Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Rencana liburan
Keesokan harinya... atmosfer di seluruh penjuru gedung Dewangga Group benar-benar mendadak berubah drastis. Pengakuan mengejutkan dari sang CEO tertinggi kemarin di divisi keuangan bagaikan bom atom yang meluluhlantakkan seluruh gosip murahan di sudut-sudut kantor.
Di lorong-lorong utama, area pantry, hingga bilik-bilik kerja, reaksi para karyawan campur aduk. Ada yang syok berat, terperangah tak percaya, namun tak sedikit pula yang mendadak panik dan gelisah setengah mati mengingat ucapan-ucapan licin mereka di masa lalu.
"Aduh... mati aku! Mana aku sering banget lagi ngerumpiin Pak Adrian di depan Mbak Nayla! Waktu itu aku pernah bilang berandai-andai pengin jadi istrinya Pak Bos... Duh, malu banget deh!" keluh seorang staf wanita dengan wajah memerah di dekat mesin kopi.
Teman di sebelahnya menepuk jidatnya pelan seraya berbisik heboh. "Itu sih belum seberapa, Mbak! Nah aku? Aku pernah ngatain Pak Bos kita itu tampan, mapan, tapi sayang belum laku-laku! Gimana kalau ucapan konyolku waktu itu diaduin sama Mbak Nayla ke Pak Adrian?!"
"Hush! Makanya! Daripada kita kena pecat atau dipindah tugas ke cabang pelosok, yang pada pernah ngejelekin atau nyindir Mbak Nayla mendingan segera minta maaf deh sono! Mbak Nayla kan sebenarnya baik dan rendah hati banget!" sahut staf lainnya panik.
Sementara seluruh isi kantor sedang sibuk kasak-kusuk menata mental, situasi yang jauh berbeda justru terjadi di lorong lantai eksekutif, tepat di luar pintu ruangan CEO.
Di sudut ruangan dekat meja sekretaris, Rio dan Mira sedang berdiri berhadapan. Mira tampak melompat-lompat kecil seraya mengibaskan tangannya kegirangan dengan raut wajah paling puas yang pernah ada.
"Ayo, Mas Rio! Tepati janjimu! Aku yang menang hari ini!" seru Mira bersemangat seraya menodongkan telapak tangannya di depan dada Rio.
Rio membetulkan letak kacamata dan kerah kemejanya, mencoba bersikap tenang meski sudut bibirnya berkedut cemas. "Menang apanya?! Kemarin lusa Mbak Nayla juga sudah ngakuin kalau Pak Adrian itu suaminya di depan semua orang pas di kafe, kan? Harusnya aku dong yang menang taruhan!"
Mira melotot gemas, menepuk bahu Rio dengan map di tangannya. "Ih! Mana bisa begitu?! Kan perjanjian awal kita cuma di lingkup kantor doang! Kemarin yang bongkar rahasia di depan staf kantor kan Pak Adrian sendiri karena merasa tidak tahan istrinya ditindas! Pokoknya bayar! Mana?!"
"Nggak mau! Itu belum sah!" kilih Rio bertahan.
"Bayar...! Mas Rio pelit banget sih!" jerit Mira gemas seraya mulai memukuli lengan Rio secara bertubi-tubi menggunakan gulungan dokumen.
"Aduh! Aduh! Sakit, Mira! Jangan dipukul pakai map juga dong!" ringis Rio mengelak.
Tepat saat adu mulut konyol itu makin memanas, langkah kaki tenang terdengar mendekat. Nayla melangkah anggun berdampingan dengan Adrian yang tampil begitu gagah dalam balutan jas mewahnya.
"Eh, kalian ini kenapa sih? Pagi-pagi kok sudah seperti kucing dan tikus saja?" tegur Nayla terkekeh renyah melihat tingkah dua orang di hadapannya.
Mira seketika menghentikan pukulannya, memajukan bibirnya seraya mengadu pada Nayla. "Ini nih, Nay! Mas Rio ingkar janji! Pengin aku cakar rasanya!"
Adrian yang berdiri di samping Nayla menaikkan sebelah alisnya, menatap asisten pribadinya dan sahabat istrinya itu dengan penuh rasa penasaran. "Ingkar janji apa memangnya, Mira?"
"Ini, Pak..." puji Mira antusias tanpa rasa takut sedikit pun. "Kami kan waktu itu sempat taruhan soal hubungan Bapak dan Nayla. Taruhannya soal siapa yang bakal lebih dulu mempublikasikan status pernikahan ini ke orang kantor. Nah, kemarin kan Bapak sendiri yang bongkar status Nyonya Muda di depan divisi keuangan, jadi harusnya saya yang menang! Tapi Mas Rio nggak mau bayar tuh, Pak!"
Mendengar penuturan polos Mira, Nayla menahan tawa seraya menggelengkan kepala. "Astaga, kalian berdua sampai taruhan segala? Hadiahnya apa emangnya, Mir?"
"Tiket liburan ke Paris, Nay!" sahut Mira dengan mata berbinar-binar.
Adrian yang suasana hatinya sedang sangat berbunga-bunga sejak kemarin lantaran tak perlu lagi menyembunyikan status istrinya, tersenyum lebar. Pria itu merangkul pinggang Nayla secara posesif di depan Rio dan Mira.
"Sudah, sudah... Kalian tidak usah ribut lagi," potong Adrian santai. "Saya yang akan membayar tiket liburan kalian berdua ke Paris."
