DILARANG KERAS PLAGIAT!!!
Murni ide author sendiri!!!
Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33- diobatin oleh Aluna
Ga kan ga ada yg tau klau Arlan itu manja
Arlan berdiri diam menatap pintu gudang yang masih terbuka lebar. Tangannya yang sedikit memerah karena hantaman tadi perlahan ia turunkan. Napasnya mulai teratur, namun tatapannya masih kosong.
"Gila, Lan! Lo kalau lagi ngamuk bener-bener kayak kesurupan," celetuk Barra sambil mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah. "Tapi puas banget lihat muka si Vero tadi. Bengep semua tuh bocah."
Darrel mengangguk, ia merapikan kursi-kursi yang sempat berantakan karena perkelahian tadi. "Tapi Vero nggak bakal diem gitu aja, Lan. Dia pasti nyari celah buat bales dendam."
Arlan tidak menyahut. Ia berjalan menuju meja, mengambil kunci motornya dengan gerakan pelan. Amarah yang tadi meluap-luap seketika sirna, digantikan oleh rasa sesak yang kembali menghimpit dadanya. Rasa bersalah karena meninggalkan rumah dalam keadaan kacau mulai menghantuinya lagi.
"Gue cabut," ucap Arlan singkat.
"Loh, kok cepet banget? Kita belum ngerayain kemenangan kecil ini, Lan!" protes Barra.
"Urusan gue belum selesai," jawab Arlan tanpa menoleh sedikit pun. Ia segera menyambar helm fullface-nya, menyembunyikan wajahnya yang kini tampak lebih lelah daripada saat ia baru tiba.
Barra dan Darrel hanya bisa saling pandang saat mendengar suara deru mesin motor sport Arlan yang menjauh dengan kecepatan tinggi. Mereka tahu, jika Arlan sudah bersikap seperti itu, tidak ada satu orang pun yang bisa menghalanginya.
Arlan memacu motornya membelah angin malam yang menusuk hingga ke tulang. Namun, rasa dingin di jalanan tidak ada apa-apanya dibanding rasa sesak di dadanya. Pikirannya terus berputar pada satu titik.
Gengsinya sebagai pemimpin geng yang baru saja menumbangkan Vero lenyap tak berbekas. Di kepalanya kini hanya ada bayangan Nada yang tadi berteriak sedih dan menjewernya. Arlan benci dirinya sendiri setiap kali ia membuat wanita itu kecewa.
Sesampainya di depan pagar rumah, Arlan mematikan mesin motornya sejak jarak sepuluh meter. Ia tidak mau suara knalpotnya membangunkan Nada atau lebih buruk lagi, memancing Aluna untuk keluar dan melihat kondisinya yang kacau.
Ia masuk lewat pintu samping dengan sangat hati-hati. Suasana rumah sudah gelap gulita. Arlan melangkah pelan menaiki tangga, berniat langsung masuk ke kamarnya. Namun, saat melewati depan kamar Bundanya, langkahnya terhenti.
Arlan berdiri mematung di depan pintu kayu itu. Sisi manjanya yang selama ini ia tutup rapat-rapat kini mendesak keluar. Ia ingin sekali masuk, berlutut di samping tempat tidur Bundanya, dan meminta maaf sampai wanita itu mengusap rambutnya lagi.
Baru saja Arlan hendak menurunkan tangannya dan memilih mundur karena tidak mau mengganggu istirahat Nada dan disamping Nada ada ayahnya Abbas yang ikut tertidur pulas di kasur, tiba-tiba pintu di depannya itu terbuka perlahan.
Baru saja Arlan hendak mengetuk pintu itu, suara derit halus dari arah belakangnya membuat ia mematung. Arlan segera menarik tangannya, berusaha memasang wajah datar seolah ia baru saja lewat tanpa ada niat apa-apa.
"Lo ngapain di sini? "
Suara ketus itu berasal dari Aluna yang berdiri di depan pintu kamarnya. Gadis itu menyilangkan tangan di dada, menatap Arlan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Cahaya remang koridor membuat wajah Arlan yang sedikit lebam terlihat jelas di mata Aluna.
"Bukan urusan lo," jawab Arlan pendek. Ia hendak melangkah menuju kamarnya sendiri, tapi Aluna menahan lengannya.
"Tangan lo kenapa?, Luka?"
