NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 28

Ruangan arsip itu berada di lantai paling bawah gedung lama Reynard, tersembunyi di balik pintu besi yang jarang dibuka. Lampu neon memancarkan cahaya pucat, membuat deretan lemari besi tampak lebih dingin dari seharusnya. Udara di dalam berbau kertas tua dan logam, seperti tempat yang sengaja dibiarkan menua bersama rahasianya.

Yurie berdiri di tengah lorong sempit, memegang map cokelat yang baru saja dikeluarkan Kaiden dari salah satu laci. Jantungnya berdetak pelan, namun teratur—bukan karena takut, melainkan karena perasaan aneh yang sejak tadi mengikutinya. Perasaan bahwa ia semakin dekat pada sesuatu yang selama ini hanya berupa bayangan.

“Di sini,” kata Kaiden pelan, menunjuk label pada map itu. “Nama perusahaannya muncul lagi.”

Yurie mendekat. Matanya menyapu deretan huruf dan angka yang tertulis rapi. Ia tidak sepenuhnya mengerti isinya, tapi satu hal jelas: nama itu sama dengan yang tercantum di salinan catatan medis dari Irena.

“Jadi bukan kebetulan,” gumamnya.

Kaiden menggeleng. “Tidak ada kebetulan kalau nama yang sama muncul di tempat berbeda, pada waktu yang berdekatan.”

Ia membuka map itu perlahan. Di dalamnya ada laporan distribusi, tanggal pengiriman, dan tanda tangan yang sudah mulai pudar. Kaiden berhenti di satu halaman, lalu mengangkat kepalanya. “Ini jalur masuknya.”

Yurie menarik napas dalam. Ruangan itu terasa makin sempit, seolah dinding-dindingnya ikut mendengarkan. Ia menekan ujung map dengan jarinya, berusaha menahan getaran halus yang muncul.

“Kalau kita lanjut,” katanya pelan, “mereka pasti tahu.”

Kaiden menatapnya. “Mereka sudah tahu.”

Jawaban itu tidak menenangkan, tapi justru membuat Yurie tersenyum tipis. Ada kejujuran di sana. Tidak ada janji manis, tidak ada perlindungan semu.

Ia menoleh ke lemari besi di seberang. “Berapa banyak lagi yang disimpan di ruangan ini?”

“Cukup untuk membuat seseorang sangat ingin menguncinya selamanya,” jawab Kaiden.

Sunyi kembali turun. Lampu neon berdengung pelan di atas kepala mereka. Yurie memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi dengan tatapan yang lebih mantap.

“Kalau begitu,” katanya, “kita buka satu per satu.”

Kaiden mengangguk. Ia menutup map, menyelipkannya ke tas, lalu melangkah ke lemari berikutnya. Kunci berputar, laci terbuka, dan suara logam bergesekan terdengar jelas di ruangan itu—seperti penanda bahwa sesuatu yang lama terkubur, akhirnya mulai diganggu.

Dan di balik pintu besi yang sama, jauh di atas sana, seseorang merasakan kegelisahan kecil yang tak bisa dijelaskan. Seolah ada satu ruangan yang seharusnya tetap sunyi… baru saja diberi napas.

Laci ketiga terbuka dengan bunyi berderit pelan. Kaiden menariknya setengah saja, seolah khawatir suara yang terlalu keras bisa memanggil sesuatu yang tak terlihat. Di dalamnya tersusun map-map tipis, warnanya hampir seragam, hanya label kecil di sudut kanan yang membedakan satu dengan lainnya.

Yurie mendekat. Ia mencondongkan tubuh, membaca satu per satu nama perusahaan yang tercetak samar. Beberapa terdengar asing. Beberapa lagi… terasa ganjil.

“Ini bukan arsip bisnis biasa,” ucapnya lirih.

Kaiden mengeluarkan satu map, lalu satu lagi. “Semua yang disimpan di lantai ini bukan untuk dibaca sembarang orang.”

Ia membuka halaman pertama. Ada catatan transaksi, angka-angka yang tampak biasa jika dibaca sepintas, tapi terselip kode kecil di bagian bawah—huruf dan angka yang disusun tidak beraturan. Kaiden mengetuk bagian itu dengan ujung jarinya.

“Polanya sama,” katanya. “Dengan laporan yang ditemukan di rumah sakit lama.”

