Darren adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Jhon Meyer, Owner XpostOne. Prestasinya sangat gemilang sehingga dia sering di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk bertugas di daerah konflik.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Ia berjanji sebelum bisa membalaskan sakit hatinya kepada keluarga Blossom, ia tak mau menikah. Dulu saat berumur sepuluh tahun orang tua dan kakaknya di bakar hidup-hidup oleh keluarga Blossom.
Suatu hari ia di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk menyelamatkan tiga orang gadis yang terperangkap didesa Beduwi. Dengan berat hati ia pergi ke Bali, tapi apa yang dia temukan di desa itu? Ilmu hitam atau Le-ak. Sangat mengerikan dan hampir saja ia menjadi tumbal.
Saat mengetahui salah satu dari ke tiga gadis itu adalah putri keluarga Blossom, ia pun membuat rencana jahat untuk menyiksa gadis itu.
Apakah yang direncanakan oleh Darren? silahkan baca sampai tamat.
Trimakasih, jangan lupa like, coment***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.14. MENYELAMATKAN INTAN
Pak Ketut mengangguk sambil berpikir keras, setelah lama termenung ia baru menjawab dengan dahi mengkerut.
"Menguburkan jenazah ke desa Terunyan bisa kena denda, ada aturannya. Hanya sepuluh orang dibawa kesana tidak boleh lebih. Daripada ribet dan jauh, lebih baik di kubur di desa ini saja." ucap pak Ketut tegas.
"Baiklah kalau begitu, pak Ketut sudah memutuskan, kami tinggal menjalani."
Akhirnya semua sepakat bahwa janazah akan di kubur dan tidak di kremasi. Jasad terlalu banyak dan bisa memakan waktu lama jika di kremasi, hari baik juga hanya ada sehari.
"Mulai sekarang siapkan keperluan yadnya dan tolong bagi tugas. Semua harus ikut membantu. Pertama kita akan mengumpulkan jenazah." ucap pak Ketut memberi arahan.
Atas kesepakatan bersama mereka setuju di kubur di desa Beduwi. Tak ada bantuan dari desa lain seperti desa-desa tetangga. Mereka mandiri dan merasa dikucilkan, baru sekarang merasakan beban berat tanpa bantuan desa tetangga.
Biasanya ada liputan dari wartawan atau selebgram, sekarang sepi pemberitaan media sosial karena tak ada orang berani datang ke desa Beduwi, semenjak tiga orang gadis dari Jakarta hilang di desa ini. Diperkirakan mereka sudah dijadikan tumbal untuk meningkatkan ilmu mereka.
Orang luar tidak tahu apa yang terjadi di desa Beduwi setelah berita hilangnya ketiga gadis kota itu. Teror dan ancaman dari aparat serta masyarakat luas tidak bisa di bendung lagi. Mereka mengecam warga desa itu.
Warga Beduwi yang merasa sak-ti selalu sombong dan tidak terpengaruh ancaman atau himbauan dari pemerintahan daerah.
Karma itu akan mencari jalannya, apa yang mereka tabur itu yang mereka tuai.
Pak Cahya Mulyadi Blossom tentu tidak tinggal diam, ia menggelontorkan sepuluh miliar untuk XpostOne, agen rahasia terkemuka yang paling ditakuti oleh lawan dan kawan.
Tidak tanggung-tanggung, ia memilih Darren pentolan XpostOne menangani masalah ini. Dengan berat hati Jhon Meyer mengutus putranya berangkat ke Bali atas tekanan seorang jenderal bekingan MR.X.
Setelah Darren datang dengan cara mengorbankan diri menjadi Le-ak, barulah kesombongan Le-ak Beduwi meredup. Mereka tidak menyangka ada orang sakti yang bisa mengalahkannya.
MADE YUDI
Nama pemuda itu Made Yudi, orangnya hitam manis dan baik hati. Tadi pak Ketut memerintahkan membuang dua orang gadis yang tersisa ke lembah neraka. Intan dan Katrin namanya.
Yudi membuang Katrin ke lembah neraka karena sudah menin66al, sedangkan Intan diselamatkan dan di ajak keluar.
Kesibukan warga membuat Yudi leluasa menyelamatkan Intan dari desa Beduwi. Walaupun Katrin sudah menin66al, Yudi merasa ngeri dan tak tega melihat Katrin di serang biawak dan ular berbisa di lembah neraka.
"Jangan menangis, berdoalah supaya Katrin mendapat tempat yang baik sesuai karmanya." ucap Yudi menenangkan Intan yang bersedih meliat temannya.
Intan diam seribu bahasa, ia trauma berat mengingat derita yang dialaminya. Saat nyawa ada di ujung tanduk dan ia sudah putus asa, datang seorang pemuda hitam manis mengulurkan tangan mengajaknya lari. Terharu, ternyata masih ada orang baik di desa Beduwi.
