Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melompat ke Dalam Kolam Listrik Cair
Ada sensasi tarikan yang menyakitkan di ulu hati. Seperti roh yang ditarik paksa dari raga.
ZING!
Kegelapan pecah.
Suara gamelan hilang seketika. Hawa panas dan aroma melati yang mencekik lenyap.
Sekar tersentak, terengah-engah, berlutut di atas tanah yang lembut dan gembur.
Dia membuka mata.
Langit biru cerah menyambutnya.
Udara segar berbau tanah basah dan daun mint memenuhi paru-parunya.
Dia berada di dalam Ruang Spasialnya.
Sekar meraba wajahnya sendiri. Dingin. Normal.
Jantungnya berdetak teratur. Di sini, di dalam wujud kesadarannya, dia tidak keracunan.
Dia berdiri, menatap hamparan Tanah Hitam yang subur. Pohon Kristal data berdiri megah di kejauhan, daun-daunnya berkilauan tertimpa cahaya matahari abadi.
"Aku selamat," desisnya, memegang dadanya.
"Brengsek kau, Mawar. Kau benar-benar memberiku Datura metel dosis kuda."
Sekar berjalan cepat menuju Rumah Kayu. Dia perlu berpikir. Dia perlu meracik penawar.
Tapi langkahnya terhenti saat dia mencoba melihat "Jendela Keluar".
Biasanya, saat berada di ruang spasial, Sekar bisa memilih untuk melihat dunia nyata melalui semacam layar hologram transparan yang memproyeksikan pandangan mata fisik tubuh aslinya.
Layarnya menyala.
Dia melihat sudut pandang yang berguncang-guncang.
Itu pandangan dari mata tubuh fisiknya yang sedang digendong Arya.
Dia melihat langit-langit koridor keraton yang lewat dengan cepat. Dia melihat rahang Arya yang mengeras dari bawah.
"Mas Arya..." bisik Sekar di dalam ruang spasial.
Dia melihat Arya menendang pintu Paviliun Tamu hingga terbuka.
"Panggil dokter! Sekarang!" teriak Arya.
Sekar melihat dirinya sendiri ditidurkan di atas ranjang kayu jati.
Sekar di dalam ruang spasial segera berlari ke arah pintu keluar, sebuah gerbang cahaya di perbatasan ladang. Dia harus kembali sekarang. Dia harus bangun dan memberitahu Arya bahwa dia diracun.
Sekar menempelkan telapak tangannya ke gerbang cahaya itu.
Biasanya, gerbang itu akan terbuka semudah membalik telapak tangan.
Tapi kali ini, tidak ada reaksi.
Sekar mengerutkan kening.
Dia menempelkan tangannya lagi, lebih keras.
"Buka!" teriaknya.
Hening. Gerbang itu tetap padat seperti dinding baja tak kasat mata.
Akses Ditolak.
Tulisan merah muncul di udara.
Wajah Sekar memucat. Otak jeniusnya langsung menghubungkan titik-titik masalah.
"Mekanisme pintu keluar..." gumamnya, suaranya bergetar.
"Pintu ini membutuhkan sinkronisasi gelombang otak dengan tubuh fisik. Untuk kembali, tubuh fisikku harus dalam keadaan standby atau tidur REM."
Tapi tubuh fisiknya di luar sana tidak sedang tidur.
Tubuh itu sedang mengalami shut-down sistem saraf pusat. Neurotransmitter-nya diblokir total. Secara teknis, tubuh itu sedang dalam kondisi "mati suri" atau koma artifisial.
"Tidak ada sinyal..." Sekar mundur selangkah, horor mulai merayapi punggungnya.
"Aku tidak bisa kembali karena tubuhku tidak bisa menerima 'panggilan' dari jiwa."
Dia terkunci dari dalam.
Sekar membalikkan badan, menatap layar hologram yang melayang di udara.
Dia menjadi penonton pasif dari nasibnya sendiri.
Di Paviliun Tamu, suasana kacau balau.
Dokter Keraton, Dr. Setyo, datang tergopoh-gopoh membawa tas medis.
"Minggir, Gusti Pangeran. Biar saya periksa," ucap Dr. Setyo.
