NovelToon NovelToon
Tangis Digerbang Pesantren

Tangis Digerbang Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit yang tak biasa

Suasana UKS yang remang seketika berubah mencekam.

Di atas ranjang, tubuh Aira bergetar hebat. Peluh dingin membasahi pelipis dan kerudungnya. Kelopak matanya tertutup rapat, namun bibirnya terus bergerak gementar, memuntahkan kata-kata yang membuat bulu kuduk berdiri.

“N-Nazwa… itu…” tunjuk Aira dengan jari yang gemetar ke arah sudut ruangan dekat lemari kayu. “Di sana… ada orang yang berdiri aja…”

Nazwa, yang duduk tepat di sisi ranjang, refleks menoleh mengikuti arah tunjukan jari Aira. Pandangannya menyisir sudut remang itu. Kosong. Hanya ada bayangan tiang infus dan lemari tua yang berdiri membisu. Tidak ada siapa-siapa di sana.

Rasa dingin yang menusuk perlahan menjalar dari telapak kaki Nazwa hingga ke tengkuknya.

“Ukhti… Ustadzah!” jerit Nazwa, suaranya pecah terbalut histeris. “Aira, Ukhti! Kata Aira di sana ada orang… dia bilang itu orang yang tadi datang ke asramanya!”

Ustadzah piket yang sedang merapikan berkas di meja langsung merinding. Beliau bergegas mendekati ranjang, mengernyit bingung bercampur cemas. Di ruang UKS yang tertutup ini, mana mungkin ada orang asing yang masuk tanpa terlihat?

Tanpa buang waktu, Ustadzah merengkuh jemari Aira yang dingin bagai es. Beliau membungkuk, mendekatkan telinganya tepat di atas bibir Aira yang masih terus mengigau tanpa henti, membocorkan kerisauan dari alam bawah sadarnya.

“Dia… cuma berdiri… ngelihatin terus…” bisik Aira lirih, tajam, dan penuh ketakutan.

Ustadzah menarik napas panjang. Pengalamannya bertahun-tahun di pesantren membisikkan satu hal: ini bukan sekadar demam biasa yang butuh obat medis. Ada getaran gelisah yang jauh lebih dalam.

Beliau menegakkan badan, menatap Ukhti Maya dan Ukhti Inggit yang berdiri tegang di dekat pintu.

“Maya, Inggit! Cepat panggil Ustadz Furqon, Kepala Asrama kita!” perintah Ustadzah dengan suara tegas namun tetap berusaha menahan panik. “Cepat!”

Ukhti Inggit dan Ukhti Maya mengangguk sigap, lalu berbalik dan setengah berlari melintasi lorong asrama yang mulai gelap.

Tak butuh waktu lama, derap langkah teratur terdengar mendekat. Pintu UKS terbuka perlahan. Sosok Ustadz Furqon melangkah masuk. Wajah beliau tenang, membawa keteguhan yang seketika menyerap separuh kepanikan di dalam ruangan.

Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, pandangan mata Ustadz Furqon langsung tertuju pada Aira yang masih merintih. Beliau mengerti.

Tanpa diminta, Ustadz Furqon melangkah mantap mendekati sisi ranjang. Beliau menarik napas dalam, merapatkan kedua telapak tangannya, lalu mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Suara beliau yang berat dan bergema memenuhi setiap sudut ruangan, mengalirkan getaran dingin yang menenangkan.

Lantunan surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas mengalun lembut namun bertenaga, membentengi ruangan itu dari rasa takut yang tak kasat mata. Hingga akhirnya, Ustadz Furqon menutupnya dengan lantunan Ayat Kursi yang diresapi penuh kekhusyukan.

“Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūm…”

Setiap bait ayat suci itu berhembus bagaikan penawar. Gerakan gelisah Aira perlahan menyurut. Jari-jemarinya yang tadi mencengkeram sprei mulai melonggar, dan napasnya yang memburu berangsur-angsur menjadi teratur dan halus. Rasa tegang yang mencekat leher Nazwa dan para Ukhti pun perlahan meluruh, berganti menjadi hening yang pasrah dan penuh ketenangan.

