Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
"Beneran ya? Double scoop! Pakai topping kacang!" seru Namira sambil melakukan gerakan 'yes' dengan tangannya.
Ayyan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kamar yang tenang. Ayyan duduk di atas sajadah, sementara Namira duduk bersimpuh di sampingnya.
Suasana canda yang tadi memenuhi teras seketika berganti menjadi khidmat saat Ayyan mulai melantunkan dzikir dengan suara baritonnya yang rendah dan bergetar.
Namira yang biasanya tidak bisa diam, perlahan ikut larut. Ia menatap profil samping wajah suaminya. Garis rahangnya yang tegas, matanya yang terpejam khusyuk, dan gerakan bibirnya yang tenang saat menyebut nama Allah.
Ya Allah, terima kasih ya... ternyata doa 'aneh' aku di masjid waktu itu Engkau jawab dengan cara yang paling indah, batin Namira tulus.
Satu jam berlalu. Ayyan mengakhiri doanya dengan mengusap wajah, lalu menoleh ke arah Namira yang ternyata masih menatapnya tanpa kedip.
"Kenapa? Mas ada yang aneh?" tanya Ayyan sambil merapikan pecinya.
"Enggak, Mas. Cuma baru sadar... Mas kalau lagi doa gantengnya nambah sepuluh kali lipat. Kayak ada aura-aura cahaya ilahi gitu," jawab Namira jujur, membuat pipi Ayyan mendadak merona tipis.
"Sudah, jangan mulai lagi gombalnya. Ayo, katanya mau es krim?" Ayyan berdiri, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya.
Baru saja Ayyan meraih kunci motor di atas meja, tiba-tiba terdengar suara riuh dari arah gerbang depan pesantren. Suara jeritan histeris yang tidak terdengar seperti santriwati biasanya.
"NING NAMIRAAA! GUS AYYAAN! MANA KAK NAMIRA?!"
Namira dan Ayyan saling pandang.
"Mas... itu suara apa? Kok kayak suara fans garis keras ya?" Namira segera berlari menuju jendela depan dan menyibak tirai.
Matanya membelalak. Di depan gerbang, ada sekitar sepuluh sampai lima belas gadis remaja membawa spanduk kecil dan beberapa kotak bingkisan. Ada juga yang memegang ring light mini sambil melakukan live streaming.
"Mas! Gawat! Followers aku beneran dateng ke pesantren! Mereka tahu lokasi kita gara-gara video klarifikasi kemarin!" Namira panik, ia buru-buru membetulkan jilbabnya yang agak miring.
Ayyan menghela napas panjang, meletakkan kembali kunci motornya. "Sepertinya es krimnya harus ditunda. Mas harus bicara sama keamanan pesantren dulu supaya mereka tidak mengganggu kegiatan belajar santri."
"Aduh, maaf ya Mas... gara-gara aku pesantren jadi ramai gini," ucap Namira merasa bersalah.
Ayyan menoleh, menatap Namira dengan lembut sebelum keluar kamar. "Tidak apa-apa. Ini risiko punya istri selebgram. Tapi Namira..."
"Iya, Mas?"
"Keluar temui mereka sebentar saja, berikan pengertian dengan sopan. Jangan sampai ada konten yang tidak pantas di lingkungan pesantren. Dan satu lagi..."
"Apa?"
"Jangan terima kado berupa seblak instan. Mas tidak mau dapur Umi makin penuh sama bumbu merah," canda Ayyan sebelum melangkah keluar dengan gagah untuk menertibkan keadaan.
Namira mendengus geli, tapi dalam hati ia merasa beruntung Ayyan tidak marah besar melihat pesantrennya mendadak jadi lokasi meet and greet.
Dengan gerakan cepat, ia memoles sedikit bedak tipis—biar tidak terlalu "kucel" di depan kamera fans—lalu menyusul langkah Ayyan ke depan.
Begitu Namira muncul di ambang pintu ndalem, suasana makin histeris.
"ITU KAK NAMIRA! ASLINYA IMUT BANGET, YA AMPUN!"
