Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 22
Anton merasakan dadanya sesak, mungkin karena benar-benar terkena serangan jantung atau karena kesal telah memberi uang kepada Miranda sebanyak tiga miliar. Sebenarnya jumlah itu tergolong kecil baginya, bagaimanapun sejak bangkit kembali lima bulan terakhir, Sanjaya Grup sudah menghasilkan laba puluhan miliar.
Yang membuatnya terasa menyakitkan adalah dia terpaksa mengeluarkan uang tiga miliar untuk Miranda, seseorang yang seharusnya patuh dan takut padanya, namun justru berhasil memaksanya menyerahkan uang. Ini bukan sekadar kehilangan tiga miliar, ini adalah penghinaan paling menyakitkan bagi Anton.
Dan Miranda pergi membawa ancaman terselubung. Video itu harus segera dihilangkan, begitu pula orangnya. Video tersebut akan menghancurkan citranya sebagai lelaki bijaksana di kalangan pebisnis.
Menerima anak yang sudah dibuang keluarga Sukmana, lalu menempatkan Miranda sebagai wakil CEO Sanjaya Grup, membuat dirinya dianggap malaikat. Miranda dikenal arogan, tidak berpendidikan, dan dianggap tidak punya kemampuan hingga dibuang keluarganya, lalu diangkat derajatnya setinggi-tingginya oleh Anton dan berhasil membawa perusahaan bangkit.
Awalnya para rekan bisnis dan sesama keluarga konglomerat menyepelekan keputusannya. Namun dalam delapan belas bulan terakhir, Miranda membuktikan dirinya mampu membawa Sanjaya Grup keluar dari kebangkrutan. Banyak orang beranggapan bahwa Miranda menjadi pebisnis andal karena tangan dingin Anton.
Selama beberapa bulan terakhir, Anton selalu disanjung sebagai ayah mertua yang baik dan bijaksana. Kini semua itu terancam hancur karena sebuah video mesum dirinya dengan Saras yang sudah keluar.
Anton mengedarkan pandangan. Saras, Nadia, Rizki, dan Raka masih duduk. Dalam hati Anton mengumpat, “Dasar sekumpulan orang tidak berguna.”
Anton menarik napas berat.
“Nadia, sudah malam. Sebaiknya kamu menginap malam ini. Ruang tamu kosong,” ujar Anton dengan suara lembut.
Ia lalu menoleh ke arah Saras. Ada raut kecewa dan takut di wajahnya. Kemudian Anton memandang Raka dan Rizki. Entah mengapa, melihat mereka berdua justru membuat Anton sangat kecewa.
“Kalian semua tidurlah,” perintah Anton singkat.
Ia bangkit dan melangkah berat menuju kamarnya.
Saras menatap Nadia tajam. Tangannya mengepal erat, lalu ia pergi ke kamarnya dan menghempaskan tubuh ke kasur dengan perasaan kesal.
“Kenapa Paman Anton ingkar janji. Aku sudah melayani dia dan dia berjanji akan menikahkanku dengan Rizki. Kenapa malah jadi Nadia,” geram Saras.
Setahun ini ia terus mendekati Rizki sejak Rizki keluar dari kebangkrutan, namun justru terjebak dalam cinta terlarang dengan pamannya sendiri. Memikirkan hal itu membuat Saras meremas rambutnya. Dadanya sesak, pikirannya dipenuhi kekecewaan.
Sementara itu, Miranda keluar dari rumah Sanjaya sambil mengeret koper hitamnya. Hujan turun rintik-rintik, pelan tapi dingin, seolah sengaja mengiringi langkah seseorang yang baru saja disingkirkan. Ia mengenakan celana panjang berbahan katun, kaus lengan panjang, dan hoodie yang sudah setengah basah. Rambutnya diikat asal, wajahnya tenang, meski hatinya tidak.
Miranda berhenti sejenak di tepi jalan. Tangannya meraih ponsel, berniat memesan taksi online. Layar itu tetap gelap.
“Ah, sial. Kebanyakan nonton drama Korea, lupa cas ponsel,” gerutunya lirih.
Ia mendesah, menatap jalanan yang lengang. Apartemennya Nabil masih Enam Belas kilo lagi, terlalu melelahkan jika ditempuh dengan jalan kaki ditambah hujan yang tak kunjung berhenti, dia sangat tergantung sama ponselnya, hingga tak punya kartu ATM.
Tak jauh dari situ, ada sebuah ruko tua yang sudah lama tutup. Miranda melangkah ke sana dan berteduh di bawah kanopinya yang berkarat.
Miranda duduk di lantai keramik yang sudah usang, baru saja duduk suara petir menyambar, miranda melihat ke arah langit “jangan menangisiku tenang saja aku baik-baik saja” ucap miranda pada petir.
Namun nyatanya, ia tidak sepenuhnya baik-baik saja. Ia tetap perempuan. Perempuan yang baru saja dikhianati, diusir, dan dipaksa berjalan sendirian di tengah hujan. Miranda memeluk lututnya, menundukkan kepala. Perlahan, air mata jatuh, bercampur dengan air hujan yang menetes dari hoodie-nya.
Tiga miliar ada di rekeningnya, tapi uang tidak bisa menggantikan rasa ingin disayangi. Tidak bisa menggantikan pelukan, atau sekadar seseorang yang berkata, aku di sini.
Di saat seperti ini, yang terlintas di benaknya hanya satu nama. Nabil.
