Pencarian jati diri sebagai seorang yang dilahirkan dari orang tua heterogen. Ia mengalami dilema saat bertemu dengan saudara seibu beda ayah yang punya kehidupan lebih damai walau dalam kesederhanaan. Hatinya terketuk ingin mengenal islam setelah menemukan makam almarhum mama yang belum pernah ia kunjungi seumur hidup. Dalam perjalanan panjang menjelajah harapan, peristiwa demi peristiwa pun ia alami. Hadirnya seorang gadis yang semakin membuat jiwanya cenderung ingin mengenal islam lebih dalam. Menjemput hidayah ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjalanan mencari jalan pulang akan banyak halangan dan rintangan yang datang silih berganti serta ujian bertubi yang menyayat hati. Karena istiqomah butuh perjuangan disertai kesabaran dan keikhlasan.
"Bagaimana aku bisa mendo'akanmu, sedangkan Tuhan yang kita sembah berbeda."
(Hara)
"Aku hanya seorang perempuan akhir jaman yang mendamba laki-laki soleh sebagai suami."
(Jenar)
Akankah keduanya menyatu dalam satu iman?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Hampa dalam Asa dan Rasa.
...🍁Jika kamu adalah seorang laki-laki sejati, pasti kamu tahu siapa dan apa yang menjadi prioritasmu.🍁...
Hara.
Sebenarnya setiap kali bermalam di rumah pak Wawan, aku bukannya bisa istirahat dengan tenang. Naufal yang banyak bicara dan sering kali heboh jika aku sedang di sana, membuatku mau tidak mau meladeni bocah kecil menggemaskan itu.
Juga suara mbak Nabila dan mas Akmal yang sedang membaca kitab suci selalu berhasil memupuk rasa ingin tahuku. Aku sering melihat pak Wawan bangun dini hari untuk beribadah dan berdo’a. Ia terlihat sangat khusyuk memanjatkan do’a yang hanya diucapkan dalam hati.
Sampai sekarang aku masih terkagum-kagum dengan pola hidup keluarga pak Wawan. Waktu yang mereka gunakan untuk istirahat hanya sedikit, tapi mereka tidak terlihat kelelahan. Meskipun seharian melakukan pekerjaan dan kegiatan lain yang menguras tenaga.
Keluarga ini juga hidup dengan sederhana. Tidak ada gadget model terbaru dengan fitur paling mutakir, tidak ada barang brand terkenal yang dikenakan, perabotan rumah tangga juga hanya biasa saja. Namun begitu, mereka selalu terlihat bahagia.
Mbak Nabila pernah marah padaku karena aku membelikan Naufal lego seharga ratusan ribu. Bagiku bukan barang mahal, apalagi aku memang tidak pernah memberikan hadiah kepada siapa pun. Membelikan Naufal mainan tidak begitu memberatkanku.
Tapi rupanya mbak Nabila tidak sepaham denganku, “jangan menghamburkan uang hanya untuk membeli mainan. Lebih baik digunakan untuk membeli barang yang lebih bermanfaat.”
Tapi aku tidak lantas jera. Setiap aku berkunjung, aku tetap membelikan Naufal banyak mainan dan jajanan. Walaupun selalu mendapat tatapan tak setuju dari mbak Nabila. Bagiku mengasyikkan bisa melihat binar ceria dari Naufal saat menerima oleh-oleh dariku.
Malam setelah pulang dari rumah sakit, aku mengajak keluarga pak Wawan ke sebuah gerai baju muslim dengan brand terkenal. Semula mereka menolak, tapi aku memaksa mas Akmal untuk menghentikan mobil di depan gerai.
Tiga buah baju koko dan sebuah gamis dengan warna senada menjadi pilihan mereka. Meski sempat terbelalak karena harga yang menurut mereka fantastis, tapi aku tidak keberatan membayar belanjaan mereka.
“Hara, ini mahal sekali,” bisik mbak Nabila saat melihat price tag pada baju gamisnya, “kalau beli di toko dekat rumah bisa dapat tiga.”
