NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:983
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Kucing Tangkap Tikus

Di kedalaman salah satu ruang kendali paling rahasia yang tersembunyi di bawah lapisan beton bertulang di pulau privat kawasan Samudra Hindia, keheningan terasa begitu pekat. Hanya ada dengung halus dari ribuan unit pemrosesan server kuantum dan kilatan cahaya biru dari puluhan layar hologram raksasa yang mengapung di udara.

Di tengah ruangan dingin itu, Juwita duduk di atas kursi tinggi berbalut kulit hitam.

Tiga tahun bukan sekadar waktu yang berlalu; tiga tahun adalah tempaan api neraka yang mengubah seorang gadis dari bantaran rel kereta api menjadi entitas paling menakutkan di muka bumi. Kini, di dunia bawah tanah siber internasional, tidak ada yang mengenalnya sebagai "Juwita". Ia dikenal dengan nama sandi yang membuat para petinggi badan intelijen dunia merinding jika mendengarnya: The Sovereign.

Kuasanya telah melampaui batasan hukum negara mana pun. Lewat jaringan konsorsium siber independen yang ia bangun bernama Erebus, Juwita mengendalikan alur informasi global. Ia memegang kunci enkripsi infrastruktur perbankan internasional, memiliki akses tak terbatas ke satelit militer super-negara, dan mampu melumpuhkan sistem pertahanan sebuah bangsa hanya dengan satu ketukan jarinya. Seorang kepala negara sekalipun harus berpikir puluhan kali sebelum mengusik wilayahnya, sebab di dalam genggaman Juwita, rahasia-rahasia tergelap para penguasa dunia tersimpan rapi sebagai jaminan kekuasaan absolutnya.

Namun, di tengah kemegahan takhta pualam dan dominasi tanpa batas itu, jantung Juwita terasa hampa.

Di atas salah satu layar hologram utamanya, tertera pantauan langsung real-time 24 jam dari dalam kamar penjara ibunya, Dara Puspita. Juwita menatap lekat-lekat sosok wanita tua yang kini terbaring lemah di atas kasur tipis. Wajah ibunya semakin tirus, rambutnya kian memutih, dan napasnya terdengar begitu parau di balik masker oksigen yang dipasang oleh tim medis khusus—tim medis terselubung yang diam-diam ditempatkan Juwita di dalam penjara untuk memastikan sang ibu tetap bertahan hidup tanpa menyadari keberadaan putrinya.

Juwita menyentuh layar hologram itu. Jarinya mengelus bayangan wajah ibunya di udara. Tetesan air mata yang sangat dingin—air mata pertama yang mengalir dalam dua tahun terakhir—menetes pelan membasahi pipinya yang mulus.

"Ibu..." bisik Juwita dengan suara yang bergetar penuh kerinduan dan kepedihan yang teramat sangat. "Maafkan Juwita belum membawamu keluar dari sana... Tolong bertahanlah sedikit lagi, Ibu... Sedikit lagi..."

Mengapa Juwita belum menggunakan kekuasaan absolutnya untuk langsung meruntuhkan penjara itu, membebaskan ibunya, dan menghancurkan Riko serta Kevin Aditama dalam semalam?

Karena kematian atau kehancuran instan terlalu manis dan terlalu murah bagi Riko Aditama.

Bagi Juwita, memberi mereka kejatuhan yang cepat adalah sebuah pengampunan. Riko dan Kevin telah mencuri masa mudanya, merampas kebahagiaan ibunya, dan menyiksa jiwa mereka selama puluhan tahun. Maka, keadilan yang dirancang Juwita bukanlah eksekusi yang cepat, melainkan permainan psikologis yang lambat, menyiksa, dan menggerogoti setiap senti kewarasan keluarga Aditama sedikit demi sedikit—seperti racun berdosis rendah yang diminumkan setiap hari.

"Nona Sovereign," sebuah suara mantap memecah keheningan ruangan.

Baskoro Pratama, pria tua berwibawa yang kini menjadi orang kepercayaan terdekat sekaligus pelindung setia Juwita, melangkah mendekat sambil membawa sebuah dokumen digital. Pria yang dulu membantunya kini menunduk penuh hormat di hadapan gadis yang telah melampaui kekuasaan siapa pun.

"Laporan dari Jakarta," ujar Baskoro pelan. "Pasca peretasan di acara penobatan malam itu, saham Aditama Group sempat anjlok 18 persen. Riko Aditama sedang panik luar biasa. Dia menyewa tiga firma keamanan siber terbaik dari Silicon Valley dan Tel Aviv untuk melacak keberadaan Anda."

Juwita perlahan mengusap air matanya, membalikkan kursi mewahnya. Wajahnya yang semula dipenuhi kelembutan seorang anak seketika berubah menjadi topeng es yang tak tersentuh.

Sebuah senyuman tipis—senyuman anggun namun mematikan—terukir di bibirnya.

"Firma dari Tel Aviv dan Silicon Valley?" Juwita terkekeh pelan, tawa dingin yang menggeletarkan udara di ruangan itu. "Biarkan mereka bermain-main dengan umpan buatan yang kupasang, Paman Baskoro. Biarkan Riko menghabiskan ratusan miliar uang haramnya hanya untuk mengejar bayangan di dalam gelap."