Setelah lantunan Ayat Kursi selesai dan napas Aira benar-benar kembali tenang, ketegangan di dalam UKS meluruh perlahan, menyisakan keheningan yang syahdu. Ustadz Furqon menghembuskan napas pelan, lalu membalikkan badan menatap Ustadzah piket, Ukhti Maya, Ukhti Inggit, dan Nazwa yang masih berdiri terpaku.

Pandangan mata beliau teduh, namun menyimpan ketegasan penuh wibawa seorang pengasuh.

"Apa yang sebenarnya terjadi sejak awal?" tanya Ustadz Furqon pelan, suaranya mengalun rendah tapi sarat penekanan.

Ustadzah piket melangkah maju setengah tindak, mengatupkan kedua tangannya di dada. "maaf, Ustadz. Santri ini demam tinggi tadi malam,paginya sudah sehat dan menjelang siang tadi,demam nya naik lagi. Kata teman-temannya, dia sempat mengigau dan ketakutan karena merasa melihat seseorang di kamarnya."

Ustadz Furqon mengangguk-angguk pelan, menyimak setiap detail. Pandangannya berganti menatap Nazwa yang berdiri menunduk di samping ranjang, jemarinya masih menyelimuti tangan Aira yang perlahan mulai hangat.

"Lain kali..." Ustadz Furqon menarik napas dalam, memberikan nasihat dengan intonasi yang begitu dalam dan menyentuh dada, "jangan pernah tinggalkan santri baru sendirian di kamar. Apalagi kalau kondisinya sedang demam atau sakit."

Seketika ruangan itu makin hening. Nazwa menelan ludah, dadanya terenyuh mendengar ucapan beliau yang sarat akan rasa tanggung jawab.

"Santri baru itu mental dan fisiknya masih rentan," lanjut Ustadz Furqon lembut, menatap mereka satu per satu. "Masa penyesuaian dari rumah ke pesantren bukan hal yang mudah untuk semua anak. Ketika tubuhnya lelah dan pikirannya rindu rumah, benteng pertahanan dirinya melemah. Di sanalah rasa takut dan prasangka gampang sekali masuk membayangi."

Beliau mengalihkan tatapannya kembali pada Aira yang kini tertidur lelap dengan riak wajah yang jauh lebih damai.

"Tugas kita semua di sini adalah menjadi benteng bagi mereka. Berikan rasa aman, temani, dan pastikan hatinya selalu merasa punya sandaran di pesantren ini."

Kata-kata itu meresap bagai embun pagi di hati Nazwa dan para pengurus. Bukan teguran yang memojokkan, melainkan pengingat hangat akan pentingnya merawat persaudaraan dan rasa kepedulian di antara sesama penuntut ilmu.

---

Setiap sudut UKS yang tadinya terhimpit ketegangan kini perlahan melunak. Suara detik jam dinding—yang beberapa saat lalu terdengar bagai detak jantung penuh kecemasan—kini berdetak halus, menyatu dengan keheningan yang teduh.

Sisa rasa hangat dari bacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an Ustadz Furqon seolah masih mengendap di udara. Bau minyak kayu putih yang tajam kini tak lagi menusuk; berganti menjadi aroma herbal yang membalut ruangan dengan kepasrahan dan kedamaian.

Aira berbaring telentang di atas ranjang bertutup sprei putih yang bersih. Dahinya, yang tadi berpeluh dingin akibat rasa takut yang mencengkeram, kini diusap pelan oleh kain kompresan hangat. Ia bernapas teratur. Matanya yang berat tidak lagi menatap sudut-sudut gelap ruangan dengan tatapan liar, melainkan menatap langit-langit UKS dengan sisa-sisa kelelahan yang perlahan luruh.