Arya mundur, tapi matanya tak lepas dari wajah Sekar yang kini semakin merah, kontras dengan bibirnya yang mulai membiru kering.
Dr. Setyo memeriksa denyut nadi, menyinari mata Sekar dengan senter, lalu mendengarkan detak jantung dengan stetoskop.
Dahi dokter tua itu berkerut dalam.
"Bagaimana, Dok? Dia keracunan makanan?" tanya Arya mendesak.
Dr. Setyo melepas stetoskopnya perlahan. Dia menatap Arya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Denyut nadinya sangat cepat, tapi lemah. Pupil dilatasi maksimal. Suhu tubuh 40 derajat," lapor Dr. Setyo.
"Apa penyebabnya?"
Dr. Setyo menggeleng pelan, sebuah senyum tipis yang meremehkan muncul sekilas di sudut bibirnya.
"Secara medis, tidak ada tanda-tanda keracunan makanan biasa, Gusti. Tidak ada muntah, tidak ada kejang perut."
"Lalu apa?"
"Gejala ini... mirip dengan excitated delirium atau kegilaan yang dipicu euforia berlebih," ucap Dr. Setyo hati-hati, tapi setiap katanya adalah jarum.
"Biasanya terjadi pada orang yang mengonsumsi zat psikotropika... atau orang yang jiwanya terguncang karena tidak kuat menahan beban spiritual."
Arya mencengkeram kerah jas dokter itu.
"Jaga bicaramu! Kau menuduh calon istriku pemakai narkoba?"
"Saya hanya bicara medis, Gusti!" Dr. Setyo mengangkat tangan, pura-pura takut.
"Tapi lihat sendiri. Dia seperti orang yang sedang trip. Dia tidak sadar, tapi matanya bergerak-gerak liar."
Tiba-tiba, pintu paviliun terbuka.
GKR Dhaning masuk, diikuti oleh Mawar yang terlihat cemas.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Dhaning.
"Kondisinya stabil, Gusti Ratu. Tapi kesadarannya hilang total. Seperti... jiwanya pergi," jawab Dr. Setyo penuh arti.
Dhaning menghela napas panjang, dramatis.
"Sudah kuduga," ucap Dhaning sambil menggelengkan kepala prihatin.
"Arya, kau harus realistis. Sekar itu gadis desa biasa. Membawa dia masuk ke Bangsal Kencana saat Bedhaya Ketawang adalah kesalahan fatal."
"Apa maksud Mbakyu?" geram Arya.
"Dia tidak kuat, Arya," ucap Dhaning dengan nada final.
"Roh leluhur menolaknya. Tubuhnya kalah oleh energi sakral tarian tadi. Lihat dia sekarang. Kosong. Seperti wadah tanpa isi."
Mawar maju selangkah, menyentuh lengan Arya dengan lembut.
"Ar... mungkin Mbakyu Dhaning benar," ucap Mawar lembut.
"Sebaiknya kita panggilkan Romo Kyai untuk meruqyah-nya. Siapa tahu ada 'sesuatu' yang menempel padanya."
Arya menepis tangan Mawar kasar.
"Keluar," ucap Arya dingin.
"Ar, kami hanya..."
"KELUAR!" bentak Arya, suaranya menggelegar hingga membuat kaca jendela bergetar.
"Keluar kalian semua! Kecuali Nyi Ratri dan pengawal pribadiku!"
Dhaning mendengus, menarik tangan Mawar. "Ayo, Mawar. Biarkan dia mengurus gadis pembawa sial itu. Kita harus kembali ke Eyang Sultan. Beliau pasti kecewa sekali."
Mereka pergi, meninggalkan Arya sendirian di ruangan yang remang-remang itu.
Di dalam Ruang Spasial, Sekar menyaksikan semuanya lewat layar hologram.
Dia melihat Arya jatuh terduduk di kursi di samping ranjang. Bahu pria itu merosot. Pangeran yang biasanya gagah itu kini terlihat rapuh.
Arya menggenggam tangan fisik Sekar yang terkulai lemas, menempelkannya ke keningnya.
"Jangan tinggalkan aku, Sekar..." bisik Arya, suaranya pecah.
