Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — AMBANG JUMAT KLIWON
Kantong kain mori putih itu kusembunyikan rapat-rapat di bawah kasur kapuk kamar tidurku.
Setiap kali tanganku sengaja menyentuh pinggiran kasur, rasa dingin yang aneh merambat naik ke lengan.
Bau kantil busuk dan aroma tanah kuburan tua seakan ikut menempel tebal pada sela-sela jariku.
“Kamu kenapa dari tadi melamun terus, Mas?” tanya Ningsih tiba-tiba dari balik pintu kamar.
Ia melangkah masuk sambil membawa secangkir teh hangat yang asapnya mengepul tipis.
“Aku cuma lagi memikirkan janji pembayaran utang besok sore, Ningsih,” sahutku beralasan jujur.
Ningsih meletakkan cangkir seng itu di atas meja kayu yang bergoyang pelan.
“Wajahmu kelihatan sangat pucat sekali sejak pulang tadi siang, Mas,” bisik Ningsih penuh kecemasan.
“Bahkan telapak tanganmu terasa dingin seperti es saat menyentuh piring nasi tadi.”
“Aku cuma agak kurang enak badan karena terkena angin malam kemarin, Ningsih,” kelitku ragu.
“Tidak usah risau, aku sudah minum air hangat tadi saat berada di dapur.”
Ningsih menatap wajahku rapat-rapat dengan kening berdahi berkernyit sangat dalam.
“Kamu tidak sedang menyembunyikan hal buruk dari aku kan, Mas?” tanyanya menuntut kepastian.
“Perasaanku dari tadi sore rasanya tidak enak sekali, dada ini terasa sangat sesak.”
“Bahkan aroma rumah kita mendadak berbau seperti bunga kamboja basah,” tambahnya pelan.
Jantungku mendadak berdegup kencang hantaman mendengar ucapan jujur dari istriku.
Ternyata bukan cuma hidungku saja yang mencium aroma gaib pemanggil mahluk halus tersebut.
“Itu cuma bau bunga pohon kamboja dari pekuburan umum desa yang terbawa angin sore, Ningsih,” tanggapku menenangkan.
“Angin sore ini memang bertiup cukup kencang ke arah pemukiman warga tempat rumah kita.”
Ningsih menghela napas panjang, lalu duduk perlahan di tepi ranjang bambu tua kami.
“Semoga saja ucapanmu itu benar-benar nyata, Mas,” gumam Ningsih sambil mengusap dadanya.
“Aku takut sekali kalau ada hal buruk yang bakal menimpa keluarga kecil kita.”
“Bapak... tangan Bapak kok baunya seperti tanah basah di kuburan?” sahut suara polos Dedek.
Anak kecilku itu mendadak terbangun dari tidurnya, lalu merangkul pinggangku erat-erat.
Matanya yang bulat menatapku polos dengan raut wajah penuh tanda tanya besar.
Aku terkejut setengah mati, lalu segera menarik kedua tanganku ke belakang lipatan punggung.
“Bapak habis membersihkan selokan di samping rumah tadi sore, Dedek,” jawabku berbohong.
“Ayo tidur lagi, besok pagi kamu harus bangun cepat buat berangkat ke sekolah.”
“Besok Dedek benar-benar bisa bayar uang buku LKS kan, Pak?” tanya Dedek menatap mataku.
“Ibu guru bilang kalau tidak bayar besok, Dedek tidak boleh ikut ujian minggu depan.”
“Bapak janji besok pagi uang buku LKS-mu sudah lunas semuanya, Dedek,” bisikku serak.
“Sekarang kamu tidur ya, sayang, biar besok tidak terlambat datang ke sekolah.”
“Janji ya, Pak, besok Dedek bisa ikut ujian sama teman-teman?” bisik Dedek memastikan.
“Iya, Nak, Bapak janji pasti lunas besok pagi,” jawabku mencium keningnya.
Dedek mengangguk pelan, lalu kembali merebahkan tubuh kecilnya di samping ibunya.
Ningsih mengelus lembut rambut anak kami sampai napas Dedek kembali terdengar teratur.
