Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tertinggal
Minggu-minggu bergulir lambat bagi Sekar Arum, seperti sungai yang kehilangan arusnya. Rumah terasa sepi tanpa dentingan gitar atau lantunan nada yang mengisi ruangan. Kebisuan itu menjadi pengingat konstan tentang panggung yang telah hilang.
Awalnya, setiap pagi terasa berat. Bangun tanpa tujuan yang jelas membuatnya enggan beranjak dari tempat tidur. Ia merindukan rutinitas lamanya, keasikan berlatih vokal, degup jantung yang berpacu menjelang penampilan, dan kehangatan sorot lampu yang menyinari wajahnya. Namun, semakin lama, ia belajar untuk menerima keadaan baru.
Ia memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang selama ini terabaikan: sekolah, keluarga, dan dirinya sendiri. Ia mulai mengejar ketertinggalan dalam pelajaran, membaca buku-buku yang lama teronggok di rak, dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarganya.
Ajaibnya, semakin ia fokus pada hal-hal tersebut, semakin pula ia menemukan kebahagiaan yang sederhana namun bermakna. Ia menikmati diskusi seru dengan Lintang tentang buku-buku yang mereka baca, membantu Ibunya memasak makanan kesukaan Bapaknya, dan mendengarkan cerita-cerita lucu Bapaknya tentang masa mudanya.
Di sekolah, ia mulai lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Ia tidak lagi merasa terbebani dengan tuntutan untuk menjadi yang terbaik, melainkan lebih tertarik untuk memahami materi pelajaran secara mendalam. Ia terkejut menemukan bahwa ia sebenarnya cukup pintar dan mampu meraih prestasi yang baik.
Suatu siang, saat sedang berjalan menuju perpustakaan, matanya tertarik pada kerumunan siswa yang berkumpul di depan aula sekolah. Ia mendekat dan melihat sebuah poster besar yang mengumumkan pendaftaran anggota baru untuk klub drama sekolah.
Jantungnya berdebar kencang. Kenangan tentang panggung dan seni pertunjukan kembali menghantuinya. Ia selalu tertarik pada dunia drama, namun tidak pernah berani untuk mencobanya karena merasa tidak percaya diri dan takut gagal.
Kali ini, sesuatu berbeda. Ia merasa ada kekuatan baru yang mendorongnya untuk keluar dari zona nyamannya. Ia merasa bahwa mungkin inilah kesempatan untuk menemukan passion baru dan mengisi kekosongan yang tertinggal setelah ia berhenti bernyanyi.
Namun, keraguan tetap saja menghantuinya. Ia takut tidak mampu bersaing dengan siswa-siswa lain yang lebih berpengalaman. Ia takut akan dicemooh dan dipermalukan jika penampilannya buruk. Bayangan Ranti dan kata-kata kasarnya kembali terlintas di benaknya, membuatnya gemetar ketakutan.
Ia terdiam sejenak, berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mengingat nasihat Ibunya untuk tidak terlalu terpaku pada satu hal dan untuk menjelajahi dunia dengan berani.
Ia memutuskan untuk mengabaikan ketakutannya dan mencoba sesuatu yang baru. Ia menghampiri meja pendaftaran dan mengambil formulir pendaftaran anggota baru klub drama.
Saat mengisi formulir, tangannya gemetar hebat. Ia merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang sangat penting dan berarti. Ia menuliskan namanya dengan hati-hati, berharap bahwa keputusan ini akan membawa perubahan positif dalam hidupnya.
Setelah selesai mengisi formulir, ia menyerahkannya kepada petugas yang berjaga di meja pendaftaran. Petugas itu tersenyum ramah dan mengucapkan selamat bergabung.
Sekar Arum membalas senyuman itu dengan canggung. Ia merasa lega sekaligus gugup. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, namun ia bertekad untuk memberikan yang terbaik.