"Apapun ini... tolong lawan."
Hati Sekar mencelos.
Rasa sakit melihat keputusasaan Arya jauh lebih menyakitkan daripada efek racun kecubung manapun.
"Aku di sini, Mas. Aku tidak meninggalkanmu," teriak Sekar pada layar bisu itu. Dia memukul udara dengan frustrasi.
Analisis, Sekar! Jangan emosional!
Sekar mondar-mandir di depan Rumah Kayu.
Fakta 1: Tubuh fisiknya penuh racun alkaloid yang terdiri dari skopolamin, hiosiamin, dan atropin.
Fakta 2: Racun itu memblokir reseptor asetilkolin. Saraf parasimpatis lumpuh.
Fakta 3: Untuk bisa kembali, dia harus membuang racun itu dari tubuh fisiknya.
Fakta 4: Dia tidak bisa memaksa tubuh fisiknya minum penawar dari sini.
"Sialan!" Sekar menendang pot tanah liat hingga pecah.
Dia terjebak dalam paradoks.
Untuk sembuh, dia harus kembali ke tubuhnya.
Untuk kembali ke tubuhnya, dia harus sembuh.
Mawar benar-benar jenius yang jahat. Wanita itu tidak membunuhnya.
Dia memenjarakannya dalam limbonya sendiri.
Sekar menatap ke arah Mata Air Spiritual di tengah kolam teratai.
Air itu berkilauan memancarkan cahaya keperakan.
Air itu adalah panacea, obat segala penyakit.
Satu teguk saja cukup untuk menetralisir racun kecubung itu dalam hitungan menit.
Tapi bagaimana caranya mengirim air itu ke mulut tubuh fisiknya yang ada di dimensi lain?
Mata Sekar menyipit. Dia teringat sesuatu.
Hukum kekekalan energi ruang spasial.
Apa yang dia makan atau minum di sini, efek nutrisinya akan merembes ke tubuh fisik, meskipun rasionya kecil.
Selama ini, dia makan buah dan minum air spiritual di ruang spasial, dan tubuh aslinya menjadi lebih segar dan kulitnya lebih halus.
Ada koneksi metabolik samar antara wujud astral jiwanya di ruang spasial ini dan wujud fisiknya di dunia nyata.
Tapi rasionya sangat kecil. Mungkin 1:10000.
"Jika aku minum seteguk air ini, mungkin di sana hanya berpengaruh sepersejuta miligram. Tidak cukup cepat untuk melawan dosis racun Mawar," gumam Sekar.
Kecuali...
Sekar menatap kolam itu dengan tatapan gila.
"Kecuali aku membanjiri sistemku."
Dia tidak butuh seteguk.
Dia butuh berendam.
Dia butuh menyerap esensi air spiritual itu melalui setiap pori-pori kulit wujud astralnya, meminumnya sampai perutnya kembung, memaksa energi murni itu menembus batas dimensi melalui resonansi jiwa.
Namun, ini berisiko. Energi murni dalam jumlah besar bisa membakar jalur meridian jiwanya.
"Lebih baik terbakar daripada membiarkan Mawar menang," desis Sekar.
Dia berjalan menuju kolam.
Di layar hologram, dia melihat Dr. Setyo kembali masuk, kali ini membawa jarum suntik berisi cairan bening.
"Saya akan menyuntikkan sedatif tambahan, Gusti. Agar dia tidak kejang," kata dokter itu.
"JANGAN SENTUH DIA!" teriak Arya.
Waktu Sekar habis. Jika dokter itu menyuntikkan sedatif lagi, sistem sarafnya akan shutdown permanen.
Dia akan koma selamanya.
Sekar tidak membuang waktu.
Tanpa melepas kebaya, dia melompat terjun ke dalam Mata Air inti dari air Spiritual yang dingin membeku.
BYUR!
Air itu bukan air biasa.
Rasanya seperti melompat ke dalam kolam listrik cair.
Sekar menjerit di dalam air saat ribuan volt energi murni menusuk kulitnya, mencari jalan untuk menyeberang ke tubuh fisiknya yang sedang sekarat di dunia nyata.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