NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #4: Kesiangan

Sinar matahari pagi yang pucat menerobos celah jendela, jatuh tepat di wajah Geun yang sedang tidur dengan mulut terbuka. Air liur membasahi bantal.

Hangat. Empuk. Nyaman.

Tiga hal yang seumur hidup jarang Geun rasakan sekaligus.

Dalam mimpinya, dia sedang berenang di kolam arak sambil disuapi paha ayam oleh bidadari. Namun, mimpi itu hancur berantakan ketika suara lonceng menara kota berdentang keras di kejauhan.

Teng… Teng… Teng…

Mata Geun terbuka lebar. Dia menatap langit-langit kamar penginapan yang mewah itu selama dua detik, mengedipkan mata, lalu otaknya yang baru bangun langsung panik.

"Sialan!"

Geun melompat dari kasur seolah pantatnya terbakar. Dia tergelincir di lantai kayu yang licin, jatuh gedebuk, lalu bangkit lagi sambil menyambar jubah wol pemberian Seo-yun kemarin.

Matahari sudah naik sepenggalah. Lonceng itu tanda pertengahan jam Naga.

"Mati aku! Tujuh tael-ku!" jerit Geun sambil melompat-lompat memakai celana.

Perjanjiannya adalah berkumpul di Gerbang Timur saat fajar. Sekarang fajar sudah lewat, dia kesiangan karena hari yang bersalju masih mendung. Dia sekarang sibuk memakai baju di kamar penginapan.

Tapi masalah terbesar bukan itu.

Saat Geun menyambar buntelan kecil barang-barangnya, dia menyadari satu hal fatal. Dia lupa.

"Pedang..." wajah Geun memucat. "Aku lupa beli pedang!"

Kemarin dia terlalu sibuk makan babi panggang dan menikmati arak kemudian langsung tidur sampai lupa pada syarat mutlak pekerjaan ini "Bawa senjatamu sendiri" kata si Botak sebelumya.

Bagaimana mungkin seorang praktisi liar datang melamar kerja tanpa membawa senjata? Itu sama saja seperti pelacur yang lupa membawa tubuhnya sendiri. Dia akan ditertawakan, diusir, dan tujuh tael peraknya akan melayang.

Geun berlari keluar kamar, menuruni dua anak tangga sekaligus, mengabaikan tatapan bingung Seo-yun yang sedang menyapu lantai.

"Tuan? Sarapan anda..."

"Nanti! Simpan buat tahun depan!" teriak Geun sambil menerobos pintu belakang menuju area dapur dan kandang kuda.

Matanya bergerak liar seperti maling ayam. Dia butuh senjata. Apa saja.

Pisau dapur? Terlalu kecil.

Kapak pemotong kayu? Sedang dipakai koki yang berotot besar. Cari mati kalau mencurinya.

Sapu lidi? Jangan konyol.

Pandangan Geun jatuh ke tumpukan rongsokan di sudut gudang penyimpanan batu bara. Di sana, tertimbun di bawah tumpukan abu dan kayu bakar basah, ada sebuah linggis besi.

Itu bukan pedang. Itu adalah batang besi pengungkit pintu gudang yang sudah patah gagangnya. Panjangnya sekitar satu lengan orang dewasa, berbentuk persegi kasar, dan warnanya merah kecokelatan karena karat yang tebal.

"Ini dia," gumam Geun putus asa.

Dia menyambar linggis itu. Berat. Kasar. Kalau dia memegangnya lama-lama, tangannya pasti luka dan menghambat pergerakan. Belum lagi tampilannya yang memalukan. Seorang pendekar membawa rongsokan berkarat? Harga dirinya mau ditaruh di mana? Dan kedoknya akan langsung ketahuan.

Geun melihat karung goni bekas wadah kentang yang tergeletak di dekat tong sampah.

Tangannya bekerja cepat. Dia merobek karung goni itu menjadi pita panjang yang tebal. Dengan gerakan cekatan, dia melilit batang besi berkarat itu.

Dia melilitnya tebal-tebal dari ujung ke ujung.

Lilitan kain goni yang kumal itu menutupi seluruh permukaan besi yang jelek. Kini, benda di tangannya terlihat seperti sebuah Pedang Besar atau Bokken yang sengaja dibungkus kain pembungkus untuk menyegelnya agar roh jahat tidak keluar.

"Bagus," Geun menyeringai, mengangkat pedang barunya. "Sebut saja ini... Pedang Penghancur Jiwa. Atau apalah biar kedengaran keren dan meyakinkan."

Dia menyelipkan benda berat itu di punggungnya, mengikatnya dengan tali linen, lalu berlari sekencang mungkin menuju Gerbang Timur.

...****************...

Gerbang Timur Kota diselimuti kabut putih. Angin musim dingin Provinsi Henan bertiup konstan, membawa butiran salju ke arah kumpulan orang yang sudah berkumpul di dekat gerbang.

Suasananya suram.

Langit berwarna abu-abu pekat. Salju mulai turun tipis-tipis, namun angin yang berhembus membawa janji akan badai yang lebih besar.

Di dekat pos jaga gerbang, sebuah karavan besar sudah bersiap. Belasan gerobak barang berderet rapi, kuda-kuda mendengus mengeluarkan uap putih.

