Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 jejak yang tercium angin
Qing Lin kembali ke desa saat matahari baru muncul di balik pegunungan.
Langkahnya tenang, namun setiap jejak kaki yang tertinggal di tanah lembap terasa seperti pengakuan yang tidak bisa ditarik kembali. Ia membersihkan darah di lengannya dengan air sumur sebelum siapa pun bangun, lalu mengganti pakaian yang robek dan menguburnya di belakang gubuk.
Ia bergerak cepat.
Terlalu cepat untuk seorang pemuda desa biasa.
Saat menyadari itu, Qing Lin berhenti sejenak.
Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri.
“Kebiasaan buruk…” gumamnya, lalu sengaja memperlambat gerakannya.
Ia tidak boleh menonjol.
Namun dunia tidak selalu peduli pada niat seseorang.
Pagi itu, Desa Qinghe tidak setenang biasanya.
Beberapa pemburu desa berkumpul di pinggir ladang. Wajah mereka tegang. Salah satu dari mereka menunjuk tanah, berbicara dengan suara rendah namun tergesa.
“Jejaknya besar. Bukan serigala biasa.”
“Dan darahnya… terlalu banyak.”
Qing Lin lewat sambil membawa keranjang, langkahnya terjaga. Ia tidak berhenti, tidak menoleh. Namun telinganya menangkap setiap kata.
“Ada yang mati?” tanya seseorang.
“Pasti. Tapi aneh… bangkainya hilang.”
Qing Lin terus berjalan.
Dadanya terasa sedikit sesak.
Bukan takut—melainkan tekanan samar, seperti udara sebelum hujan.
Saat ia sampai di rumah, bibinya sudah bangun. Wanita itu menatapnya lama.
“Kau pucat,” katanya pelan. “Apa kau sakit?”
Qing Lin menggeleng. “Cuma kurang tidur.”
Bibinya ingin bertanya lagi, tapi batuknya datang lebih dulu. Qing Lin segera menyiapkan air hangat dan obat.
Ia duduk menemani sampai napas bibinya kembali teratur.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Menjelang siang, bunyi derap langkah kuda terdengar dari arah jalan masuk desa.
Bukan kereta sekte kemarin.
Lebih ringan.
Lebih cepat.
Penduduk desa keluar satu per satu. Qing Lin berdiri di ambang pintu, ekspresinya datar.
Tiga orang berpakaian biru tua memasuki desa.
Mereka bukan murid biasa.
Jubah mereka sederhana, namun di dada masing-masing tergantung lencana awan perak—tanda pengawas luar Sekte Awan Biru.
Salah satu dari mereka berhenti di tengah desa.
Seorang pria paruh baya, wajahnya kurus, mata tajam seperti pisau yang sering diasah. Ia menghirup udara perlahan.
Alisnya berkerut.
“Bau darah iblis,” katanya.
Nada suaranya datar.
Namun desa langsung sunyi.
Para tetua buru-buru maju, membungkuk dalam-dalam. “Yang Mulia Pengawas, kami tidak tahu—”
Pria itu mengangkat tangan.
Ia melangkah perlahan, seolah mengikuti sesuatu yang tak terlihat. Setiap langkahnya membuat dada Qing Lin semakin berat.
Qi di tubuh Qing Lin bergetar pelan.
Tidak kacau.
Justru… waspada.
Pria itu berhenti.
Tepat di depan rumah Qing Lin.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sesaat.
Namun di detik itu, Qing Lin merasakan sesuatu menekan dadanya, seperti tangan tak terlihat yang mencoba membuka isi tubuhnya.
Ia menahan napas.
Menahan qi.
Mengosongkan pikirannya.
Ia menjadi—kosong.
Pria itu menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.
Lalu ia mengernyit.
“Aneh,” gumamnya.
“Apa yang aneh, Kakak Senior?” tanya pengawas lain.
Pria itu menggeleng perlahan. “Tidak ada qi. Tidak ada aura. Tapi bau darahnya… terputus di sini.”
Ia menatap Qing Lin lagi. “Siapa namamu, bocah?”
“Qing Lin,” jawabnya jujur.
“Apa kau berburu semalam?”
Qing Lin menggeleng. “Tidak. Hujan turun. Aku di rumah.”
Itu bukan kebohongan.
Ia memang kembali sebelum hujan berhenti.
Pria itu mengamati wajah Qing Lin, mencari retakan. Tidak menemukan apa pun.
Akhirnya, ia mendengus pelan.
“Bukan dia,” katanya pada rekannya. “Kalau benar pelakunya masih di desa, baunya tidak akan setenang ini.”
Ia berbalik pada tetua desa. “Namun dengarkan baik-baik. Seekor binatang iblis tingkat rendah mati di sekitar sini. Itu bukan kebetulan.”
“Jika ada kejadian aneh, laporkan. Sekte tidak menyukai kejutan.”
Mereka pergi tidak lama kemudian.
Desa perlahan kembali hidup.
Namun Qing Lin tetap berdiri di tempatnya lama setelah mereka menghilang.
Keringat dingin menetes di punggungnya.
Di dalam tubuhnya, Sutra Darah Sunyi berdenyut pelan.
Bukan panik.
Bukan senang.
Seolah berkata:
Mereka akan kembali.
Malam itu, Qing Lin tidak langsung bermeditasi.
Ia duduk di depan pintu rumah, menatap langit gelap. Angin malam membawa suara serangga dan dedaunan.
Ia merasa… diawasi.
Bukan oleh manusia.
Oleh dunia itu sendiri.
“Aku hanya ingin hidup,” ucapnya pelan. “Kenapa jalanku harus seperti ini?”
Tidak ada jawaban.
Namun saat ia akhirnya duduk bersila, qi di tubuhnya bergerak lebih dalam dari sebelumnya. Tidak liar. Tidak memaksa.
Seakan jalur itu sendiri mulai mengeras.
Di kedalaman kesadarannya, sesuatu terbentuk perlahan—
bukan teknik.
Bukan jurus.
Melainkan fondasi.
Qing Lin tidak tahu bahwa malam itu—
ia telah melangkah keluar dari ranah manusia biasa.
Dan bahwa jejaknya, meski disembunyikan—
telah tertanam di angin.