NovelToon NovelToon
Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.

Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.

Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama yang Gagal Total dan Invasi Daster

Mereka tertawa bersama, memulai lembaran baru sebagai pasangan suami istri paling unik di Jakarta. Perjalanan mereka emang penuh drama, tapi justru drama itulah yang bikin ikatan mereka makin kuat.

Malam pertama setelah pesta besar-besaran harusnya jadi momen paling romantis sedunia, kan? Bayangannya: lilin aromaterapi, musik jazz pelan, dan pemandangan kota Jakarta dari lantai atas penthouse baru mereka. Tapi ya balik lagi, ini ceritanya Nara dan Rian. Realitanya? Jauh panggang dari api, Bro!

Nara baru aja selesai mandi dan dia keluar pake daster "tempur" barunya: sutra hitam dengan bordir buah naga emas di punggung. Dia udah siap mau gaya ala-ala femme fatale di depan suaminya.

"Mas... Mas Rian..." panggil Nara dengan suara yang dibuat-buat manja.

Rian yang lagi duduk di pinggir kasur sambil buka kancing kemejanya langsung nengok. Matanya sempet melongo liat Nara. "Nara, kamu... cantik banget malam ini."

Nara udah mau nyamperin, tapi tiba-tiba... KRIUUKKKKK~

Suara perut Nara bunyi kenceng banget sampai kedengeran ke seluruh ruangan. Nara langsung megangin perutnya sambil masang muka melas.

"Mas... saya laper banget. Tadi di pesta saya cuma sempet makan cilok dua biji gara-gara sibuk salaman sama kolega Papa Mas yang jumlahnya kayak suporter bola," keluh Nara.

Rian yang tadinya udah mode romantis langsung tepuk jidat. "Nara, Nara... di malam kayak gini kamu malah laper?"

"Ya mau gimana lagi, Mas! Perut nggak bisa diajak kompromi!"

Akhirnya, malam pertama mereka dihabiskan dengan... Masak mi instan cup di dapur.

Bisa lo bayangin nggak, Bro? Pasangan pengantin baru paling viral di Jakarta, yang satu pake daster sutra mahal, yang satu pake celana piama branded, duduk lesehan di lantai dapur sambil nyeruput mi instan bareng.

"Mas, mi instan yang ini kurang micin deh," gumam Nara sambil nambahin bumbu sachet cadangan dari kantong dasternya.

Rian cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyuap mi-nya. "Cuma kamu, Nara... satu-satunya istri miliarder yang nyimpen bumbu mi instan di kantong baju sutranya. Tapi ya sudahlah, yang penting kamu kenyang dan nggak ngomel lagi."

Besok paginya, Rian bangun dan ngerasa ada yang aneh sama kamar mereka. Pas dia buka mata, dia hampir aja teriak. Kamar minimalisnya yang dulu rapi, putih, dan "kaku" banget, sekarang udah berubah jadi toko daster.

Ada gantungan baju di mana-mana yang isinya daster berbagai motif. Ada tumpukan kain di pojokan, dan meja kerjanya udah dipenuhi sama tablet desain dan kabel-kabel yang berantakan.

"Nara... ini apa?" tanya Rian sambil ngucek mata.

Nara nongol dari balik tumpukan bantal dengan muka bantalnya. "Pagi, Suamiku! Itu namanya 'ekspansi wilayah'. Sekarang ini bukan cuma kamar Mas, tapi markas kreatif Nara Anindita Ardiansyah!"

Rian narik napas panjang. "Efisiensi ruang kita hancur total, Nara. Tapi... ya sudahlah. Asalkan kamu seneng."

Tapi kejutan sebenernya baru dimulai pas mereka mau sarapan. Tiba-tiba bel pintu penthouse mereka bunyi. Satya masuk dengan muka lempengnya yang legendaris.

"Izin Pak Rian, di depan ada kiriman lima puluh box besar. Katanya kiriman untuk Ibu Nara," lapor Satya.

Rian nengok ke Nara. "Nara? Kamu belanja lagi?"

Nara nyengir kuda. "Hehe... itu... itu daster koleksi terbaru dari pengrajin di desa-desa yang saya bina, Mas! Saya mau bikin pameran 'Daster Goes to Global'!"

