Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24_Perubahan akan dimulai
Suara gemercik air terdengar ketika kami berlari, kami berdua berlari melewati beberapa gang yang gelap dan sempit.
*Srrk... srrk...*
Lampu minyak dari rumah warga berkedip-kedip, bayangan kami memanjang di dinding yang lembab.
*Kelip... kelip...*
Para warga kota dan para ksatria mulai berkumpul di setiap sudut kota untuk mencari kami, teriakan panik dari warga atas insiden yang aku buat menggema ke setiap kota.
Dari jauh masih terdengar peluit ksatria, tapi suaranya makin pelan, ketutup suara gemercik air selokan.
*Prit!! Prit!!*
Setelah berlari seharian kami akhirnya sampai ke sebuah tempat, di tempat tersebut terdapat rumah kosong dua lantai yang cukup besar dan jaraknya berada dekat dengan tembok pembatas kota.
Cat tembok rumah itu sudah mengelupas, kaca jendelanya pecah, tapi pintunya masih kokoh. Rumah yang sudah lama ditinggalkan, debu tebal.
Kami pun membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalam untuk bersembunyi, di dalam nafas kami terengah-engah karena kelelahan setelah bertarung dan kemudian berlari cukup jauh.
*Hah... hah...*
Udara di dalam rumah dingin dan berdebu. Aroma kayu lapuk langsung menusuk hidung. Aku baru sadar tapak kakiku ninggalin bercak darah di lantai berdebu. Luka di bahu yang tadi sembuh ternyata masih rembes, wajahku datar meringis.
Stella menatap ke arah para budak itu, matanya berkaca cemas.
"apa kalian kelelahan? Apa kalian lapar?" Suaranya lembut.
Aku langsung menyenderkan badanku ke tembok dan kemudian duduk, wajah datar lelah.
"lelahnya! Aku pikir kita akan tertangkap" nafasku masih terengah-engah, mata kosong.
Stella langsung mengambil sesuatu dari balik mantelnya, beberapa roti yang ternyata dia ambil, dia langsung memberikan roti-roti itu kepada para budak-budak itu, tangan sedikit gemetar.
"makanlah, jangan sungkan.." sambil tersenyum tipis, mata berkaca.
Tangannya sedikit gemetar waktu nyodorin roti, tapi dia paksa tetap senyum.
Para budak-budak itu pun langsung mengambil roti-roti itu dengan pelan-pelan dari tangan Stella dan langsung memakannya, wajah mereka pucat takut.
"te-terima ka-kasih, kakak.." sambil gemetar ketakutan, mata berkaca.
Mereka makannya pelan-pelan, kayak takut rotinya diambil lagi, pipi kotor.
Stella yang mendengar itu langsung tersenyum lebar dan langsung duduk kemudian mengelus kepala mereka dengan lembut, matanya berkaca haru.
"sama-sama.. ouh iya bagaimana kalian bisa menjadi budak seperti ini?"
Mereka menundukkan kepalanya sedikit, mata berkaca-kaca.
"ka-kami sebenernya adalah korban para bandit, setelah mereka membunuh orang tua kami, mereka membawa kami ke Baron wilayah ini, dan akhirnya kami dijual kepala gereja.." air mata mulai menetes dari mereka, bibir bergetar.
Stella menundukkan kepalanya dan melepaskan topengnya pelan-pelan, wajahnya sedih marah.
"begitu ya.. pasti berat untuk kalian, tapi tenang saja" dia memeluk para anak-anak itu dengan lembut, mata berkaca.
"karena kalian sekarang sudah aman.."
Salah satu anak itu berjalan ke arahku, dia memberikan rotinya kepadaku, wajah polos tulus.
"ini.. kakak belum makan, kakak pasti kelelahan.."
Stella menoleh ke arahku dan langsung berjalan ke arahku, senyum tipis.
"tenang saja.. roti itu milikmu, milik kakak itu" dia mengambil roti dari balik mantelnya lagi, mata berbinar.
"adalah yang ini.."
Stella langsung menjulurkan tangannya dan memberi roti itu kepadaku sambil tersenyum lebar, pipi merona.
"ini makanlah.. kau pasti kelelahan setelah semua itu kan?" Suaranya lembut.
Aku menatap dengan tajam ke arah matanya, wajah datar.
"terima kasih.." aku mengambil roti dari tangannya dan memakannya, mata kosong.
Dia langsung merobek mantelnya dan langsung mengumpulkan kayu-kayu yang ada di dalam rumah ini, dia mengambil korek kayu dari sakunya dan langsung membakar mantelnya untuk membuat api, wajah fokus.
*Srek! Ctik...*
"dengan begini sip, Sudah beres" Senyum lega.
Api kecil itu langsung bikin bayangan kami goyang di dinding. Dingin di kaki mulai hilang.
*Crackle...*
Raut wajah anak-anak itu langsung berubah, mereka tersenyum sambil mengelilingi api itu, mata berbinar senang.
"hangatnya! Nyaman! Aku benar-benar mengantuk!"
