NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 29

Langit sore itu menggantung rendah di atas kota, kelabu dan berat, seolah menahan sesuatu yang tak kunjung jatuh. Angin bergerak pelan, menyapu dedaunan di halaman rumah utama Reynard, menimbulkan suara gesekan halus yang terdengar seperti bisikan.

Yurie berdiri di bawah pohon flamboyan tua, memandangi daun-daun yang mulai menguning. Tangannya menggenggam ponsel yang layarnya sudah lama padam. Ia tidak benar-benar menunggu pesan, tapi juga belum siap kembali ke dalam rumah. Pikirannya masih berputar di tempat yang sama—foto ibunya, suara rekaman itu, dan nama yang selama ini hanya ia kenal sebagai sosok ibu tiri.

Agnesa.

Nama itu terasa asing di lidahnya, meski sudah bertahun-tahun hidup di bawah atap yang sama.

Langkah kaki terdengar mendekat di belakangnya.

“Kamu ke sini lagi,” ujar Kaiden pelan.

Yurie menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. “Aku suka tempat ini.”

“Karena sepi?”

“Karena tidak menuntut apa-apa,” jawabnya jujur. “Aku bisa berdiri di sini tanpa harus terlihat baik-baik saja.”

Kaiden tidak langsung menanggapi. Ia berdiri di samping Yurie, menatap ke arah yang sama. Pohon flamboyan itu sudah ada jauh sebelum mereka lahir, menjadi saksi banyak musim yang datang dan pergi tanpa pernah dimintai pendapat.

“Kamu tidak harus kuat setiap saat,” katanya akhirnya.

Yurie terkekeh pelan. “Lucu, ya. Dulu aku berpikir, kalau aku berhenti kuat, semuanya akan runtuh.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku sadar,” Yurie menurunkan pandangannya, “yang runtuh itu bukan aku. Tapi kebohongan.”

Angin kembali berembus. Daun flamboyan jatuh satu, melayang perlahan sebelum menyentuh tanah.

Kaiden melirik Yurie. “Aku sudah meminta tim lama Ayah untuk membuka kembali beberapa arsip eksternal. Tidak resmi.”

Yurie mengangkat alis. “Dan?”

“Mereka menemukan satu nama yang muncul di jalur distribusi yang sama. Bukan Nazeeran. Tapi… perusahaan bayangan.”

“Di bawah Devano?” Yurie menebak.

Kaiden mengangguk. “Belum bisa dipastikan. Tapi arahnya ke sana.”

Yurie menghela napas panjang. Ada rasa lelah yang tiba-tiba datang, menekan pundaknya pelan. “Berarti… bukan hanya tentang ibuku.”

“Tidak,” Kaiden berkata tenang. “Dan juga bukan hanya tentang keluargamu.”

Di sisi lain kota, hujan mulai turun tipis-tipis, membasahi kaca jendela sebuah rumah yang lampunya masih menyala meski sore hampir usai. Agnesa duduk di ruang makan, menatap cangkir teh yang tak tersentuh sejak tadi.

Tangannya gemetar saat mengangkat cangkir itu, lalu meletakkannya kembali tanpa jadi diminum.

“Tenang,” gumamnya pada diri sendiri. “Semua masih bisa diatur.”

Tapi pikirannya tidak setenang ucapannya.

Ponsel di atas meja bergetar lagi. Pesan masuk.

Reynard bergerak lebih cepat dari perkiraan.

Agnesa menutup mata. Detak jantungnya meningkat.

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Setiap sudut rumah terasa terlalu terang, terlalu terbuka, seolah rahasia yang selama ini tersembunyi rapi mulai mencari jalan keluar sendiri.

“Bimantara seharusnya mengurus ini,” gumamnya kesal.

Namun bahkan menyebut nama itu pun tidak lagi memberi rasa aman. Ia berhenti di depan cermin besar di ruang tengah. Wajah yang menatap balik terlihat rapi, anggun, seperti biasa. Tidak ada yang tahu—tidak ada yang boleh tahu—betapa rapuh lapisan itu.

“Aku tidak akan jatuh,” katanya pada bayangannya sendiri. “Tidak sekarang.”

Malam datang tanpa hujan di sisi Reynard, tapi udara terasa lembap, seolah menyimpan sisa awan dari tempat lain. Di ruang makan, Yurie duduk berhadapan dengan Kaiden, namun makanan di piring mereka nyaris tak tersentuh.

“Kamu tidak lapar?” tanya Kaiden.

“Sedikit,” Yurie tersenyum tipis. “Tapi pikiranku lebih kenyang.”

Kaiden tidak memaksa. Ia tahu, ada hari-hari seperti ini.

“Kaiden,” Yurie berkata pelan setelah beberapa saat, “kalau suatu hari nanti… kebenaran itu benar-benar terbuka, dan semuanya tidak seindah yang kita bayangkan…”

Kaiden mengangkat wajahnya. “Kamu mau tanya apa?”

“Apa kamu akan menyesal menikah denganku?”

Pertanyaan itu meluncur pelan, tanpa nada drama, tapi sarat beban.

Kaiden terdiam. Ia menatap Yurie lama, seolah ingin memastikan ia tidak salah dengar. Lalu ia berdiri, berjalan mengitari meja, dan berhenti tepat di hadapan Yurie.

Ia berlutut, bukan dengan cara berlebihan, hanya agar tatapan mereka sejajar.

“Dengarkan aku,” katanya rendah. “Aku tidak menikah dengan versi hidupmu yang mudah. Aku menikah denganmu—seluruhnya.”

Yurie menelan ludah. Matanya terasa panas.

“Kalau jalan ini gelap,” lanjut Kaiden, “aku tetap berjalan. Bukan karena kewajiban. Tapi karena aku memilih.”

Untuk sesaat, Yurie lupa cara bernapas. Kata-kata itu tidak menghapus ketakutannya, tapi memberi sesuatu yang lebih penting: keberanian untuk tidak lari.

Di sebuah gedung tinggi yang lampunya menyala sebagian, seorang pria berdiri menghadap jendela. Hujan membasahi kaca, membuat cahaya kota terdistorsi.

Di belakangnya, layar menampilkan beberapa nama. Reynard. Nazeeran. Agnesa.

Ia menggeser satu file, membuka foto lain.

Shella.

Senyum pria itu tipis, nyaris tak terlihat.

“Kebenaran memang selalu mencari jalan,” gumamnya. “Tapi tidak semua yang benar… harus hidup.” Ia menutup file itu, lalu mematikan layar satu per satu.

Di luar, hujan turun lebih deras.

Dan di bawah langit yang sama, tanpa saling tahu, setiap langkah yang diambil malam itu membawa mereka semakin dekat pada satu titik—tempat tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

1
Mitsuurii Mitsurikanroji
walaupun sulit di pahami, tapi aku bisa mencoba mengertikan bahasa dan kalimatnya, tak apa, tetap semangat ya author👍💪
new user
D tunggu next up
new user
D tunggu next up thor
Muna Junaidi
Lanjut thor untuk bergadang mumpung liborrr💪💪
new user
Semangat thor, d tunggu next up meskipun otak gk nyampe memahami alurnya
new user
D tunggu next up
Azkyra: diusahakan ❤️👍
total 1 replies
zenyaaqila
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
zenyaaqila
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!