Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Menegangkan
Malam itu aku tetap tidak bisa tidur.
Aku menatap langit-langit kamar dalam gelap, napasku terasa berat tanpa alasan jelas. Dadaku sesak oleh pikiran yang berlarian—tentang rumah ini, tentang dirinya, tentang hidup yang berubah terlalu cepat. Tanpa sadar, tanganku bergerak melepas jilbabku. Aku meletakkannya sembarang di atas kursi, lalu menghela napas panjang.
Aku bangkit dari ranjang.
Dengan langkah pelan, aku keluar kamar dan menuruni tangga. Rumah itu sunyi. Lampu ruang tamu menyala redup, memantulkan bayangan lembut di lantai.
Dan di sana… ia ada.
Schevenko duduk di sofa, bersandar dengan satu tangan menopang kepala. Wajahnya terlihat lelah, seperti seseorang yang juga belum menemukan tidur. Saat aku melangkah mendekat, suara kakiku membuatnya menoleh.
Tatapan itu langsung membuatnya terdiam.
Aku baru menyadari sesuatu.
Tanganku refleks menyentuh kepala.
Kosong.
Jilbabku… sudah tidak kupakai.
Dan mulai dari kejadian inilah aku tidak lagi memakai jilbab saat di rumah bersamanya.
Aku pun membeku di tempat.
Schevenko pun tampak tercengang. Matanya melebar sesaat, jelas terkejut, tapi bukan dengan ekspresi yang membuatku takut. Lebih seperti… kaget karena tidak menyangka.
Aku menunduk cepat, menahan panik.
“Ma—” aku hendak bicara, tapi ia lebih dulu membuka suara.
“Nggak apa-apa,” katanya cepat, lalu ia mengalihkan pandangannya ke meja.
“Santai aja.”
Nada suaranya tenang. Tidak menghakimi. Tidak canggung berlebihan.
Aku menghembuskan napas lega, lalu melangkah mendekat.
“Aku nggak bisa tidur,” kataku lirih.
Ia mengangguk. “Duduk.”
Aku duduk di ujung sofa, masih agak kikuk. Rambutku terurai begitu saja di bahu, dan aku jadi lebih sadar pada jarak di antara kami.
“Kamu juga belum tidur?” tanyaku pelan.
“Belum,” jawabnya singkat. “Aku juga susah tidur.”
Kami diam.
Keheningan kali ini berbeda. Lebih tegang. Mungkin karena aku tanpa jilbab, mungkin karena malam terlalu sunyi, atau mungkin karena kami sama-sama sadar ada batas yang harus dijaga.
“Kamu kedinginan?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menggeleng. “Nggak.”
Ia berdiri, mengambil selimut tipis dari sandaran sofa, lalu meletakkannya di sampingku—tidak menyentuhku, hanya cukup dekat untuk kuambil sendiri.
“Kalau perlu.”
Aku menatapnya, hatiku menghangat.
“Makasih.”
Ia duduk kembali, memberi jarak sedikit lebih jauh dari sebelumnya. Sikapnya jelas—menjaga.
“Aku nggak nyangka hari ini bakal sejauh ini,” ucapku pelan.
“Aku juga,” jawabnya jujur.
Aku tersenyum kecil. “Aku ngerasa canggung.”
Ia menoleh, lalu tersenyum tipis.
“Wajar.”
Jam berdetak pelan.
Lampu ruang tamu tetap redup, hanya cahaya televisi yang memantul di dinding dan lantai. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaanku saja.
“Kalau kamu mau,” Schevenko berkata tanpa menoleh, “kamu bisa balik ke kamar. Atau di sini sampai ngantuk.”
Aku menggeleng kecil. “Aku mau nonton film.”
Ia akhirnya menoleh. Tatapannya singkat, seolah mengukur.
“Film apa?”
“Horor.”
Ada jeda. Tipis. Hampir tak terlihat.
“Emangnya berani?” tanyanya.
Aku mendengus kecil, sok percaya diri. “Berani dong. Aku sering nonton horor.”
Schevenko tidak menertawakan. Tidak juga menggoda. Ia hanya mengangguk pelan lalu menyalakan televisi.
Film dimulai pelan. Terlalu pelan.