Arlan tersentak saat jemari Aluna menyentuh lengannya. Ia segera menarik tangannya dengan kasar, seolah sentuhan itu adalah sengatan listrik yang membahayakan imej dinginnya.
"Bukan urusan lo, gue bilang," desis Arlan tajam. Mata elangnya menatap Aluna, mencoba mengintimidasi gadis itu agar segera masuk ke kamar.
Namun, Aluna bukan gadis yang mudah ciut. Ia justru melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Matanya yang jeli menangkap bercak darah kering di buku jari Arlan dan sudut bibirnya yang mulai membiru.
Ia kembali menarik lengan jaket Arlan, kali ini lebih bertenaga. Arlan yang biasanya keras kepala entah kenapa kali ini menurut saja, kakinya melangkah mengikuti Aluna menuju area balkon belakang yang jauh dari kamar siapa pun.
"Duduk," perintah Aluna singkat sambil menunjuk kursi rotan.
Aluna tidak menggubris. Ia menghilang ke dalam kamar dan kembali membawa kotak P3K serta sebaskom air hangat. Ia duduk di kursi kecil tepat di depan Arlan, membuat cowok itu terpaksa membuka kakinya agar Aluna bisa berada di jarak yang cukup dekat.
Tubuh Arlan terasa remuk, dan entah kenapa, perintah Aluna barusan jauh lebih sulit dibantah daripada biasanya.
Aluna tidak menggubris. Ia menghilang ke dalam kamar dan kembali membawa kotak P3K serta sebaskom air hangat. Ia duduk di kursi kecil tepat di depan Arlan, membuat cowok itu terpaksa membuka sedikit kakinya agar Aluna bisa berada di jarak yang cukup dekat untuk mengobati lukanya.
"Eh" Arlan mendesah pelan saat Aluna tiba-tiba menarik telapak tangannya dengan cukup sentakan. Arlan meringis kecil, bukan karena tarikan itu, tapi karena gesekan jaketnya yang mengenai luka di buku jarinya yang masih basah.
Aluna memeras handuk kecil dari baskom air hangat, lalu mulai mengusap lembut noda debu dan darah kering yang menempel di tangan Arlan. Arlan membuang muka, menatap ke arah gelapnya halaman belakang rumah, berusaha menyembunyikan rasa perih yang menjalar di tangannya.
Aluna memeras handuk kecil dari baskom air hangat, lalu mulai mengusap lembut noda debu dan darah kering yang menempel di tangan Arlan. Arlan membuang muka, menatap ke arah gelapnya halaman belakang rumah, berusaha menyembunyikan rasa perih yang menjalar di tangannya. Namun, dalam hati ia cukup terkejut. Meskipun omongan Aluna pedas, gerakan tangan gadis itu saat menyentuh lukanya terasa sangat hati-hati.
"Lo bisa diem nggak? Kalau gerak terus, airnya malah masuk ke luka yang masih kebuka," omel Aluna pelan, suaranya nyaris berbisik namun penuh penekanan.
Arlan mendengus, mencoba kembali ke mode dinginnya. "Gue nggak gerak. Lo nya aja yang kekencengan megangnya."
Aluna mengabaikan keluhan itu. Ia beralih mengambil kapas, membasahinya dengan cairan antiseptik. Begitu kapas itu menyentuh luka robek di buku jari Arlan, cowok itu refleks menarik napas panjang melalui sela giginya.
"Shhh pelan, Al!" desis Arlan, tangannya tanpa sadar mencengkeram pinggiran kursi rotan sampai buku jarinya yang lain ikut memutih.
"Tahan, perih sedikit" gumam Aluna pelan. Alih-alih membentak lagi, ia justru mendekatkan wajahnya ke arah tangan Arlan, lalu meniup luka itu perlahan.
Embusan napas hangat Aluna yang menyentuh kulitnya membuat Arlan terpaku seketika. Ia yang sedari tadi membuang muka, kini justru menatap Aluna yang sedang begitu fokus. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat bulu mata Aluna yang lentik dan kerutan tipis di dahi gadis itu karena saking seriusnya. Tanpa sadar, jantung Arlan berulah berdegup lebih kencang daripada saat ia menghajar Vero di gudang tadi.
habis pasti aku di tangan orang tua ku
aku pulang jam 9 malam aja udah kena kotbah dua hari dua malam tak selesai-selesai