NovelToon NovelToon
LINTAS DIMENSI

LINTAS DIMENSI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Time Travel / Penyeberangan Dunia Lain / Hari Kiamat / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..

Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.

Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.

Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.

Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.

Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Elemen

Tak terasa mereka sudah berjalan selama satu bulan, masih jauh perjalanan yang harus mereka tempuh, mengalami dan menghadapi bahaya serta masalah bersama membuat rasa persaudaraan mereka makin erat.

Setelah bersiap mereka melanjutkan perjalanan, ada tiga Desa yang mereka lewati yang masih di bawah pemerintahan Kota Lawa, dan apa yang terjadi sama dengan sebelumnya, para preman Desa tidak membiarkan mereka lewat jika tidak membayar 200 koin tembaga, tindakan itu pasti mereka tiru dari Kota.

Tapi melihat rombongan Desa Suning hampir semua orang memiliki pedang, membuat para preman lari dengan terbirit-birit, siapa yang berani? Mereka hanya dibekali pacul dengan sabit.

Rombongan Desa Suning berjalan dengan senang hati, namun berbeda dengan suasana di kediaman Tuna Bupati, saat ini dia sedang berada di dalam kamar Selirnya.

"Tuan apa yang terjadi? Kenapa punya Tuan sudah loyo?" tanya sang Selir dengan kecewa. Biasanya Tuan Bupati masih mampu bermain sampai 3 ronde sebelum berangkat ke kantor, tapi pagi ini hanya mampu sekali tempur, itupun tidak lama.

"Huuf, aku juga tidak tau. Mungkin aku kelelahan dan banyak pikiran, apalagi masalah kemarin," Dia sangat kesel jika mengingat perak yang sudah terkumpul habis begitu saja.

"Hmm baiklah, saya akan kembali untuk membersihkan diri!" Sang Selir tak ingin tinggal, dia harus pergi mencari seseorang untuk menuntaskan hasratnya. Hanya lima menit, bagaimana dia bisa puas.

Tuan Bupati juga tak ambil pusing, dia juga segera bersiap untuk ke kantor..Dia sudah mendengar jika Bandit yang mereka cari sudah tertangkap. Dia tak akan pernah tau, itu adalah hadiah dari Aruna, para lelaki akan gila jika alat tempurnya tidak bisa berdiri.

...----------------...

Membutuhkan sekitar 4 hari untuk tiba di Desa selanjutnya. Dua hari berlalu semua berjalan tanpa henti, selama berlatih beladiri kondisi fisik mereka lebih kuat. Apalagi, Aruna memberi mereka air spiritual.

"Berhenti, cukup untuk hari ini!" suara Aruna terdengar menggema di kesunyian.

Hari masih gelap, mereka semua sudah bangun untuk berlatih. Bahkan Ozian yang sudah pandai, juga ikut berlatih dengan para pemuda lainnya. Menurutnya, daya tempur kekuatannya tak ada seujung kuku milik Aruna.

"Siap Guru!"

Aruna sudah melarang mereka untuk tidak memanggilnya seperti itu, tapi mereka tetap ngotot. Katanya, dalam pelatihan saja.

"Ayo berbaris, aku ingin melakukan pemeriksaan!" Pinta Aruna setelah muridnya beristirahat sejenak.

Semua langsung berbaris tanpa bertanya-tanya. Di barisan itu juga ada Kepala Desa dan Tabib Gu.

Pemeriksaan dilakukan selama satu jam, Aruna membagi dua kelompok, "Bagus!Semua kondisi dalam fisik yang baik!"

"Hehehe bagaimana tidak? Selama perjalan kami makan dengan cukup!"

"Ya hampir makan daging setiap hari!"

"Hmm, kita semua tidak sekurus kayak tulang lagi!"

"Itu semua berkat Nak Aruna!" Kepala Desa Tiba-tiba menyahut.

"TERIMA KASIH GURU!" ucap mereka serempak dengan sedikit menunduk.

Aruna hanya mengangguk sambil tersenyum, dia juga puas melihat perubahan mereka "Sudah, sudah, Ayo kita lanjutkan lagi" Dia tidak ingin lama-lama dengan kondisi melow seperti itu.

"Ada 10 yang aku pisahkan, kalian pasti penasarankan?" tanya Aruna dengan sedikit menggoda.

"Aku penasaran, kenapa? Apa latihanku masih kurang?" tanya Lin dengan gelisah, dia ada diantaranya.

"Hm mana mungkin! Saudara Ozian juga di sini." Sahut Ji Yong, yang berpikir logis.

"Oh iya ya! Aduuh, makin penasaran!" Lin menatap Aruna dengan tatapan memohon 'Tolong, jangan siksa aku lagi rasa penasaran ini'.

"Heheh baiklah, kalian 10 orang yang bisa membangkitkan kekuatan Elemen!" Aruna juga sedikit terkejut, padahal di Zaman itu, orang-orang yang masih bisa mengaktifkan Elemennya sudah hampir punah, tapi tak disangka di Desa terpencil masih ada yang tersembunyi. Aruna sempat berpikir, mungkin yang membangkitkan Elemen mereka adalah air Spritualnya.