Geun datang dengan napas memburu, paru-parunya terasa mau meledak. Dia berhenti di pinggir kerumunan, mencoba mengatur napas agar terlihat tenang dan misterius seperti pendekar sungguhan.

Di sana, dia melihat calon rekan-rekan seperjalanannya. Dia khawatir akan ada tes yang mungkin membongkar kedok nya. Bagaimanapun, dia hanyalah gelandangan yang tidak tahu bela diri sama sekali.

Namun, seketika itu juga, kekhawatiran Geun tentang tes kemampuan lenyap tak berbekas.

"Astaga..." batin Geun. "Pasukan macam apa ini?"

Dia membayangkan akan melihat para pendekar bayaran yang gagah, praktisi liar yang haus darah, murid sekte pedang, atau setidaknya preman pasar yang berotot. Tapi yang dia lihat adalah kumpulan manusia menyedihkan.

Yang ada adalah kumpulan manusia paling menyedihkan yang pernah Geun lihat selain dirinya sendiri di cermin.

Ada seorang kuli tua yang batuk-batuk parah sampai wajahnya biru, memegang kapak penebang kayu yang sudah tumpul.

Ada seorang pemuda kurus dengan mata liar khas pecandu judi, memegang pisau dapur yang diselipkan di pinggang celana.

Ada preman kampung bertubuh gemuk yang sibuk mengunyah daun, membawa gada kayu berduri paku.

Total ada sekitar tiga puluh orang pengawal tambahan. Semuanya tampak seperti orang yang butuh uang cepat untuk membayar hutang atau membeli obat, bukan orang yang siap bertarung.

"Hoi! Kau yang baru datang!"

Suara berat menggelegar. Si Botak, pemimpin pengawal bayaran yang dia temui semalam, berdiri di atas peti kayu, mencatat nama siapa saja yang datang tanpa peduli kualitas mereka.

“Nama?” tanya Si Botak tanpa menoleh. “Geun,” jawab Geun singkat.

Si Botak melirik sekilas, lalu matanya berhenti pada bungkusan kain goni di punggung Geun. Bungkusan itu besar, panjang, dan terlihat kotor.

“Apa itu?” Si Botak menunjuk dengan dagunya. “Demi pantat leluhur, benda apa yang kau bawa itu? Kau mau memukul lalat dengan bantal guling?"

Beberapa pengawal resmi Grup Dagang Silvercrane tertawa mengejek. Mereka berbeda dengan Geun dan para rekrutan kacangan. Pengawal resmi memakai seragam resmi, pedang yang terawat, dan tatapan dingin profesional.

Geun tidak tersenyum. Jantungnya berdegup kencang takut ketahuan kalau itu cuma linggis, tapi wajahnya tetap sedingin es.

Dia menepuk pelan gagang “pedang”-nya yang terbungkus kain karung.

“Besi tetaplah besi,” jawab Geun dengan suara serak yang dia buat-buat. “Kena kepala, tetap bocor.”

Tawa para pengawal terhenti. Jawaban itu terlalu percaya diri. Di dunia Murim, orang yang membawa senjata terbungkus kain lusuh biasanya ada dua jenis. Antara orang gila miskin, atau master yang menyembunyikan aura senjatanya.

Si Botak menyeringai, menampilkan gigi kuningnya. Dia menyukai jawaban itu. Bukan karena dia percaya Geun hebat, tapi karena Geun terdengar siap membnuh.

“Bagus,” dengus Si Botak. “Hemat bicaramu untuk berteriak nanti. Cepat masuk barisan.”

Geun menghela napas lega dalam hati.

Dia berjalan ke belakang barisan, mencoba mencari tempat yang tidak terlalu dingin. Saat itulah dia menyadari sesuatu yang ganjil.

Formasi karavan ini aneh. Para pengawal resmi Silvercrane yang jumlahnya sekitar lima belas orang, berkumpul rapat di tengah. Mereka tidak melindungi gerobak barang dagangan biasa.

Mereka mengelilingi satu gerobak khusus.

Gerobak itu terbuat dari kayu hitam yang kokoh, diperkuat dengan plat besi di sudut-sudutnya. Tidak ada jendela. Kain tebal menutupinya sampai ke bawah, dipaku mati seolah-olah isinya tidak boleh melihat matahari. Di sisi-sisi gerobak, tertempel kertas mantra kuning yang bergetar tertiup angin.

Dan baunya...

Hidung Geun yang tajam cukup terlatih membedakan makanan basi dan layak makan. Dia mencium aroma yang menusuk di balik dinginnya salju. Bau kapur yang sangat kuat. Dicampur dengan wangi bunga dan rempah-rempah manis yang menyengat.

Itu adalah jenis wewangian yang biasa dipakai di rumah duka untuk menutupi bau mayat yang mulai membusuk.

Bulu kuduk di tengkuk Geun meremang.

"Kenapa karavan dagang membawa sesuatu yang baunya seperti kuburan?" pikirnya.

“Oi, jangan diam saja!” bentak seorang pengawal resmi, membuyarkan lamunannya. “Kita berangkat! Jangan ketinggalan kalau tidak mau mati beku!”

Cambuk dilecutkan. Kuda mulai bergerak.

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!