"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 3
Keesokan harinya, pukul 10.00 tepat. Sasya berdiri di depan pintu ruangan Alkan. Kali ini, dia tidak memakai masker dobel, tapi dia memakai gamis berwarna cokelat muda dan khimar senada yang ia setrika sangat rapi. "Penampilan itu sebagian dari iman, dan sebagian lagi dari usaha biar nggak kelihatan kayak mahasiswa yang kurang tidur," batinnya menyemangati diri sendiri.
Tok tok.
"Masuk."
Sasya melangkah masuk. Alkan sedang duduk di balik mejanya, namun ada yang berbeda. Di atas meja kerjanya, selain laptop dan tumpukan jurnal, ada sebuah kotak bekal berwarna ungu pastel—kotak yang sama dengan yang dibawa Bu Sarah kemarin.
Hati Sasya mencelos. "Logika jangan baper, Sasya. Logika jangan baper," ia merapal mantra dalam hati.
"Silakan duduk, Sasya," ujar Alkan. Ia menutup laptopnya dan fokus pada draf di hadapannya. "Kita langsung saja. Bagian Neural Network kamu secara teori sudah bagus, tapi implementasinya di kode yang kamu kirim semalam masih ada kebocoran data. Kamu melakukan overfitting."
Sasya berusaha fokus pada penjelasan Alkan, tapi matanya sesekali melirik kotak ungu itu. "Maaf, Pak. Sepertinya saya kurang teliti di bagian validasi datanya."
Alkan berhenti bicara. Ia menyadari pandangan Sasya yang tidak fokus. Alkan berdehem kecil, membuat Sasya tersentak.
"Kamu terganggu dengan kotak ini?" tanya Alkan tiba-tiba. Pertanyaan yang sangat to the point, ciri khas Alkan yang tidak suka berbasa-basi.
Sasya gelagapan. "Eh? Enggak, Pak. Maksud saya... kotak bekalnya bagus. Warnanya estetik."
Alkan terdiam sejenak. Ia lalu menggeser kotak itu sedikit ke samping. "Bu Sarah memberikannya kemarin. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena saya membantu risetnya. Tapi saya belum menyentuhnya. Saya kurang suka makanan yang terlalu manis."
Entah kenapa, beban seberat 50kg di pundak Sasya mendadak hilang. Pak Alkan nggak suka manis? Padahal Bu Sarah itu manis banget. Berarti... ah, Sasya, jangan kepedean!
"Oh, begitu ya, Pak. Sayang sekali kalau mubazir," jawab Sasya sok bijak, padahal hatinya sedang melakukan selebrasi.
"Maka dari itu," Alkan menatap Sasya dengan intensitas yang lebih dalam, "setelah diskusi ini selesai, tolong bawa kotak ini ke lab. Berikan pada teman-temanmu di sana. Saya rasa mereka lebih butuh asupan gula untuk begadang."
Sasya melongo. "Saya, Pak? Yang kasih?"
"Iya. Anggap saja itu dari 'Fakultas', bukan dari saya pribadi. Saya tidak ingin ada asumsi yang tidak perlu di kantor ini," Alkan kembali membuka draf skripsi Sasya. "Kembali ke masalah overfitting kamu..."
Diskusi berlanjut selama satu jam. Untuk pertama kalinya, Sasya merasa pembicaraan mereka benar-benar sinkron. Alkan tidak hanya mengajarinya tentang kode, tapi juga tentang filosofi hidup.
"Hidup itu seperti model AI, Sasya. Kalau kamu terlalu fokus pada satu titik (overfitting), kamu akan gagal saat menghadapi dunia nyata yang penuh variabel baru. Kamu harus fleksibel, tapi tetap punya parameter yang jelas."
Sasya mengangguk paham. "Berarti saya harus memperbaiki dataset hati saya juga ya, Pak? Biar nggak gampang error kalau kena variabel tak terduga?"
Alkan menghentikan pulpennya. Ia menatap Sasya, ada binar jenaka yang sangat jarang muncul di matanya. "Itu kamu yang bilang, bukan saya. Tapi secara logika... saran itu benar."
Sesi bimbingan berakhir. Sasya keluar dari ruangan membawa kotak ungu milik Bu Sarah dengan perasaan menang banyak. Namun, baru saja ia menutup pintu, ia berpapasan langsung dengan Bu Sarah di koridor.
Bu Sarah melihat kotak ungu di tangan Sasya, lalu melihat ke arah pintu ruangan Alkan. Wajah dosen cantik itu berubah sedikit kaku, namun ia tetap berusaha tersenyum ramah.
"Lho, Sasya ya? Kok kotak saya dibawa?" tanya Bu Sarah lembut, namun ada nada selidik.
Sasya tersenyum sopan, mencoba mengeluarkan aura "Gen Z Sholehah". "Iya, Bu. Tadi Pak Alkan bilang beliau sedang puasa Daud, jadi bekalnya disuruh kasih ke anak-anak lab biar bermanfaat. Pak Alkan titip salam dan terima kasih banyak, Bu. Katanya, ibu baik sekali sudah perhatian pada riset beliau."
Sasya berbohong sedikit (tentang puasa Daud), tapi itu adalah "kebohongan putih" demi menjaga kehormatan Pak Alkan dan meredam perasaan Bu Sarah agar tidak terlalu berharap.
Bu Sarah tampak tertegun. "Oh... puasa ya? Saya tidak tahu. Ya sudah, silakan diberikan ke teman-temannya."
Sasya pamit dengan sopan. Begitu sampai di lab, ia langsung disambut sorakan teman-temannya yang kelaparan.
"Wih, Sasya! Bawa apaan nih? Dari Pak Alkan?" tanya salah satu teman cowoknya.
"Bukan, dari Bu Sarah buat Pak Alkan, tapi sama Pak Alkan dikasih ke kita. Makan tuh, biar otak kalian nggak deadlock!" seru Sasya riang.
Malamnya, Sasya kembali bersimpuh di sajadah. Ia merasa sedikit bersalah karena berbohong tentang puasa Pak Alkan, tapi ia merasa bangga karena sudah berani "menjaga" area privat dosennya.
"Ya Allah," bisik Sasya. "Hari ini hamba belajar kalau Pak Alkan itu bukan cuma pinter, tapi dia juga menjaga jarak. Makasih ya Allah, udah bikin dia nggak suka manis. Tapi tolong, buat hamba, bikin dia merasa hamba ini 'manis' yang pas, yang nggak bikin sakit gigi, tapi bikin tenang di hati. Amin."
Tanpa Sasya ketahui, di rumahnya, Alkan sedang membuka ponsel. Ia melihat profil WhatsApp Sasya yang hanya berisi kutipan hadits tentang menuntut ilmu. Alkan tersenyum.
Ia kemudian mengetik sebuah pesan singkat ke rekannya, sesama dosen senior. "Pak, kalau saya ingin menanyakan latar belakang keluarga mahasiswa untuk tujuan serius, apakah saya harus menunggu dia lulus sidang, atau boleh setelah dia yudisium?"
Alkan sedang menyusun algoritma terbesarnya: Algoritma Menuju Halal.