Hening..

Ucapan Aruna membuat mereka terkejut, Kekuatan Elemen! Mereka hanya pernah mendengar cerita dari buyut mereka, dan juga pelajaran sejarah saat mereka bersekolah. Dalam cerita tersebut, orang yang memiliki kekuatan Elemen adalah orang yang sangat hebat.

"Benarkah?" tanya Ozian, dia yang lebih dulu sadar dari keterkejutannya.

"Ya tapi aku belum tau apa dasar Elemen kalian!" jawab Aruna.

"Aruna kamu seriuskan?" Lin masih belum bisa percaya. Ini Kekuatan Elemen, yang sering dibahas dalam sejarah, di zaman itu mungkin hanya ada beberapa orang masih bisa membangkitkan Elemennya, termasuk Yang Mulia Kaisar.

"Ya, selamat buat kalian!" ucap Aruna.

Semua langsung berseru dengan bahagia, perasaan mereka bercampur aduk, orang tua dari mereka bahkan sampai menangis, begitupun dengan Kepala Desa. Dia tiba-tiba merasa sangat terhibur, warganya ada yang memiliki Kekuatan Elemen, dan itu 10 orang.

Kesepuluh orang tersebut juga tak menyangka, padahal mereka hanya berbicara untuk belajar beladiri untuk menjaga diri, tapi tak di sangka malah mendapat bonus.

Aruna juga memberi tahu yang lainnya untuk tidak berkecil hati, meski tidak bisa membangkitkan Elemen, mereka masih bisa berlatih tenaga dalam agar bisa terbang. Aruna membagikan sebuah pil, dan besok sudah bisa melihat hasilnya.

***

Ke esokan harinya setelah melakukan meditasi, Aruna meminta kesepuluh orang tersebut untuk mendekat "Bagaimana apakah kalian sudah merasakannya?"

"Aku merasakannya, dan warnanya merah!" ucap Chen dengan semangat. "Itu apa?" Tanyanya dengan antusias.

"Oh, kalau warna merah biasanya Elemen api!" jelas Aruna dengan juga tak kalah senangnya.

"Waahh api,, astaga aku api, aku api!" jantung Chen berdebar mendengar jawaban Aruna, begitupun dengan yang lainnya.

Setelah suasana mereda dan mengucapkan selamat kepada Chen, Aruna kembali bertanya. "Rhui bagaimana denganmu?"

"Aku lihat warna biru!" ucup Rhui sedikit gugup, rasanya seperti menunggu hasil ujian.

"Benarkah? Waahh selamat yaa!" Aruna berseru dengan mata berbinar.

Semua orang : " (......) " tolong jangan buat kamu kami penasaran.

Aruna hanya tertawa geli melihat ekspresi mereka. "Rhui selamat ya, dasar Elemenmu adalah air."

Jatung mereka benar-benar olahraga, ini seperti mendapat hadiah spesial. Semua ikut berbahagia, kedepannya mereka tidak akan ke kurangan air.

Aruna menjelaskan Elemen mereka satu persatu, Ozian ( api ), Lin ( tumbuhan ), Ji Yong ( angin ), Manman ( logam ). Empat lainnya adalah teman-teman Chen dan Lin. Kesepuluh orang tersebut adalah orang-orang yang paling dekat atau sering berbaur dengan Aruna.

Kakek Ji sudah tidak menjaga wibawanya, dia sampai menangis sesegukan dan memberi selamat kepada kesepuluh warganya.

Beberapa jam berlalu, setelah sarapan dan bersiap mereka melanjutkan perjalanan. Karena berjalan dengan suasan hati yang bahagia mereka jadi lebih bersemangat.

***

Sehari berlalu dengan lancar, tak ada masalah atau bahaya yang mereka temui. Tapi tidak dengan hari ini, karena sudah belajar beladiri, semua indra mereka berubah jadi sensitif dari jarak yang lumayan jauh.

"Ini bau apa? Hmm kenapa busuk sekali!" Ujar Kakek Ji sambil menutup hidung.

Ozian yang berjalan di sampingnya sambil menuntun kuda juga menciumnya, "Sangat menyengat, ini bau bangkai!" ujarnya, tapi dia tidak tau itu bangkai apa. Dia hanya sering mencium bau bangkai binatang, dan yang sekarang sangat tajam.

"KAKEK BERHENTI..." Aruna berteriak cukup keras dari belakang.

"Ada apa?" tanya Kakek Ji dengan cemas, melihat raut wajah Aruna yang suram.

"Bangkai manusia!" jawab Aruna dengan lugas, karena yang lainnya pasti sudah menciuminya.

Ahhh..

Wahh..

Ssshh..

Warga langsung berseru dengan syok, tubuh mereka langsung merinding dan juga sedikit takut. Bangkai manusia dan mayat satu hal yang berbeda, dan ini kali pertama mereka mencium aroma dari bangkai manusia.

"Hah, apa ada di sekitar sini?" tanya Kakek Ji.

"Sekitar 2 KM di depan sana, bukan cuman satu, ada beberapa!" Ucap Aruna.

