Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - SELIR JELITA KEMBALI
Sejak kejadian anak desa yang batuk itu, Paviliun Mawar ku tidak pernah sepi.
Setiap pagi, ada saja warga desa yang datang ke gerbang istana hanya untuk menitipkan telur ayam kampung, pisang, atau sekadar ingin melihat wajahku dari jauh. Mereka tidak berani masuk, tapi mereka bersimpuh di luar gerbang dan berteriak, "Terima kasih, Gusti Permaisuri Obat Dewa!"
Tabib Ageng yang jenggotnya putih itu, sekarang setiap sore datang ke paviliun ku dengan membawa buku catatan besar. "Gusti Permaisuri, bolehkah hamba mencatat lagi cara Gusti menghaluskan obat tablet itu? Dan sirup stroberi itu terbuat dari buah apa, Gusti? Di Kerajaan Langit tidak ada stroberi."
Aku hanya tertawa dan mengajarinya dengan bahasa yang sederhana. "Itu hanya madu dan buah, Tabib Ageng. Nanti kalau habis, kita bisa buat dari buah jambu dan jahe."
Hidup terasa santai dan manusiawi. Untuk pertama kalinya, aku merasa menjadi permaisuri itu bukan hanya duduk di singgasana, tapi berguna.
Sampai siang ini.
Siang ini, saat aku sedang duduk di teras sambil membantu Mbok memilah beras untuk dibagikan ke desa, dua orang pengawal membawa tandu mewah masuk ke halaman Paviliun Mawar ku.
Tandu itu berhenti. Tirai sutra merahnya terbuka.
Keluarlah seorang perempuan yang sangat cantik, dengan gaun merah menyala yang indah, sanggul yang tinggi dengan banyak tusuk giok, dan senyum manis yang aku kenal betul.
Selir Jelita.
Selir yang seharusnya masih berada di penjara bawah tanah karena menyuruh Dayu meracuniku dengan teh mawar dua minggu lalu. Selir yang seharusnya dihukum mati oleh Segara El-Bhumi.
Tapi hari ini dia bebas. Bahkan terlihat lebih cantik dan lebih segar daripada sebelumnya.
Di belakangnya, keluar seorang perempuan tua yang sangat anggun, memakai gaun ungu tua dengan hiasan emas. Wajahnya cantik meski sudah berumur, senyumnya lembut, tapi matanya... matanya tajam seperti elang yang siap menyambar mangsa.
Ibu Suri. Ibu kandung Kaisar Segara El-Bhumi. Perempuan paling berkuasa kedua di istana setelah Segara.
"Kahiyang, anakku," sapa Ibu Suri dengan suara yang sangat lembut dan keibuan. Suara yang membuat semua pelayan langsung bersimpuh karena hormat. "Ibu Suri dengar kau sakit kemarin karena kecapekan menolong anak desa itu. Ibu Suri khawatir sekali."
Aku langsung berdiri dan bersimpuh memberi hormat. Jantungku berdebar kencang. Kertas kecil dari buku masa depan itu masih ada di saku gaunku. Hari ke-22: Ibu Suri akan memanggilku minum teh. Teh itu beracun. Jangan minum.
Jadi ini harinya.
Selir Jelita juga ikut bersimpuh di depanku, dengan gerakan yang anggun. "Gusti Permaisuri, maafkan saya, Gusti. Saya sudah khilaf. Saya iri karena Gusti bisa membuat semua orang di istana tersenyum, sementara saya tidak pernah bisa. Ibu Suri sudah memaafkan saya dan membebaskan saya dari penjara. Saya mohon Gusti juga memaafkan saya."
Air matanya menetes. Tangisnya terlihat sangat tulus. Suaranya gemetar.
Jika aku adalah Kahiyang yang asli yang baru terdampar kemarin, mungkin aku akan langsung memeluknya dan memaafkannya.
Tapi aku adalah Kahiyang dari abad 21 yang sudah melihat buku masa depan. Dan aku melihat sesuatu yang lain.
Saat Selir Jelita bersimpuh dan tangannya memegang ujung gaun biru langit ku untuk meminta maaf, aku melihat kukunya. Kuku jari tengahnya yang panjang dan dicat merah, ada sisa bubuk putih yang sedikit menggumpal di bawahnya. Bubuk yang sangat halus, hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dari dekat.
Bubuk itu mirip sekali dengan serbuk kecubung hitam yang dulu ada di teh mawarku.
Aku menarik gaun ku pelan-pelan dari genggamannya.
Di kepalaku, Sistem yang sudah lama tidak berbunyi dengan peringatan, berbunyi pelan.
[DETEKSI RACUN LEVEL 1: SISA SERBUK GATAL BUNGA KECUBUNG PUTIH DI KUKU TARGET SELIR JELITA. JIKA TERKENA KULIT AKAN MENIMBULKAN BENTOL MERAH DAN GATAL SELAMA 3 HARI. TARGET RENCANA: DITABURKAN KE DALAM TEH ATAU MAKANAN HOST SAAT PESTA PANEN NANTI]
Licik. Sangat licik.
Dia tidak ingin membunuhku lagi dengan racun mematikan, karena dia tahu Segara akan marah besar. Kali ini dia hanya ingin membuatku gatal dan bentol merah di seluruh wajah saat pesta panen besok, agar aku terlihat jelek dan dipermalukan di depan seluruh bangsawan. Rencana yang sangat perempuan dan sangat kejam.
