Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Tetesan cairan kental berwarna jingga jatuh ke lantai batu. Besi-besi yang seharusnya menjadi pelindung terkuat Aliansi Murim kini meluruh seperti lilin yang ditiup api. Aku memperhatikan fenomena itu tanpa berkedip, membiarkan mata emasku menyesuaikan diri dengan kegelapan yang mendadak pekat.
Pria di sel sebelah mengeluarkan suara tawa yang tertahan. Sosoknya masih tersembunyi, namun pendar hijau dari matanya memberikan cukup cahaya untuk melihat tangannya yang kini meremas sisa jeruji besi yang masih panas.
"Nama saya adalah Baek Oh," ucapnya seraya melangkah keluar dari balik bayangan.
Wajahnya tampak hancur di satu sisi, dengan kulit yang menyerupai kerak pohon tua. Namun, sirkulasi tenaganya terasa sangat liar, bahkan jauh lebih tidak stabil daripada milik si Palu Penghancur yang baru saja kuhadapi.
"Kau menghancurkan sel ini dengan tangan kosong?" tanyaku dengan nada menuntut.
Baek Oh menggeleng perlahan. "Ini bukan kekuatanku sendiri. Ini adalah reaksi alami saat dua atau lebih Vanguard berada dalam jarak dekat. Aliansi menyebutnya sebagai Resonansi Bencana."
Aku melangkah melewati celah besi yang sudah meleleh. Kakiku menyentuh lantai lorong yang terasa bergetar pelan. Sistem di kepalaku terus memberikan peringatan tentang tingkat energi yang melonjak di seluruh area penjara bawah tanah ini.
"Kenapa kau menyebut dirimu sebagai kegagalan?" tanyaku seraya menatap luka di wajahnya.
Baek Oh berhenti berjalan dan menoleh ke arahku. "Karena aku tidak bisa mempertahankan kesadaran manusiaku saat transformasi mencapai tahap akhir. Aku menjadi binatang yang hanya tahu cara menghancurkan, dan Aliansi membuangku ke sini untuk dipelajari."
"Lalu kenapa sekarang kau terlihat begitu tenang?" balasku dengan nada curiga.
"Karena kehadiranmu memberikan stabilitas yang tidak pernah aku miliki sebelumnya," jawab Baek Oh dengan nada yakin.
Kami berjalan menyusuri lorong yang sunyi. Di sisi kiri dan kanan, aku bisa melihat sel-sel lain yang tertutup rapat oleh segel emas. Di dalamnya, beberapa sosok bergerak gelisah, mengeluarkan suara-suara yang lebih mirip geraman daripada rintihan manusia.
"Jangan melihat ke arah mereka," peringat Baek Oh tanpa menoleh.
"Kenapa?" tanyaku seraya menghentikan langkah.
"Karena mereka sudah kehilangan jiwanya. Jika kau membalas tatapan mereka, esensi Asura di dalam tubuhmu akan mencoba mengambil alih kendali," jelas Baek Oh dengan nada memperingatkan.
Aku segera memalingkan wajah dan terus berjalan. Namun, di ujung lorong, langkah kami terhenti oleh sebuah pintu besar yang dijaga oleh dua patung singa batu raksasa. Patung-patung itu tidak bergerak, namun aku bisa merasakan detak jantung yang berasal dari dalam batu tersebut.
"Patung hidup," gumamku seraya mengepalkan tangan.
"Mereka adalah Wali Penjara. Hanya mereka yang berada di ranah Formasi Inti Tahap Puncak yang bisa melewati pintu ini tanpa hancur," ucap Baek Oh seraya merendahkan posisi tubuhnya.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari arah kegelapan di belakang patung-patung tersebut. Sosok Jin Seo muncul dengan senyum yang masih sama seperti saat ia membawaku ke sini. Namun, kali ini ia tidak sendirian. Di belakangnya berdiri He Ran dengan kipas ungu yang menutupi separuh wajahnya.
"Kerja bagus, Han," puji He Ran seraya melangkah maju.
"Kau merencanakan semua ini?" tanyaku dengan nada yang mulai meninggi.
He Ran menutup kipasnya dengan hentakan kecil. "Aliansi perlu melihat ancaman yang nyata agar mereka setuju untuk memberikan akses ke Makam Pedang Kuno. Dan kau, Han, adalah ancaman paling sempurna yang pernah mereka temui."
"Jadi kau menggunakanku sebagai umpan?" tanyaku sembari merasakan sisik emas mulai menjalar di sepanjang lenganku.
"Bukan umpan, melainkan kunci," sahut Jin Seo seraya mencabut pedang putihnya. "Turnamen besok hanya formalitas. Tujuan sebenarnya adalah membangkitkan apa yang ada di bawah makam tersebut menggunakan energimu."
Aku merasakan amarah mulai membakar ulu hatiku. Rasa dikhianati oleh orang-orang yang mengaku sebagai sekutu jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik mana pun.
"Aku bukan kunci bagi ambisi kalian," desis kuku dengan suara yang kini bergema rendah.
[Status Vanguard: Aktif.]
[Tingkat Sinkronisasi: 110%.]
[Peringatan: Energi Resonansi melampaui batas aman.]
"Han, tenanglah," ucap He Ran dengan nada bicara yang mulai terdengar khawatir.
Namun, aku tidak lagi mendengarkan. Seluruh lorong penjara mulai berguncang hebat. Cahaya emas dari segel-segel di sel mulai memudar, digantikan oleh pendar hitam yang pekat. Patung-patung singa batu di depan pintu mulai retak, mengeluarkan raungan yang sanggup merobek gendang telinga manusia biasa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jin Seo dengan wajah yang mulai pucat.
"Aku hanya memberikan apa yang mereka inginkan," balasku seraya menatap pintu besar itu.
Dalam sekejap, pintu raksasa itu hancur berkeping-keping. Bukan karena pukulanku, melainkan karena tekanan energi yang keluar dari dalam tubuhku yang kini sudah tidak lagi terbendung. Dari balik reruntuhan pintu, muncul sebuah tangga panjang yang menuju ke bawah, ke tempat di mana cahaya merah yang kulihat tadi berasal.
"Itu... pintu masuk Makam Pedang Kuno," gumam He Ran dengan mata yang membelalak.
Tiba-tiba, dari arah tangga tersebut, muncul sesosok pria dengan pakaian yang sudah sangat usang. Ia memegang sebilah pedang berkarat, namun aura yang terpancar darinya sanggup membuat Jin Seo dan He Ran berlutut secara paksa.
Pria itu menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, seolah-olah ia sudah mengenalku sejak ribuan tahun yang lalu.
"Akhirnya kau datang, Sang Penjaga Terakhir," ucap pria misterius itu dengan suara yang terdengar seperti debu yang tertiup angin.
Aku terdiam, merasakan sistem di kepalaku mendadak bungkam total. Segala informasi yang biasanya tersedia kini menghilang, menyisakan kegelapan yang sama pekatnya dengan apa yang ada di hadapanku.
"Siapa kau?" tanyaku dengan suara yang bergetar.
Pria itu hanya tersenyum tipis, lalu mengarahkan ujung pedangnya ke arah dadaku. "Aku adalah kau sebelum kau menjadi monster."
Tepat saat ia selesai bicara, sebuah ledakan energi dari bawah makam menghantam kami semua, menyeret kesadaranku ke dalam pusaran yang tidak memiliki ujung. Hal terakhir yang kulihat adalah wajah He Ran yang tampak sangat ketakutan, seolah-olah ia baru saja menyadari bahwa ia telah melepaskan sesuatu yang tidak seharusnya disentuh oleh manusia.