“Kamu benar-benar sudah dapat pinjaman uang itu dari kawanmu, Mas?” tanya Ningsih berbisik.
“Ujang janji mau membantuku menyelesaikan masalah uang itu malam ini, Ningsih,” jawabku berbohong lagi.
“Nanti malam aku harus keluar sebentar menemui kenalan Ujang buat mengambil uangnya.”
“Siapa nama kenalan Kang Ujang itu, Mas?” tanya Ningsih penasaran.
“Orangnya sangat dermawan dan biasa membantu pedagang kecil yang terdesak, Ningsih,” kelitku tenang.
“Beliau tidak meminta bunga uang sama sekali dari pinjaman modal ini.”
Ningsih menatapku penuh keraguan, namun ia tidak sanggup memprotes keputusan yang kubuat.
“Tolong hati-hati di jalan nanti malam, Mas,” pesan Ningsih sambil memegang lengan kemejaku.
“Jangan sampai kamu terlibat masalah hukum atau hal-hal yang dilarang agama kita.”
“Aku cuma mau menyelamatkan toko dan masa depan anak kita, Ningsih,” tegasku meyakinkan.
“Ingat, Mas, harta dunia tidak ada artinya kalau kita kehilangan keselamatan jiwa,” bisik Ningsih lirih.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan mendadak di pintu depan membuat kami berdua melonjak kaget dari ranjang.
Aku bergegas berjalan keluar kamar menuju pintu teras depan rumah dengan langkah cepat.
Begitu pintu kukayuh buka, Ujang berdiri di teras dengan wajah penuh ketegangan tinggi.
“Kamu sudah siap buat nanti malam, Mas?” tanya Ujang berbisik dengan nada terburu-buru.
“Aku sudah menyimpan kantong mori pemberian Simbah di dalam kamar, Jang,” jawabku pelan.
“Apakah tanahnya sudah kamu usapkan ke dahi sesuai petunjuk beliau?” tanya Ujang serius.
“Belum, Jang, aku baru mau mengusapkannya nanti menjelang berangkat,” jawabku terengah.
Ujang menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada warga yang mengintip.
“Ingat baik-baik semua petunjuk ritual dari Simbah tadi siang, Mas,” peringat Ujang serius.
“Jangan pernah membuang bunga kantil itu sebelum kamu membakarnya di atas nisan.”
“Apakah kamu benar-benar tidak bisa menemaniku ke kompleks makam itu, Jang?” tanyaku berharap.
“Simbah sudah menegaskan kalau ritual ini wajib dilakukan sendirian tanpa pendamping, Mas,” tegas Ujang.
“Kalau ada orang lain di sana, penunggu makam akan marah dan perjanjian gaib gagal total.”
“Bagaimana kalau nanti malam terjadi hal-hal seram yang mencelakakan jiwaku, Jang?” tanyaku cemas.
“Penunggu Makam Keramat Panjang tidak akan menyakitimu selama kamu mematuhi syaratnya, Mas,” hibur Ujang.
“Kamu cuma perlu mengusapkannya ke dahi dan membakar tiga kuntum bunga kantil itu.”
Aku menelan ludah yang terasa sangat kering dan pahit di tenggorokan mendengarkan arahannya.
“Baiklah, Jang, aku pasti akan melakukan sesuai dengan instruksi dari Simbah,” jawabku pasrah.
“Aku pulang dulu, Mas, besok subuh aku akan datang ke rumahmu buat menanyakan hasilnya,” pamit Ujang.
Ujang berbalik pergi meninggalkan teras rumahku, menghilang di balik keremangan sore desa.
Sore berganti malam, dan kegelapan mulai menyelimuti seluruh pelosok perkampungan kami.
Brak!
Suara pintu pagar bambu depan rumah yang dihentak keras kembali mengejutkan kami di dapur.
Aku segera bangkit berdiri, melangkah cepat menuju pintu depan sambil menyiapkan mental dadaku.
Begitu pintu kukayuh buka, berdiri salah satu anak buah Pak Leksa yang berbadan tegap hitam.
Pria itu menyandarkan tubuh besarnya di tiang teras sambil mengunyah permen karet dengan kasar.
