NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: BEKAS DI CELAH JENDELA

Sinar matahari pagi hari Jumat tanggal tiga belas Oktober membias terang menyinari permukaan dinding semen teras depan.

Suara burung gereja yang berkicau riuh di dahan pohon mangga tua terdengar makin terang di udara pagi.

Lampu gantung porselen di ruang tengah sudah kumatikan sejak pukul tujuh pagi saat hawa dingin perlahan menghilang.

Hawa lembap dari pekarangan luar kini berganti rasa hangat fajar yang merayap di ubin semen.

Dini dan Ranti berdiri berdampingan di koridor samping, memperhatikan ambalan kayu jendela luar dari balik kaca.

Coretan tanah merah basah bercampur serpihan sabut biji tanaman liar itu tampak mengering kaku di permukaan kayu.

Noda tanah merah sepanjang tiga jari itu meninggalkan kerak tipis yang tampak agak kasar di pinggir ambalan.

"Bu... noda tanah merah di ambalan jendela itu kelihatan makin jelas kena sinar fajar nggih?" bisik Dini menunjuk kaca.

"Inggih, Din. Noda tanah merah itu membentang tiga jari di ambalan luar," sahutku berbisik pelan.

"Ranti cemas kalau benda yang menyenggol jendela semalam itu bakal balik lagi nanti siang, Bu," cicit Ranti gemetar.

"Mboten usah cemas, Ran. Pintu dan jendela tetap terkunci rapat dari dalam," balasku menenangkan.

"Ibu mau langsung lapor ke Pak RT dan Pak Bripka pagi ini nggih?" tanya Dini.

"Iya, Din. Ibu bakal minta Pak RT dan Bripka Haryono memeriksa ambalan jendela ini secara resmi," jawabku mantap.

"Cangkir porselen berisi biji kemarin kan sudah dibawa Pak Bripka ke Polsek nggih, Bu?" tanya Ranti.

"Inggih, Ran. Biji pohon jarak liar itu sudah diamankan di laboratorium Polsek kemarin malam," terangku.

"Semoga bercak tanah di jendela ini bisa memberi petunjuk tambahan buat polisi nggih, Bu," sahut Dini mengangguk.

"Pasti, Din. Kita serahkan seluruh proses pemeriksaan fisik ini ke petugas Polsek," balasku mengusap bahunya.

Aku mengajak Dini dan Ranti melangkah ke ruang tengah untuk mempersiapkan kedatangan pengurus RT kami.

Langkah kaki kedua putriku terdengar pelan dan sangat teratur di atas lantai semen yang bersih.

Ubin semen ruang tengah terasa dingin menembus telapak kaki saat kami bertiga berjalan mendekati sofa.

Pukul delapan pagi lewat sepuluh menit, deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar berhenti di halaman depan.

Pak RT melangkah masuk ke teras depan bersama Bripka Haryono dan dua orang petugas penyidik Polsek.

Aku segera melangkah membukakan pintu pagar besi untuk menyambut kedatangan pengurus RT dan tim penyidik.

"Selamat pagi, Bu Sari," sapa Bripka Haryono menganggukkan kepala secara sopan di ambang teras.

"Selamat pagi, Pak Bripka, Pak RT. Dherek pinarak teng teras, Pak," sambutku membukakan pintu depan.

Bripka Haryono membawa koper besi tempat peralatan sampel, sementara petugas penyidik menyiapkan kamera pengukur.

Garis raut wajah petugas Polsek itu tampak kaku di bawah sinar matahari pagi.

Pak RT mendudukkan diri di kursi rotan teras, merapikan letak peci hitam di atas kepalanya.

"Bu Sari, tadi pagi Pak RT sudah menyampaikan laporan soal noda baru di ambalan jendela nggih?" tanya Bripka Haryono.

"Inggih, Pak Bripka. Tadi pagi pukul enam kami menemukan noda tanah merah berkerak sabut biji di jendela luar," terangku.

