Buat yang gak suka gerah, harap melipir!
Bukan bacaan untuk anak yang belum cukup umur.
Ketika Aishe didorong ke laut oleh Farhan tunangan tercintanya, semua rasa cinta berubah menjadi tekad untuk membunuhnya.
Aishe tidak pernah berpikir bahwa Farhan hanya mencintai uangnya, dan tega berselingkuh bahkan mendorongnya ke laut.
Ketika ombak menelan tubuh Aishe, dirinya berpikir akan mati, namun keberuntungan berpihak padanya. Aishe terdampar di sebuah pulau kosong selama 59 hari hingga suatu hari dia diselamatkan oleh Diego, seorang pengusaha yang tampan namun lumpuh.
Dengan kekuatan dan kekayaan Diego, Aishe memiliki identitas baru dan wajah baru, dia bahkan menjadi sekretaris pribadi Diego. Diego, pria yang kaya dan berkuasalah yang dapat membantunya membalas dendam pada Farhan.
Setelah balas dendam selesai, senyuman menyeramkan muncul di wajah Diego, yang membuat jantung Aishe berdegup kencang menunggu kalimat selanjutnya.
"Sekarang giliranmu untuk membalas budi padaku."
Aishe menatap pria yang mendekat di depannya, dalam hati dia berkata, "Lolos dari mulut buaya, malah masuk ke mulut singa."
Ini bukan novel garis lurus yang bisa diambil banyak pelajarannya. Jadi kalian bisa berhenti jika alir terasa berputar-putar, membosankan, jelek dan yang lain.
Silakan kembali tanpa meninggalkan kesan buru di komentar.
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KAY_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ada sebuah kompleks gereja Ortodoks Yunani kuno yang terletak di bukit Kara dengan ketinggian 1.150 meter di bawah permukaan laut. Bangunan lama yang berdiri di pinggir tebing ini, dikenal dengan nama Sumela Monastery.
Selain memiliki garis sejarah yang cukup panjang. Bangunan bergaya Cappadocia, yang umum di Anatolia, memiliki banyak misteri, bahkan dikenal angker. Meski begitu, beberapa tempatnya terbuka untuk umum bahkan menjadi destinasi wisata.
Benar, begitu yang sebagian orang tahu. Namun mereka tidak tahu tentang adanya gua kecil di barat daya Biara kuno itu. Ada sebuah jalan menuju gua buatan yang terlarang.
Diego sedang duduk di kursi rodanya. Beberapa orang mendorongnya masuk ke dalam gua k ecil, yang hanya muat dilewati dua orang. Semakin kedalam, jalannya semakin menyempit. Bahkan, mereka perlu membungkuk untuk memasukinya.
Diego meninggalkan kursi rodanya dan berjalan masuk ke dalam. Melewati bebatuan terjal yang basah, bahkan udara disana pun cukup lembab. Setelah berjalan sejauh 500 meter dari bibir gua, mereka akhirnya sampai bagian inti dari gua tersebut.
Bagian dalam gua rupanya jauh berbeda dari jalan masuknya yang tergolong sempit. Bagian dalam terlihat cukup besar dengan sedikit stalaktit, tanpa stalagmit. Kondisi gua pun terlihat tidak layak untuk ditinggali manusia, karena sangat lembab dan bau.
Mereka melanjutkan perjalanan, melewati jembatan jembatan panjang, dia atas jurang sedalam 12 meter. Setelah itu, mereka tiba di sebuah lorong-lorong sempit yang tertutup jeruji besi.
"Lama tidak bertemu!" sapa Diego dengan senyum licik dan mata yang memincing tajam.
Suara decak terdengar dari dalam lorong sempit nan gelap. Rupanya, ruangan itu telah menjadi tempat tinggal bagi seorang pria.
Tubuh pria itu terlihat kurus tidak terawat. Dengan kaos lusuh, juga kaki yang di rantai dengan sebuah barbel besar.
"Kau bisa berdiri sekarang? Sungguh kemajuan yang bagus. Tapi sayang …." jawab pria itu dengan suara serak. "Meski kakimu pulih, itu hanya bisa di gunakan untuk mengunjungi makamnya! Hahaha!"
Tawa pria itu seperti pematik yang langsung menyulut amarah Diego. Dengan suara mengelegar, Diego menyuruh seseorang menyiapkan stempel besi untuk memberi pria itu sebuah hukuman.
Dua orang yang menjaga tempat itu langsung memegangi kedua tangan pria kurus itu. Mereka membuka sedikit kaosnya dan bersiap menempelkan besi panas di punggungnya.
Pria lemah tak berdaya itu mencoba meronta dengan kuat, tetapi tenaganya sudah tidak sebesar dulu.
"Menyiksaku seperti itu tidak membuat wanita itu bangun!" pekiknya ketika meronta mencoba melepaskan diri.
Hela napas Diego semakin berat. Matanya memerah penuh kobaran amarah. Dengan kesal, ia mengangkat satu tangannya selaras dengan dada. Memberi perintah anak buahnya untuk segera memberi pria itu stempel.
CRESSS
Jeritannya melengking, tatkala besi panas bertuliskan Günahkar, atau dalam bahasa Turki berarti 'Pendosa', disematkan di punggungnya.
"Dia tidak akan melepaskanmu, bocah tengik. Kau pikir hanya aku saja tangan kanannya? Kau tidak akan lolos kali ini, tidak akan … AAHH!"
Diego berbalik dan pergi dari sana. Raungan pria itu masih terdengar cukup jelas, meski mereka sudah berjalan lebih jauh. Saat mereka tiba di lorong sempit, kaki Diego tiba-tiba kebas. Dia mengerang, sembari memegang dinding gua yang tak rata.
"Tuan, bertahanlah sedikit lagi!" Pekik Ashan yang berjalan di depan Diego.
Namun meski sudah berusaha keras, batas kaki Diego telah mencapai titik terlemahnya. Ia jatuh tersengkur beberapa meter sebelum sampai di lorong yang lebih lebar.
"Tuan!"
Diego memberikan sinyal, bahwa dia masih bisa bertahan. Ia menyeret kedua kakinya, agar bisa cepat keluar dari sana. Setelah sepuluh menit penuh perjuangan, Diego pun ambruk tepat di ujung lorong sempit yang hanya memiliki tinggi 70 centi.
Ashan dengan panik menyeret tubuh Diego, dan segera membawanya pergi dari sana.
*Sudah aku bilang dari awal, tidak kemari hanya untuk mengunjungi musuh. Kenapa dia bersusah payah?
Padahal sudah 3 tahun sejak pria bajingan itu di pindah kemari, dan Tuan tidak pernah melihatnya satu kalipun.
Kali ini, apa yang membuatnya penasaran dan datang kemari*?