Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Sorak-sorai membahana di lapangan basket SMA Garuda. Bau keringat, parfum citrus, dan euforia kemenangan bercampur di udara sore itu. Di pinggir lapangan, Jenny berdiri dengan senyum paling cerah, memimpin pasukan pemandu sorak dengan gerakan yang presisi. Rambut kuncir kudanya bergoyang mengikuti irama, melambangkan sosok "Golden Girl" yang dicintai semua orang.
Jenny adalah definisi kesempurnaan: cantik, ramah, dan sopan kepada siapa pun, mulai dari penjaga kantin hingga kepala sekolah.
"Bagus semuanya! Latihan selesai!" seru Jenny sambil menyeka keringat tipis di dahi.
"Jen, minum dulu," sebuah suara lembut datang dari sampingnya. Claudia, sahabat karibnya sejak SMP, menyodorkan sebotol air mineral dingin. Claudia tersenyum manis—tipe senyum yang terlihat tulus bagi siapa pun yang tidak benar-benar mengenalnya. Di balik wajah cantiknya, Claudia adalah pemain sandiwara yang hebat.
"Makasih, Claud. Kamu emang yang paling ngerti," balas Jenny tulus. Ia tidak pernah menyadari bahwa di balik keramahan itu, Claudia menyimpan duri.
"Sama-sama. Oh iya, Jonathan tadi bilang dia telat jemput kamu. Ada rapat OSIS mendadak katanya," ucap Claudia sambil membenarkan letak bando mahalnya.
Jenny mengangguk maklum. Jonathan, pacarnya, adalah Ketua OSIS yang sangat berdedikasi. Orangnya kaku, bicaranya selalu formal seolah-olah setiap percakapan adalah nota kesepahaman, namun di mata Jenny, Jonathan adalah pria paling romantis dengan caranya sendiri.
Kebahagiaan Jenny sore itu terinterupsi saat sebuah bola voli melesat kencang dan mendarat tepat di depan kakinya, memuncratkan sedikit debu ke sepatu putih bersihnya.
"Ups. Sengaja," sebuah suara bariton yang menyebalkan terdengar.
Jenny menghela napas. Tanpa menoleh pun, dia tahu siapa pelakunya. Romeo. Kapten tim voli sekolah yang reputasinya seburuk wajahnya yang tampan. Romeo adalah definisi red flag berjalan—angkuh, suka melanggar aturan, dan hobi utamanya adalah mengusik ketenangan Jenny.
"Romeo, bisa nggak sehari aja lo nggak nyari ribut?" tanya Jenny, berusaha menjaga kesopanannya meski nadanya mulai meninggi.
Romeo berjalan mendekat, keringat membasahi jersei hitamnya yang ketat. Ia menyeringai tipis, memperlihatkan aura nakal yang sering membuat siswi lain histeris, tapi bagi Jenny, itu adalah tanda bahaya.
"Nggak bisa. Liat muka lo yang sok suci itu bikin gue gatel pengen ngerusak harinya," bisik Romeo sambil membungkuk sedikit agar sejajar dengan wajah Jenny. "Gimana rasanya jadi pacar si robot OSIS? Masih kuat dengerin dia ceramah soal manajemen waktu tiap kencan?"
"Jonathan itu disiplin, bukan robot. Dan setidaknya dia punya sopan santun, sesuatu yang nggak lo punya sejak lahir," balas Jenny tajam.
"Sopan santun nggak bakal bikin hidup lo seru, Little Miss Sunshine," Romeo menjentikkan jarinya ke dahi Jenny sebelum berbalik pergi. "Hati-hati, sesuatu yang terlalu sempurna biasanya paling gampang pecah."
Jenny mengepalkan tangannya. Ia selalu bertanya-tanya, apa yang membuat Romeo begitu membencinya? Tiada hari tanpa pertengkaran di antara mereka.
Sementara Jenny masih sibuk dengan kekesalan akibat ulah Romeo, di sebuah sudut koridor yang sepi dekat ruang OSIS, Jonathan berdiri tegap dengan kemeja sekolah yang sangat rapi. Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan emosi apa pun saat seorang gadis mendekatinya.
Gadis itu bukan Jenny. Itu Claudia.
"Kamu telat sepuluh menit," ucap Jonathan dingin, merujuk pada janji rahasia mereka.
"Ayolah, Jon. Aku harus akting jadi sahabat baik dulu buat pacar kamu itu," Claudia tertawa kecil sambil melingkarkan tangannya di leher Jonathan.