“Cinta dan kasih sayang itu tipu daya,” kata Nabil dulu, datar dan dingin. “Hukum alam selalu sama. Yang kuat bertahan, yang lemah disingkirkan.”
Miranda menghembuskan napas panjang. Kata-kata itu kini terasa pahit, tapi nyata. Ia membangun dirinya dengan kekuatan, karena itulah satu-satunya cara bertahan.
“Nabil, di mana kamu sekarang,” bisiknya lirih.
Ponsel tetap mati. Hujan tidak berhenti. Perutnya kosong sejak siang, hawa dingin menusuk tulang. Perut belum di isi dari siang, terbayang wajah Rizki membuat dirinya semakin kesal dan tiba-tiba miranda menjadi kesal mengepalkan tangannya dan bergumam “kalau ada orang jahat akan aku pukuli sampai tak berbentuk”
Rupanya doa janda memang cepat terkabul tiba-tiba saja terdengar suara Pria
“Ini dia orangnya,”
Miranda mendongak. Dua pria bertubuh besar berdiri beberapa meter di depannya. Jaket hitam, wajah datar, mata dingin.
“Manis juga cewek ini,” kata salah satunya sambil menyeringai.
“Benar juga, sebelum kita buang sebaiknya kita pakai aja dulu, lumyan dingin-dingin begini ada cewek cantik” sahut temannya dengan nteng
Miranda memandang mereka sekilas, lalu menunduk lagi, seolah tak tertarik.
“Hei, cewek. Ikut ke mobil kami,” ancam salah satu dari mereka. “Jangan melawan. Kalau melawan, kami pukul sampai tidak bersisa.”
Miranda bangkit perlahan. Ia menepuk-nepuk bagian belakang celananya, lalu menatap mereka dengan tatapan datar.
“Jangan sok akrab, monyet-monyet brengsek,” ucapnya dingin. “Ngajak pergi bareng? Siapa kalian?”
Kata monyet membuat wajah mereka berubah. Amarah meledak begitu saja. Salah satu pria maju, tangannya terulur hendak menyeret Miranda.
Namun Miranda bergerak lebih cepat.
Ia memutar tubuhnya, mengandalkan keseimbangan dan refleks yang terlatih. Kakinya berayun dalam tendangan melingkar, menghantam sisi kepala pria itu dengan keras.
“Bugh!”
Suara benturan terdengar tumpul. Pria itu terhempas ke aspal basah, tubuhnya jatuh limbung seperti boneka tanpa tulang.
“Kurang ajar!” teriak pria satunya, matanya membelalak. “Berani kamu main curang!”
Miranda berdiri tegak di bawah hujan. Napasnya teratur, tatapannya tajam.
Pria itu menganggap Miranda tadi melakukan hal curang sehingga sekarang dia bersikap hati-hati.
Dia memasang kuda-kuda, memandang Miranda dengan tajam, sedangkan Miranda hanya berdiri tegak tanpa rasa takut sekalipun.
Dengan kekuatan penuh, lelaki itu menerjang Miranda dengan pukulan yang kuat. Miranda tetap berdiri tegak. Saat pukulan hampir sampai, Miranda merunduk lalu memukul ulu hati pria itu dengan kuat.
Lelaki itu langsung merasakan sesak hingga kesulitan bernapas. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Miranda menendang kepala lelaki itu dengan keras hingga terjatuh ke paving blok dan terdengar suara gedebuk.
Miranda mendekat dan menginjak tangan lelaki itu hingga terdengar suara tulang patah. Dia beralih ke tangan sebelahnya dan Miranda kembali menginjaknya.
Lelaki itu berteriak kesakitan. Air mata keluar membasahi pipinya. Miranda mengambil bata, lalu memukulkannya ke tempurung lutut pria kekar itu. Pria itu menjerit.
Merasa terganggu, Miranda mengambil kaus kaki pria yang sudah terlebih dahulu pingsan lalu menjejalkannya ke mulut lelaki itu. Kedua jari tangannya sudah patah. Dia tidak bisa melawan saat Miranda memasukkan kaus kaki ke mulutnya.
Dia menangis dan Miranda hanya menyeringai. “Mau menculikku?” gumam Miranda. “Ukur dulu kemampuan kamu.”
Miranda berjongkok dan menatap dingin pada pria itu. Dalam hati berkata, “Nasib kamu malang, aku sedang kesal dan butuh pelampiasan.”
“Katakan padaku siapa yang menyuruh kamu,” tanya Miranda.
Lelaki itu tak menjawab.
“Bugh!” Miranda memukul wajah lelaki itu. Lelaki itu ingin menjerit, tetapi mulutnya tersumpal kaus kaki.
“Katakan siapa yang menyuruh kamu,” tanya Miranda lagi.
Dan karena tetap tidak menjawab, hal itu membuat Miranda semakin kesal.
Miranda teringat wajah Rizki.
“Bugh!” Tangannya kembali memukul lelaki itu.
Teringat wajah Anton, dan Miranda memukulnya lagi. Teringat beberapa orang yang membuat Miranda kesal, membuat Miranda terus memukul tanpa henti hingga seluruh wajah pria itu dipenuhi benjolan.
Dengan terengah-engah, Miranda berkata,
“Katakan siapa yang menyuruh kamu?” tanya Miranda.
Miranda melihat kaus kaki yang menyembul.
Lalu dia memegang dahinya. “Astaga, pantas saja dia tidak menjawab.”