Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Penguasa Hutan Yang Terbangun
Isabella masih berdiri di tempatnya, tatapannya tertuju pada Aeron yang kini berdiri di hadapannya dengan kedua sayap besarnya terbentang.
Namun tiba-tiba, Aeron berhenti tersenyum saat dia merasakan jika ada sesuatu yang akan datang.
Kepalanya terangkat, Aeron menatap ke arah hutan dengan tatapan semakin tajam.
"Ada apa?" tanya Isabella.
Aeron tidak langsung menjawab, Ia justru menatap jauh ke arah bagian terdalam hutan. Dia semakin dekat, dan aura ini jauh lebih kuat darinya.
Merasa ada yang aneh, Isabella langsung menggenggam gagang pedangnya.
"Monster lagi?"
Aeron menggeleng perlahan, aura ini bukan monster tapi dia sendiri belum mengetahui aura ini milik siapa.
"Bukan, dia sama seperti ku. Tapi jauh lebih kuat." Kata Aeron.
Ekspresi Isabella berubah serius.
"Seberapa kuat?"
Aeron terdiam beberapa detik, kemudian jawabannya membuat Isabella sedikit terkejut.
"Dua kali lipat lebih kuat dariku." Jawab Aeron.
Mata Isabella membesar, dua kali lipat lebih kuat daripada Aeron? Padahal dari aura yang Isabella rasakan, Aeron sendiri sudah memiliki kekuatan yang luar biasa.
"Kalau begitu kita pergi dari sini."
Isabella berbalik, namun Aeron langsung menghalangi jalannya.
"Tidak." Kata Aeron tegas, karena pergi bukanlah jalan keluar dari semua ini.
Isabella menatapnya serius.
"Kenapa?" Tanya isabella.
"Karena dia sudah di sini, tidak ada waktu untuk pergi." Kata Aeron.
Suasana hutan mendadak menjadi sangat sunyi,
Isabella juga semakin waspada. Lalu...
DUUM!
Tanah di kejauhan bergetar.
Satu langkah terdengar.
DUM!
Langkah kedua.
DUM!
Semakin dekat.
Isabella menyipitkan matanya, menatap di antara pepohonan, disana terlihat bayangan besar.
Kemudian muncul seekor makhluk yang membuat Isabella terdiam, seekor Naga. Ukurannya bahkan 3 kali jauh lebih besar daripada Aeron. Naga itu berwarna hitam, dengan sedikit corak berwarna merah. Sepasang tanduk hitam juga tumbuh dari kepalanya, sementara matanya berwarna biru terang seperti kristal.
Aeron langsung merendahkan tubuhnya.
Isabella menyadari sesuatu.
"Aeron..."
"Jangan bergerak, tetaplah disana." Perintah Aeron.
Naga itu berhenti beberapa meter dari mereka. Tatapannya langsung tertuju pada Isabella.
"Manusia." Kata Naga itu dengan tatapan menyeringai.
Isabella mengangkat pedangnya, bersiap jika naga di hadapannya ini akan menyerang.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Isabella, aura dingin mulai menyelimuti tubuh Isabella. Namun naga itu tetap diam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Isabella. Sebaliknya, dia justru menatap Aeron.
"Kau sudah membuat kontrak dengannya?" Tanya Naga itu dan Aeron mengangguk membenarkan.
"Ya, aku sudah membuat kontrak dengannya" Kata Aeron.
Naga itu lalu kembali melihat Isabella, mengamati wanita yang sudah berhasil menaklukkan salah satu hewan suci di hutan ini.
"Menarik." Kata Naga itu, seringai tipis muncul di wajahnya, tapi itu justru terlihat menyeramkan di mata Isabella. Naga itu terlihat seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"Apa yang menarik?" Tanya Isabella memicing.
Naga itu perlahan berjalan mendekati Isabella, namun Aeron segera berdiri di depan Isabella. Melindungi wanita yang sudah membuat kontrak dengannya itu.
"Jangan mendekatinya." Desis Aeron.
Naga itu lalu berhenti, dia menatap Aeron kemudian ia tertawa kecil.
"Tenanglah, Harimau Bersayap."
Aeron menggeram.
"Jika kau datang untuk menguji tuanku, aku tidak akan membiarkannya." Kata Aeron, tatapannya semakin tajam.
Isabella langsung menatap Aeron terkejut, Tuanku?
dia tidak menyukai panggilan itu walaupun mereka telah mengikat kontrak dan saat ini Aeron resmi menjadi hewan kontraknya.