Rian langsung lemes. "Nara, kita baru nikah satu hari! Kamu sudah mau bikin pameran daster global?!"

"Harus gercep dong, Mas! Mumpung status saya lagi naik daun!"

Siang harinya, Rian harus ke kantor buat urusan mendadak. Nara mutusin buat ikut karena dia bosen di rumah. Pas sampai di kantor, suasana langsung heboh. Semua staf nunduk hormat, tapi kali ini mereka manggilnya beda.

"Selamat siang, Ibu Rian," ucap resepsionis.

Nara langsung merinding. "Aduh Mbak, jangan panggil Ibu. Berasa saya udah punya anak lima. Panggil Mbak Nara aja kayak biasa."

Pas di dalem lift, cuma ada Rian, Nara, dan Satya. Rian tiba-tiba narik pinggang Nara deket ke dia. "Gimana rasanya jadi 'Ibu CEO'?"

"Aneh, Mas. Berasa lebih tua sepuluh tahun," jawab Nara sambil benerin kerah kemeja Rian.

Tiba-tiba pintu lift kebuka di lantai tim kreatif. Nara langsung lari keluar. "KEVIN! Eh... maksud saya tim! Ayo kita rapat! Saya punya ide gila buat desain katalog daster premium!"

Rian ditinggal sendirian di lift sama Satya. Rian nengok ke Satya. "Satya, menurut kamu, istri saya itu emang hiperaktif atau gimana?"

Satya diem sebentar, terus jawab dengan nada paling datar sejagat raya. "Menurut analisis saya, Pak... Mbak Nara itu ibarat petasan banting. Kecil, berisik, tapi bikin suasana jadi ramai. Bapak beruntung."

Rian senyum tipis. "Iya. Saya emang beruntung banget."

Tapi, di tengah kebahagiaan itu, sebuah masalah baru muncul. Pas lagi asyik rapat, Nara dapet telepon dari nomor kantor polisi.

"Halo? Benar ini dengan Ibu Nara?"

"Iya, saya sendiri. Ada apa ya Pak?"

"Kami ingin menginformasikan bahwa Andra, sepupu suami Anda, berhasil melarikan diri saat dalam perjalanan menuju persidangan pagi tadi. Kami mohon Ibu dan Bapak Rian untuk lebih waspada."

Nara langsung lemes. HP-nya hampir jatuh. Dia langsung lari ke ruangan Rian tanpa ngetuk pintu.

"MAS! ANDRA KABUR!"

Rian yang lagi tanda tangan dokumen langsung berdiri. Mukanya berubah jadi dingin dan tajam lagi. "Kabur? Bagaimana bisa?"

"Katanya ada sabotase di mobil tahanan, Mas!"

Rian langsung nengok ke Satya yang stand-by di pojok ruangan. "Satya! Lock down semua akses. Jangan biarkan Nara keluar dari jangkauan kamu satu senti pun. Dan hubungi Bima, saya mau Andra ketemu sebelum matahari terbenam!"

Nara meluk lengan Rian. "Mas... kok nggak abis-abis sih masalahnya?"

Rian meluk Nara erat. "Tenang, Nara. Kali ini saya nggak bakal main-main. Dia sudah bikin kesalahan besar dengan kabur. Dan saya bakal pastiin ini jadi pelarian terakhir dia."

Di balik jendela kantor yang tinggi, sebuah cahaya merah laser sempet lewat di kaca, tepat ke arah dada Rian. Tapi cuma sekilas, lalu menghilang. Sepertinya Andra nggak cuma mau kabur, dia mau balas dendam secara frontal.

Suasana ruangan CEO yang tadinya hangat langsung berubah jadi sedingin kutub utara. Rian narik Nara menjauh dari jendela besar itu. Dia nggak mau ambil risiko sekecil apa pun.

(⁠☞⁠^⁠o⁠^⁠)⁠ ⁠☞ ⟵⁠(⁠๑⁠¯⁠◡⁠¯⁠๑⁠)

(⁠つ⁠≧⁠▽⁠≦⁠)⁠つ ⊂⁠(⁠´⁠・⁠◡⁠・⁠⊂⁠ ⁠)⁠∘⁠˚⁠˳⁠°

1
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!