Di sampingnya, Nazwa masih duduk di kursi kayu. Tangannya yang menggegam jemari Aira perlahan melemas, tidak lagi menahan kejang takut dari sahabat barunya. Nazwa menghela napas panjang—sebuah napas lega yang meruntuhkan beban berat di pundaknya.

"Ra..." bisik Nazwa pelan sekali. Matanya yang sempat berkaca-kaca kini memancarkan ketulusan yang murni. "Gimana rasanya? Masih sesak?"

Aira menoleh perlahan. Gerakan kepalanya masih terasa sedikit berat, namun sorot matanya sudah kembali jernih. Ada kejujuran yang lugu di mata santri baru itu.

"Nggak, Naz..." jawab Aira, suaranya parau namun stabil. "Tadi... waktu Ustadz Furqon baca ayat tadi, rasanya kayak ada angin dingin yang nyapu dadaku. Ketakutan yang tadi ganjal di sini..." Aira menyentuh dadanya pelan, "...tiba-tiba menguap gitu aja."

Nazwa tersenyum, lalu menyunggingkan kekehan kecil untuk mengurai sisa ketegangan di antara mereka. "Alhamdulillah... Aku tadi udah takut banget, Ra. Tangan kamu dingin kayak es, terus kamu meracau. Tapi pas Ustadz bilang 'Insya Allah aman', rasanya semua orang di ruangan ini ikut bernapas lagi."

Ukhti Maya yang berdiri dekat meja obat melangkah mendekat. Raut wajahnya yang tadi tegang kini kembali melunak menjadi sesosok kakak yang penuh kehangatan. Ia membawa baskom kecil dan mengganti kain kompres di dahi Aira dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah Aira adalah kaca yang mudah retak.

"Di pesantren ini, Aira..." ucap Ukhti Maya lembut, suaranya menghangatkan suasana, "...kita nggak pernah diajarin untuk takut sama bayangan atau rasa asing. Kalau hati kita kosong, ketakutan memang gampang masuk. Tapi kalau diisi sama zikir, sama rasa yakin kalau Allah menjaga kita, tempat seasing apa pun bakal terasa seperti rumah."

Aira mendengarkan setiap kalimat itu dengan seksama. Kata-kata Ukhti Maya tidak terdengar seperti ceramah yang kaku, melainkan seperti usapan lembut di kepalanya saat ia sedang bersedih di rumah.

Ukhti Inggit, yang sejak tadi berdiri berjaga di dekat pintu, melangkah mendekat lalu menyenderkan tubuhnya di ujung ranjang Aira. Wajahnya yang tegas kini dihiasi senyum tipis.

"Lagipula," goda Ukhti Inggit sambil melirik Nazwa, "kamu dapat teman sekamar yang nggak bakal membiarkan kamu sendirian. Tadi waktu kamu mengigau, Nazwa yang paling panik sampai mukanya pucat melebihi kamu."

"Ih, Ukhti Inggit!" potong Nazwa cepat, pipinya merona merah. "Ya paniklah, kan Aira teman saya!"

Ruangan UKS yang sempat terasa mencekam itu mendadak dihangatkan oleh tawa kecil mereka. Aira ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di kompleks pesantren ini, rasa terasing yang menekan dadanya meluruh sepenuhnya.

Rasa takut akan "sosok" itu mungkin belum benar-benar terjawab dengan logika. Namun di tengah dekapan doa, perhatian tulus dari pengurus, dan kehadiran teman seperjuangan yang tidak meninggalkannya, Aira sadar: ia tidak sedang berjuang sendirian.

Di luar jendela UKS, bayang-bayang sore makin memanjang. Angin bertiup membawa aroma tanah basah dan lantunan selawat yang mulai terdengar dari pengeras suara musala. Di dalam ruangan itu, kehangatan sebuah keluarga baru telah resmi terbentuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!