"KAK NAMIRA! GIMANA RASANYA JADI ISTRI GUS AYYAN?! SPIL TIPS DAPET JODOH KULKAS DUA PINTU DONG!"
Namira meringis, ia melirik Ayyan yang sudah berdiri di depan para penggemar itu dengan wajah "Gus Mode" yang sangat berwibawa. Tangan Ayyan sedikit diangkat, memberi kode agar suasana kembali tenang.
"Assalamualaikum, adik-adik semua," suara Ayyan yang berat dan tenang seketika membuat para remaja itu bungkam. "Terima kasih sudah jauh-jauh datang ke sini untuk berkunjung ke tempat kami."
"Waalaikumsalam, Guss!" jawab mereka serempak, ada yang sampai menutup mulut karena terpesona melihat Ayyan dari dekat.
"Namun, kami mohon pengertiannya," lanjut Ayyan. "Tempat ini adalah lembaga pendidikan, tempat para santri sedang beribadah dan belajar. Kami tidak ingin kegiatan mereka terganggu. Jadi, kami mohon untuk tidak melakukan live atau berteriak-teriak di area ini."
Namira segera maju ke samping Ayyan, ia memberikan senyum termanisnya (mode Ning yang ramah). "Halo semuanya! Makasih ya udah perhatian sama kasus kemarin. Tapi bener kata Pak Ustadz Mas Ayyan ini, kita jangan berisik ya? Kasihan santri-santri nanti hafalannya pada buyar kalau denger teriakan kalian."
"Kak Namira! Kami cuma mau kasih dukungan! Ini ada kado buat Kakak!" Salah satu dari mereka menyodorkan tas kertas besar.
Namira melirik tas itu. Isinya bukan seblak, melainkan tumpukan buku doa, hijab cantik, dan... sebuah boneka kecil mirip ustadz lengkap dengan pecinya.
"Aduh, lucu banget! Makasih ya! Tapi janji ya, habis ini jangan ada yang dateng rombongan begini lagi tanpa izin. Kalau mau ketemu aku, nanti kita bikin sesi khusus aja lewat online, oke?" ucap Namira sambil mengedipkan sebelah mata.
Setelah berfoto sebentar (dengan pengawasan ketat dari Ayyan agar tidak ada kontak fisik dan pose yang aneh-aneh), para penggemar itu akhirnya bubar dengan tertib diantar oleh petugas keamanan pesantren.
Ayyan mengembuskan napas lega setelah mobil terakhir pergi. Ia menyeka sedikit keringat di pelipisnya.
"Gimana, Mas? Capek ya jadi artis dadakan?" goda Namira sambil menyikut pinggang Ayyan.
"Lebih capek daripada ngajar kitab kuning dua belas jam, Namira," jawab Ayyan jujur. "Ternyata energi 'pasukan' kamu itu luar biasa."
"Tapi Mas tadi keren banget! Tegas tapi tetep sopan. Fans aku malah banyak yang bilang: 'Kak Namira beruntung banget dapet penjaga surga kayak Gus Ayyan'. Tuh, denger nggak?"
Ayyan menarik tangan Namira untuk masuk kembali ke rumah. "Sudah, jangan banyak bicara lagi. Sekarang ganti bajumu yang lebih santai. Kita beli es krimnya pakai mobil saja, biar tidak dikejar fans lagi di jalan."
"Lho, beneran jadi es krimnya, Mas?"
"Jadi. Tapi ada syarat tambahan karena tadi sudah bikin heboh pesantren."
Namira merengut. "Apa lagi sih Mas? Jurumiyah lagi?"
Ayyan tersenyum tipis, tatapannya melembut. "Bukan. Syaratnya, kamu harus cerita ke Mas... doa apa yang kamu baca waktu di masjid sore itu sampai Allah kirimkan orang sekaku Mas buat jadi suami kamu."
Namira terdiam, wajahnya mendadak merah padam. "Ih! Mas Ayyan mah! Itu kan rahasia perusahaan antara aku sama Allah!"
"Kalau begitu, es krimnya batal?"
"EH JANGAN! Iya, iya, nanti aku ceritain sambil makan es krim! Tapi Mas jangan ketawa ya kalau denger bagian 'good rekening'-nya!"