NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Ketika Jarak Semakin Dekat, Hati Semakin Tertekan

Adrian mengantarkan Yura ke apartemennya dengan hati-hati memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.

Begitu sampai di depan pintu apartemen Yura, Adrian berhenti.

"Yura…" panggilnya pelan. "Aku… boleh tinggal malam ini? Di luar, atau di sofa. Aku cuma… aku tidak tenang kalau meninggalkanmu sendirian."

Yura menatap Adrian lama matanya masih memerah, lelah.

Tapi ia mengangguk pelan. "…boleh. Terima kasih, Adi."

Adrian tersenyum lega. "Terima kasih sudah percaya sama aku."

Mereka masuk ke apartemen kecil Yura sederhana, tapi hangat.

Yura langsung duduk di sofa, memeluk bantal tatapannya kosong.

Adrian duduk di ujung sofa, menjaga jarak tidak ingin membuat Yura tidak nyaman. "Kau… mau aku buatkan teh?" tanya Adrian lembut.

Yura menggelengkan kepala pelan. "Aku… cuma mau tidur, Adi."

Adrian mengangguk. "Oke. Kau tidur aja. Aku akan jaga di sini."

Yura menatapnya sejenak lalu berbisik pelan. "Terima kasih… sudah ada buat aku."

Adrian tersenyum tipis. "Aku akan selalu ada buat kamu, Yura. Apapun yang terjadi."

Yura tidak menjawab. Ia hanya berdiri, lalu berjalan ke kamar tidurnya menutup pintu dengan pelan.

Adrian duduk di sofa, menatap pintu kamar Yura dengan ekspresi khawatir.

Aku harus melindunginya. Apapun yang terjadi.

Keesokan Pagi Perjalanan ke Toko

Pagi itu, Adrian mengantarkan Yura ke toko dengan mobilnya.

Yura duduk di kursi penumpang dengan tatapan kosong masih lelah, masih trauma.

Adrian sesekali melirik ke arahnya dengan ekspresi prihatin.

Setelah beberapa menit berkendara dalam keheningan, Adrian menarik napas panjang lalu bicara pelan. "Yura…"

Yura menoleh. "Iya?"

Adrian terdiam sejenak, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Aku… aku tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat. Tapi… aku harus bilang sekarang. Karena aku tidak tahu… kapan lagi aku punya kesempatan."

Yura mengerutkan dahi bingung.

Adrian menarik napas lagi, lalu bicara dengan nada serius tapi lembut. "Yura… aku sudah suka sama kamu sejak lama. Sejak kita masih kuliah dulu. Dan selama ini… aku cuma bisa jadi teman. Karena aku takut… kalau aku bilang, kamu malah menjauh."

Yura terdiam matanya melebar.

Adrian melanjutkan. "Tapi sekarang… setelah semua yang terjadi… aku tidak bisa diam lagi. Aku ingin kamu tahu… kalau aku peduli sama kamu. Bukan cuma sebagai teman. Tapi… lebih dari itu."

Ia menatap Yura sekilas lalu kembali fokus ke jalan.

"Aku tidak minta kamu jawab sekarang. Aku tahu kamu lagi banyak pikiran. Tapi aku cuma… aku cuma mau kamu tahu. Kalau ada aku. Dan aku akan selalu ada buat kamu."

Keheningan jatuh di dalam mobil.

Yura menatap keluar jendela pikirannya kacau.

Adrian… suka padaku?

Sejak dulu?

Ia tidak tahu harus bilang apa. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bicara pelan, tapi jujur. "Adi… aku… aku butuh waktu."

Adrian tersenyum tipis lega. "Aku mengerti. Tidak masalah. Aku akan tunggu."

Yura mengangguk pelan lalu kembali menatap keluar jendela dengan perasaan campur aduk.

Di Depan Toko Yura...

Mobil Adrian berhenti tepat di depan toko Yura.

Yura turun dengan pelan, diikuti oleh Adrian yang langsung berjalan di samping nya waspada.

Yura berjalan menuju pintu toko, meraih kunci dari tasnya.

Tapi tiba-tiba, suara familiar terdengar dari samping. "Selamat pagi, Yura."

Yura membeku.

Ia menoleh dan jantungnya langsung berhenti.

Arkan.

Pria itu berdiri di depan gedung sebelah toko gedung yang kemarin masih kosong.

Sekarang… ada spanduk besar terpasang di depannya:

Arkan Tech Solutions- CABANG BARU

Yura menatap spanduk itu dengan mata melebar tidak percaya.

Adrian langsung maju berdiri di antara Yura dan Arkan dengan ekspresi marah.

"Kau… apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Adrian dengan nada menahan amarah.

Arkan tersenyum tipis tenang, terlalu tenang.

"Aku baru saja membuka cabang baru perusahaanku," jawabnya santai. "Kebetulan… lokasi ini strategis."

Adrian menatapnya tajam. "Kau bohong. Kau beli gedung ini karena kau mau menguntit Yura!"

Arkan memiringkan kepalanya sedikit masih tersenyum.

"Menguntit?" tanyanya dengan nada main-main. "Inspektur Adrian… aku hanya membeli properti untuk bisnis. Itu legal. Tidak ada yang salah dengan itu."

Adrian mengepalkan tangannya. "Kau tahu persis apa yang kau lakukan! Ini pelecehan! Ini gangguan! Ada pasal yang mengatur tentang mengikuti dan mengganggu orang lain Pasal 335 KUHP! Kau bisa dipenjara!"

