Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Kesepakatan rahasia
Malam menyelimuti Kota Sagara dengan sunyi yang menekan. Di lantai atas sebuah hotel mewah, sebuah ruangan privat dipenuhi cahaya temaram. Tirai tebal menutup jendela, menghalangi pandangan dari luar. Di dalam, empat pria duduk mengelilingi meja bundar, wajah-wajah mereka tegang, sorot mata menyimpan kegelisahan.
Di ujung meja, Hendra Wiratama seorang pemilik jaringan toko manisan terbesar kedua di kota itu, menggenggam gelas minumannya dengan tangan sedikit gemetar. Di hadapannya duduk Surya Pradana, staf khusus wakil walikota, dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Dua pria lain mengenakan jas hitam, pengusaha properti dan pengelola media lokal, masing-masing menyimpan kepentingan sendiri.
“Artikel itu hampir terbit,” kata Surya akhirnya, memecah keheningan. “Kalau sampai naik, kita semua bisa tamat.”
Hendra menghela napas panjang. “Kita sudah melakukan segalanya. Media, saksi, bahkan ancaman. Tapi mereka tetap bergerak.”
Salah satu pria berjas mencondongkan tubuh. “Masih ada satu cara. Kita buat kesepakatan yang tak bisa mereka tolak.”
Surya menatapnya tajam. “Maksudmu?”
“Tekanan hukum. Kita dorong penyelidikan palsu, tuduh keluarga itu memalsukan data, dan jebak wartawan cewek itu dengan kasus etik. Sekali reputasi mereka runtuh, artikel itu akan dianggap omong kosong.”
Ruangan kembali senyap. Ide itu menggantung di udara seperti racun manis.
Hendra ragu. “Itu berisiko. Kalau terbongkar—”
“Kita pastikan tidak terbongkar,” potong Surya dingin. “Aku punya akses ke aparat. Kita main cepat, sebelum publik tahu.”
Mereka saling pandang. Ketegangan berbaur dengan ketakutan, namun ambisi lebih kuat.
“Baik,” ujar pengelola media akhirnya. “Aku akan siapkan narasi tandingan. Kita buat opini publik berbalik.”
Kesepakatan pun terjalin. Tanpa jabat tangan, tanpa senyum—hanya tatapan dingin yang menyepakati satu tujuan: menghancurkan kebenaran sebelum ia sempat bernapas.
Di sisi lain kota, Bima tak bisa tidur. Gelisah menekan dadanya, seolah firasat buruk terus mengetuk kesadarannya. Ia menatap ponsel, menunggu kabar dari Kirana.
Pesan masuk pukul dua dini hari.
Kita harus waspada. Ada pergerakan aneh di redaksi. Editor dapat tekanan dari atas.
Bima membalas cepat: Apa yang bisa aku lakukan?
Jaga keluargamu. Jangan pergi sendiri.
Hari berikutnya, badai benar-benar datang.
Berita baru muncul di berbagai portal: tudingan bahwa keluarga Wijaya memalsukan dokumen untuk menjatuhkan pesaing bisnis. Nama Bima dan ayahnya tercantum jelas, disertai foto-foto yang diambil diam-diam.
Telepon rumah mereka berdering tanpa henti. Tetangga mulai berbisik. Tatapan curiga kembali mengelilingi mereka.
“Apa ini?” suara ibu bergetar.
“Serangan balik,” jawab Bima pahit.
Di kantor Kirana, situasi tak kalah kacau. Ia dipanggil manajemen, dihadapkan pada tuduhan pelanggaran kode etik dan ancaman pemecatan. Beberapa kolega mulai menjaga jarak, takut ikut terseret.
“Ini perang,” bisik Kirana pada Bima saat mereka bertemu diam-diam di parkiran bawah tanah. “Dan mereka baru saja mengeluarkan senjata terberat.”
Namun Kirana tak gentar. Ia justru mempercepat langkah. Artikel investigasi disempurnakan, bukti diperkuat, dan saksi diamankan di lokasi rahasia.
Sementara itu, di balik layar, kesepakatan rahasia terus bekerja. Tekanan hukum mulai menghantam. Ayah Bima dipanggil penyidik, diperiksa berjam-jam tanpa kejelasan. Tubuhnya melemah, napasnya tersengal.
Bima menahan amarah. “Mereka ingin menghancurkan kita sebelum kita sempat bicara.”
Malam itu, Kirana menghubungi dengan suara tertekan. “Ada satu kesempatan. Kalau kita bisa mendapatkan rekaman pertemuan mereka malam itu di hotel, semuanya bisa berbalik.”
“Bagaimana caranya?”
“Kamar hotel itu punya sistem keamanan lama. Seorang teknisi bersedia membantu, tapi risikonya besar.”
Bima terdiam sejenak. “Aku ikut.”
Mereka tahu, langkah ini bisa menjadi penentu. Jika gagal, bukan hanya reputasi, tapi nyawa yang menjadi taruhan.
Di bawah lampu kota yang redup, dua sosok itu bersiap menyusup ke jantung konspirasi.
Kesepakatan rahasia yang dirancang untuk membungkam kebenaran, justru membuka pintu pada permainan yang lebih berbahaya.
Dan di balik tirai kekuasaan, nasib Kota Sagara bergantung pada keberanian dua anak muda yang menolak tunduk pada ketakutan.
Malam itu, angin berhembus dingin, menyapu jalanan yang basah oleh sisa hujan. Lampu-lampu kota memantul di genangan air, menciptakan bayangan gemetar seolah menggambarkan ketidakpastian yang menyelimuti langkah Bima dan Kirana. Mereka berjalan beriringan tanpa banyak bicara, masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.
