Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan
Aku mengangguk pelan saat Arven membimbingku ke kamar. Kamar ini sudah mulai terasa akrab bau sabun yang selalu sama, seprai rapi dengan warna netral, dan kehadiran Arven di sisiku, seperti penyangga.
Aku naik ke ranjang lebih dulu dan merebahkan diri, punggungku menyentuh kasur. Arven menyusul, berbaring di sampingku. Jarak kami dekat, cukup dekat sampai aku bisa merasakan hangat tubuhnya tanpa harus menoleh.
Badanku memang lelah, tapi kepalaku tidak mau berhenti bekerja. Gambar-gambar berloncatan, potongan wajah Maya, nama Bima, foto-foto lama semuanya berputar seperti roda yang tak mau berhenti.
Arven menarik selimut dan menyelimutiku sampai dada. Gerakannya pelan, hati-hati, seolah aku sesuatu yang rapuh. Lalu tangannya mulai menepuk punggungku dari samping, ritmenya stabil. Menenangkan.
"Tidur ya," katanya lembut.
Aku menatap kosong ke arah dinding, mataku terbuka setengah.
"Aku capek," bisikku jujur. "Tapi nggak bisa tidur."
Tepukan itu tidak berhenti. Ia menghela napas kecil, lalu tertawa pelan, seperti ingin mencairkan sesuatu yang mengeras di dadaku.
"Mau aku nyanyiin?" katanya setengah bercanda. "Biar tidur."
Aku menoleh cepat ke arahnya. Tanpa berpikir panjang, tanganku langsung meraih ujung kausnya, mencengkeram kain itu dengan refleks, seolah takut ia menarik kembali tawaran itu.
"Mau," kataku cepat. "Mau mau. Aku mau."
Arven terdiam sebentar. Lalu terdengar helaan napas panjang ia tampak pasrah.
"Tapi jangan berharap banyak ya," katanya sambil menggeleng kecil. "Suaraku mungkin kayak tikus kejepit."
Aku tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak tadi, rasanya benar-benar ringan.
"Nggak apa-apa."
Ia bergeser sedikit, masih rebahan di sampingku. Tepukan di punggungku berlanjut, lalu suara itu keluar, pelan, rendah, nyaris berbisik.
Nadanya sederhana. Lagu yang aku tidak tahu judulnya. Tapi aku tau dari lagu itu tentang seseorang yang begitu mencintai kekasihnya.
Aku terdiam.
Dalam hati, aku mengernyit kecil.
Nggak buruk. Bahkan jauh dari buruk.
Suaranya stabil, serak tipis di ujung-ujung nada. Seperti suara penyiar radio larut malam yang tidak perlu teriak untuk didengar.
"Bohong banget," gumamku pelan, setengah sadar. "Katanya suaranya kayak tikus kejepit."
Aku bisa merasakan dadanya sedikit bergetar karena ia tertawa kecil, tanpa menghentikan nyanyiannya. Tepukan di punggungku tetap konsisten tanpa berhenti.
Kelopak mataku terasa semakin berat.
Di sela-sela nada dan ritme itu, pikiranku akhirnya melambat. Wajah Maya menjauh. Nama-nama berhenti berdengung. Yang tersisa hanya suara Arven dan rasa aman yang memelukku dari dalam.
Aku tersenyum kecil, tanpa sadar.
Dan sebelum aku sempat mengatakan apa pun lagi, gelap mengambil alih. Aku Tertidur pulas meskipun hari itu masih siang.
Keesokan harinya. Pagi datang pelan, disertai suara televisi dari ruang makan.
Aku duduk di kursi, masih setengah mengantuk, sendok di tanganku mengaduk teh hangat yang uapnya naik tipis. Di depanku, piring sarapan sudah tersaji, tapi sejak tadi belum banyak yang tersentuh. Arven duduk tak jauh dariku, menyalakan TV seperti biasa volume tidak terlalu keras, cukup untuk jadi latar pagi.
Sampai suara pembawa berita terdengar lebih jelas.
"Polisi menyatakan penyelidikan kasus kematian wanita yang bunuh diri resmi ditutup. Pihak berwenang menyimpulkan tidak ditemukan unsur pidana dan berharap keluarga yang ditinggalkan dapat tegar menghadapi kehilangan ini."
Sendokku berhenti di udara.
Aku menatap layar TV tanpa berkedip.
Ditutup, aku tau berita itu tentang Maya.
Kata itu terasa berat, seperti palu yang dijatuhkan pelan tapi tepat di dadaku. Napasku tersendat. Ada rasa tidak terima yang langsung naik, bercampur marah, sedih, dan kebingungan yang belum menemukan bentuk.
"Ditutup?" gumamku lirih. "Tapi masih banyak yang janggal."
Dadaku terasa sesak. Aku menggeleng kecil, seolah dengan begitu kalimat barusan bisa ditarik kembali.
Arven menoleh ke arahku. Ia bangkit dari kursinya dan mendekat, tangannya menyentuh bahuku dengan lembut.
"Kita sudah nggak bisa berbuat apa-apa lagi, Ren," katanya pelan. Nada suaranya tenang, nyaris menenangkan. "Bukti kamu juga kurang kuat, kan? Dan bukti itu masih bisa disanggah."