“Tapi nggak ada merknya seperti ini, Mbak.” Jawabku seraya menunjuk logo pada bagian bawah baju gamis yang baru saja selesai dicoba oleh mbak Nabila.
“Sama saja, kali. Ada atau tidak ada merknya, sama-sama bisa dipakai.”
“Sekali-kali nggak pa-pa, kan, Mbak?” Aku tidak menerima penolakan yang hendak mbak Nabila lancarkan. Segera kuambil baju dari tangan mbak Nabila dan membawanya ke kasir.
Saat melewati sudut gerai yang memajang jilbab, aku teringat akan alasan utamaku membawa keluarga pak Wawan ke gerai busana muslim ini. Kuperhatikan jilbab yang dipakai mbak Nabila. Dari ukuran dan cara mbak Nabila memakainya, hampir sama seperti yang dipakai oleh Jenar.
Saat aku mengobati luka tadi, aku sempat bertanya kepada Irkham kain apa yang dipakai Jenar untuk menutup lukaku. Irkham bilang itu jilbab milik Jenar. Aku merasa tidak enak karena saat aku mencuci kain itu, noda darah tidak bisa hilang sempurna, masih menyisakan bekas.
Aku jadi berpikir harus mengganti jilbab yang terkena noda darah itu dengan membelikan jilbab baru. Kurasa tidak sulit menemukan warna yang sama dengan jilbab itu, apalagi aku sudah memotretnya menggunakan ponselku. Jadi tinggal dicocokin saja.
“Mbak!” aku harus sedikit membungkuk agar bisa berbisik di depan telinga mbak Nabila, “cariin jilbab yang sama seperti yang mbak pakai.”
Mbak Nabila mengerutkan dahi sembari menatapku. Aku segera menjelaskan sebelum mbak Nabila berprasangka yang tidak-tidak padaku, “tadi nggak sengaja aku kotorin jilbab millik adiknya bos. Kalau nggak diganti khawatir bos marah, bisa-bisa aku dipecat.”
“Saya nggak bohong, Mbak.” Tegasku karena sepertinya mbak Nabila tidak percaya dengan ceritaku.
“Ada apa, sih?” Mas Akmal menyela, mungkin karena melihat aku dan mbak Nabila saling berbisik-bisik.
“Hara minta dipilihkan jilbab seperti ini.” Jawab mbak Nabila dengan santai seraya menunjuk jilbab yang ia pakai.
“Hara mau pakai jilbab?”
“Mas … mulai, deh!” Mbak Nabila memutar mata karena ucapan seriusnya malah ditanggapi bercanda oleh mas Akmal.
“Bu’e … kapan numpak odong-odong.” (Bu’e … kapan naik odong-odong.) Naufal mulai merengek.
Mbak Nabila menatapku, segera kuperlihatkan layar ponsel yang menunjukkan warna jilbab. Agar mbak Nabila segera mencarikanku jilbab dengan warna yang sama.
“Kurang mahal nggak, ya, Mbak? Ada yang lebih bagus dari ini tidak?” Tanyaku saat mbak Nabila menemukan jilbab yang warnanya sama tapi tidak selebar yang mbak Nabila pakai.
“Masnya mau cari jilbab yang model seperti apa?” Belum juga pertanyaanku dijawab oleh mbak Nabila, karyawan toko sudah mendekati kami. Pasti karena dari tadi kami belum menemukan barang yang kami cari.
“Adiknya bos kamu biasa pakai jilbab besar?” Tanya mbak Nabila.
Aku mengangguk, “saya nggak tahu merknya apa, tapi ukurannya sama seperti yang mbak Nabila pakai. Lebih lebar malah, hampir sampai ke lutut.”
“Oh! Jilbab jumbo ada nggak, Mbak? Yang warnanya peach.” Mbak Nabila bertanya kepada karyawan toko.
“Mau yang instant atau segiempat?” Karyawan toko balik bertanya.