Nayla tersentak kaget, menoleh menatap wajah tampan suaminya dari samping. "Mas? Kamu yakin? Kan itu taruhan mereka..."
"Yakin, Sayang..." sahut Adrian lembut, menatap iris mata Nayla dengan pendar kasih sayang yang begitu pekat. "Lagipula, kita sendiri kan juga belum sempat pergi bulan madu selama menikah. Jadi sekalian saja."
Pipi Nayla seketika merona merah bagaikan buah tomat yang matang. Rasa hangat menjalar ke seluruh dadanya. Jika biasanya ia akan refleks menghindar atau menarik diri lantaran takut dilihat staf kantor, kini Nayla tidak perlu lagi bersembunyi. Ia menikmati kehangatan dekapan suaminya di tempat terbuka tanpa rasa canggung atau cemas sedikit pun.
Sementara itu, Rio dan Mira yang mendengar pengumuman hadiah gratis dari sang CEO seketika terperanjat kaget.
"SERIUS, PAK?! WAAAH!" jerit Mira kegirangan.
Saking gembiranya, Mira spontan meraih kedua tangan Rio dan mengajak asisten CEO itu berputar-putar menari kecil di lorong. "Asyik! Liburan gratis ke Paris!"
Rio yang ikut tertawa gembira mendadak membeku tatkala menyadari jemari jemarinya saling bertaut erat dengan jemari Mira. Cepat-cepat keduanya melepaskan genggaman tangan masing-masing, lalu berdehem canggung seraya membuang muka ke arah yang berbeda dengan wajah yang memerah padam.
Nayla tertawa kecil melihat tingkah dua orang itu. Namun, sebagai sekretaris yang profesional dan paham betul akan dinamika jadwal perusahaan, Nayla kembali menguasai dirinya.
"Tapi, Mas..." puji Nayla menatap Adrian. "...kita tidak bisa meninggalkan urusan kantor di bulan ini. Jadwal rapat dengan investor dan tinjauan proyek luar kota sangat padat."
Nayla mengingat-ingat agenda di komputernya. "Mungkin kita baru ada waktu luang di akhir bulan depan. Itupun tidak bisa lama-lama... mungkin hanya lima hari, sudah terhitung dengan masa perjalanan pulang pergi."
Adrian tersenyum menenangkan, mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut. "Lima hari itu sudah lebih dari cukup, Sayang. Tenang saja, semua urusan pekerjaan di sini bisa diatur dan didelegasikan. Yang penting kita bisa menikmati waktu berdua."
Adrian melirik Rio dan Mira seraya menegaskan kembali, "Oke, sudah deal ya? Sekarang silakan kembali bekerja."
"Baik, Pak Adrian! Terima kasih banyak, Pak Bos!" sahut Rio dan Mira serempak seraya membungkuk hormat.
Adrian perlahan melepaskan rangkulannya di pinggang Nayla, memberikan kecupan singkat nan manis di dahi istrinya sebelum melangkah masuk ke dalam ruang kerja CEO diikuti oleh Rio.
Sepeninggal dua pria itu, Mira langsung memeluk tubuh Nayla dengan erat, menggoyang-goyangkan bahu sahabatnya itu penuh rasa haru dan bahagia.
"Nay! Aku senang banget! Makasih banyak ya!" bisik Mira tulus. "Kamu itu benar-benar pembawa keberuntungan buat aku!"
Nayla membalas pelukan sahabatnya seraya tersenyum manis. "Iya, sama-sama, Mir... Tapi..."
Mira melepaskan pelukannya, menatap raut wajah Nayla yang mendadak berubah agak serius. "Tapi apa, Nay?"
Nayla menarik napas panjang. Jemari tangannya perlahan turun, meraba pinggang dan memegang lipatan perutnya sendiri yang terasa cukup tebal di balik pakaian kerjanya. Pandangan matanya menatap tubuhnya sendiri lewat pantulan kaca di lorong.
"Aku... butuh bantuanmu, Mir," tutur Nayla pelan. "Sepertinya aku harus mulai memperbaiki diri."
Mira mengerutkan dahi, meneliti ekspresi sahabatnya. "Maksudmu... kamu mau diet, Nay?"
Nayla mengangguk mantap. "Iya... Aku tahu Mas Adrian sangat tulus dan menerimaku apa adanya tanpa memandang bentuk fisikku. Tapi... bukankah aku juga harus membalas kebaikan dan ketulusannya dengan menyuguhkan penampilan terbaikku di sampingnya?"
Nayla menatap Mira dengan binar tekad yang kuat. "Aku ingin tampil lebih cantik, anggun, dan jauh lebih sehat untuk suamiku."
Mendengar alasan yang begitu mulia dan berkelas dari mulut sahabatnya, senyum Mira seketika mengembang lebar. Ia memegang kedua pundak Nayla seraya memberi dukungan penuh.
"Nah! Benar banget itu, Nay! Aku dukung seratus persen!" seru Mira bersemangat. "Ini bukan cuma soal penampilan buat Pak Adrian, tapi ini juga demi kesehatan tubuhmu sendiri! Tenang saja, serahkan padaku! Aku bakal carikan metode diet paling sehat, lezat, dan terbaik buat kamu!"
Nayla tersenyum lega dan bahagia. Di dalam hatinya, sebuah tekad baru telah bertunas, ia siap menyambut transformasi hidupnya.
best suka ama ceritanya
❤❤