Aku menatapnya, mata mulai panas.
"Mas Gio juga punya alasan," lanjutnya, masih dengan suara yang sama rata. "Siapa tahu ponsel Maya memang lelet. Jaringannya error. Makanya telat ngirim pesan."
Kata-katanya masuk akal.
Aku tahu itu.
Tapi justru itu yang membuat dadaku semakin sakit.
Aku menunduk, bahuku bergetar kecil. Air mata akhirnya jatuh, satu, lalu menyusul yang lain. Aku tidak sanggup menahan lagi. Arven langsung menarikku ke dalam pelukannya, memelukku erat, satu tangannya mengusap punggungku pelan.
Dengan terpaksa, aku mengangguk di dadanya.
"Iya..." bisikku parau, meski hatiku menolak. "Iya...."
Tangisku semakin pecah. Aku mencengkeram bajunya, mencari pegangan, mencari sesuatu yang bisa membuatku tidak tenggelam. Sarapan di hadapanku terlupakan. Perutku mual, tenggorokanku terasa sempit.
Aku tahu aku seharusnya makan.
Tapi aku tidak bisa.
Aku masih duduk di meja makan, punggungku bersandar ke kursi, sementara Arven memelukku dari samping. Kepalaku bertumpu di dadanya, napasku masih tersengal pelan. Tangisku sudah mereda, tapi sisa sesaknya masih tertinggal, menempel di dada.
Piring di depanku hampir tak tersentuh. Roti yang tadi hangat kini dingin, tehku tinggal setengah.
Arven mengusap lenganku perlahan, gerakan kecil yang berulang.
Suaranya rendah. "Nggak apa-apa."
Aku mengangguk kecil, meski aku sendiri tidak yakin apa yang kuanggukkan. Lalu tiba-tiba, ponsel Arven yang tergeletak di meja bergetar.
Getarannya memecah keheningan. Arven melirik layar, alisnya sedikit berkerut. Ia mengangkat ponsel itu, lalu menatapku sebentar.
"Sebentar ya," katanya lembut.
Aku mengangguk.
Ia menjauh sedikit, tapi tangannya masih menyentuh bahuku saat ia mengangkat telepon.
"Halo...iya, Dok."
Aku tidak berniat menguping, tapi jarak kami terlalu dekat untuk tidak mendengar.
"Iya, dia di sini sama saya," lanjutnya. "Belum, Dok. Sejak keluar dari rumah sakit belum pernah kontrol lagi."
Dadaku mengencang.
Aku menegakkan sedikit tubuhku, menatap punggung Arven. Tangannya yang satu masuk ke saku celana, nada bicaranya berubah lebih serius.
"Iya, saya ngerti. Besok? Oke, saya atur."
Ia menutup telepon, lalu berbalik menatapku. Wajahnya kembali lembut, seperti tadi, seolah pembicaraan barusan tidak membawa apa-apa yang berat.
"Dokter kamu," katanya pelan. "Mereka minta kamu buat check up."
Aku menelan ludah. "Sekarang?"
"Bukan sekarang," jawabnya cepat. "Besok. Cuma pemeriksaan rutin."
Aku memeluk diriku sendiri, refleks. "Aku baik-baik aja kok."
"Aku tahu," katanya sambil tersenyum kecil. "Tapi dokter juga perlu tahu itu."
Aku tidak langsung menjawab. Ada rasa tidak nyaman yang merayap pelan karena ide bahwa ingatanku, kepalaku, semua yang retak ini akan kembali dibedah.
Arven mendekat, berjongkok di depanku supaya sejajar.
"Aku temenin," katanya. "Kita datang, kita cek, terus pulang. Sesimpel itu."
Aku menatapnya lama. Ada bagian dari diriku yang ingin menolak, ingin bersembunyi di balik hari-hari yang terasa aman bersamanya. Tapi ada juga bagian lain yang lelah terus kabur.
"Besok?" tanyaku pelan, memastikan.
"Iya," jawabnya mantap. "Aku temenin."
Aku mengangguk kecil, akhirnya. Berat, tapi mengangguk.
"Oke."
Ia tersenyum, lalu mengusap rambutku singkat. "Pinter."
Aku mendengus pelan. "Jangan kayak ngomong ke anak kecil."
"Tapi kamu barusan kayak anak kecil yang habis nangis," balasnya ringan.
Aku memukul lengannya pelan, nyaris tidak ada tenaga. Ia tertawa kecil, lalu kembali duduk di sampingku.
"Ayo," katanya sambil mendorong piringku sedikit ke arahku. "Coba makan dikit. Satu suap aja."
Aku menatap piring itu, lalu menatapnya lagi.
"Satu suap," ulangku.
"Deal."
Aku mengambil roti itu, menggigit kecil. Rasanya hambar, tapi aku tetap mengunyah.
Arven menghela napas lega, nyaris tidak terdengar.
Dan entah kenapa, di balik semua kekacauan di kepalaku, satu pikiran muncul pelan kalau pemeriksaan ini mungkin akan membuka sesuatu yang selama ini tertutup rapat.
Aku tidak tahu aku siap atau tidak.