NovelToon NovelToon
RITUAL PUJON BAYI

RITUAL PUJON BAYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Tumbal / Romansa pedesaan / Iblis
Popularitas:360.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.

Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.

Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 : Terkejut

Mangkuk plastik yang biasa digunakan untuk melarutkan bubuk masker wajah, kini berisi air berwarna coklat pekat – teh daun pegagan.

Ainur tidak meminumnya, membuangnya ke dalam mangkuk dan disembunyikan di bawah ranjang.

“Sepertinya ada yang nggak beres dengan teh ini. Setiap kali aku meminumnya, tak lama kemudian langsung mengantuk, begitu terbangun matahari sudah terbit.” Ainur membuang teh ke dalam kloset jongkok, lalu menyiramnya dengan air bersih.

Wanita berpakaian baju tidur katun itu seperti orang linglung. Batinnya berperang dengan logika, semua ini sangat membingungkan baginya yang dibesarkan penuh cinta, tanpa pernah mengalami perseteruan dengan keluarga maupun saudara.

Ainur tidak pernah dibentak, dicaci-maki, apalagi dikasari. Sekelilingnya tampak sempurna tanpa cela. Ibu penyayang, ayah penuh kehangatan, kakak kandung sangat perhatian.

Ketika memasuki usia dewasa, dia dinikahkan dengan pemuda baik hati, romantis, sering memberikan hadiah mahal, mengurusinya layaknya bayi.

Pun, keluarga mertuanya tak jauh berbeda dari orang tuanya sendiri – Ainur merasa dicintai, dimanjakan. Di rumah ini, dia bebas mau berbuat apa. Setiap ruangan boleh dimasuki, tidak ada pintu tertutup menyimpan rahasia.

Langkahnya sedikit gontai, mangkuk tadi diletakkan lagi pada laci meja rias. Ainur menatap dirinya di cermin – setetes air mata jatuh dengan sendirinya.

‘Aku harus apa?’ tanyanya pada tampilan menyedihkan. Kurus, jelek, sudah seperti tengkorak hidup.

‘Siapa yang mesti tak percayai?’ pikirannya kacau, perasaannya galau.

Ada kalanya Ainur merasa kehilangan sesuatu, mengetahui sebuah rahasia, tapi keesokan harinya dia lupa. Namun hati kecilnya mengatakan kalau ada yang terlewat. Disaat dia berusaha mengingat, memaksakan diri – kepalanya langsung berdenyut-denyut. Pernah ia sampai pingsan, hidung mimisan.

Dalam keputusasaan, Ainur menarik selendang hitam yang digantungkan didinding samping lemari.

“Ndak apa-apa, anggap saja aku memang gila. Keluyuran malam hari.”

Ainur menutupi kepalanya dengan selendang hitam, pelan-pelan dibukanya pintu kamar yang bercahayakan temaram. Kembali menutupnya lagi.

Tanpa mengenakan sandal, ia melangkah pelan, mengendap-endap layaknya pencuri.

Dia penasaran, ingin memeriksa sebuah kamar yang sepertinya pernah didatangi di waktu hampir bersamaan ini.

Ainur mengusap lengannya, merasa kedinginan. Matanya bergerak cepat, langkah kakinya terlihat ringan melewati ruang makan, lalu menuju bagian sayap kanan rumah.

Setiap ruangan diterangi cahaya lampu minyak, redup. Memudahkan Ainur menyamarkan gerakan, dan lebih leluasa menjelajahi.

Tiba-tiba sebuah bayangan terlihat pada dinding dikarenakan pantulan cahaya. Ainur bersembunyi dibalik pilar, menahan napasnya, mengepalkan kedua tangan pada sisi tubuh. Wajahnya sedikit condong kedepan, mengintip siapa gerangan.

‘Bukankah itu bapak?’ yang dimaksud pak Tukiran. Dia mengenali sosok ayah mertuanya yang selalu mengenakan kemeja lurik, atau kemeja polos, celana panjang bahan katun.

Tujuan Ainur berubah haluan, dalam jarak aman dia mengikuti bapak mertuanya.

‘Kenapa ke belakang?’ rasa penasarannya bertambah besar saat melihat sosok masih gagah meskipun umurnya sudah setengah abad lebih sedikit itu.

(Kapan hari aku salah nulis umurnya. Jadi, Jayadi, Sugianto, Tukiran berumur 52 tahun. Istri mereka berusia 50 tahun)

Dibalik pilar kayu penyangga bagian belakang rumah berhadapan dengan halaman luas – sebuah pintu terbuka, dan pak Tukiran masuk.

Pintu tadi tidak ditutup rapat, seakan apa yang terjadi didalam sana adalah hal lumrah.

Ainur bergeming, badannya mulai menggigil. Tidak percaya tapi bukti terpampang nyata. Ayah mertuanya masuk ke dalam kamar mba Neng. Satu-satunya pelayan yang memiliki kamar pribadi. Lainnya, tinggal di dalam satu ruangan luas terpisah dari bangunan utama.

Langkahnya memberat, seakan ada karung berisi batu yang menggelayuti. Ainur mendekati dinding tembok kamar mba Neng. Kala jarak pintu kian sempit, suara-suara tunggal membuat bulu kuduknya berdiri.

“Asemu (sialan) … ahh!”

