Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 - PERTEMUAN KEMBALI YANG MENEGANGKAN
TIGA HARI KEMUDIAN - KANTOR MAHENDRA GROUP
Akselia kembali bekerja meski tubuhnya masih memar. Dokter melarang, tapi dia tidak peduli. Tiga hari istirahat sudah cukup, lebih lama lagi, dia akan gila.
Ratih menyambutnya dengan wajah khawatir. "Selia, kamu yakin sudah cukup sehat? Lukamu..."
"Sudah lebih baik. Terima kasih, Ratih." Akselia tersenyum tipis. "Ada jadwal penting hari ini?"
"Ada. Tuan Arjuna ada pertemuan makan siang dengan klien di Restoran Le Jardin. Pukul satu siang. Dan..." Ratih ragu sebentar, "...kemungkinan Kevin Pratama juga akan ada di sana. Restoran itu tempat favorit para pengusaha."
Tentu saja, Takdir sepertinya suka mempertemukan Akselia dengan Kevin di waktu-waktu yang tidak terduga.
"Tidak masalah. Saya siap."
***
RESTORAN LE JARDIN - PUKUL 13:00
Restoran mewah dengan dekorasi bergaya Prancis klasik, lampu kristal, meja berlapis kain putih bersih, pelayan berseragam rapi. Akselia berdiri di sudut ruangan, mengamati Arjuna yang sedang berbincang dengan tiga pengusaha Jepang.
Suasana tenang... Terlalu tenang.
Lalu pintu restoran terbuka, Kevin Pratama masuk dengan Karina di sampingnya, keduanya berpakaian sempurna seperti pasangan dari majalah. Di belakang mereka, dua orang bodyguard berbadan besar.
Mata Akselia dan Kevin bertemu sekilas.
Kevin berhenti melangkah. Alisnya terangkat, seperti mencoba mengingat sesuatu. Lalu dia tersenyum, melangkah mendekat ke arah meja Arjuna.
"Arjuna," sapanya dengan suara riang yang palsu. "Kebetulan sekali kita bertemu lagi."
Arjuna menghentikan pembicaraannya, menatap Kevin dengan tatapan datar. "Kevin, Karina... Aku sedang rapat penting, bisa menyingkir?"
"Santai saja, aku cuma mau sapa." Kevin melirik tiga pengusaha Jepang. "Tuan Tanaka, Tuan Suzuki, Tuan Yamamoto senang bertemu kalian. Saya Kevin Pratama, pemilik Pratama Corporation."
Ketiga pengusaha itu berdiri sopan, membungkuk sedikit. "Senang bertemu Anda, Tuan Pratama."
Arjuna mengepalkan rahang, jelas kesal Kevin mengganggu rapatnya. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa tanpa terlihat tidak profesional.
"Kebetulan sekali," lanjut Kevin sambil duduk di kursi kosong tanpa diundang. "Saya juga tertarik dengan proyek di Jepang, mungkin kita bisa diskusi kerja sama?"
"Tidak tertarik," sahut Arjuna dingin.
Kevin tertawa. "Jangan keras kepala, Arjuna. Bisnis itu soal fleksibilitas."
Karina duduk di samping Kevin, menatap Akselia yang masih berdiri di sudut dengan tatapan meremehkan. "Oh, pengawal cantikmu masih bertahan rupanya. Aku kira setelah kejadian di parkiran kemarin, dia sudah kabur."
Akselia tidak bereaksi. Tapi kata "kejadian parkiran" membuat perhatiannya meningkat. Bagaimana Karina tahu tentang penyerangan itu? Berita tidak tersebar luas. Kecuali---
Kecuali Kevin memang yang memerintahkan penyerangan itu.
"Kejadian apa?" tanya Tuan Tanaka penasaran.
"Oh, tidak penting," Kevin mengangkat tangan santai. "Cuma masalah kecil keamanan. Tapi untung Arjuna punya pengawal yang... katanya cukup tangguh." Dia melirik Akselia, senyum tipis di bibirnya. "Tiga lawan satu, dan dia menang. Mengesankan."
Arjuna menatap Kevin tajam. "Kamu tahu tentang itu dari mana?"
"Kabar menyebar cepat di kalangan kita, Arjuna. Kamu tahu sendiri." Kevin bersandar di kursi, santai. "Lagipula, aku dengar polisi menangkap dua pelakunya. Sayangnya mereka tidak bicara, preman bayaran memang loyal."
Itu pengakuan terselubung.
Akselia meremas tangan di belakang punggung, menahan amarah yang mulai mendidih. Kevin dengan santainya mengaku secara tidak langsung, bahwa dia yang di balik penyerangan itu.
"Kevin," kata Arjuna dengan suara rendah berbahaya. "Kalau kamu punya bukti keterlibatan seseorang dalam penyerangan itu, lebih baik kamu bicara ke polisi. Bukan di sini."
"Aku tidak punya bukti apa-apa." Kevin mengangkat kedua tangan, pura-pura polos. "Aku cuma dengar gosip. Lagipula..." dia menatap Akselia langsung, "...kenapa kamu tidak tanya langsung pengawalmu? Dia yang hadapi mereka langsung, mungkin dia ingat wajah para pelaku?"