"Mari langsung kita periksa lokasi ambalan jendela di lorong samping sekarang, Bu Sari," ajak Bripka Haryono.

Bripka Haryono, dua petugas penyidik, dan Pak RT mengikuti langkahku menyusuri koridor samping rumah.

Sepatu boot kulit petugas berdecit pelan membentur ubin semen koridor samping yang basah.

Petugas penyidik Polsek berjongkok di samping selokan, mendongak menatap ambalan kayu jendela luar koridor.

Kamera pengukur penyidik diarahkan ke ambalan jendela luar, memotret noda tanah merah berkerak sabut biji.

Clek! Clek!

Lampu kilat kamera menyala dua kali, mengabadikan noda tanah merah tiga jari yang menempel tebal di kayu.

Petugas penyidik mengikis sedikit kerak tanah merah itu memakai kuret stainless steel ke dalam wadah plastik.

"Noda tanah merah di ambalan jendela niki mengandung serpihan sabut biji yang serupa sama sampel biji jarak," jelas penyidik.

"Apakah sudut kemiringan noda niki menunjukkan ada tekanan benda kaku dari arah luar selokan, Pak?" tanya Pak RT.

"Inggih, Pak RT. Tekanan noda niki membentang horizontal dari tepi terali kayu selokan menuju jendela," jawab penyidik.

Bripka Haryono mencatat penjelasan teknis petugas penyidik ke dalam lembar formulir olah TKP kepolisian.

Ujung pena bolpoin hitamnya menari cepat di atas kertas formulir resmi Polsek.

"Hasil pengikisan noda niki bakal langsung kami bawa ke laboratorium Polsek buat analisis lanjutan," kata Bripka Haryono.

"Matur nuwun sanget atas penanganan cepat dari tim Polsek, Pak Bripka," balasku lega.

"Langkah Bu Sari yang mboten menyentuh ambalan jendela niki sangat menjaga keutuhan bukti fisik," puji Bripka Haryono.

"Kami cuma ingin membantu proses pemeriksaan kepolisian supaya semuanya makin terang, Pak," sahut Dini mengangguk.

Hawa hangat fajar terasa makin tebal menyapu lorong samping, membiaskan bayangan pagar besi di dinding.

"Lalu pripun perkembangan tim penyisiran di kawasan lereng bukit perbatasan selatan, Pak Bripka?" tanyaku mengejar informasi.

"Tim gabungan Polsek dan Polres sejak tadi subuh sudah memperluas penyisiran ke area bukit," terang Bripka Haryono.

"Petugas bersama warga perbatasan menemukan bekas perhentian baru di dekat celah bukit batu," ungkap Bripka Haryono.

Dini dan Ranti yang berdiri di dekat pintu koridor dalam seketika menahan napas mendengar kabar resmi itu.

"Apakah petugas menemukan barang bukti lain di celah bukit batu itu, Pak Bripka?" tanya Dini penasaran.

"Petugas menemukan sisa pembungkus plastik kusam dan potongan kain goni yang bernoda tanah merah," jawab Bripka Haryono.

"Jejak pijakan kaki di celah bukit itu mengarah menuju area bekas galian batu tua di lereng atas," lanjut Bripka Haryono.

"Berarti tim penyisiran sekarang sedang mengurung area bekas galian batu tua itu nggih, Pak Bripka?" tanya Pak RT.

"Inggih, Pak RT. Bantuan relawan warga dan petugas perhutani setempat sangat membantu penyisiran medan bukit," terang Bripka Haryono.

"Kami berharap keberadaan Rian dan karung goni itu bisa segera dipastikan oleh tim lapangan," tambah Bripka Haryono.

"Matur nuwun sanget atas informasi resminya, Pak Bripka. Kami terus berdoa buat keselamatan petugas," balasku mengangguk.

"Sami-sami, Bu Sari. Tolong pintu dan jendela tetap dalam kondisi terkunci rapat," pesan Bripka Haryono.

Pak RT mengusap dahinya, lalu memandangi wajahku dan anak-anak dengan raut prihatin di lorong samping.