Aku hanya diam melihat mbak Nabila dan karyawan toko memilih jilbab. Aku sama sekali tidak tahu model-model busana muslim. Baru tahu malah kalau ada jilbab model instant, kukira hanya makanan yang instant ternyata jilbab ada juga yang instant.
Aku menyerahkan soal jilbab kepada mbak Nabila. Sejak dari toko jilbab itu tersimpan rapi di dalam kantong plastik. Tidak pernah kubuka sama sekali sampai aku membawanya ke Magelang.
Tadinya hendak kuberikan sendiri kepada Jenar sambil mengucapkan terima kasih. Tapi sampai menjelang siang dan aku harus mengantar Reyfan dan pak Fares ke Temanggung, gadis itu belum bangun. Entah dia tidur atau pingsan, sampai tidak bangun padahal matahari sudah terik.
Seperti biasa aku tidak pernah mengaktifkan ponsel pribadiku jika sedang bekerja. Tapi karena di sini pekerjaanku lebih santai, jadi aku bisa memeriksa pesan masuk sementara Reyfan dan pak Fares sedang berbincang dengan pengepul tembakau.
Satu panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk, diantaranya dari mbak Nabila dan Aneesha. Aku membuka pesan dari Aneesha dulu, khawatir ada yang penting karena aku tidak bisa menjawab panggilannya tadi.
Aku mengernyit saat membaca deretan pesan yang dikirimkan oleh Aneesha. Satu sudut bibirku terangkat sedikit saat membaca baris terakhir dari pesan tersebut. Tapi segera kuturunkan kembali sebab mendengar suara deheman di sebelahku.
“WA dari siapa? Sampai senyum-senyum gitu bacanya?”
“Siapa yang senyum? Biasa aja.”
Reyfan menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya, “aku tidak mungkin salah lihat! Tadi kamu memang senyum, walaupun sedikit. Siapa yang kirim pesan, sih?”
“Mau tahu? Tapi jangan terkejut!”
“Memangnya siapa aku harus terkejut?”
“Karena istrimu yang kirim pesan.” Kuperlihatkan roomchat yang menunjukkan nama Aneesha lengkap dengan pesan yang ia kirimkan dan sedang kubaca tadi.
“Ngapain Aneesha kirim WA ke kamu?” Tanpa aba-aba Reyfan merebut ponsel yang kugenggam. Ekspresinya terlihat aneh setelah membaca pesan di ponselku, “ini-”
Aku tertawa puas, penuh kemenangan karena bisa mengerjainya. Kapan lagi bisa mengerjai Reyfan tanpa dimarahi? Kalau hari-hari biasa, aku baru pegang hp saja dia pasti sudah marah banget. Tapi Reyfan yang garang berubah menjadi anak baik dan kalem jika sedang bersama ayah mertuanya.
“Rey!”
Belum sempat melayangkan protes atau sekedar pertanyaan, pak Fares sudah memanggil Reyfan. Dia segera mengembalikan ponselku tanpa berucap apapun, hanya memberi pandangan penuh curiga. Aku memasukkan ponsel ke dalam saku, tanpa kubalas pesan dari Aneesha. Bukan. Sebenarnya pesan itu dari Jenar, ucapan terima kasih atas pemberianku.
Kuhampiri Reyfan dan pak Fares. Mereka berdua sepertinya tidak menemukan kata sepakat dengan pengepul atas pembicaraan mengenai harga tembakau. Saatnya aku turun tangan, kalau sudah begini. Untuk negosiasi sepelik apapun, tidak ada yang tidak akan dimenangkan oleh seorang Immanuel Kagendra Hara.
***
Dari Temanggung, kami tidak lantas pulang ke rumah Magelang. Pak Fares meminta kami singgah di sebuah pondok pesantren yang terletak di Tegalrejo. Katanya beliau ingin berkunjung ke pak Kyai, karena kemarin belum sempat berkunjung sampai sana. Keburu mendapat kabar Jenar pingsan, jadi mereka segera pulang.
