NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: KEPULANGAN DALAM MINOR

Keputusan untuk meninggalkan Pulau Eilean na h-Oidhche tidak datang seperti kilat yang menyambar, melainkan seperti pasang laut yang perlahan tapi pasti menenggelamkan garis pantai. Pagi itu, langit di atas Laut Utara tampak seperti kanvas yang dicuci dengan cat abu-abu yang encer. Elara berdiri di dermaga batu yang licin oleh lumut, memandangi perahu nelayan kecil yang akan membawa mereka kembali ke daratan utama Skotlandia. Di sana, di cakrawala yang kabur, dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk, hukum, dan penghakiman massa sedang menunggu mereka dengan mulut terbuka lebar.

"Kau yakin dengan ini, El?" Jamie bertanya sambil memikul tas ransel yang terasa jauh lebih ringan daripada saat mereka datang. "Begitu kita menginjakkan kaki di stasiun kereta, tidak akan ada lagi jalan kembali ke keheningan ini. Kau tahu media tidak akan membiarkanmu bernapas. Mereka akan membedah setiap inci hidupmu, mencari tahu berapa banyak uang yang kau punya di bank, siapa teman kencanmu di London, hingga warna cat dinding apartemenmu."

Elara merapatkan kerah sweter wolnya. Angin laut yang dingin masih mencoba menyusup ke sela-sela pakaiannya, sebuah pengingat bahwa alam tidak pernah benar-benar peduli pada drama manusia. "Aku sudah lelah menjadi hantu, Jamie. Selama sepuluh tahun aku bersembunyi di balik angka-angka di London. Lalu sebulan terakhir aku bersembunyi di balik badai dan mercusuar. Persembunyian adalah jenis penjara yang berbeda. Aku ingin berjalan di trotoar Manchester tanpa merasa perlu menundukkan kepala. Aku ingin memiliki namaku kembali."

Arlo muncul dari balik gubuk nelayan, membawa tas gitarnya yang kini tampak usang dan penuh goresan. Ia tidak lagi tampak seperti mayat hidup yang Elara temukan di Velvet Basement. Ada warna di pipinya, dan meskipun matanya masih menyimpan jejak kelelahan yang permanen, tatapannya kini lebih terfokus pada masa depan daripada masa lalu.

"Manchester tidak akan sama seperti yang kita tinggalkan, Ar," Elara memperingatkan saat mereka melompat ke dalam perahu yang terombang-ambing.

"Aku tahu," jawab Arlo pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin perahu. "Kota itu tidak pernah sama. Ia berubah setiap kali hujan turun. Tapi kali ini, aku tidak ingin merekam kotanya. Aku hanya ingin hidup di dalamnya."

Perjalanan menyeberang laut itu terasa abadi. Elara menatap riak air yang membelah di belakang perahu, sebuah metafora yang terlalu nyata bagi hidupnya. Semua yang ia tinggalkan di London—karier yang stabil, reputasi yang dibangun dengan keringat, apartemen yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit—kini terasa seperti fragmen dari kehidupan orang lain. Ia merasa seperti seorang musafir yang baru saja bangun dari mimpi panjang yang membosankan hanya untuk masuk ke dalam kenyataan yang sangat berisik.

---

Saat mereka tiba di Stasiun Piccadilly, Manchester, sensasi sensorik yang menghantam Elara hampir membuatnya pingsan. Setelah berminggu-minggu hanya mendengar suara angin dan ombak, suara pengumuman keberangkatan kereta, derit roda koper di atas lantai marmer, dan gumaman ribuan orang yang terburu-buru terasa seperti serangan fisik. Setiap frekuensi terasa sepuluh kali lebih tajam.

"Oksigen..." bisik Arlo, napasnya mulai pendek. Elara tahu Arlo sedang mengalami *sensory overload*. Bagi Arlo, Manchester bukan sekadar kota; ia adalah hutan gelombang suara yang saling bertabrakan.

"Pegang tanganku, Ar. Jangan dengarkan mereka. Fokus pada langkahmu," Elara menarik Arlo mendekat, menutupi pria itu dengan tubuhnya sendiri sebisa mungkin.

Mereka berjalan melewati lobi stasiun yang luas. Elara mengenakan kacamata hitam besar dan syal yang menutupi separuh wajahnya, namun ia merasa seolah-olah setiap orang sedang menatap ke arah mereka. Apakah mereka tahu? Apakah foto mereka dari siaran Skotlandia sudah menyebar hingga ke ponsel setiap orang di stasiun ini?

Tiba-tiba, di dekat pintu keluar, mereka melihat deretan koran pagi. Judul utama di *The Manchester Evening News* berbunyi: **"TRAGEDY BEHIND THE TRACK: ARLO'S RETURN AND THE FALL OF MARCUS."** Di bawahnya ada foto buram Arlo dan Elara yang diambil dari cuplikan siaran live mereka.

"Jangan lihat," Jamie memperingatkan, mencoba mendorong mereka agar terus berjalan menuju area penjemputan taksi.

Namun, dunia tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Seorang pemuda berjaket kulit dengan earphone menggantung di lehernya mendadak berhenti di depan mereka. Ia menatap Arlo dengan mata yang membelalak.

"Kau... kau Arlo, kan? Arlo dari Velvet Basement?"

Arlo membeku. Elara bisa merasakan otot-otot di tangan Arlo mengencang.

"Maaf, kami sedang terburu-buru," Elara mencoba menepis pemuda itu dengan sopan.