Yurie menghela napas. Dadanya terasa sedikit sesak. Ia teringat ruang rawat yang sudah lama ditutup, bau antiseptik yang tak pernah benar-benar hilang, dan catatan medis yang seperti sengaja dibuat setengah lengkap.

“Kalau begitu…” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “semua ini sudah direncanakan sejak lama.”

Kaiden tidak langsung menjawab. Ia berdiri lebih tegak, menutup laci, lalu menyandarkan punggungnya ke lemari besi. Cahaya lampu memantul di wajahnya, menegaskan garis rahang yang tegas namun lelah.

“Orang yang melakukan ini,” katanya akhirnya, “punya waktu, uang, dan kesabaran.”

Yurie menatapnya. “Dan dendam?”

Tatapan Kaiden beralih padanya. “Kemungkinan besar.”

Sunyi kembali mengisi ruangan. Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang penuh—dipenuhi pikiran yang saling bertabrakan. Yurie meremas ujung lengan bajunya, kebiasaan lama yang selalu muncul saat ia gelisah.

“Kaiden,” ucapnya pelan, “kalau semua ini berkaitan dengan keluargaku…”

“Kita belum tahu sejauh itu,” potong Kaiden lembut, tapi tegas. “Jangan menyimpulkan sebelum semua terbuka.”

Nada suaranya tidak menghakimi. Justru sebaliknya—seolah ia sengaja menahan Yurie agar tidak tenggelam terlalu jauh dalam rasa bersalah yang belum tentu miliknya.

Yurie mengangguk kecil. Ia menghargai itu. Lebih dari yang bisa ia ucapkan.

Mereka berpindah ke lemari berikutnya. Kali ini, Kaiden berhenti lebih lama sebelum membuka. Tangannya sempat menggantung di udara, ragu sesaat, lalu memutar kunci. Di dalamnya hanya ada satu map hitam, lebih tebal dari yang lain.

“Ini berbeda,” kata Kaiden.

Yurie langsung merasakan sesuatu mengencang di perutnya. “Kenapa?”

“Karena biasanya, yang disimpan sendirian… adalah yang paling ingin disembunyikan.”

Kaiden membuka map itu perlahan. Halaman pertama berisi foto-foto. Bukan foto biasa—melainkan salinan dokumen, potongan laporan, dan satu foto yang membuat Yurie membeku.

Seorang perempuan muda dengan rambut pirang pucat, tersenyum samar ke arah kamera. Matanya hijau, tenang, seolah tak tahu apa yang menantinya.

“Itu…” suara Yurie hampir tak keluar. “Itu ibuku.”

Kaiden menutup map setengah, refleks. “Kamu yakin?”

Yurie mengangguk. Tangannya gemetar saat menyentuh foto itu. “Aku tidak mungkin salah.”

Di bawah foto tertera tanggal. Beberapa minggu sebelum Shella meninggal.

Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.

“Kenapa fotonya ada di sini?” Yurie berbisik.

“Kenapa ada laporan medis… dan catatan distribusi?”

Kaiden tidak segera menjawab. Ia menatap foto itu lama, terlalu lama, lalu berkata pelan, “Karena kematian ibumu bukan kejadian terpisah.”

Kata-kata itu jatuh pelan, tapi dampaknya seperti batu besar yang dijatuhkan ke air tenang.

Yurie menelan ludah. Kepalanya terasa penuh, tapi satu hal justru menjadi jelas—perasaan selama ini, kecurigaan yang ia simpan diam-diam, tidak pernah berlebihan.

Di saat yang sama, jauh dari ruang arsip itu, sebuah ruangan lain menyala.

Sebuah ruang kerja luas dengan dinding kaca menghadap kota. Lampu meja menyinari tumpukan dokumen yang tersusun rapi. Seorang pria duduk di kursi putar, jemarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme pelan. Di layar tablet di hadapannya, muncul notifikasi singkat.

Akses arsip bawah terbuka.

Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum marah. Bukan pula senyum panik. “Cepat juga,” gumamnya.

Ia berdiri, berjalan mendekati jendela. Cahaya kota memantul di matanya yang gelap, menyimpan sesuatu yang tak mudah dibaca.

“Kalau begitu,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, “permainan memang harus dimulai.”

Dan di dua ruangan berbeda itu, dua langkah diambil pada waktu yang sama—satu menuju kebenaran, satu lagi menuju kekacauan yang sudah lama disiapkan.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!