Aku tidak tahu kenapa pak Fares harus melakukan kebiasaan merepotkan seperti ini. Berkunjung ke tempat para ulama, berziarah ke makam leluhur dan ulama, masih sempat juga memberi santunan ke panti asuhan di sekitar Magelang. Padahal beliau sudah punya yayasan panti asuhan sendiri di Surabaya.
Aku menunggu pak Fares dan Reyfan di luar pesantren. Angin yang bertiup agak kencang menyapukan hawa dingin ke permukaan kulitku. Daun kering bergururan dari ranting pohon yang digoyang angin. Para santri yang mengenakan baju koko dan sarung lengkap dengan peci warna hitam lalu-lalang dengan membawa buku di tangan.
Gumam-gumam pelan hingga gelak tawa mampir di telingaku. Mereka terlihat bersuka cita, seperti tidak mempunyai beban sama sekali. Bukankah hidup di pondok pesantren sama seperti waktu aku hidup di asrama dulu? Banyak aturan dan terkekang. Tapi mengapa anak-anak itu sepertinya sangat menikmati, tidak terlihat terkekang? Mungkin karena mereka sudah terbiasa jadi bisa menikmati hidup dengan banyak aturan dan kekangan.
Lama aku menunggu pak Fares dan Reyfan. Satu bungkus rokok sudah kuhabiskan tapi mereka tidak juga keluar. Apa saja sebenarnya yang mereka bicarakan dengan pak kyai?
Mereka baru muncul ketika aku sedang berselancar di dunia maya, sedikit merefresh pikiran dengan melihat postingan di instagram. Ekor mataku menangkap pak Fares dan Reyfan keluar dari rumah utama yang disebut ndalem. Diantar oleh seorang pria yang sangat kukenal, mas Faiz. Setahuku dia salah seorang ustadz di pondok pesantren ini.
Aku sedikit membungkuk untuk memberi salam padanya. Mas Faiz mengulurkan tangan kanan yang segera kusambut. Kami bersalaman, mas Faiz juga menepuk bahuku sembari menyapa, “apa kabar mas Hara?”
“Baik, Mas.” Jawabku.
“Kami pulang, ya, Iz. Jangan lupa besok datang.” Pamit Pak Fares seraya membuka pintu mobil.
“Insyaalloh, Om. Gus Hafidz sampun didawuhi rawuh dereng, Om?” (Gus Hafidz sudah diminta datang belum, Om?)
Mendengar nama yang diucapkan oleh mas Faiz, seketika aku teringat dengan putra kyai yang tinggal di pondok pesantren dekat rumah pak Wawan. Mungkinkah mereka orang yang sama?
“Sudah. Kemarin pas sowan ke sana sudah sekalian saya undang.” Jawan pak Fares.
“Ya, sudah. Kalau begitu.”
“Kami pamit, ya, Mas.” Reyfan membuka pintu mobil setelah bersalaman dengan mas Faiz.
“Mari, Mas.” Pamitku kepada mas Faiz. Bertemu dengan mas Faiz, rasanya sejuk sekali. Entah karena udara di sini yang memang selalu terasa sejuk, atau hatiku yang dialiri oleh perasaan yang tak kutahu apa namanya. Sehingga hanya mendengar ucapan singkat dari mas Faiz bisa terasa tenteram.
“Hati-hati, ya, mas Hara.”
Mas Faiz bisa saja memanggilku dengan nama tanpa embel-embel sapaan apapun. Dari usia jelas mas Faiz lebih tua dariku, status juga dia adalah sepupu ipar Aneesha. Jika diruntut termasuk majikanku, bukan?
Tapi sikap santun mas Faiz yang memanggilku dengan sapaan ‘mas’ membuatku merasa dihargai. Itu yang membuatku respect padanya, membuatku ingin selalu bersikap sopan padanya, menghargai kesantunannya padaku.
“Kita kemana lagi?” Tanyaku saat melajukan mobil keluar dari halaman parkir pondok pesantren.
“Pulang.” Jawab Reyfan.
