NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - Support System

Pintu ruang ujian terbuka perlahan. Satu per satu siswa keluar dengan wajah lelah yang hampir seragam. Ada yang langsung ngobrol, ada yang diam, ada juga yang ekspresinya kosong seperti habis ditinggal sesuatu.

Giselle melangkah keluar paling akhir. Bahunya turun, langkahnya gontai. Kepalanya terasa berat, seperti dipenuhi angka, grafik, dan istilah ekonomi yang saling bertabrakan. Begitu matanya menangkap satu sosok yang berdiri bersandar di dinding depan ruangan, ekspresinya langsung berubah.

“Baaa…” rintihnya panjang sembari berlari mendekati Libra.

Libra yang sejak tadi menunggu langsung menoleh. Begitu melihat Giselle, ia tersenyum kecil. “Akhirnya keluar juga.”

Giselle berhenti tepat di depan Libra. Wajahnya kusut, rambutnya sedikit berantakan, matanya sayu.

“Gila, Ba. Susah banget,” katanya cepat, napasnya masih berat. Otaknya masih belum lepas dari soal-soal yang mampu membantai pikirannya beberapa saat yang lalu.

“Sumpah ya, ini kepala rasanya mau copot. Kayak abis diperas terus diputer," keluh Giselle.

Libra terkekeh. “Lebay.” Pemuda itu menyentil kening Giselle dengan pelan.

“Ini bukan lebay,” protes Giselle, wajahnya berubah masam. “Ini fakta. Ekonomi tuh kejam. Grafiknya kayak ngajak ribut.”

Libra tertawa kecil, lalu meraih botol minum dari tasnya dan menyodorkannya ke Giselle. “Minum dulu.”

Giselle menerima botol itu, minum beberapa teguk, lalu menghela napas panjang. “Lo ngerjainnya gimana sih? Kok bisa santai banget.”

“Ya dikerjain pelan-pelan,” jawab Libra ringan. “Yang bisa, ya dijawab. Yang gak bisa, ya diusahain.”

Giselle mendengus. “Gampang banget kayaknya buat lo.”

“Lo aja yang kebanyakan mikir,” balas Libra.

Giselle terdiam sebentar, lalu tiba-tiba menyengir. “Eh, tapi pas soal terakhir gue ngarang dikit.”

Libra mengangkat alis. “Astaga”

“Daripada kosong,” bela Giselle. “Siapa tau gurunya baik hati terus tetep di kasih nilai.”

“Iya, gapapa. Yang penting udah berusaha,” ujar Libra sembari menepuk-nepuk kepala Giselle, berlagak seolah ia adalah ayah yang sedang bangga dengan anaknya.

Giselle terkekeh. Mereka berjalan pelan menjauh dari depan ruang ujian. Lorong sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Suara tawa dan keluhan bercampur menjadi satu. Ujian telah sudah selesai. Terhitung satu minggu lebih empat hari mereka melaksanakan ujian kenaikan kelas. Giselle benar-benar mencurahkan semua tenaga dan pikirannya untuk mengerjakan ujian dengan keras.

“Kita ke kantin, yuk,” ajak Libra. “Otak lo butuh pendinginan.”

“Setuju,” jawab Giselle cepat. “Mau beli es yang banyak. Otak gue kepanasan.”

"Sini gue tiup," ujar Libra sembari meniup wajah Giselle.

"Ihh jangan gitu, lo bau." Giselle berlari mendahului Libra dengan tertawa. Libra yang merasa ditinggal hanya bisa mendengus kesal, lalu ikut berlari mengejar Giselle.

"Woi, tungguin gue, Pen."

Di kantin, Giselle langsung memesan es teh manis. Bahkan minta ditambah es batu yang banyak. Begitu gelas itu sampai, ia menempelkannya sebentar ke pipinya.

“Dingin,” gumamnya puas.

Libra duduk di depannya, memperhatikan tingkah kekanak-kanakan Giselle dengan senyum tipis. Ia bersyukur gadis itu masih bisa seceria biasanya di tengah tekanan yang begitu besar dari orang tuanya.

Beberapa detik mereka diam. Giselle menyeruput minumannya, Libra menatap ke arah lapangan yang terlihat dari kantin. Angin sore masuk pelan, membawa rasa lega yang telat datang.

“Ba,” panggil Giselle tiba-tiba.

“Hm?”

“Makasih ya,” ucapnya pelan.

Libra menoleh. “Makasih buat apa?”

“Makasih karena udah nemenin gue belajar. Sabar banget ngejelasin materi berkali-kali,” jawab Giselle sambil memainkan sedotan. “Gue seneng lo ada.”

Libra tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum kecil. “Ujian udah kelar. Sekarang tugas lo tinggal istirahat.”

Giselle mengangguk. Badannya masih lelah, kepalanya masih berat. Tapi untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, napasnya terasa lebih ringan.

Ujian itu belum tentu berakhir dengan hasil yang ia inginkan. Tapi hari itu, duduk di kantin dengan es dingin di tangan dan Libra di depannya, Giselle merasa satu hal—ia sudah melewati bagian terberatnya. Dan ia tidak sendirian.

...***...

21 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!