagia," Arga meyakinkan sambil mengangkat wajah Safira, menatap mata istrinya yang basah. "Sangat sangat bahagia. Dan aku berterima kasih pada Allah karena sudah mempertemukan kita."

Mereka berpelukan cukup lama di taman itu, di bawah pohon mangga besar yang daunnya bergoyang pelan ditiup angin.

***

Siang itu Bagas datang dengan bawa dua kantong besar penuh makanan. Suaranya yang berisik langsung terdengar dari gerbang.

"ARGA! SAFIRA! GUE DATANG BAWA MAKANAN ENAK NI! JANGAN SAMPE LO MALES MAKAN YA!"

Safira yang sedang membantu Arga minum obat langsung tersenyum mendengar suara Bagas. "Dia datang lagi."

"Kayaknya dia nggak pernah bosen datang ke sini," Arga tertawa pelan.

Bagas masuk dengan senyum lebar, tapi begitu lihat Arga yang makin kurus, senyumnya sedikit memudar. Tapi dia cepat nutupin dengan guyonan.

"Woi Ga, lo makin kurus aja nih. Kayak tiang listrik yang abis di amplas. Nanti kalau angin kencang bisa patah tau!" Bagas naruh kantong di meja sambil nyengir.

"Lo aja yang makin gendut, Gas. Udah kayak tong sampah yang kebanyakan makan," Arga balas sambil ketawa walau nafasnya ngos-ngosan.

"Gue nggak gendut! Ini namanya berisi! Beda tau!" Bagas pura-pura ngambek sambil pegang perutnya yang emang agak buncit. "Eh ngomong-ngomong, gue udah siapin nama buat keponakan gue loh."

"Nama apa?" Safira bertanya sambil tersenyum.

"Kalau cowok, namanya Bagas Junior biar jadi tampan kayak om nya. Terus kalau cewek..." Bagas mikir sebentar sambil garuk-garuk kepala. "Ya, semoga aja cowok sih. Soalnya kalau cewek gue bingung. Bagas kan nama cowok. Masa namanya Bagas, yah? Aneh banget!"

Arga dan Safira tertawa keras mendengar itu. Walau Safira tahu Bagas nggak bisa lihat dia sepenuhnya, tapi entah kenapa dia merasa hangat dengan kehadiran sepupu Arga yang kocak ini.

"Lo pikir anak gue mau dikasih nama kayak gitu? Nggak banget, Gas!" Arga geleng-geleng kepala sambil masih ketawa.

"Lah emang kenapa? Nama gue keren tau! Bagas itu artinya apa sih? Gue lupa. Tapi pokoknya keren!" Bagas ngeles sambil buka-buka kantong makanan. "Ini gue bawain soto, nasi goreng, terus ada bakso juga. Lo harus makan banyak, Ga. Biar kuat. Nanti kan lo bakal jadi bapak. Masa bapak-bapak kayak tiang jemuran gini."

"Lo tuh mulut nggak ada filternya ya," Arga geleng kepala tapi tetep senyum.

"Emang gue gini dari sononya. Gue kan jujur aja. Nggak kayak orang-orang yang ngomong manis di depan tapi menjelakan di belakang. Gue mah apa adanya! Cuap cuap ceplas ceplos!" Bagas bangga sambil nunjuk-nunjuk dirinya sendiri.

Safira tertawa sambil menyiapkan piring untuk Arga. "Bagas memang unik. Tapi aku senang kamu selalu ada buat Arga."

"Eh, gue kan sodara dia. Ya walaupun gue nggak bisa lihat lo sepenuhnya, Fir, tapi gue tau lo ada di sini. Dan gue tau lo orang baik. Makanya gue dukung lo berdua," Bagas ngomong sambil duduk di lantai karena kebiasaannya yang suka asal duduk dimana aja.

"Tapi serius ya, Ga," Bagas ngelanjutin dengan nada yang sedikit serius walau masih khas dia. "Gue seneng banget lo bakal punya anak. Udah lama gue nunggu jadi om. Nanti kalau dia udah gede, gue bakal ajarin dia ngomong pertama kali. Gue ajarin bilang 'Om Bagas ganteng'. Biar dia pinter dari kecil."

"Gue nggak akan biarkan anak gue bilang gitu," Arga protes sambil ketawa.

"Lah kenapa? Itu kan fakta! Om nya emang ganteng!" Bagas ngotot sambil senyum lebar.

Mereka ngobrol sambil makan siang bersama. Safira cuma nemenin karena dia nggak bisa makan, tapi dia seneng lihat Arga ketawa. Udah lama dia nggak lihat Arga sebahagia ini.

"Gas, lo kapan nikah?" Arga tiba-tiba nanya.

"Anjir, kenapa tiba-tiba nanya gitu? Gue masih mau seneng-seneng dulu kali! Belum mau ribet sama anak istri," Bagas geleng-geleng sambil ngunyah bakso.

"Lo harus cepet nikah. Udah tua."

"GUE BELUM TUA! Gue masih muda banget tau! Baru dua puluh delapan! Masih seger kayak sayur bayam yang baru dipetik!"

"Sayur bayam mah cepet layu, Gas," Safira nimpalin sambil ketawa.

"Eh masa lo berdua ngejek gue? Nggak adil ni!" Bagas pura-pura ngambek tapi ujung-ujungnya ikutan ketawa juga.

