Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Warisan Sang Ketua
Matahari baru saja menyembul di ufuk timur, namun area latihan di tengah Sekte Jian-Gi-Tu-Bo sudah dipenuhi oleh energi yang bergejolak.
Selama beberapa minggu terakhir, Jian Yi tidak membiarkan satu detik pun terbuang sia-sia. Jika dia harus pergi, dia tidak akan meninggalkan mereka sebagai domba yang menunggu disembelih.
Jian Yi berdiri tegak di atas panggung batu, menatap ketiga sahabatnya yang mandi keringat.
Rambut mereka berantakan, dan napas mereka memburu, namun ada binar kekuatan yang mulai muncul di mata mereka.
"Cukup untuk pagi ini." ujar Jian Yi datar.
Coi Gi langsung ambruk telentang di atas lantai batu. "Yi... kau benar-benar monster. Bagaimana bisa kau berlatih seperti ini selama tujuh tahun sendirian?"
Jian Yi tidak menjawab. Ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan tiga buah buku bersampul kulit sederhana.
Buku-buku itu tampak baru, dengan bau tinta yang masih tajam.
Jian Yi telah menghabiskan malam-malam tanpa tidur untuk menyusun isinya, menyaring pengetahuan dari si Pedang Tua menjadi teknik yang bisa dipelajari oleh orang awam.
"Ini adalah Manual Jalur Empat Pilar," kata Jian Yi sambil membagikannya. "Di dalamnya aku menuliskan teknik meditasi, cara mengalirkan Qi, dan langkah-langkah untuk mencapai ranah Master. Jangan pernah memperlihatkan buku ini pada siapa pun di luar sekte. Ini adalah nyawa kalian."
Shi Tuzhu menerima buku itu dengan tangan gemetar. "Kau menulis ini... untuk kami?"
"Aku tidak bisa selamanya menjadi tameng kalian," Jian Yi menepuk bahu Tuzhu. "Buku itu berisi teknik yang disesuaikan dengan sifat kalian masing-masing. Coi Gi dengan kekuatan ledaknya, Tuzhu dengan kelincahannya, dan Jibo dengan ketenangan batinnya."
Sore harinya, pemandangan di sekte berubah menjadi lebih lembut.
Jian Yi berdiri di balkon lantai atas, memperhatikan halaman bawah.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari kehidupan teman-temannya yang selama ini luput dari pandangannya karena fokus berlatih.
Coi Gi sedang berdiri di dekat gerbang, berbicara dengan seorang gadis desa yang membawa keranjang bunga.
Gadis itu cantik, dengan senyum lesung pipit yang membuat Coi Gi yang biasanya garang menjadi salah tingkah dan terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Di sudut taman, Shi Tuzhu sedang duduk berdua dengan seorang gadis bergaun sederhana.
Mereka tampak serius membicarakan sesuatu, namun tangan mereka saling bertautan erat.
Bahkan Gi Jibo, si pendiam, terlihat sedang berjalan di selasar bersama seorang gadis pembawa pesan yang tampak sangat mengaguminya.
Jian Yi tersenyum tipis. Ada rasa hangat sekaligus perih yang menusuk dadanya.
"Mereka sudah menemukan alasan untuk pulang." gumam Jian Yi pelan.
"Itulah bedanya kau dengan mereka, Bocah," suara serak si Pedang Tua bergema di kepalanya. "Mereka memiliki akar yang tertanam di tanah ini. Sedangkan kau... kau adalah angin. Angin tidak bisa berhenti, atau ia akan hilang."
"Aku tahu," balas Jian Yi dalam hati. "Tapi bukankah itu sebabnya aku membangun tempat ini? Agar akar mereka tidak dicabut oleh siapa pun."
Malam itu, Jian Yi mengundang mereka bertiga beserta pasangan mereka untuk makan malam di aula kecil.
Suasananya jauh lebih tenang dibanding pesta pora sebelumnya.
Jian Yi melihat bagaimana Coi Gi dengan sangat sopan mengambilkan makanan untuk gadis di sampingnya, dan bagaimana Shi Tuzhu menceritakan impiannya membangun ladang dengan mata berbinar di depan kekasihnya.
"Jian Yi," Coi Gi tiba-tiba bersuara, memecah keceriaan. "Kenapa kau tidak mencari seseorang juga? Dengan posisimu sekarang, gadis mana pun di distrik ini akan mengantre di depan gerbang."
Jian Yi menuangkan arak ke gelasnya, matanya menatap api lilin yang bergoyang. "Takdirku berbeda dengan kalian, Gi. Jika aku membawa seseorang bersamaku, aku hanya akan membawanya ke dalam kegelapan. Biarlah aku sendiri yang menempuh jalan ini."
Gadis kekasih Coi Gi menatap Jian Yi dengan rasa hormat yang dalam. "Tuan Jian Yi, terima kasih telah menjaga mereka selama ini. Kami berjanji akan menjaga sekte ini tetap hidup saat Anda pergi."
Jian Yi mengangguk pelan. "Itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Sebelum malam berakhir, Jian Yi mengajak ketiga sahabatnya ke ruang rahasia di bawah sekte.
Di sana, ia telah menyiapkan tumpukan batu energi dan senjata yang telah ia aliri sedikit kekuatan Qi Grand Master miliknya.
"Dengarkan aku baik-baik," suara Jian Yi berubah menjadi sangat serius. "Keluarga Yuan tidak akan tinggal diam. Setelah aku pergi, mereka mungkin akan mengirim pasukan. Gunakan buku itu, gunakan sumber daya di sini. Jangan biarkan gadis-gadis yang kalian cintai itu menangis karena kalian lemah."
Coi Gi mengepalkan tinjunya. "Kami bersumpah, Yi. Saat kau kembali nanti, kau akan melihat kami sebagai pendekar yang sesungguhnya. Kami akan menjaga rumah kita."
Jian Yi menatap mereka satu per satu, menyimpan wajah-wajah itu di dalam ingatannya.
Ia tahu, esok atau lusa, ia akan melangkah keluar dari gerbang itu dan menjadi buronan nomor satu Keluarga Yuan.
Tapi melihat kebahagiaan di mata teman-temannya malam ini, Jian Yi merasa pengorbanannya sudah terbayar lunas.