Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengembalikan Cahaya Kecil
Sejak kembali dari hutan timur, ada sesuatu yang terasa bergeser. Bukan ancaman yang menekan, bukan niat membunuh... melainkan perhatian. Seperti tatapan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Lein menyadarinya saat malam turun.
Di lorong asrama, mana di udara bergetar pelan setiap kali ia melangkah. Sangat halus, hampir seperti gema napas yang tertahan.
“Bukan manusia,” bisik Raksha dalam hati.
Ia berhenti di depan pintu kamar. Keheningan menyelimuti. Lalu, sesuatu bergerak di balik jendela.
Bayangan kecil, cepat, melintas di antara cahaya lampu kristal.
Lein membuka pintu perlahan, masuk tanpa menyalakan cahaya. Ia menutup pintu, lalu berdiri diam. Mengatur napas. Mengatur mana.
Jejak itu familiar.
Ia merasakan pola yang sama saat di hutan, makhluk yang tidak kuat, namun peka terhadap mana yang stabil dan hidup.
“Apa dia Spirit pengikut,” gumamnya. “Atau sisa makhluk alam”
Malam berikutnya, ia mengujinya.
Lein berjalan keluar asrama, menyusuri jalur taman kecil di sisi timur Academy, daerah yang jarang dilalui pada malam hari. Lampu kristal berjajar, cahayanya redup.
Ia berhenti.
Udara berdesir.
Dari balik bayangan pohon, sesuatu muncul.
Makhluk itu kecil, setinggi anak kucing, tubuhnya menyerupai bayangan cair. Mata biru menyala lembut di wajah yang nyaris tak berbentuk. Jejak mana mengalir di sekitarnya seperti kabut tipis.
Noctilume.
Makhluk sihir rendah yang tertarik pada mana tenang dan murni. Tidak berbahaya, namun sulit dideteksi.
“Jadi kau yang mengikutiku,” kata Lein pelan.
Noctilume tidak menjawab. Ia hanya mendekat, berhenti beberapa langkah dari Lein, seolah takut melanggar batas tak terlihat.
Raksha merasakan sesuatu yang aneh.
Makhluk itu bukan tertarik pada tubuh Roselein.
Ia tertarik pada jiwa Raksha atau lebih tepatnya, pada keseimbangan mana yang dipaksakan kutukan itu.
“Pergilah,” ucap Lein lembut.
Noctilume mundur setengah langkah.
Ia hanya duduk.
Lein menghela napas. “Kau akan membuat masalah jika bersamaku.”
Seolah mengerti, makhluk itu memudar sedikit, berusaha menyatu dengan bayangan.
Namun sebelum Lein bisa memutuskan apa yang harus dilakukan, suara langkah terdengar.
“Lein?”
Grack muncul dari lorong, wajahnya penuh heran. “Apa yang kau lakukan di sini malam-malam?”
Lein menoleh cepat. Noctilume telah menghilang atau setidaknya, tidak terlihat oleh siapapun.
“Aku, aku sulit tidur,” jawabnya.
Grack mengangguk, tapi matanya menyapu taman dengan tajam. “Kamu merasakan sesuatu juga, ya?”
Raksha terdiam.
Jadi dia cukup peka.
“Sedikit,” jawab Lein jujur.
Grack menghela napas. “Beberapa segel Academy bereaksi aneh malam ini. Seperti ada makhluk kecil berkeliaran”
Lein menegang.
“Apa itu berbahaya?” tanyanya.
“Tidak,” kata Grack. “Tapi penyihir senior tidak suka kejutan.”
Keesokan harinya, desas-desus mulai menyebar.
“Katanya ada spirit berkeliaran.”
“Segel taman aktif sendiri.”
“Mungkin sisa makhluk dari luar kota.”
Lein duduk di kelas, menatap jendela. Di bayangan pohon di luar, sesaat ia melihat cahaya biru..
Noctilume.
Raksha menutup matanya.
Mana-ku menariknya.
Dan selama aku menahan diri… ia akan tetap tinggal.
Hari ketiga.
Tidak selalu tampak, kadang hanya berupa kilau samar di sudut penglihatan, kadang berupa getaran lembut pada aliran mana di sekitarnya. Namun kehadirannya jelas.
Academy Magica tidak memusnahkan makhluk sihir rendah tanpa alasan, namun menahan mereka untuk penelitian adalah hal yang biasa. Raksha tahu itu terlalu baik.
Noctilume tidak akan tahan di meja eksperimen.
Lein duduk di bangku taman belakang, membuka buku tipis tentang spirit alam tingkat rendah. Matanya membaca, pikirannya bekerja jauh lebih cepat.
“Asal Noctilume…” gumamnya. “Zona peralihan cahaya dan bayangan. Biasanya dekat hutan atau mata air mana.”
Malam itu, Lein meninggalkan asrama lebih awal. Ia memilih jalur sunyi, menghindari lorong utama dan menara pengawas. Mana-nya ditekan serendah mungkin, cukup untuk berjalan, cukup untuk bernapas.
Di luar batas formasi Academy, udara terasa lebih bebas.
“Keluarlah makhluk kecil,” ucap Lein pelan.
Noctilume muncul dari balik bayangannya sendiri. Cahaya birunya berdenyut, lebih terang dari biasanya, seolah senang akhirnya dipanggil.
“Aku akan membawamu pulang,” kata Lein lembut.
Makhluk kecil itu berputar sekali di udara, meninggalkan jejak cahaya singkat. Lalu melayang mengikuti di sampingnya.
Mereka berjalan tanpa suara menuju hutan timur. Pepohonan menyambut mereka dengan desiran lembut, mana alami mengalir lebih bebas di sini.
Lein berhenti di dekat mata air kecil yang memantulkan cahaya bulan. Airnya jernih, dikelilingi batu berlumut dan jamur bercahaya redup.
“Apa di sini,” katanya pelan. “Tempatmu berasal?”
Noctilume mendekat ke mata air, namun berhenti. Cahaya di tubuhnya meredup sedikit.
Lein berlutut, menekan telapak tangannya ke tanah. Ia memanggil sihirnya, bukan untuk menahan, bukan untuk mengikat.
“Hati Peri Malam.”
Tanah berdenyut lembut. Rumput tumbuh subur, bunga-bunga gelap bermekaran perlahan di sekitar mata air. Serangga cahaya muncul, menari di udara.
Area itu kembali hidup.
Noctilume mendekat, menyentuh bunga dengan tubuh cahayanya. Getarannya menjadi stabil namun tenang, selaras dengan lingkungan.
Makhluk itu menoleh pada Lein.
Untuk sesaat, Raksha merasakan sesuatu seperti pengakuan dari hewan sihir itu.
Lalu Noctilume melayang ke arah mata air dan menyatu dengan bayangan di permukaannya, cahaya biru memudar hingga lenyap.
Keheningan!
Lein duduk terdiam cukup lama.
“Semoga kau aman, Academy bisa menjadi tempat yang berbahaya jika kau berkeliaran.” bisiknya.
Saat ia bangkit dan berbalik pergi, Raksha merasakan kekosongan kecil di aliran mana seperti nada yang hilang dari melodi.
Lein duduk di kelas, mencatat seperti biasa.
Namun ketika ia menoleh ke jendela, ia melihat sesuatu di kejauhan... di bayangan pepohonan hutan timur, kilau biru bercahaya dan menyala muncul sesaat.