"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Percikan api beterbangan setiap kali obor itu diayunkan, beberapa di antaranya jatuh ke tumpukan kain bekas di sudut gudang, memicu kobaran kecil yang mulai menyebar perlahan di lantai.
[Kondisi Kritis Terdeteksi]
[Peringatan: Risiko Luka Bakar Tingkat Tinggi]
[Disarankan: Hindari Kontak Langsung dengan Sumber Api]
Panel biru itu berkedip cepat di sudut pandangan Juna, namun ia tidak sempat benar-benar membacanya, terlalu sibuk menghindari serangan demi serangan obor yang terus mengejarnya tanpa henti.
JRASSHH!!
Obor itu menyambar udara tepat di atas kepala Juna saat ia menunduk cepat, panasnya terasa menyengat kulit kepalanya meski tidak sampai menyentuh langsung. Ia berguling ke samping, bersembunyi sesaat di balik drum besi tua yang berjejer di sepanjang dinding gudang.
"Ngumpet di balik drum, Blacky?" Kaisar Dirgantara tertawa keras, suaranya menggema memantul di dinding besi. "Takut kebakar, ya? Padahal gue belom mulai yang serius."
Ia menendang drum itu dengan keras, membuatnya berguling menjauh dan memaksa Juna keluar dari persembunyiannya.
BRANGG!!
Drum besi itu berguling menabrak tumpukan peti kayu di dekatnya, menimbulkan suara gemuruh yang menggema di seluruh ruangan. Juna melompat menghindar, namun asap tipis dari kain yang terbakar di sudut ruangan mulai memenuhi udara, membuat matanya perih dan napasnya sedikit tersengal.
'Sialan,' batin Juna, mengusap matanya yang berair akibat asap. 'Kalau aku terus bertahan kayak gini, aku bakal keracunan asap sebelum sempat nyari celah buat nyerang.'
Kaisar Dirgantara kembali menyerang, kali ini dengan tusukan langsung ke arah dada Juna, memaksa Juna melompat mundur sejauh mungkin, punggungnya nyaris membentur dinding gudang yang berkarat.
'Aku nggak bisa nyerang,' batinnya, rahangnya mengeras menahan frustrasi. 'Setiap kali aku coba masuk, obor itu langsung mengincar bagian tubuh yang paling rawan. Dia tau persis gimana cara manfaatin ruang sempit kayak gini.'
BRUGH!!
Sebuah peti kayu yang tertendang oleh Kaisar Dirgantara menghantam bahu Juna, membuatnya terhuyung ke samping. Ia nyaris kehilangan keseimbangan, kakinya tersandung tumpukan tali tambang tua yang berserakan di lantai.
Api dari tumpukan kain tadi mulai membesar, menjalar ke beberapa kardus kering di dekatnya, menambah kepulan asap hitam yang semakin memenuhi ruangan. Juna terbatuk keras, matanya semakin perih, pandangannya mulai kabur oleh kombinasi asap dan keringat yang mengalir deras di wajahnya.
"Udah, nyerah aja," Kaisar Dirgantara menyeringai, suaranya terdengar yakin penuh kemenangan. "Lu udah keliatan sesak nafas. Daripada paru-paru lu abis kena asap, mending nyerah sekarang."
"Enak aja," Juna membalas, suaranya serak tertahan batuk, "nyerah itu bukan kosakataku."
'Kalau terus kayak gini,' batinnya, memaksa dirinya tetap fokus di tengah kepanikan yang mulai merayap, 'aku bakal kalah bukan karena pukulan, tapi karena kehabisan napas duluan.'
Kaisar Dirgantara melangkah maju lagi, obor di tangannya berkobar semakin besar seiring angin yang berembus dari celah dinding, bayangannya membesar mengerikan di balik kepulan asap yang mengelilingi mereka berdua.
"Ayo dong, Blacky," ia menyeringai lebar, suaranya terdengar puas melihat Juna yang mulai terpojok. "Kemana larinya mulut besar lu tadi?"
Juna tidak menjawab, pikirannya berputar cepat mencari jalan keluar, matanya menyapu cepat seluruh ruangan yang kini dipenuhi asap tipis, mencari sesuatu, apa pun, yang bisa ia manfaatkan untuk membalikkan keadaan yang semakin menyudutkannya ini. Setiap detik terasa berharga, setiap napas yang ia tarik semakin terasa berat oleh asap yang terus mengepul tanpa henti.
Ia memaksa dirinya tetap tenang, mengesampingkan rasa perih di mata dan dadanya yang mulai sesak, lalu kembali mengamati gerakan Kaisar Dirgantara dengan lebih seksama. Setiap ayunan obor itu selalu diikuti jeda sepersekian detik sebelum ayunan berikutnya, jeda kecil yang selama ini luput dari perhatiannya karena terlalu sibuk menghindar.
'Ada pola,' batin Juna, matanya menyipit menembus kabut asap tipis yang mulai mengaburkan penglihatannya. 'Setiap kali dia abis ngayun, tangannya butuh waktu buat narik balik senjata itu. Itu celahnya.'
Kaisar Dirgantara kembali maju, obor di tangannya terangkat tinggi bersiap untuk ayunan berikutnya yang tampak akan menjadi serangan penentu.
"Ini yang terakhir, Blacky," ia berseru, suaranya penuh keyakinan. "Abis ini, lu bakal ngerti rasanya kalah dari orang yang lu remehin."
Juna mengatur napasnya, menunggu momen yang tepat, matanya tidak lepas dari gerakan tangan Kaisar Dirgantara yang mulai mengayun turun.