Setiap langkah terasa berat.
Bima merasakan denyut jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Di benaknya, bayangan wajah ayah yang terbaring lemah, ibu yang menahan tangis, dan Nara yang terus berpura-pura kuat, bergantian muncul. Semua itu menjadi bahan bakar tekadnya.
Di sisi lain, Kirana menatap lurus ke depan. Wajahnya terlihat tegar, tetapi di balik sorot matanya tersimpan ketegangan yang dalam. Ia tahu, jika langkah mereka salah, bukan hanya kariernya yang hancur, melainkan hidup banyak orang.
Mereka tiba di sebuah warung kopi kecil di sudut jalan. Tempat itu sepi, hanya ada seorang barista yang sibuk membersihkan meja. Di sinilah mereka biasa bertemu saat situasi terlalu berbahaya untuk pertemuan terbuka.
“Kita sudah terlalu jauh untuk mundur,” kata Kirana pelan, memecah keheningan.
Bima mengangguk. “Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama.”
Kirana mengeluarkan laptopnya, membuka berkas laporan investigasi yang hampir rampung. “Aku sudah susun alur besarnya. Tapi kita masih butuh satu bukti kuat—sesuatu yang benar-benar tak bisa mereka sangkal.”
Bima terdiam sejenak, lalu teringat buku catatan Rahmat. “Ada satu tempat yang belum kita datangi,” ujarnya perlahan. “Gudang lama di pelabuhan. Rahmat pernah menyebut nama itu, tapi aku belum sempat mengeceknya.”
“Gudang pelabuhan?” Kirana mengernyit. “Itu kawasan rawan. Banyak aktivitas ilegal di sana.”
“Justru itu. Kalau mereka menyembunyikan sesuatu, di sanalah tempatnya.”
Keputusan pun diambil.
Malam semakin larut saat mereka menyusuri kawasan pelabuhan. Bau laut bercampur solar menyengat hidung. Suara ombak kecil memecah keheningan, berpadu dengan dentingan rantai kapal. Gudang-gudang tua berdiri berjejer, gelap dan sunyi, seperti menyimpan ribuan rahasia.
Mereka berhenti di depan sebuah bangunan berkarat dengan pintu besi setengah terbuka.
“Ini dia,” bisik Bima.
Dengan hati-hati, mereka masuk. Cahaya senter kecil menari di dinding lembap, menyingkap tumpukan kardus, peti kayu, dan beberapa lembar dokumen yang tercecer di lantai.
Kirana memungut salah satu kertas. Matanya membesar. “Ini laporan distribusi dana. Ada nama perusahaan media, staf khusus wakil walikota, dan… toko saingan itu.”
Bima merasakan aliran listrik menjalar di tubuhnya. “Ini bukti yang kita cari.”
Namun sebelum mereka sempat bersorak, suara langkah terdengar di luar. Pintu besi berderit perlahan.
“Cepat, sembunyi,” bisik Kirana.
Mereka bersembunyi di balik tumpukan peti. Dua pria masuk, berbicara pelan namun cukup jelas terdengar.
“Bos ingin semua berkas dibersihkan malam ini. Jangan ada sisa,” kata salah satu.
Yang lain mengangguk. “Ada kabar wartawan cewek itu hampir menerbitkan laporan besar.”
“Kalau begitu, kita harus bergerak lebih cepat.”
Bima menahan napas. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suaranya terdengar.
Saat kedua pria itu sibuk memeriksa sisi lain gudang, Kirana memberi isyarat. Dengan gerakan nyaris tanpa suara, mereka keluar melalui pintu samping, membawa dokumen yang berhasil diselamatkan.
Mereka berlari di antara bayang-bayang gudang, napas terengah, kaki menghantam tanah basah. Baru setelah mencapai jarak aman, mereka berhenti.
Kirana menatap Bima dengan mata berkilat. “Kita berhasil.”
Namun keberhasilan itu membawa konsekuensi.
Keesokan harinya, berita tentang penggeledahan ilegal di gudang pelabuhan muncul di beberapa media. Narasinya dipelintir, menyebut adanya upaya sabotase oleh pihak tak dikenal. Di kolom komentar, nama Kirana mulai diseret.
Tekanan semakin brutal.
Telepon Kirana tak henti berdering. Editor memintanya menahan publikasi. Sponsor mengancam menarik dukungan. Bahkan keluarganya di kampung menerima teror.
“Kadang aku bertanya, apakah semua ini sepadan,” gumam Kirana lirih suatu malam.
Bima menatapnya penuh empati. “Kalau kita berhenti, mereka akan terus berkuasa. Dan akan selalu ada korban berikutnya.”
Kirana terdiam. Perlahan, ia mengangguk. “Kau benar.”
Malam itu, mereka menyusun strategi terakhir. Semua bukti dikompilasi, salinan disimpan di beberapa tempat, dan jadwal publikasi ditentukan. Mereka sadar, detik-detik menuju ledakan kebenaran sudah di depan mata.
Di luar, hujan kembali turun, membasuh Kota Sagara yang lelah oleh intrik dan dusta. Di tengah derasnya air, dua anak muda itu berdiri di ambang sejarah, siap menantang kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Dan meski ketakutan terus mengintai, mereka memilih melangkah.
Karena mereka tahu, keadilan tidak pernah datang kepada mereka yang bersembunyi, melainkan kepada mereka yang berani keluar dari gelap dan menyalakan cahaya, sekecil apa pun nyalanya.