Semua mata tertuju pada Akselia.
Dia melangkah maju dengan tenang, berdiri di samping kursi Arjuna. Menatap Kevin langsung tanpa berkedip.
"Saya tidak sempat lihat wajah mereka dengan jelas," katanya datar. "Mereka pakai masker, tapi saya ingat suara salah satu dari mereka."
Kevin menaikkan alis. "Oh? Suara seperti apa?"
"Suara orang yang diancam atasannya, takut. putus asa. Mau melakukan apa saja demi uang." Akselia berhenti sebentar, membiarkan kata-katanya meresap. "Suara orang yang dijadikan alat oleh pengecut yang tidak berani kotori tangannya sendiri."
Hening.
Karina membuka mulut, wajahnya merah menahan amarah. "Kamu, berani sekali kamu..."
"Karina." Kevin meletakkan tangan di lengan tunangannya, menghentikannya. Tapi matanya menatap Akselia dengan intensitas baru. Bukan marah, tapi... tertarik. "Selia Ananta, kan? Aku semakin penasaran denganmu."
"Rasa penasaran bisa berbahaya, Tuan Pratama," sahut Akselia tenang.
Kevin tertawa dengan tawa rendah yang terdengar menantang. "Aku suka orang yang berani, jarang ada yang berani bicara padaku seperti itu."
"Mungkin karena kebanyakan orang takut pada kamu, tapi saya bukan bagian dari kebanyakan orang itu."
"Jelas sekali." Kevin berdiri, merapikan jasnya. "Baiklah, Arjuna. Aku tidak akan ganggu rapat kalian lebih lama. Tapi ingat tawaranku, kerja sama lebih menguntungkan daripada persaingan."
"Aku lebih suka persaingan," sahut Arjuna.
"Sayang sekali." Kevin berbalik, Karina mengikutinya. Tapi sebelum keluar dari restoran, dia berhenti, menoleh ke Akselia sekali lagi. "Selia, kalau kamu bosan kerja untuk Arjuna, aku selalu buka pintu. Aku butuh orang sekuat kamu."
"Saya tidak tertarik bekerja untuk orang yang bayar preman untuk serang orang lain," jawab Akselia dingin.
Kevin tersenyum lebar, senyum yang tidak menyangkal tuduhan itu. "Kita lihat saja nanti."
Mereka pergi.
Arjuna menghela napas panjang, memijat pelipisnya. "Maaf, Tuan Tanaka, Tuan Suzuki, Tuan Yamamoto. Kevin Pratama memang suka ganggu, tolong jangan ambil hati."
"Tidak apa-apa, Tuan Arjuna," jawab Tuan Tanaka dengan senyum pengertian. "Kami paham persaingan bisnis bisa... intens. Tapi saya harus bilang pengawal Anda sangat berani. Tidak banyak orang yang berani bicara seperti itu pada Kevin Pratama."
Arjuna melirik Akselia, sedikit tersenyum bangga. "Ya. Dia memang istimewa."
***
MALAM HARI - KAMAR KOS BELAKANG DOJO
Akselia duduk di tepi kasur, menatap ponselnya. Pesan dari Diana masuk setengah jam lalu.
[Aku dengar kamu bentrok dengan Kevin di restoran tadi, Bagus... Dia mulai perhatikan kamu. Tapi hati-hati, dia berbahaya kalau sudah tertarik pada seseorang.]
Akselia mengetik balasan. [Aku tahu, tapi ini bagian dari rencana. Semakin dia perhatikan aku, semakin mudah aku dekati dia.]
[Benar... Tapi jangan sampai kamu terbawa, Kevin punya cara bikin orang jatuh ke perangkapnya.]
[Aku tidak akan jatuh ke perangkap yang sama dua kali.]
[Bagus. Oh ya, besok aku akan kirim sesuatu ke kantormu, info baru tentang Kevin. Jangan sampai dilihat orang lain.]
[Mengerti.]
Akselia meletakkan ponsel, berbaring menatap langit-langit.
Hari ini, untuk pertama kalinya, dia berhadapan langsung dengan Kevin sebagai Selia bukan Akselia. Dan Kevin tidak mengenalinya sama sekali.
Tapi ada sesuatu di tatapan Kevin tadi, sesuatu yang membuat Akselia tidak nyaman.
Ketertarikan...
Kevin mulai tertarik pada Selia Ananta. Dan itu Akselia belum putuskan, bisa jadi senjata terbaiknya atau jebakan paling berbahaya.
"Aku tidak akan jatuh cinta padamu lagi, Kevin," bisiknya pada kegelapan. "Tapi aku akan buat kamu jatuh cinta padaku. Dan saat kamu jatuh, aku akan pastikan kamu hancur berkeping-keping."
Di luar jendela, hujan mulai turun.
Persis seperti malam Akselia kehilangan segalanya. Tapi malam ini, dia tidak sendirian lagi. Dia punya rencana, punya kekuatan, punya tujuan.
Dan yang paling penting, dia punya dendam yang membakar lebih terang dari apa pun.
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?