Sorot mata pengurus RT kami itu menyiratkan beban berat menjaga ketenangan warga perkampungan.

"Bu Sari... warga gang tadi pagi sempat kasak-kusuk menanyakan soal penyisiran polisi di hutan perbatasan," bisik Pak RT.

"Warga bertanya-tanya kenapa petugas kepolisian sering datang ke lorong samping rumah Bu Sari," tambah Pak RT pelan.

"Kulo sampun menjelaskan ke warga kalau kepolisian cuma melakukan prosedur pemeriksaan rutin lingkungan," terang Pak RT.

"Matur nuwun sanget atas bantuan Pak RT dalam menenangkan desas-desus warga gang," balasku menghela napas.

"Inggih, Bu Sari. Yang penting warga mboten panik dan mboten menyebarkan kabar burung yang mboten jelas," ujar Pak RT.

"Iya, Pak. Kami di rumah juga mboten pernah memberikan tanggapan apa pun ke tetangga luar," timpal Dini.

"Langkah Mbak Dini dan Bu Sari sampun sangat bijaksana," puji Pak RT menepuk pelan meja kayu teras.

Bripka Haryono dan dua petugas penyidik merapikan koper peralatan sampel, lalu berjalan menuju teras depan.

Bunyi klip besi koper penyidik terkatup nyaring di udara lorong samping.

Petugas penyidik memasang selembar pita penanda garis pengaman Polsek di tiang besi selokan koridor luar.

Pita plastik berwarna kuning hitam itu terikat kencang, menandai batas area pemeriksaan fisik di samping rumah.

Pak RT dan Bripka Haryono berpamitan, lalu melangkah menuju kendaraan dinas yang terparkir di ujung jalan gang.

Suara deru mesin sepeda motor warga yang melintas di jalan gang depan memberikan suasana riuh perkampungan.

Aku memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh setelah mengantar kepulangan petugas.

Pukul sebelas siang lewat dua puluh menit, cahaya matahari membakar hangat permukaan ubin teras depan.

Angin panas berembus perlahan memutar debu tipis di atas meja kayu teras kami.

Suara pedagang sayur keliling dan deru sepeda motor warga gang terdengar ramai dari arah jalan depan.

Dini dan Ranti mengajakku ke dapur kecil untuk menyiapkan makan siang keluarga sederhana.

Mangkuk porselen berisi oseng tempe kacang panjang dan sambal bajak hangat tersaji di atas meja makan.

Aroma gurih bawang goreng membumbung halus di udara dapur, memberikan ketenangan kehangatan rumah kami.

Dini menyendokkan nasi hangat ke piringku dengan gerakan lembut dan sangat telaten.

Asap tipis dari piring nasi membumbung membawa aroma kehangatan rumah tangga kami.

Ranti menata cangkir teh manis hangat di sebelah piring nasi, lalu mendudukkan diri di bangku kayu.

"Bu... kalau tim polisi sudah mengurung area bekas galian batu, berarti pergerakan Rian makin sempit nggih?" bisik Ranti.

"Iya, Ran. Petugas polisi, warga, dan petugas Perhutani jumlahnya banyak di bukit itu," jawabku memegang jemarinya.

"Tapi pita garis pengaman kuning di luar tadi bikin tetangga makin penasaran ya, Bu," ujar Dini menyendok nasi.

"Mboten usah dipikirkan desas-desus tetangga, Din. Yang penting kita ikuti petunjuk resmi Pak RT dan polisi," jawabku.

"Inggih, Bu. Ranti lega banget lihat Pak Polisi memasang pita pengaman kencang di tiang selokan," sahut Ranti.

"Iya, Ran. Pintu samping kita juga tetap tertancap ganjal kayu jati tebal dan terkunci selot dari dalam," tambah Dini menguatkan.

"Matur nuwun nggih, anak-anakku. Kalian berdua selalu tangguh dan teratur menjaga rumah," pujiku haru.

Uap gurih oseng tempe kacang panjang menguap perlahan di atas meja makan kecil keluarga kami.

