Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanah yang Berbicara
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti lereng Gunung Qingyun seperti selimut sutra putih. Shen Yi sudah bangun sejak fajar, berjongkok di samping danau kecil dengan tangan penuh tanah basah. Lian'er keluar dari gubuk membawa dua cangkir teh herbal yang masih mengepul—campuran daun mint liar dan akar manis yang mereka petik kemarin sore.
“Kau sudah mulai dari subuh,” kata Lian'er sambil menyerahkan cangkir. “Apa hari ini mau tanam yang baru lagi?”
Shen Yi tersenyum kecil, menerima cangkir itu dan meniup uapnya pelan. “Iya. Musim hujan mulai reda, tanah sudah cukup kering untuk tanam bibit baru. Aku mau tambah beberapa tanaman yang kita butuhkan sehari-hari, plus beberapa yang… agak istimewa.”
Lian'er duduk di batu besar di tepi danau, kakinya menyentuh air yang dingin segar. Teratai putih di danau sudah mekar penuh, kelopaknya mengapung seperti piring kecil yang mengambang. “Ceritakan dong. Aku mau dengar satu-satu. Biar aku catat di buku kecilku.”
Shen Yi mengangguk, lalu mulai bicara sambil menunjuk area tanah yang sudah dia olah kemarin.
“Pertama, yang sudah kita punya banyak: jahe merah.” Dia menunjuk rumpun jahe yang daunnya hijau lebat di sisi timur danau. “Ini sudah kita tanam sejak musim semi. Manfaatnya banyak: penghangat tubuh, bantu pencernaan, kurangi mual, dan anti-inflamasi. Cara nanamnya sederhana—ambil rimpang segar yang sudah bertunas, tanam dangkal di tanah gembur yang kaya humus, siram rutin tapi jangan becek. Panen setelah 8–10 bulan, tapi kita bisa ambil sedikit-sedikit setiap bulan.”
Lian'er mengangguk sambil membayangkan. “Yang ini aku suka. Setiap pagi aku tambahin ke teh atau sup. Hangatnya sampai ke tulang.”
Shen Yi tersenyum. “Selanjutnya yang baru kita mulai kemarin: kunyit hitam.” Dia menunjuk barisan kecil bibit yang baru ditanam di bedengan dekat jahe. “Ini bukan kunyit kuning biasa. Kulitnya hitam, dagingnya ungu kehitaman. Manfaatnya lebih kuat dari kunyit biasa: antioksidan tinggi, bantu detoks hati, kurangi nyeri sendi, dan ada penelitian bilang bisa bantu lawan sel kanker. Cara nanamnya mirip kunyit biasa—rimpang segar ditanam dangkal, tanah harus subur dan drainase baik. Butuh cahaya matahari penuh tapi teduh separuh siang. Panen 9–12 bulan.”
Lian'er menyentuh daun kecil kunyit hitam itu dengan jari. “Warna daunnya lebih gelap. Kayak menyimpan rahasia.”
Shen Yi tertawa pelan. “Mungkin iya. Selanjutnya, yang agak istimewa: daun dewa — tanaman imajinatif yang kita temukan bibitnya di lereng atas saat cari ginseng bulan lalu.”
Lian'er tersenyum lebar. “Yang daunnya kalau disentuh hangat seperti ada aliran energi kecil itu?”
Shen Yi mengangguk. “Iya. Daunnya berbentuk hati kecil, warna hijau keemasan, kalau diremas mengeluarkan aroma seperti campuran mint dan kayu manis. Manfaatnya… seperti teratai kecil: bisa bantu stabilkan energi tubuh, kurangi kelelahan kronis, dan bantu penyembuhan luka dari dalam. Cara nanamnya aneh—harus ditanam di dekat air mengalir atau danau, tanah harus selalu lembab, tapi tidak boleh tergenang. Cahaya matahari pagi saja, siangnya teduh. Kalau terlalu panas, daunnya menggulung sendiri seperti melindungi diri.”
Lian'er menatap tanaman kecil itu dengan kagum. “Aku yang nemuin bibitnya waktu kau sibuk gali akar. Aku pikir cuma rumput biasa, tapi saat aku pegang, tanganku langsung hangat. Aku langsung tahu ini spesial.”
Shen Yi tersenyum. “Kau yang punya naluri teratai. Tanaman ini cocok denganmu.”
Dia melanjutkan sambil berjalan ke bedengan berikutnya.
“Lalu ada sereh wangi gunung — varietas sereh lokal yang daunnya lebih tebal dan aromanya lebih tajam. Manfaatnya: pengharum alami, anti-mual, bantu pencernaan, dan minyaknya bisa jadi obat oles untuk sakit otot. Cara nanamnya mudah—stek batang, tanam di tanah gembur, siram cukup, panen daun setiap 2–3 bulan.”
Lian'er menggosok daun sereh di antara jari-jarinya. “Ini yang aku pakai buat wangiin air mandi. Enak sekali baunya.”
