Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bergelut dengan asap
malam setelah pulang dari cafe. Olivia merebahkan dirinya yang sangat lelah itu.
membuka ponselnya, beberapa pesan masuk dari dayat. sudah terlalu malam untuk membalas pesan itu.
Olivia membersihkan dirinya dan bersiap untuk tidur. Tiba-tiba asap tebal masuk dari sela-sela pintu kamarnya. asap putih tebal, berdiri utuh di depan Olivia. Olivia sangat ketakutan. Olivia menutup tubuhnya dengan selimut tebalnya.
"stop... " Olivia takut dengan penampakan itu.
Asap tebal itu tiba-tiba menyelimuti tubuh Olivia, Olivia berteriak sekuat yang dia bisa tapi suaranya tak keluar.
Asap itu semakin menyelimuti Olivia. Olivia merasakan asap itu seperti memiliki tangan, layaknya manusia.
"apakah kamu ammar" ucap Olivia
"ya... " suara asap itu besar seperti suara robot.
Seketika itu Olivia teringat jika dia milik jin itu. tubuh Olivia di selimuti asap, Olivia merasakan ciuman dari asap itu. Olivia merasakan setiap belaian lembut asap itu. yang awalnya dia takut kini Olivia mulai mengikuti permainan asap putih itu.
yang Olivia rasakan saat itu adalah sebuah kenikmatan, belain dari seorang laki-laki yang lebih perkasa dari dimas. Olivia mengakui jika kali ini dia merasa sangat puas dengan mahluk tak berwujud itu.
"bagaimana jika aku ingin memanggilmu" ucap Olivia.
"sebut namaku 3 kali sertai hentakan kaki"
"mulai sekarang aku tidak akan memenuhi permintaanmu lagi untuk mencari tumbal nyawa bros itu"
Asa putih itu menjawab ucapan Olivia dengan dengusan nada berat bak robot.
Tak lama kemudian asap putih itu menghilang pergi dengan cepat.
Olivia meraba tubuhnya, bajunya masih utuh tidak terbuka sedikitpun. tapi dia merasakan kenikmatan yang sangat jauh lebih nikmat bersama dengan dimas.
Olivia meringkuk di atas tempat tidur, apa yang terjadi dengan hidupnya. tidak pernah terbersit didalam pikirannya akan menjadi seperti ini.
Cukup dia yang mengorbankan diri untuk mahluk tak berbentuk itu, bukan nyawa orang lain sebagai korban.
****
Keesokan harinya.
"sayang kamu dimana?" dimas menghubungi Olivia.
"dirumah mas"
"istirahat aku mampir ketempatmu ya"
"oke mas"
Olivia menutup panggilan dari dimas.
Tak berapa lama kemudian ponsel Olivia berbunyi.
"Olivia..."
"iya mbk"
"ada job besar untuk kamu. sabtu depan kamu ada job ke Bali"
"bali mbk?" Olivia tak percaya kini dia bisa pergi ke tempat yang dia inginkan.
"iya bali. wah... gede lho bayarannya vi"
"serius mbk?" ucap Olivia girang.
"mungkin aku ndak bisa dampingi kamu disana, kamu berangkat sendiri berani kan?"
"berani mbk.."
"ya sudah... aku urus semua tiket-tiketnya. kamu tau beres. oke"
"oke mbk" ucap widuri senang.
siska yang tak sengaja melihat Olivia senyum senyum sendiri.
"kamu kenapa vi?" tanya Siska
"sabtu depan aku ke Bali sis"
"wah enak tuh vi... dapat job disana?"
"iya.. aku senang Siska... " Olivia melompat kegirangan.
"sama siapa? dimas?"
"nah itu aku ndak tau sis. ndak mungkin juga mas dimas bisa kan"
"aku yakin dimas pasti ndak ngijinin kamu berangkat sendirian vi"
"aku sudah besar sis"
"siapa yang bilang kamu masih kecil"
*****
malam hari di cafe senja.
Olivia menunggu di belakang stage, sambil menunggu dimas datang.
"vi... sabtu ada acara?" ucap ujang datang membawa segelas air.
"ada mas. kenapa?"