Naga itu kemudian berkata,
"Aku tidak datang untuk bertarung dengannya ataupun denganmu."
"Kalau begitu untuk apa?" Tanya Aeron.
Naga itu menatap Isabella cukup lama.
"Aku ingin melihat manusia yang telah membuat salah satu hewan mistis terkuat di hutan ini bersedia menjadi hewan kontraknya." Kata Naga itu santai.
Isabella terdiam, menatap Naga itu dengan tatapan tidak percaya.
"Dan sekarang kau sudah melihatku." Kata Isabella.
"Ya." Kata Naga itu sambil tersenyum tipis.
"Tapi ternyata aku mendapatkan sebuah kejutan." sambung Naga itu.
"Apa?" Tanya Isabella, tetap waspada.
"Aura di dalam tubuhmu." Kata Naga itu.
Isabella membeku, apa maksud naga ini. Aura dalam tubuhnya, aura apa maksudnya, Isabella tidak mengerti.
Naga itu lalu melanjutkan,
"Ternyata jauh lebih besar daripada yang seharusnya dimiliki manusia lain." Lanjut naga itu.
Aeron juga menoleh kepada Isabella, sepertinya ia sendiri belum mengetahui hal tersebut.
Isabella mengepalkan tangannya.
"Aku tidak mengerti maksudmu." Kata Isabella.
Naga itu tidak menjawab, ebaliknya ia menatap ke langit.
"Sepertinya hutan ini akan menjadi lebih ramai."
Isabella mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud Naga di hadapannya ini.
"Apa maksudmu?" Tanya Isabella.
Sang Naga kembali menatapnya.
"Setelah kontrakmu dengan Aeron terbentuk, makhluk-makhluk di hutan mulai menyadari keberadaanmu dan mereka mulai penasaran." Kata Naga itu.
"Dan?"
Isabella menatap Naga itu serius.
"Mereka akan datang, sebentar lagi." Kata Naga itu.
Isabella terdiam.
"Apa mereka datang untuk menyerang ku?" Tanya Isabella.
"Sebagian mungkin."
Naga itu memejamkan matanya.
"Sebagian lainnya mungkin akan datang untuk menawarkan kontrak." Lanjut Naga itu.
Isabella menghela napas.
"Jadi aku akan terus didatangi oleh monster juga makhluk seperti kalian?" Tanya Isabella.
Aeron menjawab melalui telepati.
"Kemungkinan besar nona."
Isabella memijat pelipisnya.
"Bagus sekali, aku baru beberapa hari di tempat ini tapi sudah mendapatkan banyak kejutan. Pertama aku memiliki sihir dan kedua aku memiliki hewan kontrak dan sekarang aku menjadi incaran semua monster di hutan ini. Hebat sekali." Batin Isabella.
Dan tiba-tiba...
BOOOOM!
Ledakan terdengar tidak jauh dari tempat mereka,
Isabella dan Aeron langsung menoleh. Isabella langsung memasang wajah waspada, sepertinya hidupnya kali ini akan jauh lebih berwarna dibandingkan hidupnya dulu. Kini dia memiliki lebih banyak musuh di banding di kehidupannya sebelumnya dan semua musuhnya itu adalah monster bukan manusia.
"Mereka mendekat." Kata Aeron lalu dia mulai membuka sayapnya. Cahaya-cahaya keemasan mulai Mengelilingi tubuh Aeron.
"Bersiaplah, mereka semakin dekat." Kata Aeron
Isabella menatap Aeron.
"Aku tau!"
Suasana hutan itu semakin mencekam, dari balik pepohonan, terdengar suara ranting patah.
Krek!
Mata Isabella menyipit ketika merasakan kehadiran beberapa makhluk besar di sekitar mereka. Aeron yang berada di sampingnya juga langsung memasang posisi waspada. Mereka menatap ke arah pepohonan dan dari balik pepohonan itu muncul tiga monster.
Tubuh mereka sangat besar, hampir tiga kali ukuran tubuh manusia dewasa. Kulit mereka gelap dan keras seperti batu, sementara taring panjang terlihat dari mulut mereka. Mata merah mereka menatap Isabella dan Aeron dengan penuh kebencian.
Isabella menarik napas perlahan.
"Sepertinya tamu kita sudah datang Aeron, apakah kita harus menyambut mereka dengan ramah?" Tanya Isabella, sambil menatap monster itu satu persatu
Aeron menggeram, menatap monster-monster itu dengan tajam.
Isabella menggenggam senjatanya dengan erat.
"Mereka datang."
Bersambung