Siang itu penuh tawa. Penuh kehangatan. Safira merekam semua momen ini di hatinya. Karena besok dia nggak akan ada lagi di sini.

***

Malam itu setelah Bagas pulang, Arga dan Safira shalat tahajud bersama seperti biasa. Tapi malam ini beda. Safira nangis lebih keras dari biasanya saat sujud. Bahunya gemetar hebat.

Arga yang shalat di sebelahnya bisa dengar isak tangis istrinya walau Safira coba tahan.

Setelah salam, mereka duduk berdampingan dengan tangan terangkat tinggi.

"Ya Allah," suara Arga bergetar. "Hamba mohon berikanlah kesehatan untuk Safira dan bayi kami. Berikanlah kami kekuatan untuk melewati semua ujian ini. Dan kalau memang harus ada yang pergi, ambillah hamba. Jangan ambil Safira. Dia yang lebih kuat. Dia yang lebih pantas untuk merawat anak kami."

Safira menangis lebih keras mendengar doa itu. Tangannya yang terangkat gemetar hebat.

"Ya Allah," bisiknya dengan suara yang nyaris nggak kedengeran. "Maafkan hamba. Maafkan hamba yang besok akan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Arga. Tapi ini demi dia. Demi anak kami. Hamba mohon terimakan pengorbanan hamba. Dan berikanlah Arga dan anak kami kehidupan yang bahagia. Walau tanpa hamba."

Mereka berdoa cukup lama sampai akhirnya Arga kelelahan dan hampir pingsan. Safira langsung membantunya ke kamar, membaringkan dengan lembut.

Arga berbaring dengan mata setengah terbuka, menatap Safira yang duduk di tepi ranjang.

"Safira."

"Ya?"

"Apapun yang terjadi nanti," Arga meraih tangan Safira, menggenggamnya erat. "Aku ingin kamu tahu, kamu adalah cinta terbesar dalam hidupku. Terima kasih sudah membuatku percaya cinta lagi. Terima kasih sudah jadi istriku. Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya."

Safira tidak kuat lagi. Dia berbaring di samping Arga, memeluk suaminya dengan sangat erat sambil menangis dalam diam.

"Aku juga mencintaimu," bisiknya di telinga Arga. "Sangat mencintaimu. Lebih dari apapun. Dan kalau besok kamu bangun dan aku tidak ada, kumohon jangan marah. Kumohon jangan sedih terlalu lama. Kumohon rawat anak kita dengan baik. Ceritakan tentang aku padanya. Bilang padanya bahwa ibunya sangat mencintainya. Sangat ingin melihatnya tumbuh besar."

Arga yang sudah setengah tidur mendengar itu tapi otaknya terlalu lelah untuk memproses. Dia hanya mengangguk pelan sambil memeluk Safira lebih erat.

"Aku janji," gumamnya sebelum tertidur sepenuhnya.

Safira menangis di pelukan Arga sampai tidak ada air mata lagi yang keluar. Dia menatap wajah Arga yang tidur dengan damai, menghafalkan setiap detail. Setiap kerutan. Setiap helai rambut. Setiap tarikan napas.

"Ini malam terakhir kita," bisiknya sambil mencium kening Arga dengan sangat lembut. "Besok aku akan pergi. Dan kamu akan sehat. Kamu akan kuat. Kamu akan bisa merawat anak kita dengan baik. Dan aku akan bahagia di manapun aku berada nanti. Karena tahu kamu dan anak kita selamat."

Dia menutup matanya, membiarkan air mata terakhirnya jatuh.

"Selamat tinggal, suamiku. Selamat tinggal, cinta hidupku. Terima kasih untuk semua kebahagiaan yang kau berikan. Walau singkat, itu sudah lebih dari cukup."

Dan malam itu Safira tidur di pelukan Arga untuk terakhir kalinya. Dengan hati yang hancur tapi penuh cinta. Dengan air mata yang tidak pernah kering. Dengan senyum yang menyimpan kepedihan yang sangat dalam.

Karena besok malam.

Besok malam dia akan lenyap.

Selamanya.

1
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
chapt ini mengandung bawang.. jd terharu sekaligus tegang mendekati WAR
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
kenapa Safira g bantu melawan.. apa karena kehilangan eksistensi jd g bisa bantu
Leoruna: karena yg di hadapi Safira sekarang bukan jin biasa, ibaratnya kayak raja jin yg mempunyai energi lebih kuat dari Safira sendiri.
total 1 replies
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
ini yg aku bingung kok bisa darah Safira masuk d bayi bagas.. di chapt sebelumnya aku g mudeng knp bayi bagas jg d incar.. apa karena bagas sering nemenin Arga pas energinya masih kesedot Safira..
Leoruna: iya kak, karena Arga kan adiknya Bagas, karena mereka slalu bersama jdi sebagian energi Safira ada di tubuh Bagas jga. Sedangkan Elisa sendiri dia kan anak indigo.🙏🙏
total 1 replies
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
kenapa tiba² ada bawang sih /Cry/ kn aku jd ikutan /Sob//Sob/
Leoruna: bukan salah aku, kak. salahin yang naro bawangnya/Shy/
total 1 replies
aa ge _ Andri Author Geje
luar biasa., teruslah berkarya kawan...
Leoruna: mkasih🙏
total 1 replies
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!