(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25
Kota Awan – Distrik Perdagangan.
Kota Awan adalah pusat ekonomi terbesar di wilayah Sekte Awan Rusak. Jalanan dipenuhi kultivator, pedagang, dan manusia biasa. Toko-toko senjata dan alkimia berjejer rapi.
Tiga sosok berjalan membelah keramaian.
Di tengah, Ye Xing berjalan santai dengan jubah biru barunya (hadiah murid inti), tangan di belakang kepala. Di kiri, Lin Xiao berjalan tegap membawa barang-barang belanjaan seperti kuli panggul setia. Di kanan, Mei Wuchen berjalan dengan wajah tertutup cadar tipis, tapi aura ketidakpuasannya menembus kain itu.
"Udara di sini kotor," keluh Mei Wuchen untuk kesepuluh kalinya. "Qi-nya tipis seperti sup encer. Dan lihat barang-barang itu! Mereka menjual Rumput Roh tingkat 1 seharga 10 Batu Roh? Di kebun belakang rumahku, rumput itu dicabut dan dikasih makan binatang roh!"
Ye Xing menghela napas. "Mei'er, turunkan standarmu. Ini Alam Bawah. Bagi mereka, kotoran binatang rohmu itu harta karun."
"Cih. Membosankan."
Mereka berhenti di depan sebuah bangunan megah bertuliskan [Paviliun Harta Karun]. Ini adalah toko senjata termewah di kota.
"Kita butuh senjata cadangan untuk Lin Xiao," kata Ye Xing. "Perisainya sudah rusak kemarin. Ayo masuk."
Begitu masuk, pelayan toko langsung menyambut mereka dengan ramah melihat jubah murid inti Ye Xing.
"Selamat datang, Tuan Muda dari Sekte Awan Rusak! Kebetulan sekali, kami baru saja kedatangan barang spesial hari ini! Pedang Tingkat Menengah buatan Master Tie!"
Pelayan itu menunjuk ke sebuah kotak kaca di tengah ruangan. Di dalamnya, sebuah pedang perak berkilau dipajang dengan bangga.
Sekelompok kultivator muda sedang mengelilingi pedang itu, berdecak kagum. Di tengah mereka, seorang pemuda berpakaian sutra emas Tuan Muda Jin dari Klan Jin sedang menawar dengan angkuh.
"Pedang yang bagus!" seru Tuan Muda Jin. "Lihat ketajamannya! Aku tawar 500 Batu Roh!"
Lin Xiao ikut melongok. "Wah, Bos! Pedangnya berkilau! Keren!"
Namun, tiba-tiba terdengar suara tawa meremehkan yang sangat tidak sopan.
"Pffft!"
Semua orang menoleh. Mei Wuchen sedang menutup mulutnya, berusaha menahan tawa tapi gagal.
Tuan Muda Jin mengerutkan kening, menatap gadis bercadar itu. "Apa yang lucu, Nona? Kau meremehkan Pedang Perak Kilat ini?"
Mei Wuchen berhenti tertawa, lalu menatap pedang itu dengan tatapan jijik.
"Pedang?" tanya Mei Wuchen polos. "Maaf, aku kira itu tusuk gigi raksasa. Besinya tidak murni, ada 30% campuran timah. Tempaannya kasar, ada retakan kecil di gagangnya. Dan 'kilauan' itu? Itu cuma cairan kristal murahan. Kalau dipakai memotong bambu mungkin bisa, tapi memotong tulang? Patah dalam dua kali ayunan."
Hening.
Pelayan toko pucat pasi. Tuan Muda Jin merah padam.
"Kurang ajar!" bentak Tuan Muda Jin. "Kau berani menghina harta karun Paviliun ini?! Kau tahu siapa aku?! Aku Jin Bao, putra Walikota! Apa kau punya bukti omonganmu?!"
Ye Xing memijat pelipisnya. Baru lima menit masuk toko...
"Maaf, Tuan Jin," sela Ye Xing, mencoba mendamaikan. "Teman saya ini matanya agak rabun. Dia sering salah lihat."
"Tidak, aku tidak rabun," potong Mei Wuchen keras kepala. Dia melangkah maju menembus kerumunan, berdiri tepat di depan kotak kaca itu. "Kalian tidak percaya? Sini kulihat."
Tanpa izin, Mei Wuchen membuka kotak kaca itu dan mengambil pedang tersebut.
"Hei! Jangan sentuh!" teriak pelayan.
Mei Wuchen memegang pedang itu dengan dua jari telunjuk dan jempol di bagian tengah bilahnya.
"Lihat ini," kata Mei. "Besi yang bagus harusnya punya Fleksibilitas. Tapi sampah ini..."
TING!
Mei Wuchen menjentikkan jari tengahnya ke bilah pedang itu dengan ringan.
Hanya jentikan jari. Tidak ada Qi yang meledak.
Tapi pedang perak "pusaka" itu bergetar hebat, lalu...