Anak-anak itu merapat, bahu ketemu bahu, dengerin suara api yang meletik pelan, wajah damai.
Dia berjalan ke arahku dan duduk di samping ku, wajahnya sedih bersalah.
"hei.. untuk masalah kali ini, maaf, gara-gara aku kau harus terlibat hal seperti ini" Matanya menunduk.
Aku menurunkan bahuku dan menatap ke arahnya, wajah datar.
"daripada meminta maaf, aku lebih suka jika kau berterima kasih" Suara datar.
Dia langsung membelalak dan menundukkan kepalanya, wajahnya sedih.
"tapi.. karena aku, kita jadi dalam masalah seperti ini.." Bibir bergetar.
Aku langsung menoleh ke arah anak-anak itu, mata datar tapi hangat tipis.
"menurutku tindakan mu kali ini, bukanlah sebuah kesalahan" dia langsung menatap ke arahku sambil membelalak, mata berkaca.
"kau lebih memilih untuk menyelamatkan anak-anak itu, daripada menyelamatkan nyawa mu sendiri, menurutku itu bukanlah tindakan yang salah" Suara datar tulus.
Dia langsung menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan kedua lututnya, bahu bergetar.
"begitu ya.. kalau begitu, terima kasih karena sudah menolongku"
Suaranya kecil, hampir ketutup suara api. Dia ngomong sambil nunduk, gak berani natap aku, pipi merah.
Anak-anak itu akhirnya tidur, mereka tidur di tepi api unggun itu sambil tersenyum tipis, aku melihat wajah mereka, mata datar.
_mereka semua pasti sudah melewati banyak cobaan, sama sepertiku_
Stella mengangkat wajahnya dan menatap ke arah mereka, mata berkaca.
"sepertinya aku tidak akan menutupi apapun lagi padamu" dia menoleh ke arahku, wajah serius.
"sebenarnya aku adalah mata-mata yang dikirim kerajaan salfaria setelah kerajaan Eiden menetapkan diri menjadi kekaisaran" Matanya tajam.
Aku langsung menatapnya dengan wajah datar, mata kosong.
"aku sudah tahu akan itu.."
Stella langsung tersentak, matanya membelalak kaget, wajah merah.
"HEHH!!" Wajahnya langsung berkeringat, telinga berdiri.
"kau sudah tahu?" Mulut menganga.
"Tentu saja, mana ada orang biasa yang memilki zirah yang memliki kualitas sebagus itu, dan yang terpenting" aku menatapnya dengan tajam, mata dingin.
"mereka tidak mungkin membawa alat sihir seperti kamera"
"Pasti kau sudah mengambil beberapa bukti penjualan para budak di ibu kota kan, dan kau berencana untuk mengambil jalan pintas dengan masuk ke lembah kemudian memanjat tebingnya ketika sudah berada di tengah lembah untuk menutupi jejak" Wajah datar.
Keringatnya mulai bercucuran, dia memalingkan wajahnya dariku, pipi merah panik.
_BAGAIMANA DIA BISA TAHU TENTANG RENCANA KU!!_ Matanya melotot.
Dia langsung menoleh ke arahku, wajah pasrah.
"begitulah.." dia langsung menundukkan kepalanya padaku, mata berkaca mohon.
"tolong jangan beri tahu siapapun! aku mohon! aku akan lakukan apapun untukmu!" Suaranya bergetar.
Aku menatapnya dengan senyum tipis datar.
"baiklah.. bagaimana kalau begini, kau akan berbagi informasi padaku" Mata dingin.
Dia mengangkat kepalanya, ekornya mengibas telinganya berdenyut, mata berbinar.
"pertukaran informasi? Boleh saja.."
"Baiklah sebagai awalan dari pertukaran informasi kita, pertama aku ingin kau memberikan setiap informasi yang kau punya tanpa terkecuali" Wajah datar.
Dia mengambil beberapa foto yang di dalam fotonya terdapat beberapa bukti dokumen penjualan budak yang dilakukan sejumlah Baron yang ada di kekaisaran, tangan gemetar.
"hanya ini saja, informasi yang ku punya" dia pun menjelaskan juga keadaan kekaisaran baru-baru ini padaku, wajah serius.
Aku melihat setiap foto dan mendengarkan ceritanya itu dengan seksama, mata datar fokus.
_kurang lebihnya aku sudah mengerti, pertama kerajaan Eiden berhasil mendapatkan beberapa pegunungan yang ada di wilayah kerajaan Trufel yang dipimpin oleh ras dark elf, dan beberapa wilayah yang dekat dengan reruntuhan penyihir es yang dijaga kerajaan salfaria, karena mereka terus memperbesar wilayah-wilayahnya, para raja tiap kerajaan khawatir bahwa akan terjadi perang besar-besaran yang akan terjadi, untuk itulah orang-orang seperti Stella ada, mereka mencari setiap kesalahan yang melanggar perjanjian internasional agar kekaisaran berhenti mengambil wilayah-wilayah lain, dan memberikan kompensasi yang besar kepada setiap kerajaan sebagai hukuman karena melanggar perjanjian itu, salah satunya adalah perbudakan ilegal_
Aku mengambil sebuah foto dan melihatnya dengan seksama, dan setelah aku perhatikan aku langsung tersentak setelah melihat yang ada di dalam foto tersebut, mata membelalak.