Arkan menatapnya datar tidak terpengaruh.

"Aku tidak mengikuti siapapun," jawabnya tenang. "Aku hanya… bekerja di gedung milikku sendiri. Kalau Nona Yura kebetulan bekerja di sebelah… itu bukan salahku."

Adrian maju satu langkah napasnya memburu. "Kau "

Tapi sebelum ia sempat melanjutkan, suara lain terdengar dari belakang Arkan.

"Permisi, Pak Arkan."

Bagas datang dengan map tebal di tangannya berjalan dengan langkah cepat.

Ia berhenti di samping Arkan, lalu membuka map itu.

"Ini surat sertifikat gedung yang Bapak minta," kata Bagas sambil menyerahkan dokumen itu ke Arkan. "Sudah resmi atas nama Arkan Mahendradatta. Proses perpindahan kantor cabang akan dimulai minggu depan."

Arkan menerima dokumen itu dengan tenang, lalu membukanya memperlihatkan sertifikat resmi dengan stempel dan tanda tangan lengkap.

Ia menatap Adrian dengan senyum tipis menang.

"Seperti yang saya bilang, Inspektur," ucap Arkan dengan nada tenang tapi menusuk. "Ini bisnis. Legal. Tidak ada yang salah."

Adrian terdiam rahangnya mengeras.

Ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Arkan tidak melanggar hukum. Ia hanya… menggunakan uangnya untuk mendekati Yura secara legal.

Yura berdiri di belakang Adrian tubuhnya gemetar, wajahnya pucat.

Arkan menatapnya tatapannya lembut, tapi penuh kepemilikan.

"Selamat pagi, Yura," sapanya lagi kali ini lebih pelan. "Sepertinya… kita akan sering bertemu mulai sekarang."

Yura tidak menjawab. Ia hanya menatap Arkan dengan tatapan penuh ketakutan.

Adrian langsung berbalik, memegang bahu Yura dengan lembut.

"Yura, masuk ke toko. Sekarang."

Yura mengangguk cepat lalu dengan tangan gemetar, ia membuka kunci toko dan masuk dengan cepat.

Adrian menatap Arkan dengan tatapan penuh kebencian.

"Kau pikir ini akan berhasil?" tanyanya dengan nada rendah penuh ancaman. "Kau pikir dengan beli gedung di sebelah toko dia, kau bisa memaksanya menerima kau?"

Arkan tersenyum tipis dingin.

"Aku tidak memaksa," jawabnya tenang. "Aku hanya… memastikan dia tidak bisa menghindari aku."

Adrian mengepalkan tangannya hampir maju untuk memukul Arkan

Tapi ia tahan.

Karena ia tahu itu yang Arkan mau.

Ia ingin Adrian kehilangan kendali. Ia ingin Adrian melakukan kesalahan.

Adrian menarik napas dalam, lalu bicara dengan nada dingin.

"Kau mungkin bisa beli gedung. Kau mungkin bisa beli apapun dengan uangmu. Tapi kau tidak akan pernah bisa beli hati Yura."

Arkan menatapnya lama lalu tersenyum lagi.

"Kita lihat saja," jawabnya pelan. "Siapa yang akan dia pilih pada akhirnya."

Adrian tidak menjawab. Ia hanya berbalik lalu masuk ke toko Yura, meninggalkan Arkan yang berdiri di depan gedung barunya.

Di Dalam Toko Yura

Begitu Adrian masuk, ia melihat Yura duduk di lantai punggungnya bersandar ke dinding, tangannya menutupi wajah. Ia menangis tidak bersuara, tapi tubuhnya gemetar hebat.

Adrian langsung berlutut di sampingnya, memeluknya dengan lembut.

"Yura… kau tidak apa-apa. Aku di sini."

Yura menggelengkan kepala keras. "Dia… dia beli gedung di sebelah toko… dia… dia akan selalu ada di sini… aku tidak bisa… aku tidak bisa "

"Kau bisa," potong Adrian tegas tapi lembut. "Kau kuat, Yura. Kau sudah bertahan sejauh ini. Dan aku akan selalu ada buat kamu."

Yura menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. "Tapi bagaimana, Adi? Dia… dia tidak akan berhenti…"

Adrian menatapnya serius. "Maka kita harus lebih kuat. Kita harus cari cara. Aku tidak akan membiarkan dia menang."

Yura mengangguk pelan tapi hatinya… masih penuh dengan ketakutan. Karena ia tahu. Arkan sudah terlalu dekat. Dan ia tidak tahu… bagaimana cara menjauh lagi.

1
Nur Halida
sebenarnya aku kasian sama arkan tapi kasihan juga sama yura ..
seandainya gsk ada adrian mungkin yura akan sedikit luluh pada arkan ..
arkan itu menurutku cuma kesepian tapi caranya ngejar yura yg membuat yura takut...
berjuanglah arkan aku mendukungmu karena aku tahu kamu bukan hanya obsesi tapi kamu tulus mencintai yura
Nur Halida
ngeri ngeri sedep nih si arkan🙀
Bunga
suka
NR: Makasih banyak ya sudah baca dan suka sama ceritanya 🥺✨
Seneng banget tau kalian menikmati perjalanan Yura & Arkan.
Doain aku bisa konsisten update dan kasih cerita yang makin berasa 🤍
total 1 replies
Bunga
cerita yang menàrik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!