Ibu Suri tersenyum melihatku diam. "Kahiyang, Ibu Suri sudah menyiapkan teh melati khusus untukmu di Paviliun Melati sebagai tanda perdamaian. Mari kita minum teh bersama bertiga. Anggap saja kejadian kemarin tidak pernah ada. Kita semua perempuan istana harus rukun, kan?"
Teh. Akhirnya kata itu keluar. Teh perdamaian di Paviliun Melati.
Sesuai ramalan buku putih itu.
Aku menatap Ibu Suri. Wajahnya tersenyum lembut, tapi matanya menatapku dengan tatapan dingin yang menilai. Dia ingin melihat apakah aku akan menolak dan dianggap tidak sopan pada Ibu Suri, atau aku akan menerima dan meminum teh beracunnya.
Aku tersenyum. Senyum paling santai dan paling manusiawi yang bisa aku buat.
"Tentu saja, Ibu Suri. Saya senang sekali Ibu Suri mau mengajak saya minum teh bersama. Saya sudah lama ingin belajar cara membuat teh melati yang harum seperti buatan Ibu Suri," jawabku dengan suara tulus.
Ibu Suri dan Selir Jelita saling bertatapan sekilas, dengan senyum kemenangan yang hampir tidak terlihat.
"Mbok, siapkan payung. Kita ke Paviliun Melati. Ibu Suri sudah menunggu," kataku pada Mbok yang berdiri di belakangku dengan wajah khawatir.
Mbok berbisik pelan padaku saat kami berjalan di belakang Ibu Suri dan Selir Jelita menuju Paviliun Melati, "Gusti, hati-hati, Gusti. Teh Ibu Suri itu..."
Aku mengangguk pelan dan meremas tangan Mbok. "Tenang, Mbok. Saya sudah tahu."
Di Paviliun Melati yang harum bunga melati itu, sudah disiapkan tiga cangkir teh melati yang masih mengepul panas di atas meja kayu cendana yang indah.
Aroma melatinya sangat harum, menenangkan. Tapi aku tahu, di salah satu cangkir itu, mungkin di cangkir yang akan diberikan padaku, ada racun.
Ibu Suri duduk dengan anggun dan mengambil satu cangkir untuknya. Selir Jelita mengambil satu cangkir untuknya. Dan cangkir terakhir yang ada di tengah, didorong pelan oleh Ibu Suri ke arahku.
"Minumlah, Kahiyang. Ini teh melati pilihan yang dipetik langsung pagi ini. Sangat bagus untuk kulit," kata Ibu Suri dengan senyum keibuannya.
Aku menatap cangkir itu. Asapnya mengepul. Warnanya jernih kekuningan, terlihat normal. Tidak ada bubuk putih yang terlihat.
Tapi aku tidak akan meminumnya. Sesuai ramalan buku putih itu, aku tidak akan meminumnya.
Aku mengambil cangkir itu dengan kedua tangan. Tanganku sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena aku harus berakting.
"Terima kasih, Ibu Suri. Tehnya harum sekali," kataku.
Aku mengangkat cangkir itu mendekati bibirku. Ibu Suri dan Selir Jelita menatapku tanpa berkedip, dengan napas tertahan.
Saat bibirku hampir menyentuh bibir cangkir, aku dengan sengaja membuat tanganku terpeleset.
"Ah!"
Cangkir teh itu jatuh dari tanganku dan pecah berantakan di lantai marmer Paviliun Melati. Teh melati yang panas itu tumpah ke lantai, membasahi gaunku sedikit.
"Maaf! Maaf, Ibu Suri! Tangan saya licin! Maaf, saya tidak sengaja!" kataku panik dengan akting terbaikku, pura-pura ingin membersihkan pecahan cangkir itu dengan tisu.
Ibu Suri dan Selir Jelita terkejut. Rencana mereka gagal.
"Oh, tidak apa-apa, Kahiyang. Tidak apa-apa. Kau tidak terluka kan? Biar pelayan yang membersihkan," kata Ibu Suri dengan suara masih lembut, tapi aku bisa melihat rahangnya mengeras menahan kesal.
Selir Jelita juga pura-pura khawatir, "Gusti Permaisuri tidak apa-apa? Tehnya panas, Gusti."
Aku menggeleng sambil menangis kecil, "Maaf, Ibu Suri. Saya ceroboh sekali. Padahal Ibu Suri sudah susah payah membuatkan teh untuk saya."
Di dalam hatiku, aku tertawa kecil. Maaf, Ibu Suri. Tangan Adiningrat memang agak ceroboh kalau sedang memegang teh beracun.
Sistem di kepalaku berbunyi dengan riang.
[MISI HARI KE-22: MENGHINDARI TEH BERACUN IBU SURI - BERHASIL! HADIAH: BUKU RESEP MASKER WAJAH ANTI GATAL DARI LIDAH BUAYA]
Sore itu, aku pulang ke Paviliun Mawar dengan gaun yang sedikit basah karena teh melati. Tapi aku selamat.
Alurnya memang santai, hanya minum teh yang gagal. Tapi rasanya ngena sekali, karena untuk pertama kalinya aku berhasil melawan Ibu Suri, perempuan paling berkuasa kedua di istana, tanpa pedang, tanpa teriakan, hanya dengan satu cangkir teh yang sengaja aku jatuhkan.
Bersambung...