“Ingat baik-baik janji utangmu besok sore jam lima tepat, Surya!” gertaknya garang.
“Kalau uang tiga juta rupiah tidak ada di meja ini, mobil bak kami langsung mengangkut barang!”
“Saya tidak pernah melupakan janji utang itu,” sahutku dengan nada suara bergetar keras.
“Besok sore uang tunai tiga juta rupiah pasti sudah siap tergeletak di atas meja ini.”
“Jangan coba-coba membohongi Bos Leksa lagi seperti kemarin-kemarin!” gertak pria itu lagi.
“Anak buah kami ada di mana-mana mengawasi gerak-gerik rumahmu malam ini!”
“Saya tidak berbohong, besok sore uang itu pasti lunas!” tegasku menahan amarah.
Anak buah Pak Leksa itu terkekeh sinis, lalu menepuk bahuku kasar hingga tubuhku terdorong.
“Baguslah kalau kamu sudah paham konsekuensinya, Surya!” ujar pria itu tertawa puas.
“Jangan coba-coba kabur melarikan diri dari desa ini kalau kamu masih sayang pada nyawamu!”
Pria itu berbalik pergi, melangkah menjauh menembus kegelapan malam desa yang makin pekat.
Aku menutup pintu depan rapat-rapat, lalu memasang kunci besi selot yang berkarat tua.
Malam Jumat Kliwon telah benar-benar tiba menyergap bumi dan seluruh isi kampung kami.
Keheningan malam terasa sangat pekat, begitu menekan dan mencekam dada hingga terasa sesak.
Jam dinding tua di ruang tengah berdetak nyaring, menandakan waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Ningsih dan Dedek tampak sudah tertidur lelap di dalam kamar tidur yang remang-remang lampu.
Aku duduk sendirian di atas kursi kayu, memandangi bayangan lampu minyak yang bergoyang pelan.
Di dalam kesendirian itu, pikiran buruk terus berputar hebat di dalam benak kepala saya.
Pukul sebelas malam lewat lima belas menit, aku melangkah perlahan masuk ke dalam kamar.
Tanpa membuat suara berisik, aku merogoh bawah kasur dan mengambil kantong mori putih.
Sensasi dingin membekukan langsung menjalar dari telapak tanganku hingga menembus ke seluruh tubuh.
Sesuai petunjuk Simbah, aku membuka tali pengikat kantong mori itu dengan tangan gemetar hebat.
Di dalamnya, terdapat segenggam tanah kuburan berwarna merah gelap dan tiga kuntum bunga kantil.
Aku mengambil sedikit tanah kuburan itu, lalu mengusapkannya ke dahi dan kedua telapak tanganku.
Srrr...
Aroma wangi pandan basah dan bau bangkai menyengat mendadak meledak memenuhi seluruh udara kamar.
Bulu kuduk di sekujur tubuhku langsung berdiri tegak bagaikan ditusuk ribuan jarum es dingin.
Telingaku menangkap suara rintihan halus seorang wanita yang sedang menangis tersedu-sedu di luar.
Aku memasukkan kembali bunga kantil ke dalam kantong mori, lalu mengantonginya rapat di kemeja.
Aku menatap wajah Ningsih dan Dedek yang sedang tertidur lelap buat terakhir kalinya malam ini.
“Maafkan aku, Ningsih... maafkan Bapak, Dedek,” bisikku lirih tanpa suara di balik tenggorokan.
“Aku melakukan semua dosa ini cuma demi menyelamatkan hidup kalian berdua besok pagi di toko.”
Aku melangkah keluar rumah lewat pintu dapur belakang tanpa menimbulkan suara sedikit pun jua.
Malam di luar begitu gelap pekat, tanpa ada satu pun bintang yang menghiasi langit malam.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku yang bertelanjang menapak cepat di atas permukaan tanah jalanan yang basah licin.
Ujung celanaku mulai basah terkena cipratan lumpur dan embun malam yang kian tebal dingin.
Setiap kali aku melewati rumpun bambu yang rindang, aroma pandan basah itu makin terasa pekat.
Pikiranku hanya tertuju pada satu lokasi tujuan utama di atas puncak bukit sana.