KRAK!
Bilah pedang itu patah jadi dua bagian. Potongan atasnya jatuh berdenting ke lantai.
Semua orang melongo. Rahang Tuan Muda Jin jatuh. Pelayan toko hampir pingsan.
Mematahkan senjata tingkat menengah dengan jentikan jari? Kekuatan fisik macam apa itu?!
"Tuh kan," Mei Wuchen melempar gagang pedang yang sisa itu ke lantai. "Sampah. Sudah kubilang."
Ye Xing menepuk jidatnya. Aduh.
"K-k-kau..." Tuan Muda Jin gemetar menunjuk Mei. "Kau merusak barang dagangan! Kau harus ganti rugi 500 Batu Roh! Dan kau harus berlutut minta maaf padaku karena membuatku malu!"
Mei Wuchen memiringkan kepala. "Ganti rugi? Untuk sampah? Harusnya kalian berterima kasih aku sudah menyelamatkan kalian dari membeli barang cacat."
"Tangkap dia!" teriak Jin Bao pada pengawalnya. Empat pengawal kekar (Qi Condensation Tingkat 8) maju mengepung.
"Lin Xiao," panggil Ye Xing lelah.
"Siap, Bos!" Lin Xiao maju pasang badan.
"Bukan, bukan untuk bertarung," kata Ye Xing. Dia merogoh saku, lalu mengeluarkan kantong berisi 1000 Batu Roh (hasil rampasan turnamen). Dia melemparnya ke wajah Tuan Muda Jin.
BUK!
Kantong berat itu menghantam hidung Jin Bao.
"Di situ ada 1000 Batu Roh," kata Ye Xing datar. "500 untuk ganti rugi pedang sampah itu. 500 lagi untuk biaya pengobatan mentalmu."
Ye Xing kemudian menarik kerah baju belakang Mei Wuchen seperti menarik kucing nakal.
"Ayo pulang. Kau dilarang masuk toko lagi."
"Lepaskan! Aku belum selesai menceramahi mereka soal artefak!" protes Mei Wuchen sambil meronta-ronta saat diseret keluar.
Jin Bao memegang kantong uang itu dengan bingung. Dia mau marah, tapi aura yang dipancarkan pemuda itu... dan kekuatan jari si gadis tadi... instingnya berteriak JANGAN CARI MASALAH.
"Siapa mereka sebenarnya?" bisik Jin Bao ngeri.
Di Luar Toko.
Ye Xing melepaskan Mei Wuchen.
"Kau gila?" omel Ye Xing. "Kita harus Rendah diri! Mematahkan pedang di depan umum itu tidak rendah diri!"
"Habisnya aku kesal!" Mei Wuchen bersedekap. "Mereka memuja sampah! Itu penghinaan bagi seni pedang!"
"Ini Alam Bawah, Tuan Putri," Ye Xing menunjuk sekeliling. "Biasakan dirimu. Di sini, batu sungai pun bisa dijual sebagai jimat kalau bagus."
Lin Xiao tertawa canggung. "Tapi... Kakak Ipar Mei keren sekali tadi! Jentikan jarinya... Ting! Patah!"
Mei Wuchen tersenyum bangga pada Lin Xiao. "Lihat? Kacungmu saja paham seni."
Ye Xing menggeleng. Dia kemudian mengeluarkan peta kuno dari cincinnya.
"Sudah cukup main-mainnya. Kita sudah punya sumber daya. Sekarang waktunya serius."
Ye Xing membuka peta itu di gang sepi.
"Lihat ini," tunjuk Ye Xing pada titik merah di peta. "Alam Rahasia yang akan kita masuki bernama Makam Bintang Jatuh. Namanya,,, tapi..."
Mei Wuchen menyentuh peta itu. Wajahnya berubah serius. "Ada aura Ayahku di peta ini."
"Ayahmu?" Ye Xing kaget. "Dewa Pedang?"
"Ya. Dan ada aura Kakek Tian Feng juga. Mereka berdua pernah ke sini."
Mei Wuchen menatap Ye Xing.
"Xing, Alam Rahasia ini bukan tempat harta karun. Ini adalah area Penyegelan. Dan kalau segelnya butuh gabungan kekuatan Dewa Pedang dan Dewa Bintang... berarti yang dikurung di sana adalah sesuatu yang sangat, sangat buruk."
Ye Xing meremas peta itu.
"Fang Que pasti mengincar tempat ini," simpul Ye Xing. "Dia ingin melepaskan apa pun yang ada di sana."
"Kalau begitu," Mei Wuchen tersenyum, tapi kali ini senyumnya dingin dan tajam, senyum seorang pejuang sejati. "Kita harus sampai di sana duluan. Dan jika makhluk itu keluar... kita tebas kepalanya bersama-sama."
Ye Xing menatap Mei Wuchen, lalu menatap Lin Xiao yang siap sedia.