Musiknya rendah, bikin dada sesak. Aku masih bisa menertawakan diriku sendiri… sampai suara keras muncul tiba-tiba di layar.
“Astaghfirullah—!”
Tubuhku bereaksi lebih cepat dari pikiranku.
Aku bangkit setengah, lalu tanpa sadar langsung naik ke pangkuan Schevenko, memeluknya erat.
“Zahra—!”
Suaranya terputus.
Tubuhnya langsung kaku.
Aku menutup wajah di dadanya, napasku tersengal.
“Maaf—maaf—aku kaget… sumpah aku refleks…”
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik berlalu. Terlalu lama.
“Zahra,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, tapi jelas tidak setenang biasanya.
“Kamu… sadar kamu lagi duduk di mana sekarang?”
Aku membeku.
Pelan-pelan aku mendongak. Wajahnya sangat dekat.
Matanya terbuka lebar—bukan marah. Terkejut. Panik.
“Aku… aku takut,” kataku lirih. “Aku gak sengaja.”
Ia menelan ludah. Gerakannya terlihat jelas.
“Aku tahu,” jawabnya cepat, lalu terdiam lagi.
Tangannya terangkat sedikit… berhenti di udara… lalu turun kembali ke sisi sofa.
Tidak menyentuhku. Tidak mendorongku.
Film kembali mengeluarkan suara keras. Aku refleks memeluknya lebih erat.
Schevenko menarik napas tajam.
“Zahra,” katanya lagi, lebih pelan,
“kamu… kamu tenang dulu. Tarik napas.”
“Aku gak bisa…” suaraku gemetar. “Ini serem banget.”
Ia mengangguk kecil, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
“Lihat aku,” katanya tiba-tiba.
Aku menatapnya.
“Ini cuma film,” lanjutnya. “Kamu aman.”
Aku mengangguk, tapi tidak bergerak.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang berat.
“Kamu… mau turun?” tanyanya akhirnya, ragu.
Aku menggigit bibir. Jujur.
“Boleh… bentar aja?”
Ia terdiam.
Aku bisa merasakan dadanya naik turun lebih cepat dari tadi. Bahunya kaku. Rahangnya mengeras.
“…Baik,” katanya akhirnya. Singkat.
“Tapi… jangan bergerak dulu.”
Aku mengangguk cepat. “Iya.”
Kami kembali diam.
Aku di pangkuannya. Ia menatap lurus ke depan, tapi jelas tidak fokus ke film.
“Aku bikin kamu gak nyaman, ya?” tanyaku pelan.
Ia menggeleng. Terlalu cepat.
“Bukan itu.”
“Terus kenapa kamu tegang banget?”
Ia tertawa kecil—kering.
“Karena ini… situasi yang tidak aku rencanakan.”
Aku menunduk. “Maaf…”
“Jangan minta maaf,” katanya. Suaranya melembut sedikit.
“Kamu cuma takut. Itu normal.”
Aku terdiam.
Normal.
Kata itu aneh keluar dari mulutnya.
Film hampir selesai. Keteganganku mulai turun, tapi justru aku makin sadar posisiku.
“Mas,” panggilku pelan.
“Hm?”
“Kamu… gak apa-apa?”
Ia diam lama. Lalu menghela napas panjang.
“Aku juga manusia, Zahra,” katanya akhirnya. “Aku juga bisa kaget.”
Aku tertegun.
Saat film berakhir, layar gelap. Ruangan jadi sunyi.
“Sekarang,” katanya pelan, “kamu boleh turun.”
Aku mengangguk dan turun perlahan.
Ia langsung bersandar ke sofa, menutup mata sebentar, seperti baru selesai menahan sesuatu yang berat.
“Terima kasih,” kataku lirih.
Ia membuka mata, menatapku singkat.
“Kali lain,” katanya, “kalau nonton horor… jangan sok berani.”
Aku tersenyum malu.
Malam itu, tanpa sentuhan berlebihan, tanpa kata manis—aku melihat sesuatu yang tidak pernah kutebak:
Schevenko yang panik.
Schevenko yang menahan diri.
Schevenko yang… nyata.
Dan itu jauh lebih membuat jantungku berdebar daripada film horor apa pun.