"Tunggu! Aku cuma mau bilang..." Pemuda itu tampak gugup, suaranya sedikit bergetar. "Lagu itu... 'About You'... ibuku mendengarkannya setiap hari sebelum dia meninggal. Dia bilang suara wanita di lagu itu terdengar seperti malaikat yang mengerti rasa sakitnya. Aku tidak tahu bahwa ada cerita mengerikan di baliknya. Aku hanya ingin bilang... terima kasih. Terima kasih sudah mengatakannya pada dunia."

Pemuda itu mengangguk hormat lalu pergi menghilang di tengah kerumunan.

Elara terpaku. Ia menatap punggung pemuda itu. Selama ini, ia hanya memandang lagu tersebut sebagai bukti kegilaan Arlo atau alat pemerasan Marcus. Ia lupa bahwa musik, sesakit apa pun proses penciptaannya, memiliki kehidupan sendiri begitu ia menyentuh telinga orang lain. Ia menyadari bahwa suaranya—suara yang ia benci karena telah dicuri—ternyata telah menjadi sandaran bagi orang asing di saat-saat paling gelap mereka.

"Kau dengar itu, El?" Arlo bertanya, suaranya kini lebih stabil.

"Ya. Aku mendengarnya."

"Dia tidak bicara tentang frekuensi atau resonansi. Dia bicara tentang ibunya," Arlo menatap langit-langit stasiun yang tinggi. "Mungkin itu gunanya semua ini. Bukan untuk menjadi abadi, tapi untuk menjadi teman bagi orang yang merasa sendirian."

Mereka masuk ke dalam taksi yang membawa mereka ke wilayah Northern Quarter. Di sana, Elara telah mengatur agar mereka bisa tinggal di sebuah loteng tua milik seorang teman lama yang bisa dipercaya. Tempat itu terletak di atas sebuah toko buku bekas, jauh dari pusat keramaian, namun tetap berada di jantung kota yang pernah membesarkan mereka.

Saat mereka memasuki loteng tersebut, bau kertas tua dan kayu lapuk menyambut mereka. Jendela-jendela besar di sana memberikan pemandangan atap-atap gedung Manchester yang terbuat dari bata merah.

"Kita di sini," Elara meletakkan tasnya di lantai kayu yang berderit.

Arlo berjalan menuju jendela, menatap ke arah kejauhan di mana gedung Velvet Basement seharusnya berada. "Sepuluh tahun, El. Aku menghabiskan sepuluh tahun di bawah tanah itu, mencoba memanggilmu kembali melalui mesin-mesin tua. Dan sekarang kita di sini, di atas tanah, di bawah langit yang sama."

Malam itu, Elara tidak bisa tidur. Ia duduk di lantai, bersandar pada tembok, memperhatikan Arlo yang tertidur pulas di atas kasur lipat. Di dalam kegelapan Manchester, ia menyadari bahwa perjuangan mereka baru saja memasuki babak baru. Marcus mungkin sudah hancur secara profesional, namun bayang-bayang industri musik yang haus akan drama masih akan mengejar mereka.

Jamie sedang duduk di dapur, cahaya dari laptopnya menyinari wajahnya yang serius. "El, ada sesuatu yang harus kau lihat," bisiknya.

Elara mendekat. Jamie membuka sebuah situs forum musik rahasia. Di sana, seseorang telah mengunggah sebuah file audio baru dengan judul: **"The Lost Frequency - St. Jude Lighthouse Recording."**

"Itu rekaman dari mercusuar?" Elara merasa perutnya mual. "Aku pikir Arlo sudah membakar semuanya."

"Ini bukan rekaman Arlo. Seseorang menaruh mikrofon tersembunyi di sana sebelum kita sampai, atau mungkin seseorang meretas transmisi radio Arlo malam itu," Jamie memutar audionya dengan volume sangat rendah.

Suara yang muncul bukan musik. Itu adalah suara percakapan Elara dan Arlo di puncak mercusuar di tengah badai. Suara Elara yang menangis, suara Arlo yang memohon, dan suara ledakan api.

"Siapa yang melakukan ini?" Elara merasa napasnya tersengal.

"Aku tidak tahu," jawab Jamie. "Tapi ada satu pesan yang tersemat di metadata file ini. Bunyinya: *'Nada terakhir belum ditemukan. Pertunjukan harus terus berlanjut'.*"

Elara menatap Arlo yang masih terlelap. Sebuah ketakutan baru yang lebih dingin dari badai Skotlandia merayapi hatinya. Ternyata, Marcus bukan satu-satunya predator di luar sana. Ada seseorang yang jauh lebih terobsesi, seseorang yang tidak menginginkan uang atau kontrak, melainkan menginginkan "kesempurnaan" dari tragedi mereka.

Manchester yang ia pikir akan menjadi tempat mereka membangun kembali hidup, kini terasa seperti panggung besar di mana lampu-lampu sorot mulai menyala kembali. Dan kali ini, mereka tidak tahu siapa yang memegang kendali atas skenarionya.

Bab 17 ditutup dengan Elara yang berdiri di balkon loteng, menatap lampu-lampu kota Manchester. Ia menyadari bahwa meskipun ia telah berhenti melarikan diri, perang untuk memiliki jiwanya sendiri baru saja dimulai. Di bawah sana, di jalanan yang basah, seseorang sedang memperhatikan jendela loteng mereka, menunggu nada sumbang berikutnya untuk direkam.

Dan keheningan yang mereka cari, tampaknya, masih menjadi sebuah kemewahan yang sangat jauh.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!