Jonathan, pria yang dikenal Jenny sangat menghargai aturan, tidak menolak. Ia justru menarik pinggang Claudia mendekat. "Kamu tahu aku nggak suka menunggu."
"Tapi kamu suka aku, kan?" Claudia berbisik manja.
Jonathan tidak menjawab dengan kata-kata cinta yang puitis. Ia tetap kaku, tapi tindakannya mengkhianati Jenny. Di sekolah, ia adalah pemimpin teladan. Di balik layar, ia adalah pria yang berselingkuh dengan sahabat pacarnya sendiri.
"Jangan sampai Jenny tahu. Dia masih berguna untuk citraku," gumam Jonathan pendek. Bagi Jonathan, hubungan adalah soal logika dan status. Memiliki Jenny sebagai pacar meningkatkan reputasinya, tapi Claudia memberinya sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh Jenny yang "terlalu baik".
Di parkiran sekolah, sebuah mobil sport merah menderu. Di dalamnya duduk Lisa, pacar Romeo. Lisa adalah gadis cantik namun dikenal sangat problematik. Ia posesif, temperamental, dan sering membuat drama hanya untuk mendapatkan perhatian.
Lisa melihat Romeo berjalan menuju mobilnya. Ia segera turun dengan wajah cemberut.
"Lama banget sih! Lo abis godain si ketua pemandu sorak itu lagi ya?" tuduh Lisa langsung.
Romeo memutar bola matanya. "Jangan mulai deh, Lis. Gue cuma iseng."
"Iseng atau naksir? Lo selalu cari alasan buat deketin Jenny!" teriak Lisa tak peduli jika ada orang lain yang mendengar.
Tiba-tiba, Claudia lewat di depan mereka. Melihat ada keributan, Claudia segera memasang wajah "malaikat"-nya. Ia tahu Lisa adalah bom waktu yang bisa ia manfaatkan nanti.
"Hai Lisa, ada apa? Kok berisik banget?" tanya Claudia dengan nada khawatir yang dibuat-buat.
Lisa menatap Claudia sinis. "Bukan urusan lo, penghuni circle suci!"
Claudia hanya tersenyum tipis. Ia tidak marah—secara terang-terangan. "Aku cuma mau bilang, Jenny tadi nungguin Jonathan lama banget. Kasihan ya, padahal Jonathan lagi sibuk... urusan lain."
Claudia sengaja melemparkan umpan. Ia tahu Lisa sangat membenci Jenny karena merasa popularitasnya tersaingi. Dengan memanaskan suasana, Claudia bermain cantik. Ia ingin merusak semuanya dari dalam tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
Sore itu ditutup dengan Jenny yang akhirnya dijemput oleh Jonathan. Di dalam mobil, Jonathan membukakan pintu untuk Jenny dengan sangat sopan—tindakan yang selalu membuat Jenny merasa spesial.
"Maaf aku terlambat, Jen. Laporan keuangan organisasi sangat menyita waktu," ucap Jonathan sambil mulai mengemudi. Tangannya memegang kemudi dengan posisi 10 dan 2 yang sempurna.
"Nggak apa-apa, Jon. Aku ngerti kok. Makasih ya udah jemput," Jenny tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Jonathan.
Ia merasa sangat beruntung. Ia memiliki sahabat seperti Claudia yang selalu mendukungnya, dan pacar seperti Jonathan yang meski kaku tapi sangat setia (pikirnya). Ia tidak tahu bahwa Romeo, yang sedang memacu motornya di jalan yang sama, baru saja melihat Jonathan dan Claudia berduaan di koridor sekolah tadi lewat pantulan kaca spion gedung.
Romeo tahu sesuatu. Dan meski ia benci pada Jenny, ada sesuatu dalam dirinya yang merasa bahwa "si suci" itu tidak pantas dibodohi sekejam itu.
"Dunia lo bakal hancur, Jen. Dan gue pengen tahu apa lo masih bisa senyum setelah itu," gumam Romeo di balik helmnya sambil menambah kecepatan motornya, menyalip mobil Jonathan dengan raungan mesin yang keras.
Jenny terkejut, melihat motor yang sangat ia kenali itu melesat menjauh.
"Dasar Romeo aneh," gumam Jenny pelan.
"Jangan hiraukan dia. Orang seperti dia tidak punya masa depan," sahut Jonathan datar.
Di kursi belakang mobil yang kosong, bayangan pengkhianatan mulai memanjang seiring matahari terbenam. Rahasia tersimpan rapat, drama baru saja dimulai, dan mahkota Jenny sebenarnya sudah retak tanpa ia sadari.
?