NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah Quuenora

Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih berat dari keheningan yang menyelimuti mereka, lebih tajam dari pecahan kaca. Kebenaran.

Kata itu terasa asing di lidah Queenora, sebuah kemewahan yang tidak pernah ia miliki. Pelukan Darian yang tadinya terasa seperti tempat berlindung kini berubah menjadi sebuah sangkar interogasi.

Gadis itu gemetar hebat, seluruh tubuhnya menolak untuk menjawab, menolak untuk membuka kembali kuburan yang telah ia gali dengan susah payah.

“Queenora?” Darian berbisik lagi, suaranya melembut, merasakan perlawanan sunyi dari gadis di dekapannya.

Darian melonggarkan pelukannya sedikit, memberinya ruang untuk bernapas, tetapi tangannya tetap di punggung gadis itu, sebuah jangkar yang menolak melepaskan.

Queenora menarik napas yang tersendat, isak tangis yang tertahan. Ia mencoba melepaskan diri, mencoba bangkit, tetapi Darian menahannya dengan lembut.

“Tuan… jangan,” bisiknya parau.

“Jangan paksa saya.” Quuenora menggeleng pelan sambil mengigit bibir menahan gemetar emosi yang mulai memuncah.

“Aku tidak memaksamu,” jawab Darian, suaranya mantap, menatap lurus ke mata Queenora yang mulai basah.

“Aku memintamu untuk membiarkanku membantumu. Estrel akan menggunakan kebohongan untuk menghancurkanmu. Satu-satunya cara kita bisa menang adalah dengan kebenaranmu. Sekotor apa pun itu, aku siap mendengarnya.”

Sekotor apa pun.

Kata-kata itu menusuk Queenora. Kebenarannya lebih dari sekadar kotor. Kebenarannya adalah neraka. Air mata akhirnya tumpah, mengalir deras di pipinya. Ia menunduk, tidak sanggup menatap mata Darian yang penuh kejujuran.

“Bayi saya… dia… dia adalah segalanya bagi saya,” Queenora memulai ceritanya, suaranya pecah, setiap kata adalah serpihan kaca yang merobek tenggorokannya.

“Saat saya tahu saya hamil, saya… saya bahagia. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa punya sesuatu yang berharga. Sesuatu yang menjadi milik saya, meski awalnya saya tidak suka, tapi saya menerima dia, menerima kehadiran anak di rahim saya.”

Darian diam, membiarkannya bicara. Tangannya mengusap punggung Queenora dengan gerakan melingkar yang menenangkan.

“Ta-tapi keluarga saya… mereka tidak suka,” lanjut Queenora.

“Mereka bilang saya aib, anak saya aib. Pembawa sial. Ayah saya marah besar.”

Queenora berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit.

“Dia bertanya siapa ayahnya.”

“Dan kau tidak memberitahunya?” tanya Darian pelan.

Queenora menggeleng lemah. Air matanya menetes ke kemeja Darian, meninggalkan noda gelap.

“Saya tidak bisa.”

“Kenapa?” Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini lebih mencekik. Queenora menggigit bibirnya begitu keras hingga ia bisa merasakan rasa anyir darah.

“Karena… karena saya tidak tahu, A-ayahnya tidak hanya satu orang,” bisiknya, sebuah pengakuan yang nyaris tak terdengar, sebuah rahasia yang telah membusuk di dalam dirinya.

Darian membeku. Usapan tangannya di punggung Queenora berhenti. Ia bisa merasakan perubahan di udara, firasat buruk yang membuat bulu kuduknya berdiri.

“Apa… apa maksudmu?” Darian menatap Queenora dalam dengan alis hampir menyatu.

“Kakak saya, Arya… dia suka berjudi. Dia punya banyak utang,” Queenora melanjutkan, suaranya monoton, seolah ia sedang menceritakan kisah orang lain.

“Suatu malam, teman-temannya datang menagih. Kakak saya tidak punya uang. Jadi… dia menawarkan saya.”

Darian merasakan gelombang mual yang hebat. Ia menarik diri sedikit untuk bisa melihat wajah Queenora, tetapi gadis itu menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya.

“Menawarkanmu? Queenora, lihat aku. Apa yang dia lakukan?”

“Dia mengunci saya di gudang belakang,” isak Queenora, tubuhnya kini bergetar tak terkendali.

“Bersama mereka. Bertiga. Mereka… mereka bilang ini bayaran atas utang kakak saya. Mereka… mengambil saya… bergantian.”

Sebuah suara serak dan penuh amarah keluar dari tenggorokan Darian, suara yang tidak ia kenali sebagai miliknya. Gambaran itu, Queenora yang rapuh, di tangan monster-monster itu membakar otaknya.

Rasa protektif yang ia rasakan sebelumnya kini bermutasi menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih primal. Sesuatu yang haus darah.

