NovelToon NovelToon
Penguasa Terakhir

Penguasa Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dunia Lain / Romansa Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:170
Nilai: 5
Nama Author: Kon Aja

Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.

Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.

Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.

Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,

Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ini hadiah pertama dariku.

Zoran terkejut. “Memangnya bisa separah itu?”

Zilan menatapnya seperti sedang menatap orang bodoh. “Tentu saja bisa,” jawabnya tanpa ragu. “Kamu itu sebenarnya berasal dari mana sih, sampai hal dasar seperti itu saja tidak tahu?”

Zilan benar-benar tidak habis pikir. Sejak pertama kali bertemu, pria ini selalu terasa… aneh.

Mulai dari berani merampoknya padahal jelas-jelas tidak punya kekuatan, lalu pingsan ditampar, tidak paham hal-hal dasar para pendekar, sampai sekarang, sudah jadi pendekar tapi masih bertingkah seperti orang yang baru turun gunung.

Padahal, di dunia ini, semua bandit adalah pendekar. Kalau bukan, mereka pasti sudah lama dibasmi dengan mudah.

Zilan tidak tahu apakah Zoran ini nekat, atau benar-benar bodoh.

Zoran terdiam cukup lama… lalu tiba-tiba tertawa pelan.

Zilan mengerutkan kening. “Kenapa kamu tertawa?”

Zoran menggeleng, tidak menjawab apa pun.

Zilan mendengus tidak puas. “Dasar aneh.”

Mereka berbincang ringan sebentar, membahas hal-hal sepele tanpa arah yang jelas. Tak lama kemudian, Zilan akhirnya beranjak pergi.

Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak dan berkata tanpa menoleh, “Oh ya… lain kali jangan lupa mandi.”

Zoran menoleh.

“Baumu itu,” lanjut Zilan santai, “jujur saja benar-benar tidak enak. Tadi aku hanya menahan diri.”

Zilan melambaikan tangan kecil lalu melangkah pergi begitu saja.

Wajah Zoran langsung menghitam. Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah pelan. Ia terdiam, mengingat-ingat. Selama ini… ia memang hanya membersihkan tubuhnya dengan salju.

Zoran menghela napas panjang. “Sepertinya aku memang harus mencari sungai atau semacamnya,” gumamnya pelan.

Selain untuk mandi, Zoran juga membutuhkan air sebagai persediaan minum. Selama ini ia memang sudah terbiasa minum air dari salju yang mencair. Namun tetap saja, jika ada sumber air yang lebih baik, kenapa harus bertahan dengan cara yang kurang ideal?

Hari-hari pun berlalu dengan tenang.

Setiap hari, Zoran tidak melakukan banyak hal. Ia memilih berdiam diri, melatih fisiknya secara rutin, sekaligus fokus menstabilkan tingkatannya.

Bagi para pendekar, menstabilkan tingkatan setelah menerobos adalah hal yang sangat penting, dan Zoran tidak terkecuali. Terlebih lagi, auranya saat ini masih kacau akibat kenaikan tingkat yang terlalu cepat.

Karena itu, Zoran sengaja menghindari pertarungan. Bahkan jika ia bertemu binatang spiritual lemah sekalipun, ia memilih menjauh. Lagipula, binatang spiritual tingkat empat ke bawah sudah tidak lagi memberi peningkatan berarti bagi kekuatannya, berbeda dengan sebelumnya.

Selain kekuatan spiritual, kekuatan fisik adalah fondasi utama bagi seorang pendekar.

Sayangnya, banyak pendekar meremehkan hal ini. Mereka terlalu bergantung pada energi spiritual, merasa bahwa dengan menyelimuti tubuh menggunakan energi tersebut, fisik mereka otomatis akan menjadi kuat.

Contohnya, saat menerima serangan lawan, mereka memperkuat tubuh dengan energi spiritual agar mampu menahan benturan.

Zoran memahami konsep itu dengan baik. Namun, ia juga tahu satu hal, jika fisik dasarnya lemah, maka energi spiritual hanya menjadi penopang rapuh.

Karena itulah, setiap hari Zoran melatih fisiknya tanpa henti, hampir gila-gilaan. Ia berlari di salju, melatih keseimbangan, memperkuat otot-ototnya, dan membiasakan tubuhnya menahan dingin serta rasa sakit.

Semua itu ia lakukan hanya untuk satu tujuan, yakni agar suatu hari nanti, jika ia benar-benar harus berhadapan dengan para pendekar… ia tidak akan kalah hanya karena tubuhnya sendiri tidak sanggup mengikuti kekuatannya.

Saat ini, Zoran berada di tingkat raga spiritual tingkat tujuh. Kecepatannya memang telah meningkat dengan sangat signifikan, jauh dibandingkan dirinya yang dulu. Namun, itu tetap belum cukup.