Bersamaan dengan itu terdengar suara seperti pukulan gesper besi. Kemudian terlontar umpatan lainnya diiringi desahan, erangan Tukiran.

Ainur membekap mulutnya, dia berlari ke seberang bagunan terbuka, bersembunyi dibalik pilar yang cukup bagi tubuh kurusnya.

‘Bapak … meniduri mbak Neng? Mereka pasangan apa? Apa ibu tahu?’ suara hatinya sangat berisik. Telapak tangan Ainur berkeringat, dia benar-benar terkejut. Berharap ini hanya mimpi.

Ainur masih berdiam diri disana. Sampai sosok yang dihormatinya keluar dari dalam kamar sembari menaikan celana bagian pinggang.

Cuih!

Pak Tukiran meludah di halaman lebih rendah dari teras kamar mba Neng. Dia berjalan santai memasuki rumah utama, gesturenya biasa saja, tidak seperti seseorang baru saja berbuat zina.

Kaki Ainur layaknya jeli, lemas. Dia sampai mencubit kulit lengannya, ingin memastikan kalau ini nyata bukan halusinasi.

‘Bapak sama mbak Neng selingkuh? Atau mereka suami istri? Apa ibu ya mau diduakan?’ banyak sekali pertanyaan butuh jawaban, tapi tak satupun bisa diterkanya.

‘Aku pusing.’ Ia mengurut tengkuk yang terasa tegang. ‘Aku harus cepat-cepat kembali, siapa tahu mas Aryo sudah masuk kamar,”

Ainur melangkah lebih cepat, tanpa dia sadari kalau derapnya tidak menimbulkan suara.

Ketika masuk ke dalam kamar, ternyata Aryo belum kembali. Entah dimana pria itu, Ainur sudah tidak bisa berpikir lebih banyak lagi. Dia masih shock, lalu berlari masuk kedalam kamar mandi.

Hueg.

Hueg.

Perutnya mual, suara-suara laknat bapak mertuanya seperti menggema di dalam kepalanya.

Disaat merasa lebih baik, dan memang tidak ada yang dapat dimuntahkan selain buih terasa asam pahit. Ainur menyiram kloset, lalu keluar dari dalam kamar.

Keinginannya mencari keberadaan sang suami masih kuat, tapi dia tahu batasan. Terkadang keberuntungan hanya datang sekali, setelahnya bertemu yang namanya apes, sial.

Dia harus bersabar sembari mencerna penemuan tadi – dua orang beda jenis, usia terpaut jauh, telah melakukan hubungan badan.

‘Dimalam sepi, tanpa takut ketahuan seolah sudah sering terjadi. Atau pernah dipergoki tapi memilih tutup mulut. Aneh rasanya … di rumah ini banyak orang, pelayan wanita dan laki-laki berjumlah tujuh. Ndak mungkin mereka tidak pernah melihat hal tadi? Kalau dikatakan baru pertama kali, juga tidak masuk akal. Gesture bapak sangat tenang.’ Ainur tidak bisa tidur, dia berbalik ke kanan dan kiri. Pikirannya penuh praduga.

Ainur mendengar langkah kaki pelan, cepat-cepat dia melihat jam, pukul tiga pagi. Lalu memunggungi arah pintu, berpura-pura tidur pulas.

Tilam terasa bergerak melesak ke dalam, lalu Ainur mendengar deru napas sedikit kencang. Matanya terbuka, hidungnya kembang kempis … ‘aroma ini?’

.

.

Bersambung.

1
Nurr Tika
ayahnya ainur udah mati giliran daryo
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
ngerinya
Eli Rahma
naah kini giliran siapa tuh
Ayudya
akhir yg selalu menyedihkan buat keturunan wara🤣🤣🤣
imau
giliran siapa nih?
imau
bukannya menyesali dosa, tapi malah menyesali nasib
Shee_👚
nah sekarang waktunya tukiran, habiskan sampai tak tersisa.
para iblis berwujud manusia tak layak untuk hidup atau di maafkan.

kekejian mereka semasa hidup dah bukan lagi harus di maafkan, nyawa di bayar nyawa baru adil
Shee_👚
aku bayangin ngilu plus sakit tak tertahan😬😬
Astiana 💕
ini sih lebih parah sadis nya dari cerita KK cublik yg lain😱, aku malah gak kepikiran loh cerita beginian
Dew666
🪻🪻🪻🪻🪻
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
tinggal si daryo kemana tuh di sandera nya 🤣
Mawar Hitam
satu persatu kena hukumannya yà kak
Al Fatih
Mantab mbak Ainur....,, pelan2 saja menghukum mereka...,, biar mereka merasakan kesakitan yang nyata
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ahhahahaha kek mana rasanya enak kannn
ilham gaming
lanjut
Salim ah
tinggal nunggu ajalnya Tukiran seperti apa gerangan 🤔
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hadehh dasar sombong ttp saja sombong nyawa sudah di ujung tanduk saja masih bisa mengumoat dasar iblis berkedok manusia
Kaka Shanum
satu persatu tumbang akibat dari perbuatannya sendiri,tak menyesal sama sekali.hanya karena harta tahta keserakahan akan haus pujian menutup mata menutup hati berbuat keji.sekalipun nyawa kalian hilang tak pernah akan sepadan membayar nyawa yang sudah kalian ambil secara paksa...
FLA
sabar, tenang lah kalian jangan berebut ntar ada kok giliran kalian😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!