Kami bertiga menikmati makan siang bersama di meja makan, menghabiskan hidangan hangat dalam ketenangan keluarga.

Pukul satu siang lewat sepuluh menit, Pak Wo melangkah masuk ke halaman teras depan rumah kami.

Langkah kaki seksi keamanan warga itu terdengar kaku menapak lantai teras depan.

Pak Wo mengenakan pakaian seragam linmas cokelat tua, membawa lembar papan jepit laporan keamanan warga.

Aku segera membukakan pintu depan untuk menyambut kedatangan seksi keamanan warga perkampungan kami.

Selot besi kuningan kuputar dua kali dengan gerakan perlahan dan hati-hati.

"Selamat siang, Bu Sari," sapa Pak Wo menganggukkan kepala di ambang pintu teras.

"Selamat siang, Pak Wo. Wonten kabar punapa dari pengurus warga, Pak?" tanyaku menyambut sopan.

"Kulo cuma mau menyerahkan surat lembar imbauan keamanan resmi dari Pak RT buat warga gang," terang Pak Wo.

Pak Wo menyerahkan selembar kertas putih berstempel RT yang berisi imbauan jam malam dan ronda warga.

"Matur nuwun sanget, Pak Wo. Surat imbauan niki bakal kulo simpan di meja teras," balasku menerima kertas.

"Oh inggih, Bu Sari... tadi waktu kulo jalan menyusuri lorong samping luar, kulo lihat ada usapan tanah," ungkap Pak Wo.

"Usapan tanah merah di mana, Pak Wo?" tanya Dini yang berdiri di sampingku seketika tegang.

"Di dinding semen luar pekarangan batas rumah sebelah, tepat dua meter dari terali selokan," terang Pak Wo.

"Usapan tanah merah basah itu membentang selebar telapak tangan di dinding semen luar," lanjut Pak Wo.

"Apakah usapan tanah merah itu masih baru dan lembap, Pak Wo?" tanya Dini mengejar detail.

"Inggih, Mbak Dini. Usapannya tampak segar dan agak lengket di plester semen luar," jawab Pak Wo.

"Pak Wo sudah melaporkan temuan usapan tanah merah itu ke Pak RT atau Bripka Haryono mboten?" tanyaku.

"Sampun, Bu Sari. Tadi kulo langsung telepon Bripka Haryono sebelum mampir ke teras rumah Bu Sari," jawab Pak Wo.

"Bripka Haryono bilang apa, Pak Wo?" tanya Ranti cemas memegang lengan kakaknya.

"Bripka Haryono minta usapan tanah di dinding luar itu mboten disentuh siapa pun sampai tim penyidik balik," terang Pak Wo.

"Pak Wo juga bakal bersiaga di pos ronda depan gang bareng warga Linmas siang niki," tambah Pak Wo mantap.

"Matur nuwun sanget atas kesigapan Pak Wo dalam menjaga lingkungan gang kami," balasku lega.

"Sami-sami, Bu Sari. Tolong pintu teras tetap dikunci rapat dan jangan keluar sendirian," pesan Pak Wo.

Pak Wo merapikan papan jepit Laporan Linmas, lalu melangkah meninggalkan teras rumah menuju pos ronda gang.

Aku dan Dini segera memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh dari dalam.

Bunyi denting besi kunci mengunci rapat pintu teras depan rumah kami.

Surat imbauan resmi dari Pak RT itu kutaruh rapi di atas meja kayu teras sebagai pengingat tertulis.

Kami bertiga berjalan menuju koridor samping, menatap ganjal kayu jati yang tertancap kokoh di bawah pintu.

Sinar matahari siang menyusup dari balik celah ventilasi atas, menerangi tiang besi selokan koridor luar.

Garis kuning pita pengaman Polsek terikat kencang di tiang besi selokan luar yang terlihat dari balik jendela.

Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari Dini dan Ranti, menatap dinding semen lorong samping yang hening.

Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam dan kencang di ambang semen dari dalam.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!