Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24: Hukum Baru Lembah Abu
Malam turun di Lembah Abu.
Biasanya, tempat ini sunyi senyap. Namun malam ini, lembah kecil itu dipadati oleh lebih dari seratus pengungsi. Murid-murid Puncak Pengobatan yang kelelahan duduk bergerombol merawat luka, sementara murid-murid Puncak Besi mulai mendirikan tenda darurat dan menyalakan tungku api kecil.
Suasana suram. Isak tangis terdengar di sana-sini. Mereka baru saja kehilangan rumah, guru, dan teman-teman mereka. Sekte Langit Biru, payung raksasa yang melindungi mereka selama ini, telah robek.
Li Wei berdiri di atas batu besar di tengah lembah, menatap kerumunan itu. Wajahnya datar, tapi otaknya bekerja keras menghitung Sumber daya.
"Kita punya persediaan makanan untuk dua minggu. Obat-obatan cukup. Tapi mental mereka hancur," batin Li Wei.
"Ehem."
Sebuah dehaman keras memecah lamunan Li Wei.
Seorang pemuda berjubah putih bersih (meski kini bernoda debu) melangkah maju, membelah kerumunan. Di belakangnya, beberapa murid senior Puncak Pengobatan mengikuti dengan wajah ragu.
Itu adalah Zhao Feng. Murid Inti Puncak Pengobatan (Lapis 6). Dia tidak ikut bertarung di garis depan tadi karena bersembunyi di gudang sumber daya.
Zhao Feng menatap Li Wei dengan dagu terangkat. Meskipun mereka dalam pelarian, arogansi sebagai "Murid Senior Elit" masih melekat padanya.
"Li Wei," kata Zhao Feng tanpa hormat. "Tempat ini lumayan. Ada sumber air dan... oh, lihat itu. Ladang herbal dengan tanah spiritual? Kau menyembunyikan aset sekte untuk dirimu sendiri selama ini?"
Mata Zhao Feng berkilat tamak melihat sisa-sisa Rumput Embun Kristal di pinggir ladang.
Li Wei menatapnya dingin. "Ada masalah, Saudara Zhao?"
"Tentu saja ada masalah!" Zhao Feng menaikkan suaranya agar didengar semua orang. "Sekarang Sekte sedang darurat. Semua aset harus dikeluarkan. Sebagai murid dengan peringkat tertinggi di sini, aku mengambil alih komando Lembah Abu. Kau, Li Wei, serahkan token kendali formasi padaku."
Suasana mendadak tegang.
Tie Shan, yang sedang meletakkan peti besi, langsung berdiri. Ototnya menegang. "Zhao Feng! Apa maksudmu? Li Wei yang menyelamatkan nyawamu! Tanpa dia, kau sudah jadi makanan Golem!"
"Dia hanya melakukan tugasnya sebagai sesama murid!" balas Zhao Feng. "Tapi memimpin adalah tugas elit. Li Wei hanyalah mantan pelayan. Apa dia tahu cara memanajemen sumber daya? Apa dia tahu strategi? Jangan konyol. Serahkan token itu, dan aku akan memberimu posisi kapten keamanan."
Beberapa murid Puncak Pengobatan mulai berbisik-bisik. Di mata mereka, Zhao Feng memang senior yang berwenang secara hierarki sekte lama.
Li Wei tertawa pelan. Tawa yang kering dan tajam.
Ia melompat turun dari batu.
Tap.
Langkahnya pelan, tapi setiap pijakan membuat tanah bergetar sedikit. Ia berjalan mendekati Zhao Feng.
"Saudara Zhao," kata Li Wei lembut. "Kau sepertinya salah paham tentang satu hal."
"Apa?" Zhao Feng mendengus, tangannya bersiap di gagang pedang halusnya.
"Sekte Langit Biru... sudah tidak ada."
WUSH!
Li Wei bergerak. Tanpa peringatan.
Tangan kanannya, yang sekeras baja berkat Tubuh Lima Elemen, mencengkeram leher Zhao Feng.
"Ugh!"
Zhao Feng mencoba melawan. Ia mengalirkan Qi-nya untuk melepaskan diri. Tapi cengkeraman Li Wei seperti catut besi raksasa. Qi Zhao Feng hancur berantakan saat menyentuh kulit Li Wei.
Li Wei mengangkat Zhao Feng ke udara dengan satu tangan. Kaki Zhao Feng menendang-nendang tak berdaya.
"Di luar sana," Li Wei menunjuk ke arah gerbang lembah dengan dagunya, "adalah neraka. Di sana, statusmu sebagai senior tidak berlaku. Di sana, kau hanya daging."
Li Wei mempererat cengkeramannya. Wajah Zhao Feng berubah ungu.
"Tapi di sini," mata Li Wei menyala dengan niat membunuh yang nyata, "Di Lembah Abu ini... Aku adalah Sekte."
"Tanah ini milikku. Formasi ini milikku. Dan nyawa kalian yang kubawa ke sini... juga milikku."
Li Wei melempar Zhao Feng ke tanah dengan kasar.
Bruk!
Zhao Feng terbatuk-batuk, memegangi lehernya yang memar. Rasa takut merayapi matanya. Dia baru sadar bahwa pemuda di depannya bukanlah junior yang sopan. Dia adalah pembunuh yang baru saja membantai ratusan orang.
Li Wei menatap seluruh pengungsi.
"Dengar baik-baik!" suaranya menggelegar.
"Mulai detik ini, tidak ada lagi Puncak Pengobatan atau Puncak Besi. Tidak ada Senior atau Junior. Yang ada hanya Penyintas."