Keesokan harinya, ia datang ke ruang kesenian untuk mengikuti pertemuan pertama klub drama. Ia merasa canggung dan tidak percaya diri saat masuk ke dalam ruangan. Semua mata tertuju padanya, membuatnya semakin gugup.
Namun, ketika ia melihat senyuman ramah dari anggota-anggota klub yang lain, ia merasa sedikit lebih tenang. Ia mengenalkan dirinya dan duduk di kursi kosong yang tersedia.
Ketua klub, seorang siswa kelas dua belas yang bernama Rino, mulai memberikan sambutan. Ia menjelaskan tujuan dan program kerja klub drama, serta memperkenalkan anggota-anggota yang lain.
Sekar Arum mendengarkan dengan saksama, berusaha untuk mencerna semua informasi yang diberikan. Ia merasa terinspirasi oleh semangat dan antusiasme anggota-anggota yang lain.
Setelah sambutan selesai, Rino mengumumkan bahwa klub drama akan segera memulai persiapan untuk pentas seni sekolah. Ia mengajak semua anggota untuk berpartisipasi aktif dalam proses persiapan.
Sekar Arum merasa tertangtang dengan ajakan Rino. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi klub drama.
Ia mengangkat tangannya dan mengajukan diri untuk membantu dalam bagian dekorasi panggung. Ia merasa memiliki kreativitas dan imajinasi yang cukup baik, dan ia yakin bahwa ia bisa memberikan kontribusi yang signifikan dalam bagian ini.
Rino tersenyum dan menerima tawaran Sekar Arum dengan senang hati. Ia mengatakan bahwa setiap bantuan sangat berharga dan bahwa ia sangat menghargai inisiatif Sekar Arum.
Sekar Arum merasa senang dan termotivasi. Ia bertekad untuk bekerja keras dan memberikan yang terbaik dalam klub drama. Ia berharap bahwa melalui klub ini, Ia berharap bahwa melalui klub ini, ia bisa menemukan kembali dirinya dan meraih kebahagiaan yang selama ini ia cari.
Setelah pertemuan selesai, Sekar Arum berjalan pulang dengan hati yang penuh dengan semangat dan harapan. Ia merasa bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat dengan bergabung dengan klub drama.
Ia tidak lagi merasa kosong dan kehilangan. Ia telah menemukan tujuan baru dalam hidupnya, yaitu untuk mengembangkan bakat aktingnya dan berkontribusi dalam seni pertunjukan.
Sesampainya di rumah, ia menceritakan semua pengalamannya kepada Bapak, Ibu, dan Lintang. Mereka mendengarkan dengan saksama dan memberikan dukungan penuh.
"Ibu senang mendengar kamu menemukan kegiatan yang positif," kata Ibu dengan senyum bahagia.
"Bapak yakin kamu akan sukses dalam bidang ini," kata Bapak dengan nada optimis.
"Aku juga akan selalu mendukungmu, Kar," kata Lintang dengan penuh semangat.
Sekar Arum merasa terharu dengan dukungan keluarganya. Ia tahu bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ia selalu memiliki orang-orang yang mencintainya di sisinya.
Malam itu, sebelum tidur, Sekar Arum berdoa kepada Tuhan. Ia mengucapkan terima kasih atas semua berkat yang telah diberikan kepadanya.
Ia berjanji bahwa ia akan selalu berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik, untuk menggapai cita-citanya, dan untuk membahagiakan keluarganya.
Ia memejamkan matanya dan tertidur dengan nyenyak. Dalam mimpinya, ia melihat dirinya berdiri di atas panggung, bukan sebagai penyanyi, melainkan sebagai seorang aktris yang memukau.
Ia tersenyum dalam tidurnya. Ia tahu bahwa hidup memiliki banyak kejutan dan bahwa ia harus selalu siap untuk menghadapi tantangan dan meraih peluang yang ada di depan matanya.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun ia yakin bahwa ia akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dan untuk menemukan kebahagiaan sejati dalam hidupnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*