"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."
Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.
Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian ke Negeri Tirai Bambu
Setelah insiden mengerikan di lokasi syuting dan keruntuhan keluarga Han, Nicholas memutuskan bahwa Paris sudah terlalu menyesakkan bagi mereka. Dengan luka di lengan yang mulai mengering dan reputasi yang kini berada di puncak absolut, Nicholas membawa Serena pergi jauh dari jangkauan paparazzi Eropa.
Ia membawa Serena kembali ke akar budayanya, ke sebuah perjalanan menuju Tionghoa (Tiongkok)—tempat di mana keluarga Feng memulai segalanya, namun kali ini tanpa bayang-bayang bisnis yang kotor.
Mereka mendarat di Shanghai dengan jet pribadi milik Aegis Core. Tidak ada karpet merah, tidak ada gaun mewah. Serena hanya mengenakan kemeja putih longgar dan kacamata hitam, sementara Nicholas tampil santai dengan lengan baju yang digulung, menutupi perban di tangannya.
"Kenapa kita ke sini, Nick?" tanya Serena saat mereka menaiki mobil yang membawa mereka menjauh dari hiruk-pikuk kota menuju wilayah Suzhou, kota air yang tenang.
"Karena di sini, aku bukan Nicholas Feng sang aktor atau pewaris yang terjerat hutang," jawab Nicholas sambil menggenggam tangan Serena.
"Di sini, aku hanya seorang pria yang ingin menunjukkan pada wanitanya di mana kakek buyutku dulu memimpikan masa depan."
Mereka menyewa sebuah Hanfu (pakaian tradisional) sederhana untuk menyamar di tengah kerumunan wisatawan lokal. Serena tampak begitu anggun dengan kain sutra yang menjuntai, sementara Nicholas terlihat seperti pangeran dari dinasti kuno.
Mereka menaiki perahu kayu kecil di sepanjang kanal kuno. Di bawah lampion merah yang mulai menyala saat senja, Nicholas memeluk Serena dari belakang. Tidak ada kamera sutra yang mengintai, hanya suara dayung yang membelah air.
Di sebuah kedai teh tua yang menghadap ke jembatan batu, Nicholas menuangkan teh hijau untuk Serena.
"Dulu, ayahku bilang jika aku gagal menikahi Valerie, aku akan kehilangan hak atas tanah leluhur ini," bisik Nicholas. "Tapi hari ini, aku membelinya kembali dengan namaku sendiri. Tempat ini sekarang milikmu, Serena."
Meski suasana begitu tenang, memori tentang ciuman "berdarah" di Paris masih terasa. Saat Nicholas mengecup bibir Serena di bawah pohon ginkgo yang mulai menguning, Serena berbisik, "Bibirku sudah tidak bengkak lagi, Nick. Tapi hatiku masih berdegup sama kencangnya."
Perjalanan ini bukan sekadar liburan. Nicholas membawa Serena ke kediaman utama keluarga Feng di Beijing untuk menghadapi ayahnya, Tuan Feng, yang kini telah kehilangan sekutu terkuatnya (Keluarga Han).
Di aula besar yang penuh dengan ukiran kayu jati kuno, Tuan Feng duduk dengan wajah lesu.
"Kau membawa wanita itu ke sini?" tanya Tuan Feng dengan suara parau.
"Wanita ini adalah alasan aku masih memiliki martabat," jawab Nicholas tegas.
"Ayah, aku sudah melunasi semua hutang keluarga kepada Han Group. Tapi sebagai gantinya, aku mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Ayah bisa pensiun di sini, di rumah ini, dengan tenang. Tapi Ayah tidak akan pernah lagi mengatur siapa yang aku cintai."
Serena berdiri tegak di samping Nicholas. Ia tidak lagi merasa terintimidasi. Ia melihat seorang pria tua yang kesepian karena mengejar kekuasaan, dan ia merasa kasihan.
Perjalanan mereka berakhir di bagian privat Tembok Besar Tiongkok saat bulan purnama.
Di sana, di atas struktur batu yang telah berdiri ribuan tahun, Nicholas berlutut, kali ini bukan untuk sandiwara film, bukan untuk memohon waktu pada Madam Rousseau.
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin dengan batu giok hijau yang sangat langka, simbol kesetiaan dan keabadian dalam tradisi Tionghoa.
"Tujuh tahun yang lalu kita terpisah karena uang dan ambisi orang lain," ujar Nicholas.
"Tiga bulan yang lalu kita memulai drama yang gila. Hari ini, di tanah ini, aku ingin mengakhirinya. Serena Rousseau... maukah kau membangun dinasti bersamaku? Dinasti yang hanya berisi cinta, tanpa kontrak, tanpa pengkhianatan?!!."
Serena menatap pegunungan yang luas di bawah sinar bulan. Ia teringat luka Nicholas, ia teringat pengorbanannya. Dengan air mata bahagia, ia menarik Nicholas berdiri dan menciumnya, ciuman yang disaksikan oleh sejarah dunia.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍😍😍