Juwita mengibaskan tangannya, dan layar hologram di hadapannya berganti menampilkan peta arsitektur dinasti bisnis Aditama Group—sebuah pohon kekuasaan raksasa yang terdiri dari belasan anak perusahaan, aset properti, saham tersembunyi, dan sekutu-sekutu politiknya.

"Apakah kita akan memulai eksekusi tahap pertama untuk membekukan seluruh rekening utamanya malam ini, Nona?" tanya Baskoro.

"Tidak," jawab Juwita tegas, matanya berkilat penuh obsesi dendam yang telah matang. "Jika kita memblokir uangnya malam ini, Riko akan langsung melarikan diri atau mencari perlindungan suaka. Itu terlalu mudah baginya."

Juwita berdiri dari duduknya, melangkah mendekati layar hologram besar yang menampilkan sosok Riko Aditama yang tengah meradang di ruang kerjanya melalui kamera tersembunyi yang diretas Juwita.

"Aku ingin Riko dan Kevin merasakan apa yang dirasakan Ibuku selama bertahun-tahun," bisik Juwita dengan nada suara yang sangat tenang namun mengandung bobot kejam yang luar biasa. "Aku ingin mereka bangun setiap pagi dengan rasa cemas yang merayap di dada. Aku ingin mereka merasa bahwa setiap keputusan bisnis yang mereka ambil adalah kemenangan, padahal itu hanyalah jebakan yang kubangun untuk menjerat leher mereka sendiri."

Juwita menunjuk salah satu anak perusahaan Aditama Group di layar: sebuah proyek investasi pelabuhan baru yang menjadi tumpuan harapan keluarga Aditama untuk menutup kerugian mereka.

"Beri mereka kemenangan kecil besok pagi," perintah Juwita dengan jari jemarinya yang menari di udara, memindahkan baris-baris kode tak kasat mata. "Biarkan bank internasional menyetujui pinjaman triliunan rupiah untuk proyek pelabuhan itu. Biarkan Kevin merasa dirinya kembali menjadi pangeran bisnis yang jenius. Biarkan Riko tertawa dan mengira bahwa gertakanku di layar malam itu hanyalah ancaman gertak sambal dari musuh yang penakut."

Baskoro mengerutkan keningnya sejenak, namun kemudian mengerti kecerdasan di balik rencana kejam tersebut. "Dan setelah mereka menanamkan seluruh sisa kekayaan serta nama baik mereka ke dalam proyek itu...?"

"Setelah mereka menyetorkan seluruh harta, harga diri, dan jaminan keluarga mereka ke dalam proyek tersebut..." Juwita menatap layar dengan mata yang menyipit dingin, "...aku akan menarik satu benang kecil dari dasarnya. Aku akan membiarkan mereka melihat perusahaan itu hancur secara perlahan, hari demi hari, minggu demi minggu. Aku ingin melihat Riko memohon pada sekutu-sekutunya yang satu per satu akan mengkhianatinya karena kuberikan penawaran yang lebih tinggi."

Juwita melangkah ke dekat jendela kaca tebal yang menampilkan pemandangan samudra luas di bawah kegelapan malam. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat.

"Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh dunia," lanjut Juwita, suaranya dipenuhi oleh beban emosional yang menyayat hati. "Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya berteriak memohon keadilan di tengah ruangan yang dingin, namun tidak ada satu pun orang yang mendengarkan—persis seperti yang dialami Ibuku di dalam sel penjara dan di ruang sidang terkutuk itu."

Baskoro menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Perintah dilaksanakan, Nona Sovereign. Tahap pertama dari permainan ini telah dimulai."

Setelah Baskoro melangkah keluar dari ruangan kendali, Juwita kembali sendirian. Ia berjalan mendekati layar monitor yang menampilkan wajah ibunya yang sedang tertidur lelap di balik jeruji besi.

Juwita berlutut di lantai dingin, menempelkan dahinya ke layar kaca hologram yang menampilkan gambaran ibunya. Air matanya kembali tumpah dalam keheningan yang pekat. Di balik jubah kekuasaan absolutnya sebagai penguasa dunia siber yang ditakuti para raja dan presiden, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tetaplah Juwita—seorang anak gadis dari bantaran rel kereta api yang merindukan pelukan hangat ibunya.

"Sabar ya, Bu..." bisik Juwita lirih di tengah kepedihan yang membakar jiwanya. "Juwita sedang merajut mahkota penderitaan untuk mereka. Saat seluruh dinasti mereka telah menjadi abu di bawah kaki kita... Juwita sendiri yang akan menjemput Ibu keluar dan membalaskan setiap tetes air mata yang pernah Ibu jatuhkan."

Malam itu, di puncak kekuasaannya yang tak tertandingi, sang Ratu Hitam telah menetapkan aturan permainan. Keluarga Aditama mungkin merasa mereka masih aman di atas singgasana emas mereka, namun mereka tidak menyadari bahwa setiap napas yang mereka hirup kini adalah atas izin dari gadis yang dulu pernah mereka buang ke dalam lumpur. Permainan kucing tangkap tikus paling berdarah dalam sejarah baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!