"aku kira kamu ndak ada acara vi. mau aku ajak keluar"
"maaf ya mas"
Olivia melihat dimas datang bersama dinda. setelah melihat dimas masuk kedalam ruangannya. Olivia menyusul masuk kedalam ruang kerja dimas. tak lupa Olivia mengetuk pintu.
"masuk" sambut dimas dari dalam.
Olivia membuka handle pintu ruangan dimas.
"selamat malam ma... selamat malam mbak" ucap Olivia sopan.
"malam Olivia... ada apa?" dimas bersikap seolah-olah tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka.
"sabtu depan aku ke Bali mas"
"kebali? ngapain?"
"ada job dari mbak widuri"
"duduk via... " dinda mempersilahkan Olivia untuk duduk di kursi tamu ruang kerja dimas.
"terimakasih mbk... oh ya selamat ya mbk. semoga acara pernikahannya lancar"
"terimakasih Olivia... aku harap kamu yang mengisi di pesta pernikahanku"
"semoga jadwalku kosong mbk, dengan senang hati aku siap untuk mengisi di pesta pernikahan mbk dinda dan mas dimas" Olivia berbicara sangat lantang. tapi di dalam hatinya sangat panas.
"aku hubungi mbak widuri ya vi" ucap dimas
"silahkan mas"
dimas menghubungi widuri.
"hallo mbk"
"iya mas.. ada apa?"
"apa benar sabtu Olivia ada job di bali?"
"iya betul mas dimas. apa Olivia baru bicara?"
"iya mbk. saya hanya mengkonfirmasi saja. terimakasih mbk widuri"
"Sama-sama mas dimas"
setelah percakapan dengan widuri selesai.
"sayang... aku ndak bisa lama-lama disini" ucap dinda. "malam ini aku ada janji dengan temanku untuk mencari baju untuk Braismad kita.
"oke... Hati-hati dijalan"
"Hati-hati di jalan mbk" ucap Olivia kepada dinda yang pergi meninggalkan ruang kerja dimas.
"sayang... kenapa kamu baru bilang?" dimas menutup pintu ruang kerjanya.
"maaf aku tadi lupa mau bilang ke kamu mas"
"aku ikut denganmu"
"tapi sayang... bagaimana dengan dinda?"
"dinda urusanku sayang. tidak akan aku biarkan kamu berangkat sendirian" ucap dimas membelai wajah kekasihnya itu. dimas mendekatkan wajahnya ke Olivia, ingin mencium perempuan kesayangannya itu.
Tiba-tiba pintu ruang kerja dimas di ketuk.
"siapa? masuk! "
dengan cepat dimas duduk di kursi kerjanya.
"selamat malam dimas" Laki-laki muncul dari balik pintu.
"dayat... " dimas menyambut kedatangan dayat. "ayo masuk"
dayat masuk kedalam ruang kerja dimas.
"Olivia... " sapa dayat melihat Olivia duduk disana
"selamat malam Mas dayat" Olivia mejabat tangan dayat.
"lho... kalian sudah saling kenal?" ucap dimas
"sudah mas... mas aku pamit ya. mari mas dayat" Olivia pergi meninggalkan dimas dan dayat di ruang kerja dimas.
"ada angin apa kamu mampir ketempatku ini day?"
"kebetulan pas lewat aja mas. oh ya, Olivia sudah punya pacar belum mas?" ucap dayat.
"ah kamu ini masih nanyakan perempuan... istrimu itu nunggu di rumah"
"aku sudah jadi duda mas"
"oh ya? kenapa dengan istrimu day? cerai?"
"meninggal mas. waktu melahirkan anakku 3 bulan kemarin"
"maaf ya day. aku ndak tau"
"santai aja brow... Olivia sudah punya pacar apa belum?"
"kayaknya sudah"
"wah... telat donk aku ya."
"dari pada duduk di sini garing, yuk keluar.. kita ngopi sambil lihat Olivia perfom" ajak dimas. dengan senang hati dayat menyambut ajakan dimas.
sambil duduk depan panggung, dimas menjamu tamunya itu dengan hidangan spesial di cafe senja.
"ndak salah kamu milih bintang mas"
"masih bagus kan pilihanku"
"sip lah... oh ya. kamu sudah menikah?"
"rencananya bulan depan day"
"wah selamat mas... undang aku ya"
"pasti itu"
dimas dan dayat mengobrol sambil menikmati suara indah Olivia.