“Coba tanya Aneesha, Rey! Dia pengin dibelikan apa, sekalian kita jalan pulang.” Pak Fares bersuara dari bangku belakang, “biasanya perempuan hamil suka pengin makan apa gitu. Pasti senang kalau dibelikan oleh-oleh sama suaminya.”
“Baik, Yah. Saya telpon dulu.” Jawab Reyfan.
“Itu yang harus kamu ingat, Rey. Biasakan pulang dari manapun, bawakan istri oleh-oleh. Biasanya istri di rumah itu tidak hanya menunggu kita pulang, tapi menunggu dibawakan apa sama kita.”
“Iya, Yah. Saya akan ingat.”
“Apalagi dalam keadaan hamil. Sambutannya pasti beda kalau kita pulang dengan tangan kosong atau dengan buah tangan. Turuti semua keinginannya, Rey!”
“Pasti, dong, Yah. Saya nggak mau anak saya nanti ileran karena keingingan ibunya tidak terpenuhi.”
“Kata siapa anak bisa ileran kalau keinginan ibunya tidak dituruti?”
“Lho, kan, banyak yang bilang. Kalau ibunya mengidam tidak diturutin nanti anak yang lahir bisa ileran, Yah.”
“Ah! Mitos itu, Rey.”
“Tapi banyak yang bilang, lho, Yah.”
“Ayah kasih tahu, ya. Anak ileran itu bukan karena mengidam nggak diturutin. Itu karena habis bikin orang tuanya nggak bersih-bersih tapi malah makan dan minum.”
Reyfan menolehkan kepala, tepat saat aku juga menoleh padanya. Kami saling pandang sejenak, sebelum aku kembali fokus ke jalan raya lagi. Sedangkan Reyfan berdehem seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tercekat.
“Jangan tanya ayah dapat teori itu dari mana? Ayah juga lupa pak kyai siapa yang bilang. Cuma inget banget pernah dengar pengajian yang isinya seperti itu.”
Aku menipiskan bibir, membuang pandangan ke jendela samping. Menghindar dari menatap wajah Reyfan yang mulai sedikit bersemburat kemerahan. Khas kalau dia sedang merasa malu atau canggung.
“Kita sebagai laki-laki itu harus mengutamakan kebersihan, Rey. Jangan abai, karena kita adalah pemimpin keluarga. Bagaimana anak-anak kita nanti dimulai dari cara kita membuatnya. Agama kita mengatur semuanya, kalau kita mau belajar. Jadi-”
Pak Fares tidak melanjutkan kalimat, sebab Reyfan memutar badan sembari memotong dengan sopan. Melirikku sejenak sebelum ia berucap, “kita bahas ini di rumah saja, Yah. Jangan sekarang! Kasihan ada yang belum nikah di sini.”
Sebenarnya aku tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Toh yang mereka bicarakan tidak ada hubungannya denganku. Terserah mereka akan membicarakan hal apapun, aku sudah biasa tidak memasang mata dan telinga jika itu yang harus kulakukan. Tidak sengaja mendengar pun akan langsung kuabaikan, sebab bukan urusanku.
aku memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Rasanya menyenangkan bisa berkendara tanpa macet dan rasa gerah. Kota ini menyenangkan, sejuk dan lalu-lintas lancar.
“Mampir beli kupat tahu, ya, Hara. Aneesha pengin kupat tahu.”
Cermin laki-laki sejati memang Reyfan dan pak Fares ini, selalu tahu apa yang mereka prioritaskan di atas segalanya. Apa pun yang mereka lakukan di luar, selalu bermuara pada keluarga. Lalu bagaimana denganku? Sampai sekarang aku belum menemukan untuk siapa dan untuk apa hidup yang kujalani ini. Asa dan rasaku belum bermuara ….
.
.
.
Bersambung....
Kak Author sehat dan bahagia selalu ya🙏
kak dhesmaaaaaaa
semangat 💪
jangan di gantung pak hara nyaaa
gimana kabarnya?
aq rindu pak Hara, eh salah dink.. Jenar wiss jenar.. tapi prosentasenya tetep banyakan pak Hara 🤣