Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita
Max terbangun lebih awal, ia masih sempat mengecup kening Guzzel yang tertidur lelap sebelum Danesh masuk ke kamar dengan wajah pucat pasi. "Max, kau harus lihat ini," bisiknya gemetar.
Pagi yang seharusnya menjadi awal baru yang tenang bagi pengantin baru itu justru dibuka dengan pekikan sirene dan aroma kematian yang pekat. New York belum benar-benar terjaga saat berita tentang Chelsea Van Der Wood mengguncang setiap sudut kota.
Di layar televisi ruang tengah, terpampang gambar ambulans yang keluar dari hotel tempat Chelsea menginap. Narator berita melaporkan dengan nada cepat bahwa putri pengusaha Belanda itu ditemukan tak bernyawa oleh asisten pribadinya setelah menelan dosis obat tidur yang sangat fatal.
Sebuah surat terakhir ditemukan di samping tempat tidurnya, berisi kutukan bagi Max dan Guzzel, serta pengakuan akan kehancuran hatinya yang tak tertahankan.
Max terpaku. Ia tidak mencintai Chelsea, namun melihat wanita yang dulu ia kenal berakhir dalam kesunyian yang tragis itu membuatnya merasa berat. Namun, sebelum ia sempat memproses rasa bersalahnya, sebuah ledakan besar mengguncang jendela apartemen.
Di ujung jalan, asap hitam membubung tinggi dari arah Vance Tower. Mr. Vance, yang kini telah kehilangan segalanya, reputasinya hancur, aliansinya dengan Van Der Wood terputus karena kematian Chelsea, dan anaknya sendiri telah mengkhianatinya benar-benar telah kehilangan akal sehatnya.
Ia tidak lagi peduli pada uang atau kekuasaan. Yang ia inginkan hanyalah melihat Max menderita seperti dirinya.
Mr. Vance muncul di lobi gedung perusahaannya sendiri dengan membawa senjata api dan pemantik api. Dalam kegilaan yang membabi buta, ia menyiramkan bensin ke arsip-arsip sejarah keluarga Vance dan menyulutnya. "Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak akan ada yang bisa memilikinya!" teriaknya kepada para karyawan yang berlarian menyelamatkan diri.
Max, yang mendengar kabar bahwa ayahnya masih berada di dalam gedung yang terbakar, segera menuju ke sana.
Guzzel, yang terbangun karena suara ledakan dan berita kematian Chelsea, mencoba menahan Max. "Jangan pergi, Max! Ini jebakan!"
"Aku harus mengakhirinya, Guzzel. Jika aku tidak pergi sekarang, dia akan terus mengejar kita sampai ke liang lahat," ujar Max dengan sorot mata yang tak tergoyahkan.
Gedung Vance Tower kini menjadi neraka di tengah Manhattan. Max menerobos masuk melalui pintu darurat, menembus asap tebal hingga mencapai ruang kerja ayahnya di lantai paling atas. Di sana, ia menemukan Mr. Vance berdiri di tengah api yang mulai menjilat dinding kayu mahoni.
"Kau datang, putraku yang malang," tawa Mr.
Vance terdengar mengerikan di tengah deru api. "Lihatlah apa yang kau lakukan! Chelsea mati karena kau! Kerajaanku hancur karena kau!"
"Kau yang menghancurkan dirimu sendiri, Ayah!" teriak Max, mencoba mendekati ayahnya di tengah panas yang menyengat. "Menyerah lah! Mari kita keluar dari sini!"
"Keluar? Tidak ada jalan keluar bagi kita, Max. Kita adalah kutukan bagi satu sama lain." Mr. Vance mengangkat senjatanya, mengarahkannya tepat ke arah Max.
"Jika aku tidak bisa membunuh Guzzalie Dante, maka aku akan membunuh sumber kebahagiaannya."
Namun, sebelum pelatuk itu ditarik, sebuah ledakan lain dari tangki oksigen di ruang sebelah meruntuhkan langit-langit gedung. Reruntuhan besar jatuh tepat di antara mereka, memisahkan Max dari ayahnya. Max terlempar ke belakang, sementara Mr. Vance tertimbun reruntuhan di tengah api yang semakin membesar.
Duaarrrr...Ledakan itu Terjadi lagi.
Di luar gedung, Guzzel yang menunggu dengan cemas tiba-tiba merosot ke lantai beton. Rasa sakit yang luar biasa menghantam perutnya.
"Max..." rintihnya.
Stres akibat berita kematian Chelsea dan melihat gedung suaminya terbakar memicu kontraksi hebat. Air ketubannya pecah tepat saat petugas medis mendekatinya. Guzzel dilarikan ke rumah sakit di tengah hiruk-pikuk pemadam kebakaran.
Dua jam kemudian, Max muncul di rumah sakit dengan wajah yang penuh jelaga dan tangan yang luka bakar. Ia kehilangan ayahnya Mr. Vance dinyatakan tewas dalam kebakaran itu, namun saat ia mendengar tangisan bayi dari dalam ruangan, Max jatuh berlutut dan menangis sejadi-jadinya.
Ia masuk ke dalam ruangan dan melihat Guzzel yang lemas namun tersenyum, menggendong seorang bayi laki-laki yang mungil.
"Dia lahir, Max. Dia selamat," bisik Guzzel.
Max mendekat, mencium kening istrinya dan menyentuh jari kecil anaknya. Tragedi Chelsea telah berlalu, dan bayang-bayang ayahnya telah terbakar habis. Di tengah abu kehancuran keluarga Vance, sebuah tunas baru telah lahir.
"Selamat datang, putraku," bisik Max dengan air mata yang membasuh jelaga di pipinya. "Dunia ini milikmu sekarang, dan tidak akan ada lagi monster yang akan menyakitimu."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍😍