Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pesta Kematian di Puncak Langit
Gerbang megah Sekte Pedang Langit yang terletak di puncak Gunung Jian berdiri dengan angkuh.
Hari ini, ribuan lampion merah menghiasi setiap sudut paviliun, melambangkan kemakmuran dan panjang umur bagi Tetua Agung mereka, Mu Rong.
Aroma arak berkualitas tinggi dan daging panggang tercium hingga ke kaki gunung, mengaburkan aroma darah yang pernah tumpah di tanah ini sepuluh tahun silam.
Di antara kerumunan tamu yang mengenakan jubah sutra mewah, seorang pria dengan jubah abu-abu sederhana tampak berjalan dengan tenang.
Ia mengenakan caping bambu yang menutupi sebagian wajahnya. Tidak ada yang menaruh curiga; semua orang menganggapnya hanya pelayan dari salah satu sekte kecil yang datang untuk memberi penghormatan.
Itu adalah Xiao Chen. Di balik jubahnya, buku tua berlumur darah itu bergetar pelan, seolah ikut merasakan nafsu membunuh yang meluap dari pemiliknya.
"Selamat datang, Saudara! Dari sekte mana asalmu?" tanya seorang murid penjaga gerbang dengan nada sombong yang khas.
Xiao Chen berhenti tepat di depan gerbang. Ia sedikit mengangkat kepalanya, memperlihatkan senyum tipis yang dingin. "Aku tidak berasal dari sekte mana pun. Aku hanya datang untuk mengantarkan hadiah yang tertunda selama sepuluh tahun."
Murid itu mengerutkan kening. "Sepuluh tahun? Apa maksudmu?"
Xiao Chen tidak menjawab. Ia hanya berjalan melewati penjaga itu. Saat bahu mereka bersenggolan, Xiao Chen menjatuhkan setitik cairan bening ke lengan baju sang murid. Tanpa suara, tanpa bau.
Xiao Chen memasuki aula utama tempat perjamuan berlangsung. Di sana, di atas kursi naga emas, duduklah Mu Rong, sang Tetua Agung yang kini telah mencapai puncak Ranah Inti Bumi. Di sekelilingnya, para petinggi sekte tertawa terbahak-bahak, menyombongkan kekuatan dan kejayaan mereka.
"Mari bersulang untuk kedamaian dunia persilatan!" seru Mu Rong sambil mengangkat cawan emasnya.
"Sulang!" teriak ratusan orang serempak.
Xiao Chen berdiri di sudut ruangan, menyandarkan tubuhnya pada pilar besar. Ia memperhatikan bagaimana mereka meminum arak itu dengan rakus.
Ia sudah tiba tiga jam lebih awal untuk menyusup ke dapur dan gudang penyimpanan arak. Ia tidak menaruh racun yang langsung membunuh, karena itu terlalu membosankan.
Ia menggunakan "Racun Embun Penjerat Jiwa", sebuah ramuan yang ia ciptakan dari sari bunga bangkai dan empedu kalajengking hitam. Racun ini tidak bereaksi sampai target menggunakan energi Qi mereka secara maksimal.
Tiba-tiba, penjaga gerbang yang tadi menyapa Xiao Chen berlari masuk ke aula dengan wajah pucat. "T-Tetua! Ada yang salah... tubuhku..."
Seketika, murid itu tumbang. Tubuhnya mulai mencair perlahan dari bagian lengan yang bersentuhan dengan Xiao Chen, berubah menjadi cairan hitam yang berbau busuk. Jeritan ngeri pecah di tengah aula yang tadinya penuh tawa.
"Siapa yang berani mengacau di pesta Sekte Pedang Langit?!" Mu Rong berdiri, aura Ranah Inti Bumi-nya meledak, menekan semua orang di ruangan itu.
Xiao Chen melangkah maju dari bayangan pilar, melepaskan caping bambunya. "Mu Rong, apakah kau masih ingat dengan seorang petani di desa terpencil yang kau bantai hanya karena sebuah buku kosong?"
Mu Rong menyipitkan mata, mencoba mengingat. "Petani? Aku telah membunuh ribuan semut seperti itu. Aku tidak punya waktu untuk mengingat setiap nyawa yang tak berharga."
"Begitu ya?" Xiao Chen tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan pisau di atas batu. "Kalau begitu, biarkan aku menyegarkan ingatanmu."
Xiao Chen melepaskan aura Qi ungu gelapnya. Seketika, suhu di aula menurun drastis. Tanaman hias di dalam pot langsung menghitam dan layu. Para pendekar yang tadi bersulang mulai merasakan jantung mereka berdetak tidak beraturan.
"Kau... kau adalah bocah itu?!" Mu Rong terkejut melihat kekuatan yang dipancarkan Xiao Chen. "Beraninya kau datang mencari mati! Habisi dia!"
Puluhan murid elit sekte menghunus pedang mereka dan melompat ke arah Xiao Chen. Namun, saat mereka mengerahkan energi Qi untuk menyerang, racun yang sudah menyatu dengan aliran darah mereka bereaksi.
"AGHHH!"
"Tanganku! Tanganku membusuk!"
Satu per satu pendekar itu jatuh. Setiap kali mereka mencoba mengeluarkan energi, racun itu justru semakin cepat membakar organ dalam mereka. Aula megah itu berubah menjadi rumah jagal dalam hitungan detik. Darah hitam muncrat ke mana-mana, mengotori lampion-lampion merah yang indah.
Xiao Chen berjalan di antara tumpukan mayat yang mulai membusuk dengan tenang. Ia menatap Mu Rong yang kini mulai gemetar, berusaha menahan racun di dalam tubuhnya.
"Jangan khawatir, Mu Rong," ucap Xiao Chen sambil membuka buku tuanya dan mengambil sebuah pena bulu yang telah dicelupkan ke dalam racun paling mematikan. "Namamu adalah nama pertama yang akan kutulis di bab pertama Kitab Racun versiku sendiri. Aku akan memastikan kau mati dengan cara yang paling lambat dan menyakitkan yang pernah ada di dunia ini."
Mu Rong mencoba menyerang dengan jurus pamungkasnya, "Pedang Langit Pembelah Bumi!", namun saat pedang energinya terbentuk, seluruh pembuluh darah di matanya pecah. Ia jatuh berlutut, memuntahkan potongan hatinya sendiri yang telah menghitam.
Xiao Chen berdiri di depan pria tua itu, menatapnya dengan pandangan dingin yang kosong. "Sepuluh tahun yang lalu, kau mencari kitab yang tidak ada. Sekarang, kau harus bangga... karena kaulah yang menjadi tinta pertama untuk menulis kitab itu."
Di bawah langit malam yang diterangi api dari bangunan sekte yang mulai terbakar, Xiao Chen menuliskan nama Mu Rong dengan cairan hitam di atas kertas kulitnya. Babak pertama balas dendamnya baru saja dimulai.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.