Zoran merasa belum puas. Bukan karena ia meremehkan kekuatannya sendiri, melainkan karena ia tahu, ia masih belum menyamai para pendekar lain.

Contohnya sangat jelas.

Pemilik kedai yang pernah memukulnya saat pertama kali tiba di dunia ini. Dan Wuhen serta Fengwu, dua pemuda yang pernah menyerangnya tanpa ragu hingga membuatnya pingsan.

Zoran yakin, jika sekarang ia kembali diserang oleh mereka, mungkin mereka tidak akan bisa langsung membunuhnya. Namun, kemungkinan besar dirinya tetap akan berakhir babak belur, bahkan mungkin tidak mampu melawan dengan layak.

Dan itu bukanlah hal yang ia inginkan.

Yang Zoran inginkan bukan sekadar bertahan hidup. Ia ingin melawan. Kalaupun harus mati, maka mati dalam perlawanan, bukan mati karena nekat tanpa perhitungan.

Karena itulah, Zoran ingin segera meninggalkan keterbatasannya saat ini, mengejar kekuatan yang setara dengan para pendekar pada umumnya di dunia ini.

Perlu diketahui, pendekar seusia Zoran di dunia ini kebanyakan telah mencapai tingkat jiwa spiritual tingkat atas, atau bahkan sudah melangkah ke tingkat bumi spiritual.

Hal itu bukan tanpa alasan.

Mereka telah berlatih sejak kecil. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mendukung. Dan yang terpenting, mereka memiliki bakat alami.

Bukan seperti Zoran.

Zoran baru mulai berlatih belum lama ini. Bakatnya pun, jika harus jujur, bisa dibilang dipaksakan oleh keadaan.

Di dunia ini, kekuatan seorang pendekar sangat dipengaruhi oleh bakat. Mereka yang memiliki bakat luar biasa akan dengan mudah berdiri di atas yang lain, melangkah cepat tanpa perlu menoleh ke bawah.

Sementara mereka yang berbakat biasa-biasa saja… hanya bisa mendongak, menatap kagum bintang-bintang yang bersinar di langit.

Dan Zoran tahu, Jika ia ingin berdiri sejajar dengan mereka, maka usaha biasa tidak akan pernah cukup.

“Kamu sudah tiba rupanya,” sapa Zoran ketika melihat Zilan mendekat. Beberapa hari ini, Zilan memang sering berkunjung menemuinya, dan Zoran sendiri tidak pernah merasa keberatan.

Zilan mengangguk ringan. “Sepertinya kamu sudah menungguku lama,” katanya santai, lalu menatap Zoran dengan senyum sinis. “Apa kamu menungguku karena menginginkan sesuatu?”

Zoran tersentak kecil. Ia teringat permintaannya beberapa waktu lalu, meminta Zilan mencarikan buku yang berisi informasi tentang artefak, harta spiritual, sejarah, dan hal-hal sejenis.

“Mana ada,” sangkal Zoran cepat sambil terkekeh pelan. “Aku menunggumu tentu karena… sudah merindukanmu.”

Zilan mendengus kecil. “Mulutmu manis, tapi niatmu licik.” Ia lalu mengeluarkan beberapa buku dari cincin penyimpanannya dan menyerahkannya pada Zoran.

Zoran menerima buku-buku itu dengan senyum canggung. Bagaimanapun juga, mau tidak mau ia harus mengakui, ia memang sangat membutuhkan semua ini.

“Aku juga punya hadiah untukmu,” kata Zoran tiba-tiba.

Zilan mengangkat alisnya, tertarik. “Hadiah? Apa itu?”

Zoran mengeluarkan setangkai bunga berwarna ungu yang sedang mekar, lalu menyodorkannya pada Zilan.

Bunga itu berwarna ungu cerah, kelopaknya tipis dan bening, memancarkan cahaya samar jika terkena bayangan. Di malam hari, bunga itu bahkan bisa bersinar lembut, dan anehnya tetap mekar di tengah salju yang membeku.

“Eh…?”

Zilan terkejut. Matanya membulat, lalu berbinar saat ia menerima bunga itu. Ia memutarnya perlahan, mengamati dari berbagai sisi, seolah takut bunga itu akan menghilang jika disentuh terlalu kasar.

“Ini…” gumamnya pelan.

“Ini hadiah pertama dariku,” ucap Zoran dengan suara tenang. “Mungkin tidak sepadan dengan semua bantuanmu selama ini. Tapi suatu hari nanti… aku pasti akan membalasnya.”

Zilan terdiam sejenak. Ia menatap bunga itu, lalu melirik Zoran dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, antara terkejut, senang, dan sedikit bingung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!