Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suara alas kaki yang menekan lantai beton rooftop terdengar pelan tapi jelas, membuat Sekar terkejut. Ia segera menoleh melihat sosok Ilham yang sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah pria itu samar di bawah sinar bulan namun masih tampak matanya menatap Sekar lekat. Untuk apa pria itu ikut naik? Tidakkah dia tahu tindakannya akan membuat Luna ngamuk? Pertanyaan muncul silih berganti di benak Sekar.
"Sekar..." panggilnya teduh, tapi tidak membuat Sekar berpikir bahwa Ilham saat ini telah berubah. Kelembutan Ilham sebelum menikahinya dulu lebih daripada itu, tapi akhirnya berubah menjadi pria kejam mematikan hati Sekar bahwa pria macam Ilham bisa berubah seiring berjalannya waktu.
"Saya Tuan?" Sekar bersikap sopan tapi sebagai perawat Arka, bukan mantan istri Ilham. Pria kejam dan egois itu.
"Arka sudah tidur?" Tanya Ilham, langkahnya maju dan berhenti di sebelah Sekar yang masih berpegangan pagar besi.
Sekar bergeser ke kiri menjauh dari Ilham. "Sudah Tuan..." jawab Sekar. Hatinya menahan marah namun berusaha tetap tenang sambil menjauh sedikit dari pagar. "Saya mohon sebaiknya Tuan segera ke bawah. Jika Ibu Luna tahu Dokter berada di sini bisa salah paham. Saya hanya ingin mencari angin malam sebentar." Sekar mengusir secara halus.
"Malam ini Luna tidak akan pulang Sekar," jawab Ilham, tapi Sekar tidak ingin mendengar, mau pulang atau tidak bukan urusannya, yang penting Arka tenang bersamanya. Hanya itu yang kini berada di pikiran Sekar.
Sekar melirik Ilham, cahaya bulan menerangi sisi wajah pria yang sudah tidak seperti dulu. Wajah yang ia kenal angkuh dan dingin, tapi sekarang terlihat hangat. Namun, Sekar tidak akan pernah lagi terpengaruh dengan perubahan itu.
"Emmm... kamu dengan dokter Rayyan sepertinya saling mencintai," Ilham menoleh ke wajah Sekar. Rasa cemburu tampak jelas di raut wajahnya.
Sekar menoleh cepat. Untuk apa pria itu bertanya seperti itu? Mau mencintai siapapun apa urusannya? Hati Sekar bergemuruh. Sesaat ia diam lalu menjawab. "Begitulah Tuan, ternyata masih ada pria yang sayang sama saya, walaupun tidak sedikit pria yang hanya memanfaatkan kebodohan saya!" Ketus Sekar yang sudah menyulut api peperangan.
"Sekar... kamu sudah hampir satu bulan tinggal di rumah ini, tapi kenapa seolah tidak mengenal saya?" Tanya Ilham, mencari jawaban mengapa Sekar bersikap seperti itu. Ilham berpikir bahwa Sekar sengaja masuk ke rumahnya setelah tahu Arka masih hidup dan bermaksud merebut darinya
"Tidak penting Tuan, karena saya sudah tidak peduli lagi dengan masa lalu saya yang Anda rampas habis, tinggal menyisakan luka. Saya akan ambil Arka dengan cara apapun. Bersiaplah karena api peperangan akan berkobar kembali dan saya tidak takut seperti dulu. Terlepas saya tidak mempunyai apapun untuk merebut Arka, tapi saya mempunyai cinta yang tulus. Kecuali Anda menyerahkan Arka dengan cara baik-baik saya tidak akan memperpanjang masalah, walaupun dulu Anda mengambilnya dengan cara yang licik!" Sekar melempar kata demi kata yang membuat Ilham mendadak kaku. Tidak menyangka jika Sekar bisa mengetahui semuanya.
"Sekar, jadi kamu sudah tahu kalau Arka..." Ilham gemetar, yang ia takutkan benar-benar terjadi. "Maafkan aku Sekar,"
"Saya bisa memaafkan Anda ketika dulu menyiksa batin saya selama satu tahun hingga hancur berkeping-keping, Tuan Ilham! Tapi, sampai kapanpun saya tidak akan sudi memaafkan Anda yang tega memisahkan bayi dari ibu kandungnya. Saya tidak percaya seorang Dokter bisa menari di atas penderitan anak dan mantan istrinya!" Sekar mulai berbicara bukan seorang perawat Arka lagi, tapi sebagai wanita yang telah sakit hati karena buah hatinya dicuri.
"Sekar, tidak adakah kesempatan yang kedua bagi kita untuk membesarkan Arka?" Ilham melangkah mendekat, membuat Sekar mundur hingga punggungnya menyentuh pagar.
"Apa? Anda ingin rujuk? Oh, sayu tahu! Anda ingin menjadikan rahim saya untuk pencetak anak lagi, dan membiarkan saya berjuang sendirian, ironisnya setelah anak saya lahir kamu ambil dan memberikan pada wanita yang kamu cintai! Gampang sekali Anda! Dasar pria tidak punya perasaan!" Sekar merasakan panas air mata yang ingin mengalir, namun ia menahannya dengan segala kekuatannya.
"Tidak begitu Sekar, yang dulu aku mengaku salah, tapi beri kesempatan untuk memperbaiki semuanya" Ilham menjawab sungguh-sungguh.
"Haha! Anda pikir semudah itu?!" Sekar tertawa dipaksakan. "Jangan mimpi Tuan, hanya saya yang berhak membesarkan Arka. Anda Ayah yang jahat, tidak pernah sedikitpun memberi dia perhatian selama di kandungan saya, dan hampir membunuhnya karena minum air ketuban. Setelah lahir pun kamu lebih menyiksa lagi. Anda berikan Arka kepada wanita yang tidak ada bedanya sama kamu, kejam dan jahat!" Sentak Sekar, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah.
"Sekar, aku benar-benar minta maaf," Ilham hendak menyentuh bahu Sekar yang bergetar tapi menariknya kembali. "Rumah kita dulu sudah aku rubah atas nama kamu Sekar," Ilham memberikan sertifikat tanah dan rumah yang dulu mereka tinggali.
Sekar sama sekali tidak tertarik, hatinya kini sudah terlanjur sakit. Sinar bulan yang tadinya terasa indah kini seolah-olah hanya memperjelas betapa suramnya situasi yang terjadi di atas rooftop itu. Angin malam menerpa lebih kencang, membawa rasa tegang yang semakin menyelimuti dua orang yang dulunya pernah menjadi suami istri itu.
"Saat itu aku melakukan hanya karena..."
"Semua itu kamu lakukan demi cintamu pada istri bukan?! Sampai tidak bisa menolak walau sampai melanggar sumpahmu sebagai seorang Dokter!" Sekar balik badan menatap Ilham penuh kemarahan. "Saya akan membawa pergi Arka dari rumah ini, berani mencegah, maka saya akan membawa Anda ke jalur hukum!" Sekar tidak main-main. Ia menyetak kaki meninggalkan Ilham.
"Sekar... Tunggu Sekar. Menikahlah dengan aku dan kita akan hidup bahagia!" Ilham menahan tangan Sekar, tapi dihempas kuat.
Sekar berlari menuruni tangga tidak lagi menjawab ucapan Ilham yang menurutnya egois. Sekar tidak tahu jika sepasang mata mendengar pertengkaran mereka sejak awal.
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....