"Projek Homunculus"
aku menunjukan foto itu kepada Stella, wajah datar kaget.
"apa maksud dari foto ini?"
Dia melihat foto itu dan langsung menghela nafasnya, wajah serius kelam.
"huhh.. seperti yang saat itu aku bicarakan, gereja sedang membuat sebuah manusia yang melebihi batas normalnya"
"Batas normal? Apa maksudmu?" Alis bertaut datar.
Dia menunjuk ke arah tubuhnya, mata serius.
"Kau tahu kan bahwa setiap makhluk hidup memiliki jumlah mana yang berbeda-beda"
Aku mengangguk pelan, wajah datar.
"tentu saja, kalau tidak salah jumlah mana itu bisa terus dikembangkan dengan latihan"
Dia mengangguk pelan, mata tajam.
"tepat sekali, hanya saja untuk melatih batasan mana itu diperlukan latihan khusus yang sangat lama, dan dari situlah tujuan Projek Homunculus ini dibuat, pihak gereja ingin membuat manusia buatan yang memiliki jumlah mana yang sangat besar, tanpa perlu berlatih lagi untuk dijadikan sebuah pasukan"
Tanganku yang urat hitamnya masih berdenyut langsung ku kepal, wajah datar tegang.
_Manusia buatan tanpa latihan... bukankah aku juga sama?_
Aku menatap ke arah para anak-anak itu, mata datar.
"Lalu apa hubungannya Projek Homunculus ini dengan para budak, dan kekasihmu yang hilang itu?" Suara datar.
Dia menundukkan kepalanya sedikit, mata berkaca sedih.
"pihak gereja memindahkan jiwa mereka dan mencuci ingatan mereka sehingga mereka akan selalu senantiasa berpihak kepada gereja" Suaranya lirih.
Aku langsung menoleh ke arahnya, mataku membelalak, wajah datar kaget.
"memindahkan jiwa? Bagaimana caranya?"
Dia menggelengkan kepalanya pelan, wajah sedih.
"untuk itu aku tidak tahu, tapi aku pernah dengar dari beberapa biarawan di gereja pusat, membicarakan tentang seorang gadis dwarf yang berhasil membuat alat sihir yang mampu memindahkan jiwa seseorang ke tubuh yang baru" Mata berkaca.
Mataku masih membelalak, wajah datar tegang.
_jika saja, aku berhasil mendapatkan catatan proses pembuatan alat sihir itu, aku bisa menebus kesalahanku dimasa lalu_ tanganku mengepal dengan sangat erat, mata bergetar.
Aku langsung menjulurkan tanganku kepadanya, wajah datar serius.
"dengar Stella, aku akan membantumu dalam misi mu"
Dia menatap ke arah wajahku dengan heran, mata membelalak.
"apa? Apa aku tidak salah dengar?" Telinga berkedut.
"Aku serius untuk membantumu, dan bukankah kau ingin memanfaatkan ku" sambil tersenyum tipis datar ke arahnya.
Dia langsung tersentak lalu mendegak, wajah merah.
"ba-baillah, tapi sebelum itu... Apa yang jadi alasanmu untuk membantuku, maaf saja karena kita akan berkerja sama aku perlu tahu niat sekutuku sendiri" Mata tajam malu.
"Aku pikir kau adalah gadis yang berkepala kosong, tapi kau bisa memperhatikan detail seperti itu juga" Wajah datar.
Dahi dan alis Stella langsung mengerut, bahunya meninggi, pipi menggembung marah.
"SIAPA YANG KAU BILANG GADIS BERKEPALA KOSONG HAH!!" Matanya melotot.
Aku menatap api unggun itu, mata datar kosong.
"aku memiliki beberapa masalah dengan orang-orang gereja dan kekaisaran, jadi aku hanya ingin sedikit membalas tindakan mereka padaku selain itu aku ingin menebus kesalahanku yang aku perbuat pada anggota keluarga ku" aku menjawab pertanyaan itu dengan wajah serius datar, mata berkaca tipis.
Mendengar hal itu Stella langsung menurunkan bahunya, wajahnya melembut.
"ternyata hanya itu.." dia menjulurkan tangannya padaku, senyum tipis tulus.
"kalau begitu mohon bantuannya, sora" Matanya berbinar.
Aku menoleh ke arahnya dan menjabat tangannya, wajah datar.
"aku juga mohon bantuannya, Stella" Suara datar.
Setelah itu kami berdua pun tidur dan berhasil melewati hari yang panjang.
Api mulai mengecil. Cahaya dari luar tembok pembatas kota sesekali lewat, bayangan patroli ksatria. Jejak darah di lantai masih di sana.
*Crackle...*
*Tap... tap...*