“Setelah itu… saya tahu saya hamil,” lanjut Queenora, suaranya kini hanyalah bisikan putus asa.

“Saya mencoba menyembunyikannya, tapi Ayah tahu. Dia murka. Dia bilang saya telah mempermalukan keluarga. Dia bilang anak ini adalah anak haram, anak setan, yang harus dimusnahkan.”

Queenora akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya bengkak dan merah, tatapannya kosong, seolah ia sedang melihat kembali adegan mengerikan itu.

“Malam itu… dia pulang dalam keadaan mabuk. Dia menyeret saya keluar dari kamar. Dia menendang perut saya. Lagi… dan lagi… dan lagi…” Isak tangisnya pecah menjadi jeritan tertahan.

“Di-Dia tidak berhenti sampai ...saya berdarah. Sampai saya tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Keesokan paginya di rumah sakit… dokter bilang… dia sudah tidak ada. Anak saya sudah tidak ada....”

Cerita itu berakhir di sana, menggantung di udara seperti awan beracun. Keheningan yang mengikuti adalah keheningan yang memekakkan telinga, dipenuhi oleh suara isak tangis Queenora yang memilukan dan napas Darian yang berat dan kasar.

Darian tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menarik Queenora kembali ke dalam pelukannya, kali ini dengan kekuatan yang nyaris menyakitkan.

Tangan besarnya mendekap tubuh mungil itu begitu erat, seolah mencoba menyatukan kembali kepingan-kepingan jiwa gadis itu dengan tubuhnya sendiri.

Kemarahan yang ia rasakan begitu besar, begitu meluap-luap, hingga ia merasa bisa menghancurkan dunia dengan tangan kosong. Jijik pada ayahnya. Benci pada kakaknya. Murka pada para monster itu. Ia gagal. Ia telah berjanji untuk melindunginya, tetapi ia gagal melindunginya dari kenangan ini.

“Aku akan membunuh mereka,” Darian menggeram, suaranya rendah dan mematikan, sebuah sumpah yang diucapkannya di rambut Queenora. “

Aku bersumpah, Queenora. Aku akan membuat mereka semua membayar.” Ia melepaskan pelukannya.

Perlahan tangannya beralih menangkup wajah Queenora, ibu jarinya menghapus air mata gadis itu dengan kasar. Kelembutan di matanya telah lenyap, digantikan oleh kobaran api yang dingin dan mematikan.

Ini bukan lagi tentang hak asuh Elios. Ini tentang keadilan. Tentang pembalasan.

“Siapa nama mereka?” tanyanya, suaranya tajam seperti bilah pisau.

“Kau kenal mereka kan? Berikan aku nama mereka. Semuanya.” Queenora menatapnya, ketakutan baru yang dingin merayap di hatinya, mengalahkan rasa sakitnya.

Ketakutan akan apa yang akan dilakukan pria ini.

“Jangan, Tuan. Jangan cari mereka.” Queenora menggeleng cepat.

.“Kenapa tidak?” desis Darian heran.

“Mereka pantas membusuk di neraka,” tegas Darian menahan amarahnya.

“Karena mereka berbahaya,” bisik Queenora, matanya memohon.

“Mereka tidak akan segan-segan menyakiti Anda. Menyakiti Elios.”

“Aku tidak takut pada mereka.”

“Anda seharusnya takut,” isak Queenora, mencengkeram lengan kemeja Darian.

“Terutama pada kakak saya, Arya. Dia… dia bukan sekadar penjudi, Tuan. Dia terhubung dengan orang-orang yang jauh lebih buruk. Jika dia tahu Anda mencarinya…”

1
Jj^
semangat update Thor 🤗
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
Realrf
ma aciwww 😘
Indah MB
bacanya kayak makan permen nano nano ... manis asam asin rame rasanya .... selalu penasaran
Indah MB
lanjut ya thor... jgn berenti sampai di sini
Indah MB
atau jangan jangan , si Luna yg g pernah melahirkan, dan anaknya queenora yg diambil menggantikan anak luna yg meninggal... bisa aja kan?
Nar Sih
jgn ,,foto yg dilihat queenora adalah poto org di msa lalunya
Indah MB: mungkin foto org yg melecehkannya.. kan dia hamil
total 1 replies
Nar Sih
semagatt ya queenora💪
Realrf
hasek 💃💃💃💃
Nar Sih
kak thor sbr nya aku msih bingung dgn cerita queenora yg tiba,,keguguran trus msa lalu nya siapa ayah dri byi nya
Realrf: 🤭🤭🤭 pelan pelan ya ... pelan kita buka siapa dan mengapa
total 1 replies
Nar Sih
sabarr queenora yaa,hti mu yg bersih dan niat mu yg tulus demi nyawa seorang byi yg hampir dehidrasi smoga kebaikan mu dpt blsn bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!