Jalanan tanah mulai menanjak curam, dipenuhi bebatuan licin dan perakaran pohon jati tua.
Srik!
Suara gesekan dedaunan kering di samping semak-semak membuatku terkejut setengah mati dan berhenti.
Langkah kakiku mendadak terhenti kaku di tengah jalanan setapak yang sempit dan sangat gelap.
“Siapa orang di sana?” tanyaku berbisik dengan suara yang gemetar hebat karena ketakutan.
“Apakah ada orang yang mengikutiku di tengah hutan ini?” tanyaku sekali lagi.
Tidak ada jawaban suara manusia yang membalas bisikan pertanyaanku di tengah hutan sepi tersebut.
Hanya desir angin malam yang berembus makin dingin menusuk hingga merasuk ke dalam tulang.
Aku melanjutkan langkah kakiku yang kian terasa berat bagaikan diikat rantai besi tebal padat.
Di ujung tanjakan bukit, berdiri dua buah tiang batu hitam berlumut tanpa ada pintu pagar.
Itulah gerbang masuk utama menuju kompleks pekuburan paling tua di seluruh wilayah desa kami.
Makam Keramat Panjang berdiri megah dan angker di balik keremangan malam Jumat Kliwon yang sepi.
Pohon kamboja tua berukuran raksasa menaungi gundukan tanah makam yang berada tepat di tengah.
Gundukan tanah makam itu berukuran sangat tidak lazim, membentang panjang hampir lima meter utuh.
Cklek!
Suara dentang jam dinding dari balai desa di kejauhan terdengar berbunyi dua belas kali berturut-turut.
Tepat pukul dua belas malam, saat pertukaran hari menuju Jumat Kliwon yang sakral dan gaib.
Aku merogoh saku kemeja, mengeluarkan kantong mori putih dan kotak korek api kayu tua.
Langkah kakiku mulai memasuki area pelataran tanah makam dengan rasa takut yang amat luar biasa.
“Permisi, Mbah... saya Surya datang buat meminjam modal usaha,” bisikku menyapa pekuburan tua.
“Saya datang membawa niat jujur buat melunasi utang keluarga saya,” tambahku bergetar.
Wushhh!
Seketika itu juga, angin kencang berputar hebat menghantam seluruh kompleks area tempat makam keramat.
Dari dalam tanah di balik batu nisan, terdengar suara geraman berat yang sangat mengerikan sekali.
“Siapa yang berani mengusik tidurku di malam sakral ini?” gema suara gaib mengguncang tanah.
“Saya Surya, Mbah... saya hamba terdesak yang butuh pertolongan uang,” sahutku bergetar hebat.
“Saya butuh uang tunai tiga juta rupiah buat melunasi utang toko besok sore,” pintaku memohon.
“Kamu datang membawa keberanian atau ketakutan, manusia?” tanya suara gaib itu bergetar lagi.
“Saya datang membawa keputusasaan demi menyelamatkan keluarga saya, Mbah,” jawabku jujur menangis.
“Bakar bunga kantil di atas nisanku sekarang!” perintah suara berat itu bergemuruh galak.
“Baik, Mbah, saya bakar bunga kantil ini sekarang juga!” sahutku cepat.
Dengan jemari yang bergetar hebat tak terkontrol, aku menyalakan sebatang korek api kayu tua.
Bunga kantil itu terbakar pelan, mengeluarkan asap putih tebal yang berbau sangat wangi gaib.
“Perjanjian modal uang ini sudah kuterima, Surya!” gemuruh suara gaib dari bawah tanah makam.
“Ambil bungkus kain mori di atas tanah dan jangan pernah kamu melanggar janjimu!” serunya keras.
“Terima kasih banyak, Mbah, saya janji akan mematuhi semua syaratnya!” sahutku gemetar.
Aku dengan cepat meraih bungkus kain mori yang kini terasa sangat berat berisi tumpukan uang.
Tanpa berani menatap wajah sosok raksasa itu lagi, aku berbalik dan berlari sekuat tenaga.
Perjanjian gaib berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah resmi terikat dalam hidupku.