Ia tertolong dan berjanji dalam hati akan membalas budi. Apapun permintaan pria itu, ia pasti akan memberikannya.
Sepanjang jalan Intan berdoa dalam hati supaya bisa keluar dari desa Beduwi. Ia tau perjalanan ini sangat sulit dan bahaya, tapi ia yakin Yudi bisa membawanya keluar dari desa Beduwi.
Ada perasaan takut kalau warga datang memergokinya dan membawa kembali ke desa itu. Bayangan buruk itu cepat ia tepis dan berharap yang terbaik.
Untung ada Yudi, dia menggendongnya, memberinya minum. Ia terenyuh.melihat sikap Yudi kepadanya.
Akhirnya mereka lega setelah bisa keluar dari desa Beduwi. Mereka gegas masuk ke rumah pertama yang ditemuinya. Dan sangat kebetulan itu rumah pak Lurah. Bu Lurah ada di belakang sedang memberi makan babi, mereka menghampirinya.
"Bu, tolong kami!" teriak Yudi dengan suara ngos-ngosan.
Keringat mengucur deras membasahi bajunya. Ia terlihat letih sepanjang jalan menggendong Intan.
Bu Lurah kaget melihat dua orang itu, ia dm segera memanggil pak Komang. Yudi menurunkan Intan dari gendongannya dan mereka diajak masuk ke dalam rumah.
"Cepat masuk kami akan memanggil orang supaya kalian bisa pergi dari sini."
"Terimakasih bu, pak, saya tidak apa-apa, tapi gadis ini korban dari mereka. Dia tidak makan sudah tiga hari..."
Mendengar penuturan Yudi, bu lurah segera menyiapkan makan, pakaian dan memanggil pemandu untuk ke kota. Disini tidak ada ojek online, yang ada pemandu jalan jika ingin bepergian ke kota atau ke desa terdekat.
"Kalian harus cepat keluar dari sini, saya sudah memanggil orang untuk mengajak kalian ke rumah sakit di kota. Dan jangan sekali-kali memberi informasi kepada siapapun bahwa kalian adalah korban dari keganasan warga Beduwi." pesan pak lurah menatap mereka.
"Baik pak.." ucap Yudi dan Intan sambil menghapus air natanya. Mereka sangat bersyukur bisa selamat.
"Terimakasih atas kebaikan bapak dan ibu, semoga Allah Allah melindungi dan senantiasa memberikan kebahagiaan kepada keluarga bapak dan ibu." ucap Intan dengan bibir bergetar.
"Semoga kalian selamat dalam perjalanan dan selalu dalam lindunganNYA.. " ucap bu lurah seraya menyisipkan uang untuk keperluan makan.
"Tidak usah bu..." tolak Intan saat bu lurah memberinya uang.
"Bawa uangnya karena kalian sangat membutuhkan saat di kota."
Tak menunggu lama datanglah dua orang bapak-bapak setengah baya yang akan mengantar mereka ke kota.
Pertama bapak itu tidak mau mengantar mereka, alasannya karena mereka korban dari desa Beduwi. Intan tidak kalah akal, ia mencopot anting dan cincinnya lalu memberikannya, kedua bapak itu akhirnya setuju.
Dengan air mata berlinang Intan dan Yudi berpamitan. Perasaan bahagia bercampur aduk memenuhi relung hati mereka. Tak bisa di lukiskan dengan kata-kata apa yang menyelimuti hati mereka.
Saat ini tidak ada harta yang melekat di tubuhnya, tas serta indetitasnya telah di ambil warga. Hape yang sangat penting juga hilang. Sedangkan Yudi memang tidak membawa apapun, karena dasarnya tidak punya.
Mereka berboncengan dua jam sampai di kota. Untuk menghemat biaya Intan tidak mau ke rumah sakit, ia memilih turun di terminal. Yudi saja kemanapun Intan akan membawanya.
"Yud..maukah kau tinggal denganku, nanti kau bisa kerja di rumahku. Aku juga hidup sendiri, orang tua tinggal jauh." ucap Intan saat mereka berteduh di emper toko yang tertutup.
"Aku mau saja kemanapun kau pergi. Bisa keluar dari desa saja sudah bersyukur."
"Bingung tidak membawa hape, aku harus menghubungi keluarga..." keluh Intan putus asa.
"Sabar, semoga ada jalan." ucap Yudi tulus.
Mereka duduk dengan lesu, untung bu lurah memberinya daster, walaupun bekas bisa menutupi rasa malunya. Bayangkan saja, tiga hari tidak ganti pakaian, bau badannya amis sekali. Tadi di rumah pak lurah mereka buru-buru jadi tak sempat mandi.
Matahari sudah condong ke barat mereka berdua kebingungan, Intan mengeluarkan uang yang dikasih bu lurah, tidak banyak menurut ukuran Intan yang seorang dokter di rumah sakit swasta di jakarta. Tapi menurut Yudi uang dua ratus ribu dari bu lurah sangat berharga.
*****
n
Intan