"Siapa yang ingin makan, harus bekerja. Siapa yang ingin selamat, harus bertarung. Dan siapa yang mencoba membuat keributan internal..." Li Wei menancapkan tongkat besinya ke tanah hingga amblas setengah meter. "...akan kujadikan pupuk untuk ladangku."
Hening.
Tie Shan adalah yang pertama bergerak. Dia berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya.
"Puncak Besi mematuhi perintah Saudara Li!"
Xiao Lan tersenyum tipis, lalu ikut berlutut. "Puncak Pengobatan mematuhi perintah Saudara Li!"
Satu per satu, murid-murid lain ikut berlutut. Bahkan Zhao Feng, dengan gemetar dan wajah pucat, ikut menunduk.
Dua jam kemudian. Lembah Abu mulai hidup.
Di bawah komando Li Wei, semua orang bergerak efisien. Xiao Lan memimpin para tabib mendirikan tenda medis darurat dan mulai meracik Pil Pemulih Qi massal menggunakan herbal dari ladang Li Wei. Zhao Feng (yang sekarang patuh karena takut) ditugaskan mengolah sumber daya.
Di sudut lembah, dekat aliran sungai Vena Naga, Tie Shan mendirikan tenda darurat. Api tungku menyala terang, satu-satunya sumber cahaya hangat di malam yang dingin itu.
Li Wei duduk di depan tungku, memangku batang besi berkaratnya.
"Benda ini aneh," gumam Tie Shan, matanya yang ahli meneliti permukaan tongkat itu. "Beratnya 500 jin, tapi ukurannya kecil. Ini bukan besi biasa. Ini Besi Meteor Bintang Jatuh (Starfall Iron) yang dicampur dengan... darah?"
"Darah?" Li Wei mengangkat alis.
"Ya. Lihat karat ini," Tie Shan mengikis sedikit permukaan kasar itu dengan pisau tempa. "Ini bukan karat. Ini adalah Segel Darah Kuno. Senjata ini... sedang tidur. Atau mungkin disegel sengaja karena terlalu berbahaya."
Tie Shan menatap Li Wei serius. "Aku tidak bisa meleburnya. Api tungkuku tidak cukup panas untuk melelehkan Meteor Bintang. Tapi... aku bisa membersihkannya. Aku bisa mencoba membangunkan sedikit kesadarannya dengan teknik Tempa Roh Puncak Besi."
"Lakukan," kata Li Wei.
Tie Shan mengangguk. "Aku butuh bantuanmu. Aku butuh Qi Lima Elemen-mu untuk menjaga kestabilan suhu, dan... aku butuh darahmu sebagai pemilik baru untuk menggantikan segel darah lama."
Tie Shan memukul batang besi itu dengan irama teratur. TANG! TANG! TANG! Setiap pukulan disisipi Qi Logam.
Li Wei memegang ujung tongkat, menyalurkan Qi Api dan Air secara bergantian untuk memanaskan dan mendinginkan strukturnya.
Keringat bercucuran.
Satu jam berlalu. Lapisan "karat" merah itu mulai rontok, memperlihatkan logam hitam pekat di bawahnya yang menyerap cahaya api.
"Sekarang! Darah!" teriak Tie Shan.
Li Wei menyayat telapak tangannya. Darah segar mengucur ke batang besi yang panas itu.
Ssssss!
Darah itu tidak menguap. Darah itu terhisap masuk ke dalam pori-pori logam.
Batang besi itu bergetar hebat. Suara dengungan rendah seperti naga yang menggeram dalam tidur terdengar.
BOOM!
Gelombang energi hitam meledak, memadamkan api tungku.
Li Wei dan Tie Shan terpental ke belakang.
Saat asap hilang, batang besi itu melayang pelan di udara sebelum jatuh ke tangan Li Wei.
Benda itu telah berubah.
Karatnya hilang. Permukaannya kini hitam, halus namun terasa kasar saat dipegang. Di sepanjang batangnya, terukir satu baris aksara kuno yang kini menyala merah redup.
Li Wei memegangnya. Beratnya bertambah! Dari 500 menjadi 800 jin. Tapi anehnya, di tangan Li Wei, rasanya lebih "hidup". Aliran Qi nya kini bisa masuk sedikit, meski belum sepenuhnya.
Li Wei mengayunkannya pelan.
WUSH!
Suara anginnya lebih tajam.
"Luar biasa..." Tie Shan terengah-engah, matanya berbinar kagum. "Itu baru segel pertama? Benda apa itu sebenarnya? Senjata Dewa yang jatuh?"
Li Wei tersenyum puas. Dengan senjata seberat 800 jin, dia bisa menghancurkan Golem Darah tanpa perlu melompat dari tebing lagi.
"Terima kasih, Saudara Tie," kata Li Wei.
"Jangan berterima kasih dulu," Tie Shan menyeka keringat. "Senjata sudah siap. Pasukan sudah siap. Tapi kita punya masalah yang lebih besar."
Tie Shan menunjuk ke langit di atas sekte utama.
Warna merah di langit mulai menyebar ke arah mereka.
"Sekte Darah tidak bodoh. Mereka akan menyisir pinggiran sekte untuk mencari penyintas. Besok, atau lusa... perang akan datang mengetuk pintu lembah ini."
Li Wei menggenggam Tongkat Penembus Langit erat-erat.
"Biarkan mereka datang," kata Li Wei, matanya memantulkan bara api tungku yang tersisa.
"Kita tidak akan lari lagi. Lembah Abu akan menjadi kuburan mereka."