Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Cahaya Perak yang Menunggu Dibebaskan.
Aku memejamkan mata, tapi tidak langsung tidur. Pikiranku berputar.
Mata spiritualku. Kemampuan melihat Qi dan meridian. Pengetahuan dari dongjua kultivasi.
Aku bisa melihat masalahnya. Tapi bisakah aku memperbaikinya?
Lalu, teringat sesuatu dari donghua yang pernah kutonton.
Indra Spiritual dapat melihat Qi, meridian, emosi, dan sejarah energi.
Tingkatan.
Awakening.
Aware.
Enlightened.
Divine.
Aku masih di level Awakening. Tapi Ibu bilang biji cahaya di dahiku akan tumbuh.
Mungkin, suatu hari nanti aku tidak hanya bisa melihat. Tapi juga menyembuhkan.
Pikirku sambil mulai mengantuk.
Dan Yu Yan ... gadis dengan cahaya perak dan simpul gelap di meridiannya.
Dia akan menjadi yang pertama.
[PoV 3rd]
Di ujung desa, di rumah reyot milik keluarga Yu.
Yu Yan duduk di samping tempat tidur ayahnya, seorang pria kurus dengan wajah pucat dan mata kosong. Tangannya yang gemetar memegang tangan ayahnya.
"Ayah," bisiknya. "Aku bertemu Ibu Shen hari ini dan bayinya."
Ayahnya tidak merespons. Tapi jarinya bergerak sedikit.
"Bayinya ..." Yu Yan melanjutkan, suaranya hampir tak terdengar. "Dia menatap saya. Matanya ... aneh. Seperti bisa melihat semua yang aku sembunyikan."
Dia mengusap air mata yang akhirnya jatuh.
"Aku janji, Ayah. Aku akan kuat. Untuk kita berdua."
Di luar jendela, bulan purnama bersinar, memancarkan cahaya perak ke kamar kecil itu. Cahaya itu menyentuh wajah Yu Yan, dan untuk sesaat, simpul gelap di meridiannya berdenyut, seakan merespons panggilan bulan.
Tapi Yu Yan tidak tahu. Dia hanya merasa sedikit lebih hangat. Sedikit lebih tenang.
Dan di kejauhan, di rumah kayu keluarga Shen, seorang bayi dengan biji cahaya di dahinya bermimpi tentang sungai energi yang tersumbat, dan cahaya perak yang menunggu untuk dibebaskan.
Yu Yan duduk di kursi kayu yang kakinya sudah tidak seimbang. Setiap kali ia bergeser sedikit, kursi itu mengeluarkan bunyi pelan, seolah ikut menahan napas. Di depannya, ayahnya terbaring di ranjang sempit dengan selimut tipis yang sudah memudar warnanya.
Tubuh pria itu tampak terlalu ringan untuk seseorang yang masih hidup. Tulang pipinya menonjol, kulitnya pucat keabu-abuan, dan matanya terbuka menatap langit-langit bambu tanpa fokus, seperti jendela kosong yang sudah lama ditinggalkan penghuninya.
Yu Yan menggenggam tangan ayahnya.
Hangatnya masih ada walau tipis, rapuh dan itu membuat jantungnya terasa perih. Jemarinya sendiri sedikit gemetar, bukan karena dingin, tapi karena takut jika suatu hari nanti kehangatan itu menghilang begitu saja.
“Ayah …” Suaranya keluar sangat pelan, hampir tersangkut di tenggorokan. “Hari ini … aku bertemu Ibu Shen.”
Tak ada jawaban. Napas ayahnya tetap pendek dan tidak teratur, naik turun pelan seperti api yang hampir padam.
“Dan … bayinya,” lanjut Yu Yan setelah jeda panjang, seolah harus mengumpulkan keberanian hanya untuk mengucapkan kata itu.
Ia menunduk, menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Kuku ayahnya kebiruan. Kulitnya kering, kasar, jauh berbeda dari tangan yang dulu mengangkatnya ke bahu saat ia masih kecil.
“Bayi itu.” bibir Yu Yan bergetar. “Dia menatapku.”
Jarinya mengencang tanpa sadar.
“Bukan seperti bayi biasa,” bisiknya. “Seperti ... seperti dia tahu.”
Sesuatu terasa menekan dadanya. Ia mengangkat wajah, menatap ayahnya, berharap, meski hanya sedikit, akan ada reaksi. Sebuah kedipan. Sebuah gumaman. Apa saja.
Tidak ada.
Namun, tepat ketika Yu Yan hendak menarik tangannya, jari ayahnya bergerak.
Sangat kecil. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup.
Napas Yu Yan tersendat. Matanya membesar, lalu segera berkaca-kaca.
“Ayah?” suaranya pecah.
Tidak ada kata balasan. Hanya jari itu yang kembali diam, seolah gerakan tadi hanyalah refleks, atau mungkin sisa kehendak yang belum sepenuhnya pergi.
Air mata jatuh sebelum sempat dicegah. Yu Yan cepat-cepat mengusap pipinya dengan lengan baju, meninggalkan noda basah di kain yang sudah sering dicuci hingga menipis.
“Aku akan kuat,” katanya, lebih tegas kali ini, seolah mengucapkannya bisa membuatnya nyata. “Aku janji.”
Ia menunduk, dahinya hampir menyentuh punggung tangan ayahnya.
“Untuk Ayah dan untuk aku.”
Angin malam menyelinap masuk lewat celah jendela kayu yang tidak tertutup rapat. Tirai kain tipis bergoyang pelan. Di luar, bulan purnama menggantung tinggi, bulat sempurna, memancarkan cahaya perak yang lembut namun dingin.
Cahaya itu merambat masuk ke kamar kecil itu, menyentuh lantai tanah, kaki ranjang, lalu wajah Yu Yan.
Untuk sesaat, cahaya bulan berkilau aneh di kulitnya, seolah bukan sekadar cahaya. Di balik daging dan tulang, jauh di dalam aliran yang tak pernah ia sadari keberadaannya, sesuatu berdenyut.
Sebuah simpul gelap bergetar pelan.
Tidak sakit. Tidak menakutkan.
Hanya … hangat.
Yu Yan menghela napas tanpa sadar. Bahunya yang tegang sejak tadi sedikit mengendur. Detak jantungnya melambat. Kesedihan itu tidak hilang, tapi terasa lebih ringan, seolah ada tangan tak terlihat yang menopangnya dari belakang.
Ia tidak tahu mengapa.
Ia hanya duduk di sana, menggenggam tangan ayahnya, membiarkan cahaya bulan menemani malam yang sunyi.
Jauh dari sana, di rumah kayu keluarga Shen, seorang bayi tertidur dengan dahi berkilau samar. Dalam mimpinya, aliran-aliran cahaya mengalir seperti sungai yang tersumbat, berkelok-kelok mencari jalan.
Dan di antara cahaya keemasan itu, ada kilau perak yang terperangkap, menunggu saatnya dibebaskan.