Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Jelita, ikut aku. Kita harus menunjukkan pada mereka siapa yang sebenarnya berkuasa di Astina Maya."
"Tunggu, aku ikut ke alam sana?" tanya Jelita kaget.
"Kau adalah Ratunya, Jelita." Suara Arjuna kini terdengar tenang namun dalam dan sangat berwibawa. "Mereka harus tunduk pada kehadiranmu, atau mereka akan binasa oleh tanganku."
Dinda yang melihat pemandangan itu hanya bisa melongo. "Jel, hati-hati! Kalau ketemu Mas Gama di sana, bilangin semangat ya!" serunya di tengah suara angin gaib yang mulai menderu-deru di dalam ruangan.
Arjuna menarik pinggang Jelita, mendekapnya erat. Dengan suara "Whossshh" yang lembut namun bertenaga, dalam sekejap mereka berdua menghilang ditelan bayangan, meninggalkan rumah yang kini dijaga ketat oleh Gama di tengah suara riuh pertempuran gaib di halaman depan.
Suasana di alun-alun utama istana Astina Maya mendadak mencekam. Langit di atas istana yang biasanya berwarna ungu tenang, kini bergejolak dengan petir hitam yang menyambar-nyambar. Ribuan rakyat gaib berkumpul, mulai dari ksatria setia hingga para tetua yang nampak bimbang. Di sisi lain, terlihat barisan bayangan gelap yang merupakan para pemberontak, dipimpin oleh sosok-sosok jenderal kuno yang merasa terhina dipimpin oleh manusia.
Arjuna melangkah maju di atas panggung tinggi, masih merangkul pinggang Jelita dengan posesif. Suaranya meledak, membelah kesunyian yang ada.
"Wahai kaum Astina Maya! Ketahuilah bahwa saat penobatan Sang Ratu di istana ini, jika ada yang memberontak, aku tidak akan hanya sekadar menghancurkan kalian!" seru Arjuna dengan nada yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Arjuna mengangkat keris pusakanya tinggi-tinggi. Api ungu kehitaman yang menjilat-jilat dari bilah keris itu membuat para pemberontak di barisan depan mundur teratur karena ketakutan.
"Aku akan mengurung jiwa kalian dalam penderitaan abadi di ruang hampa yang tak tersentuh cahaya fajar!" lanjut Arjuna. "Kalian membenci detak jantung manusia ini? Maka kalian membenci keputusanku. Dan siapapun yang menentang keputusanku, berarti menantang eksistensi Astina Maya itu sendiri!"
Jelita, meskipun jantungnya berdegup kencang, mencoba menunjukkan keberaniannya. Ia teringat pesan Arjuna bahwa ia adalah "cahaya" di dunia ini. Ia melangkah satu tindak di depan Arjuna, membuat semua mata tertuju padanya. Liontin di lehernya bersinar terang, memancarkan aura murni yang menyakitkan bagi makhluk-makhluk kegelapan yang berniat jahat.
"Aku tidak datang untuk merusak tradisi kalian," ucap Jelita dengan suara yang lantang dan jernih, bergema di seluruh alun-alun. "Aku di sini karena takdir dan karena janji yang diikat oleh darah dan jiwa. Jika kesetiaan kalian hanya sebatas rupa dan asal-usul, maka kalian tidak layak menyebut diri kalian rakyat Astina Maya!"
Mendengar ucapan Jelita yang berani, para tetua kerajaan mulai bersimpuh satu per satu. Karisma yang terpancar dari Jelita—perpaduan antara kelembutan manusia dan otoritas ratu gaib—mulai meruntuhkan niat buruk para pemberontak.
Namun, di tengah kerumunan, seorang jenderal pemberontak berteriak, "Manusia tetaplah fana! Dia akan mati dan meninggalkan takhta ini kosong! Kami menolak dipimpin oleh kelemahan!"
Arjuna tertawa sinis, suara tawanya terdengar seperti guntur yang menggetarkan pilar-pilar istana. "Kelemahan, katamu? Kemarilah, tunjukkan padaku seberapa kuat 'keabadian' kalian di hadapan kemarahanku karena kalian telah menghina Ratuku!"
Arjuna melepaskan rangkulannya pada Jelita sejenak, memberinya isyarat untuk tetap di tempat yang aman. Dengan kecepatan yang tak tertangkap mata, Arjuna melesat ke tengah barisan pemberontak.
Begitu Jenderal pemberontak itu maju, Arjuna bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mengangkat senjata. Dengan satu gerakan tangan yang sangat tenang namun mematikan, Arjuna mengayunkan keris pusakanya.
Sring!
Hanya butuh satu tebasan horizontal. Cahaya ungu membelah udara, dan seketika tubuh Jenderal pemberontak itu terhenti kaku. Detik berikutnya, tubuhnya pecah berkeping-keping, meledak menjadi kepulan asap hitam yang pekat dan berbau belerang. Tidak ada jeritan, tidak ada darah; hanya kehampaan yang tersisa.
Asap hitam itu bergulung-gulung di lantai alun-alun sebelum akhirnya tersedot masuk ke dalam bumi, seolah alam gaib sendiri menolak keberadaan jiwa pengkhianat tersebut.
Seluruh alun-alun istana mendadak sunyi senyap. Sisa-sisa pengikut pemberontak yang tadi berteriak lantang, kini menjatuhkan senjata mereka ke lantai pualam dengan bunyi berdenting yang memilukan. Mereka gemetar hebat, menyadari bahwa Arjuna tidak sedang menggertak.
Arjuna berdiri di tengah kepulan asap yang tersisa, jubahnya berkibar ditiup angin kematian. Ia menoleh perlahan ke arah barisan pemberontak yang tersisa dengan mata yang menyala merah.
"Masih ada yang ingin bicara soal 'kelemahan'?" tanya Arjuna dengan suara rendah yang menggetarkan jiwa siapapun yang mendengarnya.
Tak ada jawaban. Satu per satu dari mereka berlutut, menundukkan kepala hingga menyentuh lantai. Mereka sadar, melawan Arjuna saat ada Jelita di sampingnya adalah bunuh diri massal. Arjuna jauh lebih buas saat sedang melindungi wanitanya.
Arjuna melangkah kembali menuju panggung tempat Jelita berdiri. Aura kemarahannya perlahan mereda, digantikan oleh aura protektif yang sangat kuat.
Cup!
Ia berdiri di hadapan Jelita, menyarungkan kembali kerisnya, dan mengambil tangan Jelita untuk dicium punggung tangannya di hadapan ribuan rakyatnya.
"Saksikan lah," ucap Arjuna pada khalayak.
"Hari ini, bukan hanya musuh yang kuhancurkan, tapi juga keraguan kalian. Astina Maya memiliki Ratu, dan siapapun yang mengusiknya, akan berakhir sama seperti tadi."
Jelita menatap mata Arjuna, ia bisa melihat rasa lelah yang tersembunyi di balik ketegasan pria itu.
"Sudah selesai, Arjuna?" bisik Jelita pelan
"Untuk sekarang, sudah! Tapi kita harus memastikan teman-temanmu di dunia sana baik-baik saja," balas Arjuna. Ia teringat pada Gama yang ditinggal sendirian menjaga rumah
Jelita.