"Astagaa,, pantas sudah tercium dari jarak jauh, ternyata ada banyak. Jadi bagaimana, apa kita lewat situ?" tanya Paman Ji Min.

"Ya, kita tetap lewat situ. Bangkai itu harus diurus, jika tidak akan sangat berbahaya. Bisa terjangkit wabah.

Hanya dengan mendengar kata 'Wabah' para warga langsung pucat pasi. Wabah pernah terjadi, dan itu sangat menyeramkan, banyak korban jiwa, —Wabah tikus.

Aruna meminta mereka menutup hidung dengan kain bersih, dia juga sedikit mengerluarkan tenaga mentalnya agar baunya berkurang. Kenapa cuman sedikit? Agar kedepannya para warga bisa membedakan bangkai manusia dengan bangkai lainnya.

Setelah menggunakan penutup hidung, mereka lanjut jalan dengan perasaan was-was. Kali ini Aruna berada di depan dengan kuda putihnya yang gagah, kuda yang dia dapatkan dari bandit.

"Itu, itu bangkainya!" seru Paman Ji Min sambil menunjuk ke depan dari jarak 10 M.

Kakek Ji meminta warganya kembali berhenti, dari jarak mereka berdiri terlihat ada beberapa mayat tergeletak di bawah pohon. Dilihat dari kondisinya, bangkai itu sudah sekitar seminggu. Tubuh mereka sudah tidak terbentuk, banyak lobang di mana-mana bekas gigitan hewan dan juga belatung.

Dari bentuk tubuhnya, 2 orang tua, 2 orang dewasa dan 2 orang anak-anak. Hanya ada dua pilihan, mereka berenam satu keluarga, atau orang tidak saling kenal bersatu untuk mati bersama.

"Ada apa dengan mereka? Apa yang telah terjadi?" Tanya Kakek Ji dengan perasaan Iba.

"Mungkin mereka dibunuh!" sahut Nenek Suyu raut wajah penuh kesedihan.

"Tidak, mereka mati karena kelelahan dan kelaparan!" Jelas Aruna yang telah memindai mereka, tak ada luka kejahatan ditubuh mereka.

"Apa?"

Seketika mereka terdiam dan termenung, membayangkan posisi mereka jika Aruna tidak membantu. Apakah mereka juga akan mati seperti itu? Apakah tubuh mereka dibuat begitu saja dimakan binatang?

"Kenapa? Kenapa mereka begitu jahat? Membiarkan mereka mati kelaparan! Jika tidak bisa membantu, kubur mereka dengan layak!" Nenek Suyu berkata dengan suara serak, air matanya sudah mengalir deras. Dia juga orang tua yang memiliki anak dan cucu.

Setelah lama terdiam Kakek Ji berkata "Kita harus mengubur mereka, ada banyak orang lewat, itu sangat bahaya!"

"Tak perlu dikubur, kita tidak boleh menyentuhnya!" Ucap Aruna. Sebenernya mudah saja, ada banyak alat yang bisa dia gunakan di dalam ruangnya, tapi itu akan menunda waktu lagi, tidak mungkin juga setiap mereka bertemu bangkai manusia, mereka harus berhenti dan menguburnya.

Oh tidak! dia tidak sesantai itu. Tapi karena ada cara lain yang lebih mudah, jadi kenapa harus ribet.

"Nak, apa rencanamu?" Tanya Kakek Ji, seolah sudah tau.

Aruna jalan lebih dekat, dia memejamkan matanya sejenak meminta arwah mereka pergi dengan tenang.

Creessss

Tiba-tiba bangkai itu terbakar secara bersamaan, hanya dalam hitungan detik keenam mayat tersebut habis terbakar. Dan bau menyengat seketika menghilang.

Mereka menatap Aruna dengan takjub, sebelumnya mereka hanya melihatnya dari jarak jauh, tapi sekarang dilihat dari dekat sangat mengagumkan.

Tidak ada yang menegur tindakan Aruna karena membakar bangkai itu, menurut mereka itu lebih baik, daripada dibiarkan begitu saja.

"Waahh.. Apakah aku juga bisa melakukannya jika kekuatanku naik level?" tanya Chen dengan antusias.

"Hmm, maka semangat lah untuk berlatih!" Balas Aruna.

Chen dan yang lainnya sangat gembira, mereka sudah tak sabar lagi menunggu hari di mana mereka bisa menggunakan kekuatan untuk membantu orang lain.

Mereka melanjutkan perjalanan, dan tebakan Aruna benar terjadi. Di sepanjang jalan, ada banyak bangkai manusia, bahkan ada yang tersisa tulangnya saja.

Rombongan berjalan dengan suasana hati yang kurang baik, kali ini mereka banyak diam, bagaimanapun orang-orang itu adalah pengungsi seperti mereka.

1
Andira Rahmawati
ceritanya sgt keren
Andira Rahmawati
kerennnn👍👍👍👍
lanjut thorr💪💪💪
Chen Nadari
luar biasa thor👍
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
👍👍👍👍👍
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
ayo Thor lanjut 👍👍👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!