Shen Yi menunjuk rumpun berikutnya. “Kumis kucing — ini sudah kita tanam sejak awal. Manfaatnya untuk ginjal dan saluran kencing, kurangi batu ginjal, anti-inflamasi. Cara nanamnya: stek atau biji, tanah gembur, sinar matahari penuh, panen daun setiap bulan.”
Lian'er mengangguk. “Pasien Pak Li kemarin bilang setelah minum rebusan kumis kucing, batu ginjalnya mulai keluar. Dia senang sekali.”
Shen Yi tersenyum bangga. “Itu yang bikin aku senang jadi tabib. Bukan karena duit, tapi karena lihat orang sembuh.”
Dia berhenti di bedengan terakhir—tanaman yang paling kecil, hanya beberapa bibit yang baru bertunas.
“Ini yang paling baru: bunga bulan salju — tanaman imajinatif yang bibitnya kita dapat dari seorang pedagang obat keliling bulan lalu. Katanya tumbuh di puncak gunung bersalju. Daunnya kecil, bunga putih transparan seperti salju, mekar hanya di malam bulan purnama. Manfaatnya… katanya bisa bantu orang yang susah tidur karena pikiran gelisah, bikin mimpi tenang, dan kurangi kecemasan. Cara nanamnya sulit—harus di tempat yang dingin tapi teduh, tanah harus selalu lembab, dan tak boleh kena sinar matahari langsung. Kita tanam di sisi utara danau, di bawah pohon pinus, biar teduh dan dingin.”
Lian'er menyentuh bibit kecil itu dengan jari. “Aku mau tanam lebih banyak. Biar malam-malam kalau kau susah tidur karena mikirin pasien, aku bisa seduh bunga ini untukmu.”
Shen Yi tersenyum hangat. “Terima kasih. Aku memang kadang susah tidur akhir-akhir ini. Mikirin pasien di kota, mikirin kalau wabah itu muncul lagi di tempat lain.”
Lian'er memeluknya dari belakang. “Kau sudah lakukan yang terbaik. Kota itu sudah mulai pulih. Bupati sudah bisa duduk lagi kemarin. Raden Arya bilang dia akan buat rumah sakit kecil di kota, dan minta kau jadi penasehat medisnya kalau mau.”
Shen Yi menggeleng pelan. “Aku tak mau tinggal di kota. Aku mau di sini—di gubuk ini, di danau ini, dengan tanaman-tanaman ini. Kalau mereka butuh, aku datang. Tapi rumahku tetap di sini.”
Lian'er mencium pipi Shen Yi. “Rumah kita.”
Mereka kembali ke bedengan. Shen Yi mengambil bibit kumis kucing baru dari keranjang, menunjukkan pada Lian'er.
“Ini caranya nanam kumis kucing. Ambil stek batang yang sudah punya 2–3 ruas, buang daun bawah, tanam di tanah campur kompos, tekan pelan, siram secukupnya. Letakkan di tempat teduh dulu seminggu, lalu pindah ke tempat matahari pagi. Panen daun setelah 2 bulan, tapi bisa dipetik sedikit-sedikit setelah sebulan.”
Lian'er mengikuti gerakan Shen Yi, tangannya belajar menanam dengan telaten. “Aku suka ini. Rasanya seperti kita bikin masa depan dengan tangan kita sendiri.”
Shen Yi tersenyum. “Benar. Setiap tanaman yang kita tanam adalah janji—janji bahwa hidup terus berlanjut, bahwa ada harapan meski pernah ada dingin.”
Mereka bekerja sampai siang. Bedengan baru selesai: kunyit hitam, daun dewa, sereh wangi gunung, dan bunga bulan salju. Danau teratai tetap mekar indah di tengah, seolah memberi restu.
Sore itu, saat matahari mulai condong, seorang anak kecil dari desa bawah datang berlari.
“Tabib Shen! Nona Lian! Ibu bilang terima kasih banyak. Bapak sekarang sudah bisa jalan lagi setelah minum ramuan kemarin!”
Shen Yi tersenyum. “Bilang pada ibumu, kalau butuh lagi, datang saja. Pintu gubuk selalu terbuka.”
Anak itu mengangguk antusias lalu berlari pulang.
Lian'er memandang Shen Yi. “Kau tahu… hidup seperti ini lebih berharga dari segala kekuatan teratai atau keabadian.”
Shen Yi memeluknya dari belakang, dagunya bersandar di bahu Lian'er.
“Aku tahu. Dan aku bersyukur setiap hari… karena ada kau di sini.”
Mereka berdiri seperti itu, memandang danau teratai yang mekar, tanaman obat yang baru ditanam, dan lereng gunung yang damai.
Di kejauhan, angin membawa aroma jahe, kunyit, mint, dan teratai—aroma kehidupan yang sederhana, tapi penuh makna.
Dan di hati mereka, teratai tetap mekar—tak pernah layu, karena akarnya ditanam di tanah cinta yang tak pernah kering.